
Jam didinding sudah menunjukkan jam 22.00. Tasya berkali kali menguap dan merasakan matanya tak sanggup lagi terbuka. Sesekali kepalanya terjatuh tanpa sadar karena kantuknya.
Frans melirik kearah Tasya dan mengakhiri pembahasan mereka.
"Sudah malam. Kita akhiri pembahasan kita sampai disini." Ucap Frans menutup berkas berkas dihadapannya.
"Baiklah! Kalau begitu saya permisi." Ucap Riko pamit.
"Saya juga permisi pulang dulu." Balas Tasya berpamitan juga.
"Tunggu saya disini. Saya antar kamu pulang." Ucap Frans berdiri.
"Ti.. Tidak perlu Tuan Frans. Terimakasih sebelumnya. Tetapi saya bisa pulang sendiri." Ucap Tasya gugup.
"Saya bilang antar ya antar. Kamu tidak punya hak untuk menolaknya." Teriak Frans.
"Baiklah!" Jawab Tasya pasrah.
Riko yang menyaksikan drama mereka hanya menatap mereka dengan bingung. Ini pertama kalinya atasannya mau berurusan dengan seorang wanita.
"Kenapa kamu masih ada disini?" Tanya Frans dingin menatap Riko.
"Ohh! Saya permisi pulang dulu." Ucap Riko menundukkan kepalanya dan berbalik pergi meninggalkan ruangan Frans.
"Kamu tunggu disini dulu. Aku ke toilet sebentar." Ucap Frans pergi ke toilet.
Tasya duduk kembali duduk di sofa menunggu Frans. Ada perasaan yang timbul didalam hatinya. Tasya tak mengerti perasaan apa yang tiba tiba muncul dihatinya. Perasaan itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Tasya tiba tiba tersenyum tanpa sadar dan merasakan detak jantungnya yang tak menentu.
"Jantung tolong jangan berdegup terlalu kencang. Tenanglah. Ada apa denganku sebenarnya. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya." Gumam Tasya dan tangan kanannya memegang dada sebelah kiri.
Frans keluar dari toilet dan memakai jas yang tergantung dibelakang kursinya.
"Ayo!" Ucap Frans berjalan keluar.
"Aku kira mengantarku berarti membantuku berjalan. Kalau cuma seperti ini, aku tak membutuhkan bantuannya." Batin Tasya.
Tasya beranjak dari sofa dan berjalan pelan dengan kaki pincang sebelah.
"Apakah kamu titisan kura kura? Kenapa berjalanmu lamban sekali?" Ucap Frans dingin.
Tasya hanya diam tak memperdulikan apapun yang dikatakan Frans. Dia sudah terlalu susah untuk berjalan. Jadi tak mau menggubris ucapan ucapan kasar Frans tentangnya.
Frans tak sabar menunggunya. Dia menghampiri Tasya dan berhenti tepat didepan Tasya. Frans berjongkok membelakangi Tasya.
"Naiklah." Ucap Frans.
Tasya menurut saja, daripada membuat Frans marah marah tak jelas. Frans berjalan menuju lift dengan menggendong Tasya. Frans dan Tasya terdiam tanpa kata didepan lift.
Kkrrruuuyyuuukkk....
Frans tersenyum mendengar suara perut Tasya. Sedangkan Tasya merasa malu karena perutnya terlalu jujur mengatakan bahwa dirinya lapar.
__ADS_1
"Kamu lapar?" Tanya Frans.
"Ti.. Tidaakk." Jawab Tasya memalingkan wajahnya kesamping karena malu.
"Tidak usah berbohong." Balas Frans tersenyum.
"Katanya kamu tadi pergi makan malam bersama kekasihmu. Jadi apa yang kamu makan? Kenapa masih merasakan lapar?" Tanya Frans dengan nada sedikit menghina.
"Bagaimana saya jadi makan? Apakah Anda tidak sadar bahwa Anda telah menggagalkan makan malam saya?" Ucap Tasya kesal.
Frans hanya tersenyum tak perduli apa yang dikatakan Tasya. Frans menggendong Tasya dan menuju parkiran.
"Masuklah." Ucap Frans menurunkan Tasya dan menyuruhnya masuk ke mobil.
"Tapi asrama kampus dekat dari sini tidak perlu naik mobil. Kita hanya perlu berjalan sebentar saja." Jawab Tasya.
"Sejak kapan kamu punya hak menjawab perintah saya? Saya menyuruhmu masuk mobil bukan menyuruhmu berdebat dengan saya." Ucap Frans sedikit kasar.
"Baiklah!" Jawab Tasya frustasi.
Tasya masuk kedalam mobil. Frans mengikutinya. Frans diam menatap Tasya. Tiba tiba Frans mendekatkan wajahnya ke wajah Tasya. Tanpa sadar Tasya menutup matanya tak menolak. Frans melirik Tasya.
"Kenapa? Kenapa kamu menutup mata?" Tanya Frans tersenyum licik.
"Hem?" Gumam Tasya membuka matanya.
"Anda mau ngapain mendekatkan wajah Anda ke saya?" Tanya Tasya gugup.
"Saya? Saya mau memakaikan sabuk pengaman. Karena kamu hanya diam tak memakainya." Jawab Frans sambil menarik sabuk pengaman dan memakaikannya untuk Tasya.
"Tunggu dulu! Jangan bilang kamu berpikir kalau saya akan menciummu." Balas Frans tersenyum licik.
"Ti.. Tidak!" Balas Tasya menggelengkan kepalanya.
Frans menjalankan mobilnya keluar dari perusahaan dan berjalan berlawanan dengan jalan menuju asrama kampus.
"Loh kita mau kemana? Ini bukan jalan ke asrama kampus." Ucap Tasya terkejut.
"Diam saja." Balas Frans.
Frans menghentikan mobilnya disebuah restoran besar. Tasya kagum dengan apa yang dilihatnya. Belum pernah dia datang ke restoran sebesar ini.
"Tuan kenapa kita kesini?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Aku lapar. Aku mau makan." Jawab Frans dan keluar dari mobil.
Frans berjalan masuk restoran dan Tasya membuntutinya.
Setelah duduk, seorang pelayan memberikan daftar menu kepada Frans dan Tasya.
"Kenapa harganya selangit semua? Bagaimana kalau aku sudah memesannya dan akhirnya aku disuruh membayar sendiri. Aku mau bayar pakai apa?" Batin Tasya mengerutkan dahinya karena rasa takutnya. Tasya menghalangi mukanya dengan buku menu agar Frans tak melihat ekspresinya.
Frans melirik Tasya dengan senyum dan menatap heran dengan apa yang dilakukan Tasya.
__ADS_1
"Nona Tasya, apa yang ingin Anda pesan?" Tanya Frans mengagetkan Tasya.
"Sebentar aku baru membaca menunya." Jawab Tasya tanpa merubah posisinya.
"Nasi goreng saja harganya selangit." Batin Tasya hampir menjerit.
"Nasi goreng saja. Minumnya es jeruk." Ucap Tasya memesan.
"Saya juga sama." Balas Frans memesan sama dengan Tasya.
Skip makan...
Setelah selesai makan, Frans melambaikan tangan memanggil pelayan dan meminta tagihan. Pelayan datang dan memberikan tagihan kepada Frans. Dan Frans memberikan tagihan tersebut kepada Tasya.
"Apa ini?" Tanya Tasya terkejut.
"Bayar." Jawab Frans.
"Apa?" Teriak Tasya.
Tasya mengambil tagihan tersebut dan membaca angka yang tertera di tagihannya.
"Tuan, bukankah Anda yang mengajak saya kemari?" Ucap Tasya memelas.
"Tapi saya tidak bilang kalau saya yang traktir." Jawab Frans tak perduli.
"Tuan, saya tidak membawa uang sebanyak itu." Balas Tasya ingin menangis rasanya.
"Ya sudah kamu hanya perlu cuci piring disini. Saya bisa menunggumu di mobil." Ucap Frans tersenyum licik.
"Apa? Apakah Anda tidak punya peri kemanusiaan?" Teriak Tasya mulai kesal.
"Kamu marah sama saya? Padahal kalau kamu memohon, saya berencana membantumu. Tetapi sekarang sudah tidak ada niatan lagi." Ucap Frans meninggalkan Tasya.
Tasya mengejar Frans dengan kaki pincangnya.
"Tuan saya mohon, pinjami saya uang untuk membayarnya. Pasti saya akan mengembalikan secepatnya." Ucap Tasya memegang lengan Frans dan memohon.
Frans tersenyum licik dan berbalik menatap Tasya.
"Baiklah! Karena kamu sudah memohon. Jadi saya akan bantu." Ucap Frans licik.
Frans pergi ke kasir dan membayarnya. Sedangkan Tasya penuh rasa dendam kepada Frans.
"Dasar orang aneh." Gumam Tasya.
Beberapa saat kemudian Frans datang menghampiri Tasya.
"Apakah tidak ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan setelah saya membantu kamu?" Ucap Frans tiba tiba.
"Terimakasih Tuan." Ucap Tasya menundukkan kepalanya berterimakasih.
"Aku sudah tidak membutuhkannya." Balas Frans.
__ADS_1
Frans berjalan pelan agar Tasya bisa mengimbanginya. Tasya berjalan dibelakang Frans dengan pincang menuju mobil dan pulang.