
"Tuan! Nyonya! Makan malamnya telah siap." Ucap Kepala pelayan.
"Oh! Baiklah! Tasya ayo kita makan." Ucap Mama Johan hanya memperhatikan Tasya tanpa memperhatikan yang lainnya.
Mama Johan mengajak Tasya pergi ke ruang makan. Dan yang lain mengikuti di belakang Tasya dan Mama Johan.
"Kamu duduk disini." Ucap Mama Johan memperlakukan Tasya seperti putri.
"Terimakasih Tante." Ucap Tasya tersenyum sedikit merasa tak enak karena perlakuan Mama Johan yang berlebihan kepadanya.
"Kok Tante?" Balas Mama Johan tak terima dipanggil Tante.
"Terimakasih Ma." Ucap Tasya mengulangi kata katanya.
"Nah gitu dong!" Ucap Mama Johan puas.
Yang lain sudah duduk di kursi makan masing masing. Menunggu Mama Johan duduk.
Semua menikmati makan malam tersebut. Tasya merasa sangat istimewa karena diperlakukan bak putri oleh Mama Johan.
Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang keluarga untuk mengobrol.
Ditengah tengah asyiknya obrolan, Mama Johan melontarkan sebuah pertanyaan kepada Tasya yang membuatnya gelagapan tak tau mau menjawab apa.
"Tasya, kapan kamu mengenalkan keluarga kami kepada kami. Kami tidak sabar ingin segera kenal dengan keluarga kamu." Ucap Mama Johan membuat mata Tasya membelalak dan mematung.
"Mak.. Maksud Tante? Eh Mama?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Kenapa kamu dan Frans tidak segera menikah saja?" Tanya Mama Johan tak ingin basa basi lagi.
"Haaaa? Saya masih kuliah Tante. Lagian saya masih ingin bekerja dulu. Saya belum berpikir sedikitpun tentang menikah." Jawab Tasya merasa tak enak.
"Apakah kamu tidak yakin dengan Frans?" Tanya Mama Johan.
CEO Frans, Papa Johan dan Gadis hanya menjadi pendengar tak berani membantah ataupun menyela obrolan Mama Johan dengan Tasya. Karena ketika Mama Johan serius tak ada yang berani membantahnya ataupun menyelanya.
"Bukannya tidak yakin Tante. Tapi saya masih ingin berkarir. Saya masih harus menyelesaikan kuliah dan bekerja." Jawab Tasya.
__ADS_1
CEO Frans takut, kalau Mama Johan terlalu memojokkan Tasya dan akhirnya membuat Tasya takut. Tetapi dia juga tak bisa berbuat apa apa. Karena dia sangat tau pasti, Mamanya akan marah besar ketika ada orang yang menyelanya saat beliau bicara serius dengan seseorang. Mama Johan termasuk orang yang keras dan teguh pada pendiriannya. Tak ada yang berani mengubah apa yang menjadi keputusannya.
"Kan kamu masih bisa melanjutkan kuliah setelah menikah. Dan setelah lulus kamu bisa langsung bekerja di perusahaan Frans." Balas Mama Johan tak ingin mengalah.
"Maaf Tante, bukannya saya menolak maksud baik Tante. Tapi saya ingin meniti karir saya dari nol. Saya tidak mau menggunakan koneksi siapapun. Saya ingin menggunakan keahlian saya sendiri. Kalau saya menggunakan meniti karir menggunakan koneksi, saya tidak akan bisa mandiri sendiri. Saya tidak mau menjadi beban bagi orang lain." Jawab Tasya sopan.
Mama Johan hanya tersenyum mendengar jawaban Tasya. Dia merasa bahwa Tasya adalah wanita yang tidak manja.
"Ternyata saya tidak salah memilih calon menantu." Ucap Mama Johan tertawa kecil.
Papa Johan dan Gadis ikut tersenyum lega.
"Ma, dia pilihanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Mama." Ucap CEO Frans tidak terima.
"Apa kamu bilang? Kalau Mama tidak menempatkan Tasya sebagai asisten pribadi kamu di kantor, apa kamu akan perduli kepadanya? Palingan kamu hanya akan menganggapnya sebagai Mahasiswa magang biasa." Balas Mama Johan.
"Haduuchh! Anak dan Mama sama saja. Sama sama keras kepala." Gumam Papa Johan memalingkan wajahnya ke samping kearah Gadis.
Gadis hanya mengeryitkan bibirnya dan mengangkat bahu serta kedua tangannya.
"Enggak! Papa nggak bilang apa apa." Jawab Papa Johan.
"Tante! Om! Sudah malem, saya permisi pulang dulu ya." Pamit Tasya beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa nggak menginap disini saja? Kamu bisa tidur bersama aku." Tanya Gadis menatap Tasya.
"Ehmm! Tidak usah! Terimakasih. Temen temen aku sedang nungguin aku pulang ke asrama soalnya." Jawab Tasya.
"Ya sudah! Kamu hati hati ya. Frans anterin Tasya pulang dengan selamat. Awas kalau sampai terjadi apa apa sama dia. Mama tidak akan maafin kamu. Tasya harus sampai rumah dengan selamat tanpa lecet sedikitpun. Kalau sampai ada lecet, kamu berurusan dengan Mama." Ucap Mama Johan mengancam CEO Frans.
"Ma, sebenarnya yang anak kandung Mama itu aku atau Tasya sih? Kenapa Mama lebih perduli sama dia?" Keluh CEO Frans frustasi.
"Kamu memang anak kandung Mama. Tapi Tasya adalah menantu kesayangan Mama." Jawab Mama Johan.
Mendengar jawaban Mama Johan, Tasya hanya tersenyum malu dan tak tau harus berkata apa.
"Tasya, kamu hati hati ya. Bilang sama Mama kalau sampai pria gunung es ini menyakitimu. Nanti biar Mama yang urus. Mama akan membuatnya kapok nyakitin kamu. Pokoknya kalau ada apa apa yang berhubungan dengan dia, langsung bilang ke Mama." Ucap Mama Johan memegang kedua lengan Tasya.
__ADS_1
"Iya Ma. Aku akan laporin dia ke Mama kalau sampai dia nyakitin aku. Karena hanya Mama yang bisa ngalahin dia." Balas Tasya tersenyum kearah Mama Johan.
"Ya sudah! Kamu pulang gih. Keburu malem. Kapan kapan lagi kita makan malam bersama lagi ya." Ucap Mama Johan.
"Iya Ma! Aku pamit dulu ya Ma." Jawab Tasya tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mama Johan dan Papa Johan. Tasya bersalaman dan mencium tangan mereka secara bergantian.
"Aku pulang dulu ya." Pamit Tasya kepada Gadis bersalaman dan saling mencium pipi kanan dan kiri.
"Hati hati ya kamunya." Balas Gadis.
"Dan inget, Mama sudah ngasih kamu kode jadi kamu tidak akan mudah keluar dari areanya." Bisik Gadis ditelinga Tasya sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih kamu?" Tanya Tasya mencubit perut Gadis.
Tasya berjalan keluar diikuti oleh CEO Frans. Sesampainya diluar rumah, Tasya menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kearah CEO Frans yang berjalan dibelakangnya.
Tasya menjulurkan kedua tangannya ke depan dan menunggu kedua tangan CEO Frans membalas juluran tangannya. CEO Frans menghampiri Tasya dan membalas juluran tangannya dan tangan mereka bergandengan. Tasya dan CEO Frans saling senyum satu sama lain.
Tasya langsung memeluk CEO Frans dengan erat dan tersenyum senang.
"Apakah kamu sangat bahagia?" Tanya CEO Frans.
"Aku sangat sangat sangat bahagia. Aku tak mengira kalau Mama akan memperlakukan aku seperti putri di rumah ini." Ucap Tasya mempererat pelukannya.
"Lain kali kita berkumpul lagi dengan mereka. Aku kira kamu akan takut kepada Mama setelah tadi Mama memojokkan kamu seperti tadi." Ucap CEO Frans.
"Kenapa aku harus takut? Bukankah itu sudah menjadi resiko ya kalau pacaran sama pria tua?" Jawab Tasya mendongakkan kepalanya menatap wajah CEO Frans.
"Apa? Pria tua? Siapa yang pria tua?" Tanya CEO Frans menggelitik tubuh Tasya.
Tasya tertawa karena gelitikan CEO Frans.
"Iya! Iya! Aku salah! Aku minta maaf!" Ucap Tasya tertawa tawa dan tubuhnya menggeliat karena gelitikan CEO Frans.
CEO Frans tertawa senang dan kembali memeluk perut Tasya. CEO Frans menatap Tasya dan mencium keningnya. Tasya hanya tersenyum.
"Ayo pulang." Ajak CEO Frans menggandeng tangan Tasya dan mengajaknya ke mobil untuk pulang.
__ADS_1