DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 26


__ADS_3

"Tuan Frans, kau tau apa yang akan aku katakan. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan. Aku tidak punya pilihan lain dan aku tidak bisa menolaknya. Jika aku menolaknya, aku akan dibunuh oleh Mama Tuan. Tolong mengertilah." Ucap Riko tetap menyembunyikan wajahnya dibalik foto Mama Johan.


"Apa kamu tidak takut aku akan membunuhmu?" Tanya Frans geram.


"Aku lebih baik mati di tanganmu dari pada harus mati ditangan Tante Johan." Ucap Riko.


"Baiklah! Bersiaplah untuk mati. Aku akan membunuhmu." Balas Frans.


Mendengar perkataan Frans, tubuh Riko mulai bergetar. Karena Frans tak pernah main main dengan perkataannya.


"Tuan Frans, jika kau ingin berbicara dengan seseorang, berbicaralah dengannya. Aku akan menutup teleponnya dulu." Ucap Riko dan menyodorkan foto Mama Johan lebih dekat dengan kamera. Kemudian Riko mematikan teleponnya.


"Sial!" Gumam Frans kesal dan melempar ponselnya ke kasur.


***


Di sisi Tasya..


Tasya hanya mondar mandir ke sana ke sini memegangi ponselnya. Bingung apa yang harus dia lakukan. Kemudian dia berinisiatif untuk menelepon Anggi.


"Anggi....!" Keluh Tasya setelah Anggi mengangkat teleponnya.


"Ada masalah apa?" Tanya Anggi khawatir.


"Coba tebak, aku berada satu ruangan dengan siapa?" Ucap Tasya seperti tak ada harapan.


"Siapa?" Tanya Anggi tak ingin menebak.


"Aku berada satu ruangan dengan es batu itu." Jawab Tasya frustasi.


"Apa? dengan pangeran es? Bagaimana bisa? Bukankah kamu sangat yakin kalau itu bukan dia?" Ucap Anggi tak percaya.


"Aku pikir begitu. Tapi ternyata... Apa kau tau betapa malunya aku?" Jawab Tasya.


"Apa sebaiknya kamu berhenti?" Tanya Anggi.


"Baiklah! Baiklah! Aku memilih berhenti." Ucap Tasya yakin.


"Ehh tunggu dulu. aku akan memeriksa kontraknya. Tunggu sebentar jangan dimatikan teleponnya." Ucap Anggi.


Anggi mengambil surat perjanjian yang dibawanya didalam tas. Dia memeriksa poin poin yang ada di sana.


"Selama kontrak berjalan, jika pihak B gagal untuk memenuhi kontraknya maka pihak B diharuskan untuk membayar denda kepada pihak A sebesar Rp.10.000.000?" Batin Anggi membaca isi kontraknya. Anggi sangat terkejut setelah membaca kontrak tersebut.


"Tasya?" Panggil Anggi.


"Iya? Ada masalah apa?" Jawab Tasya.


"Bukan apa apa. Tasya, setelah aku pikir dengan matang. Kurasa karena kau sudah terlanjur berada di sana, sebaiknya kau menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Jangan berhenti. Kau harus bertahan untuk bisa melunasi hutangmu." Ucap Anggi.

__ADS_1


"Anggi! Apakah saat ini kau berusaha menjualku?" Tanya Tasya putus asa.


"Tidak mungkin! Kau tidak seberharga itu." Jawab Anggi.


"Apakah aku harus mempertaruhkan hidupku?" Tanya Tasya.


"Hemm. Lagi pula bukankah kontraknya hanya berlaku selama magang? 3 bulan adalah waktu yang singkat. Tanpa kamu sadari 90 hari akan berlalu begitu saja." Ucap Anggi meyakinkan Tasya.


Tasya hanya terdiam dalam lamunannya.


"Baiklah! hubungi aku jika kamu butuh bantuan. Aku harus lanjut bekerja agar nilai magangku bagus. Muachh!" Ucap Anggi mematikan teleponnya.


"Anggi kamu jangan menciumku dulu. Aku belum selesai bicara." Ucap Tasya melihat layar ponselnya.


"Aku harus bagaimana?" Gumam Tasya dan lagi lagi mondar mandir berpikir apa yang harus dilakukannya.


"Kenapa harus dia sih. Ahh bikin bad mood aja." Gumam Tasya.


Bruuukkkk! Tasya menabrak sesuatu karena dari tadi melamun dan tak sadar bahwa Frans berjalan kearahnya dengan kesal. Tasya melirik sesuatu yang didepannya.Dilihatnhalah dada bidang didepannya yang baru saja dia tabrak. Tasya langsung mundur 2 langkah. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Dimana sifat keras kepala yang dulu sangat kamu sombongkan?" Tanya Frans dingin.


Tasya hanya diam tak menjawab dan menundukkan kepalanya.


"Hahh? Jadi sifat keras kepala yang kamu sombongkan tidak ada artinya sama sekali." Ejek Frans lagi dan membuat Tasya ingin memberontak. Tetapi dia tau posisinya saat ini adalah asisten CEO es batu. Dia hanya memilih tetap diam.


"Aku tidak tau bagaimana kamu meyakinkan Ibuku. Entah dengan cara apa sampai dia yakin kamu bisa menjadi asistenku disini. Aku tidak perduli. Disini akulah bosnya dan kamu hanyalah bawahanku. Jadi semua aturan harus kamu taati. Dan tidak boleh kamu langgar. Jika kamu berpikir untuk melanggarnya lebih baik kamu pergi." Ucap Frans tegas.


"Peraturan pertama, semua yang dikatakan saya adalah benar. Semua adalah perintah dan saya tidak mau mendengar kata "tapi". Kedua, tidak boleh berisik. Frekuensi suara harus dibawah 40. Ketiga, Diluar jam kerja jangan pernah berbicara kepada saya. Di jam kerja pun hanya boleh berbicara soal pekerjaan. Saya tidak mau berbicara yang bukan masalah pekerjaan. Peraturan yang lain menyusul. Dan setiap peraturan yang dilanggar, akan dikenakan denda sebesar 200.000." Ucap Frans.


"Apa? 200.000?" Teriak Tasya dan matanya melotot menatap Frans.


"Mana?" Ucap Frans mengajukan tangannya.


"Apa?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Kamu telah melanggar peraturan. Aku baru saja bilang tidak suka berisik tapi sudah kamu langgar. Mana?" Ucap Frans.


"Ehm? Maafkan saya. Saya tidak sengaja. Ini baru hari pertama saya bekerja jadi mohon maklum. Saya hanya kaget mendengar denda sebesar itu. Tolong maafkan saya." Ucap Tasya memohon.


"Baiklah. Kali ini saya maklumi. Tapi lain kali tidak akan ada konsenkuensinya." Ucap Frans kembali duduk dikursinya.


"Baiklah!" Ucap Tasya kesal tapi dia menahannya.


"Kenapa? Kamu kesal dengan saya?" Tanya Frans menatap Tasya tajam.


"Ohh! Tidak! Tidak! Saya mana berani kesal dengan Anda." Ucap Tasya.


"Baiklah! Sekarang foto kopi ini. Masing masing menjadi 5 lembar." Perintah Frans menyerahkan 10 lembar berkas.

__ADS_1


Tasya menuruti perintah Frans dan keluar untuk memfotokopi berkas yang diberikan Frans kepadanya.


"Hahaha! Siapa suruh kamu menganggapku remeh. Sekarang lihat apa yang akan aku lakukan. Aku tidak bisa mengeluarkanku dari sini, maka akan aku buat kamu yang keluar dengan sendirinya." Batin Frans tersenyum licik.


Setengah jam kemudian, Tasya kembali masuk dan memberikan berkas yang difotokopinya.


"Ini Pak berkas yang sudah saya fotokopi." Ucap Tasya meletakkannya dimeja Frans.


"Bagaimana bisa begini? Pisah pisahkan sekalian." Ucap Frans dingin.


"Baiklah Pak." Jawab Tasya.


"Untung kamu bos disini. Kalau bukan sudak aku bunuh kamu." Batin Tasya kesal membawa berkas yang di fotokopi kemejanya untuk dipisah pisahkan.


Setelah selesai memisahkannya, Tasya kembali menyerahkannya kepada Frans.


"Baiklah! Sekarang buatkan saya kopi. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit." Perintah Frans lagi.


Tasya menurutinya dan pergi membuatkan kopi.


"Ini Pak!" Tasya menyerahkan kopinya.


Frans meminumnya.


"Buat lagi. Ini terlalu manis." Ucap Frans.


Tasya kembali keluar dan membuatkan kopi lagi.


"Ini Pak!" Tasya kembali menyerahkan kopinya didepan Frans. Dan Frans meminumnya.


"Buat lagi! Terlalu pahit." Tolak Frans lagi.


Lagi lagi Tasya membuatkan kopi.


"Ini." Tasya menyerahkan segelas kopi lagi.


"Buatkan kopi yang seperti pertama tadi." Perintah Frans lagi


Lagi lagi Tasya kembali membuatkan kopi.


"Ini Pak. Silahkan diminum." Ucap Tasya.


"Saya sudah tidak ingin minum kopi lagi." Ucap Frans mempermainkan Tasya.


Tasya yang kesal menatap tajam Frans. Dan Frans,menyadari kekesalan Tasya.


"Kenapa? Kamu marah sama saya?" Tanya Frans tersenyum licik.


"Tidak! Tidak! Saya tidak berani. Saya permisi." Pamit Tasya membawa gelas berisi kopi ditangannya.

__ADS_1


Tasya berjalan dengan sangat kesal dan marah menuju ruangan pembuat minuman.


"Dasar orang gila. Jika tidak mau minum kopi kenapa menyuruhku membuatkannya. Mau mempermainkan aku?" Gerutu Tasya meminum kopi yang dibuatnya karena kesal.


__ADS_2