
"Tumben beberapa hari ini CEO Frans tidak menyusahkanmu. Itu benar benar diluar prediksiku." Kirim Anggi ke forum pribadi Tasya.
Tasya bingung dan merasa heran setelah membaca chat dari Anggi.
"Benar juga! Kenapa beberapa hari ini dia tidak menyusahkanku? Apakah dia marah kepadaku tentang perkataanku kemarin? Aku benar benar malu setiap kali mengingatnya. Kenapa aku harus mengatakan itu kepadanya?" Batin Tasya merasa menyesal.
"Ya Tuhan, berani beraninya aku masih datang ke perusahaan setelah berkata seperti itu kepadanya." Batin Tasya lagi.
Tasya merasa frustasi dan serasa ingin menangis karena rasa menyesalnya. Dia langsung menyandarkan dahinya ke meja didepannya. Dan tak sengaja dahinya mengeklik mouse dan masuk ke forum perusahaan.
Tiba tiba Tasya mengangkat kepalanya dan mulai mengetik tanpa melihat layar komputernya.
"Kamu tau tidak ternyata yang CEO Frans susahkan bukan cuma aku. Sepertinya dia itu memang hobi mengganggu ketenangan orang lain. Kemarin saja dia menyusahkan departemen perencanaan. Dia benar benar pembunuh berdarah dingin. Aku tidak menyangka bahwa dia orang kejam seperti itu." Ketik Tasya dan klik kirim.
"Memang iblis jahat." Ketik Tasya lagi.
Tasya menyandarkan badannya di kursinya dengan kedua tangan menyilang di atas dadanya. Dia menatap CEO Frans dengan rasa kesal.
Setelah CEO Frans memperhatikan komputernya, secara tiba tiba dia menatap Tasya dengan tatapan sangat tajam. Tasya yang sadar akan tatapan tajam sang CEO langsung memalingkan wajahnya ke depan layar komputernya.
Ada apa ini? Kenapa dia tiba tiba menatapku seperti itu? Apakah dia ingin membunuhku? Kenapa? Soal kemarin?" Batin Tasya kebingungan.
CEO Frans kembali fokus ke layar komputernya dan mengetik sesuatu di forum perusahaan.
"Saya juga tidak menyangka bahwa saya adalah orang seperti itu." Balas Frans di forum perusahaan.
Tasya melihat layar komputernya dan membaca balasan CEO Frans. Dia sangat terkejut. Dengan mata melotot dia mendekatkan kepalanya ke layar komputernya.
Dia kembali ingin menangis dan menjerit sekeras kerasnya. Tasya menatap CEO Frans dengan rasa bersalah dan menyesal. Rasa takut pun menyelimuti perasaannya. CEO Frans tak lagi menghiraukan Tasya.
Tasya berjalan dengan pincang kearah CEO Frans dengan sangat frustasi dan badannya terasa lemas tak berdaya.
"Tuan Frans, maafkan saya. Saya tidak sengaja mengatakannya. Saya bicara di forum yang salah. Ehh! Maksud saya, saya todak seharusnya tidak boleh mengatakannya di forum manapun. Otak saya mungkin sedang eror. Berani beraninya saya bergosip tentang bos saya. Saya benar benar minta maaf Tuan." Ucap Tasya dengan penyesalannya.
CEO Frans tak menggubris ucapan Tasya. Dia tetap fokus pada layar komputer didepannya. CEO Frans mengambil gelas disampingnya dan hendak minum tetapi tak ada lagi air di gelas tersebut. CEO Frans meletakkan gelas itu kembali ketempat semula.
"Tuan, biarkan saya mengambilkan Anda minum." Ucap Tasya menyahut gelas tersebut dan segera pergi dengan kakinya yang masih sakit.
Beberapa menit kemudian, Tasya kembali dan membawa gelas yang berisi air untuk CEO Frans. CEO Frans tak tega melihat Tasya kesusahan berjalan.
__ADS_1
"Ini Tuan, silahkan diminum." Ucap Tasya meletakkan gelasnya di meja.
CEO Frans tetap diam tak menghiraukan Tasya.
"Tuan, saya sungguh sungguh minta maaf." Ucap Tasya memelas.
"Bagaimana kalau kamu pulang saja?" Ucap CEO Frans menatap Tasya dingin.
"Ti.. Tidak! Saya tidak mau pulang. Saya tidak mau." Ucap Tasya terkejut dan menggelengkan kepalanya.
CEO Frans kembali diam dan fokus ke layar komputernya.
"Tuan, saya tau kalau kali ini saya membuat kesalahan besar yang mungkin tak bisa Anda maafkan. Tetapi jangan pulangkan saya." Ucap Tasya memohon.
CEO Frans tetap tak hirau.
"Saya benar benar minta maaf. Saya berjanji, saya tidak akan lagi bergosip tentang Anda dimana pun saya berada." Ucap Tasya gelisah.
"Sebenarnya saya ..." Ucap CEO Frans tetapi Tasya sudah memenggalnya.
"Tidak! Tidak! Saya tidak ingin mendengar apa apa lagi gosip tentang Anda. Semakin banyak saya tau tentang Anda, Semakin saya cepat mati." Teriak Tasya dan kedua tangannya menutup telinganya.
"Tuan sudah waktunya Anda pergi untuk membicarakan hak cipta merk." Ucap Sekretaris berdiri didepan pintu.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Frans bergegas pergi meninggalkan ruangan dengan tangan kosong.
"Hem? Membicarakan hak cipta? Kenapa dia tidak membawa laptonya?" Batin Tasya.
"Tuan Frans, laptop Anda!" Teriak Tasya tetapi sudah tidak didengar oleh CEO Frans.
Tasya mengambil laptop CEO Frans dan dengan susah payah karena kakinya masih sakit, berlari mengejar CEO Frans.
CEO Frans masuk kedalam mobilnya. Setelah berpikir beberapa saat, dia mengambil ponselnya dan menelepon Anggi.
"Selamat pagi Tuan Frans." Sapa Anggi dari balik telepon.
"Kamu bantu bereskan semua barang barang Tasya dan bawa turun kebawah." Ucap CEO Frans mematikan teleponnya dan membuat Anggi bingung.
CEO Frans hendak menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Tuan Frans! Laptop Anda." Teriak Tasya menghampiri mobil Frans.
CEO Frans kembali mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil.
"Bukankah Anda ingin meeting? Kenapa bisa lupa membawa laptop Anda?" Ucap Tasya menyerahkan laptopnya.
CEO Frans menerimanya dan berjalan ke bagasi mobil. Tasya mengikutinya dari belakang.
"Apakah meeting harus resmi?" Ucap CEO Frans membuka bagasinya dan meletakkan laptopnya.
Frans mengisyaratkan matanya kearah bagasi agar Tasya melihat isi bagasinya.
"Meeting juga perlu santai." Ucap Frans.
Tasya hanya tersenyum semanis mungkin.
"Kenapa kamu masih berada disini? Bukankah saya menyuruh kamu pulang?" Tanya CEO Frans.
"Tidak! Saya tidak mau pulang. Saya tetap mau magang disini." Jawab Tasya.
"Dengan kaki seperti itu bagaimana kamu bisa berjalan dengan baik? Apalagi harus naik turun lantai. Saya beri ijin bekerja di rumah sampai kakimu sembuh." Ucap CEO Frans.
"Berarti saya tidak di keluarkan?" Tanya Tasya merasa lega.
"Saya hanya menyuruh kamu pulang. Bukan menyuruhmu keluar. Lagian hutang kamu masih banyak kepada saya. Masih banyak yang belum dihitung." Ucap Frans.
"Apa? Tapi tidak apa apa asalkan saya tidak dikeluarkan." Ucap Tasya lega.
"Tapi dengan syarat, setiap hari kamu harus memfoto kondisi kaki kamu. Dan video call dengan saya saat bekerja. Saya tidak ingin kamu enak enakkan di rumah dengan alasan kaki sakit." Ucap Frans.
"Apa? Setiap hari?" Tanya Tasya terkejut.
"Iya! Ada masalah?" Tanya CEO Frans.
"Tidak! Tidak!" Ucap Tasya melambaikan kedua tangan dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih disini, apakah kamu mau ikut aku meeting?" Tanya CEO Frans.
"Tidak! Saya tidak ingin mengganggu kesibukan Anda. Lagian kaki saya masih sakit." Jawan Tasya pergi kembali masuk ke perusahaan.
__ADS_1
Frans tersenyum senang melihat tingkah Tasya yang polos seperti itu. CEO Frans masuk ke mobil dan melajukannya.