
"Kak Frans, kenapa sih kamu nggak pernah anggap aku sebagai seorang wanita dimata kakak? Kakak kan tau sendiri kalau Vio sudah lama menyukai Kak Frans. Bisa nggak sih sekali saja Kakak anggap aku sebagai seorang wanita?" Tanya Vio mengungkapkan segala isi hati yang ingin dia ungkapkan dengan nada kecewanya.
Terlihat jelas dimatanya bahwa dia menginginkan hubungan lebih dari sekedar teman atau keluarga.
"Vio, kamu kan tau dari dulu aku anggap kamu itu hanya seorang adik. Itu saja tidak lebih. Dan sampai sekarang perasaan itu tidak berubah. Kamu jangan terlalu berharap kepadaku. Mau bagaimana pun aku tidak bisa menganggapmu sebagai seorang wanita. Aku sayang sama kamu, tapi hanya sebatas adik dan kakak." Jawab CEO Frans menjelaskan dengan tenang.
"Tapi Kak... Apa tidak bisa sekali saja?" Tanya Vio tak mau menyerah.
"Sampai kapanpun tak akan berubah. Jangan rusak hubungan baik kita hanya karena rasa egoismu." Jawab CEO Frans.
"Tapi kak...!" Ucap Vio tak menyelesaikan ucapannya. Dia langsung terdiam dengan mata berkaca kaca dengan perasaan yang sangat kecewa.
"Aku tidak ingin merusak hubungan baik kita hanya karena perasaanmu. Kita sudah kenal lama, apa kamu ingin merusak hubungan yang kita bina secara baik dalam sekejap?" Ucap CEO Frans tetao tenang. Dia memegang kedua bahu Vio untuk menenangkannya.
Vio hanya diam dengan air mata yang menetes karena tak mampu membendungnya.
"Sudah! Jangan menangis. Aku tidak ingin melihat kamu menangis seperti ini. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahatlah. Besok kamu haru kembali ke Amerika kan?" Ucap CEO Frans lembut.
Vio hanya menganggukkan kepalanya dengan mata tak berani menatap CEO Frans.
"Hei! Dimana Vio yang aku kenal. Setau aku dia tak akan selemah ini. Mana senyuman dan tingkah konyol pembuat onar yang selalu ditunjukkan kepadaku?" Ucap CEO Frans mengangkat dagu Vio agar menatapnya.
Ucapan CEO Frans mampu menenangkan hati Vio. Vio tersenyum sangat tenang didepannya. Diapun membalas senyumannya.
"Kak Frans! Aku boleh minta sesuatu nggak sebelum aku kembali?" Tanya Vio.
"Minta apa?" Tanya CEO Frans balik.
"Boleh tidak aku memeluk Kak Frans sekali saja**?" Tanya Vio.
"Permintaan macam apa ini?" Tanya CEO Frans terkejut.
"Sekali saja Kak. Anggap saja pelukan adik kakak." Ucap Vio terus meminta.
Tanpa mendengar jawaban dari CEO Frans, tangan Vio melewati sela antara tangan dan pinggang CEO Frans untuk memeluknya. Karena tak tega, CEO Frans membalas pelukan Vio, dengan melingkarkan tangannya di punggung Vio.
Karena CEO Frans membalas pelukannya, Vio menyandarkan kepalanya di dada bidang CEO Frans dan memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya.
Tak pernah terlintas di pikiran CEO Frans bahwa akan ada seseorang yang melihat mereka berdua. tetapi tiba tiba ... Cceeekkllleekkk ada orang yang membuka pintu ruangan CEO tersebut. Terlihat jelas seseorang berdiri tertegun karena dikejutkan oleh pemandangan yang tak ingin dilihatnya.
__ADS_1
Dengan mata yang tiba tiba berkaca kaca, terlihat jelas bahwa dia sangat kecewa. Mulut terasa terbungkam, tak mampu mengatakan apapun.
"Tasya!" Ucap Anggi ketika melihat temannya berlalu pergi karena rasa kecewanya.
CEO Frans dengan cepat dan sedikit mendorong tubuh Vio untuk melepaskan pelukannya. CEO Frans terkejut dan menatap kearah pintu. Dia hanya melihat Anggi yang menatap tajam kearah mereka. Dan berlalu pergi meninggalkan Vio dan CEO Frans.
Tanpa berpikir apapun, CEO Frans berbalik dan pergi.
"Kak Frans." Ucap Vio meraih tangan CEO Frans untuk mencegahnya pergi.
CEO Frans tak perduli. Dengan sigap dia melepaskan pegangan tangan Vio dan pergi mengejar Tasya.
CEO Frans menahan Anggi untuk berhenti mengejar Tasya.
"Biar aku saja yang mengejarnya!" Ucap CEO Frans.
Tanpa berniat untuk menjawab, Anggi hanya menghentikan langkahnya. Dan CEO Frans kembali mengejar Tasya. Karena menunggu lift terlalu lama, CEO Frans turun menggunakan tangga darurat.
Tasya keluar lift dan menuju lobi untuk keluar dan pergi dari perusahaan. Dan CEO Frans keluar dari pintu tangga darurat. Dan melihat Tasya berjalan cepat dengan penuh rasa kecewa.
"Tasya! Tunggu!" Teriak CEO Frans mengejar Tasya.
CEO Frans mempercepat larinya.
"Lepasin!" Teriak Tasya memberontak.
"Biar aku jelaskan dulu." Ucap CEO Tasya.
"Apa yang perlu dijelasin? Bukankah semua sudah terlihat jelas?" Tanya Tasya meneteskan air matanya.
"Kamu hanya salah paham." Ucap CEO Frans gelisah.
"Salah paham? Salah paham seperti apa yang Anda maksudkan?" Tanya Tasya tak mau tau.
"Ini tak seperti yang kamu lihat." Ucap CEO Frans mencoba menjelaskan.
"Lalu seperti apa yang seharusnya saya lihat?" Tanya Tasya tetap tak mau tau.
"Kamu jangan berpikir macam macam tentang saya." Ucap CEO Frans.
__ADS_1
"Memangnya saya berpikir apa tentang Anda?" Tanya Tasya. Selalu pertanyaan yang dia lontarkan tetapi tak mendapat jawaban satupun dari pertanyaannya.
"Tolong kamu dengerin dulu penjelasan saya." Ucap CEO Frans.
"Saya tidak ingin mendengar apapun dari Anda. Saya tidak ingin tau dan saya tidak mau tau. Jangan lagi memberi saya harapan. Anda sebaiknya pergi. Jangan ganggu saya lagi secara pribadi." Ucap Tasya dan pergi meninggalkan CEO Frans.
"Tasya!" Panggil CEO Frans.
Tiba tiba Anggi mencegah CEO Frans agar tidak mengejar Tasya.
"Tuan biar saya saja. Biarkan dia tenang dulu." Ucap Anggi.
"Baiklah! Tolong tenangkan dia." Ucap CEO Frans membiarkan Anggi pergi mengejar Tasya.
Anggi pergi mengejar Tasya.
"Tasya!" Ucap Anggi meraih tangan Tasya.
"Anggiii, hati aku benar benar sakit saat ini." Ucap Tasya memeluk Anggi dan menangis di pelukan Anggi.
"Sini! Sini! Kamu duduk dulu disini." Ucap Anggi menarik Tasya duduk ditepi jalan.
Tasya hanya menurut saja.
"Hatiku benar benar sakit. Aku baru saja mencapai kesuksesan project yang aku tangani, tapi kenapa aku tetap tidak merasa senang? Kenapa rasanya sakit dan ingin menangis?" Keluh Tasya. Kepalanya bersandar di bahu Anggi dan menangis.
"Kenapa kamu harus mencintai iblis jahat seperti CEO Frans itu sih. Harusnya kamu harus bisa menahan diri kamu." Ucap Anggi.
"Aku juga tidak bisa menghindarinya. Aku saja tidak menyadarinya kapan perasaan itu datang. Tiba tiba saja aku merasa sangat nyaman setiap bersamanya." Jawab Tasya.
"Sudah! Tidak usah memikirkan si brengsek itu lagi. Berhentilah menangis. Ayo pulang." Ucap Anggi mengusap pipi Tasya untuk menghapus air matanya.
Tasya mengangguk dan pulang bersama. Anggi Menggandeng tangan Tasya agar Tasya tak merasa sendiri dan lebih tenang.
Sebelum pulang ke asrama, Anggi mengajak Tasya untuk berjalan jalan sebentar untuk menikmati udara segar malam ini sampai Tasya merasa lebih tenang.
"Besok tolong ambilkan aku cuti. Aku ingin menenangkan diri dulu." Ucap Tasya.
"Baiklah! Tapi tentang project kamu?" Tanya Anggi.
__ADS_1
"Tadi sudah aku kirim ke email Raka. Biarkan dia yang mengurusnya." Jawab Tasya.
"Baiklah!" Balas Anggi.