DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 79


__ADS_3

Sepulang kantor Tasya berencana untuk pulang Namun CEO Frans dengan sengaja tak membiarkan Tasya pulang.


"Tasya!" Panggil CEO Frans ketika melihat Tasya berjalan menuju lift hendak turun.


"Iya Tuan!" Jawab Tasya membungkukkan badannya.


"Mau kemana kamu?" Tanya CEO Frans.


"Mau pulang Tuan!" Jawab Tasya.


"Siapa yang mengijinkan kamu pulang? Segera periksa file proyek baru perusahaan." Ucap CEO Frans.


"Tapi Tuan! Ini sudah kelewat jam kerja saya!" Jawab Tasya menolak dan melihat jam ditangannya.


"Saya tidak mau tau. File itu harus selesai hari ini. Besok pagi akan ada meeting penting tentang proyek itu." Ucap CEO Frans kemudian pergi melewati Tasya.


Tasya yang dibelakanginya merasa kesal. Dengan wajah penuh dendam, Tasya mengumpat tanpa suara dan mengayunkan tangannya ke atas seperti hendak memukul CEO Frans.


"Kenapa kamu? Mau memukul?" Tanya CEO Frans yang tiba tiba berhenti dan berbalik kearah Tasya dengan dingin.


"Ti.. Tidak! Mana saya berani? Saya hanya merenggangkan otot tangan saya biar tidak kaku." Jawab Tasya gugup dan mengangkat kedua tangannya keatas, mengarahkannya ke kanan dan ke kiri.


CEO Frans tak lagi menghiraukan Tasya. Dengan terpaksa Tasya kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sekitar 2 jam kemudian, Tasya telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berdiri dan menghampiri CEO Frans.


"Tuan Frans, semua berkas sudah saya periksa dan sudah saya perbaiki semua kesalahannya." Ucap Tasya menyerahkan flashdisk kepada CEO Frans.


"Kamu yakin kalau semua sudah benar dan tidak ada satupun kesalahan? Ada kesalahan 1 angka saja bisa berakibat fatal." Ucap CEO Frans.


"Saya yakin tidak ada. Saya sudah beberapa kali memeriksanya dan memastikannya." Jawab Tasya.


"Baiklah!" Balas CEO Frans.


"Bolehkah saya pamit pulang sekarang?" Tanya Tasya.


"Tunggi sebentar! Saya akan antar kamu pulang!" Ucap CEO Frans.


"Tidak perlu Tuan! Saya bisa pulang sendiri. Lagian cuma dekat." Ucap Tasya menolak.


"Sejak kapan kamu punya wewenang untuk menentang saya?" Tanya CEO Frans menatap Tasya dingin.


"Baiklah!" Jawab Tasya terpaksa menurut.

__ADS_1


CEO Frans dengan segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera berkemas.


"Ayo!" Ucap CEO Frans mengajak Tasya turun.


Tanpa menjawab Tasya mengikuti CEO Frans yang sudah berjalan lebih dulu. Ketika didalam lift, CEO Frans meminta sopir perusahaan untuk menyiapkan mobilnya.


"Masuk mobil!" Ucap CEO Frans saat sampai dilobi perusahaan.


"Rumah saya dekat. Kenapa harus membawa mobil?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Diamlah! Masuk saja tidak usah bawel." Ucap CEO Frans.


Tasya hanya menuruti perintah CEO Frans. Dia masuk kedalam mobil.


"Aku akan membawa mobil sendiri." Ucap CEO Frans kepada sopir perusahaan.


"Baiklah!" Jawab sopir tersebut dan mebungkukkan badannya kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada CEO Frans.


CEO Frans masuk kedalam mobil.


"Kamu pikir aku sopir kamu?" Tanya CEO Frans setelah menutup pintu mobilnya. CEO Frans mulai berbicara informal kepada Tasya.


"Maksud Anda?" Tanya Tasya tak mengerti.


Tanpa menjawab, Tasya keluar dari mobil dan berpindah duduk di kursi sebelah CEO Frans.


CEO Frans mulai mengemudikan mobilnya dan berjalan berlawanan dengan arah rumah Tasya.


"Tuan Frans, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke asrama." Ucap Tasya gelisah.


"Tenang saja, aku tidak akan menculikmu. Kamu tidak sekaya itu untuk aku mintai tebusan. Aku hanya lapar. Ingin makan. Kamu temani aku makan dulu." Ucap CEO Frans.


"Tetapi saya tidak lapar." Jawab Tasya.


"Aku hanya memintamu untuk menemaniku. Kamu tidak harus makan di sana." Ucap CEO Frans.


Tasya memilih diam. Dia tak mau lagi berdebat dengan CEO Frans. Segigih apapun dia berbicara, dia berpikir tidak akan pernah bisa menang dari kepala es.


Sesampainya di lokasi, CEO Frans menghentikan mobilnya. Dia membawa Tasya ke sebuah restoran mewah berbintang 5.


"Kenapa restoran semewah ini begitu sepi? Tak ada satupun pengunjung?" Tanya Tasya dalam hati.


"Kenapa melamun? Ayo masuk!" Ucap CEO Frans berjalan melewati Tasya.

__ADS_1


Tasya mengikuti langkah CEO Frans dari belakang.


"Lelet amat jalannya! Kamu bukan pengawalku. Jadi ...!" Ucap CEO Frans menarik tangan Tasya, sehingga Tasya berada di sampingnya.


CEO Frans membawa Tasya kelantai paling atas agar Tasya bisa menikmati keindahan malam. Mata Tasya tak bisa berbohong. Dia sangat mengagumi keindahan lampu kota dari dalam restoran.


Restoran tersebut sengaja dibuat dengan dinding kaca agar pengunjung di sana bisa menikmati keindahan luar.


"Tuan Frans! Kenapa restoran semewah ini tak terlihat satupun pengunjung yang datang?" Tanya Tasya yang melihat sekeliling restoran tak ada satupun pengunjung selain mereka berdua.


"Aku sudah pesan semua tempat di restoran ini." Jawab CEO Frans.


"Apa?" Teriak Tasya terkejut.


"Duduklah!" Ucap CEO Frans menarik kursi dan menyuruh Tasya duduk.


"Kenapa Anda memesan seluruh tempat di restoran ini?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Agar tidak ada yang mengganggu kita disini." Jawab CEO Frans.


Seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesan CEO Frans sebelumnya. Tasya sangat terkejut dengan kejutan yang dia terima dari CEO Frans. Dia tak menyangka bahwa CEO Frans akan menyiapkan makan malam romantis untuknya. Tiba tiba datang 3 orang dengan membawa alat musik masing masing dan memainkannya. Iringan musik menambah keromantisan makan malam mereka. Didalam lubuk hati Tasya, dia merasa sangat bahagia atas apa yang dilakukan CEO Frans. Dia tak pernah menyangka bahwa CEO Frans bisa seromantis ini.


"Kenapa Anda melakukan ini semua?" Tanya Tasya penasaran.


"Kita makan dulu. Sebelum makanannya dingin. Makanan ini tidak akan enak saat sudah dingin." Ucap CEO Frans mengajak Tasya makan.


Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka mulai menyantap makanan yang telah disediakan di meja. Tak ada percakapan apapun ketika mereka makan. Sudah menjadi kebiasaan CEO Frans tak berbicara ketika sedang makan.


Tasya dan CEO Frans menikmati makan malam mereka. Setelah selesai makan, Tasya mulai menikmati keindahan lampu kota dari balik dinding kaca restoran tersebut. Tampak jelas keindahan yang belum pernah dia lihat. Tasya menatap keluar dan tersenyum melihat semua keindahan didepan matanya. CEO Frans yang memperhatikan Tasya tersenyum pun turut tersenyum. Dia tak berpaling sedikitpun dari pandangannya ke wajah Tasya. Dia sempat memalingkan pandangannya ketika Tasya melihat kearahnya. Dan mulai memandang Tasya lagi ketika Tasya kembali melihat keluar.


"Kamu menyukainya?" Tanya CEO Frans.


"Saya sangat menyukainya. Belum pernah saya melihat keindahan seperti ini." Jawab Tasya tersenyum dan tetap fokus keluar.


CEO Frans ikut tersenyum melihat Tasya tersenyum. Seperti dia telah menemukan kebahagiaannya.


"Kapan kapan aku akan mengajakmu ketempat yang lebih indah." Ucap CEO Frans.


"Benarkah? Anda berjanji?" Tanya Tasya menatap CEO Frans tak percaya.


CEO Frans hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Anda sudah berjanji! Jadi Anda harus menepatinya." Ucap Tasya tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2