DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 40


__ADS_3

Riko dengan kesal masuk kedalam ruangan CEO Frans. CEO Frans hanya melihat dengan lirikan tajamnya. Asisten Riko sadar akan amarah Frans kembali keluar dan mengetuk pintu dan kembali masuk setelah mengetuk pintu. Asisten Riko mengubah raut wajah kesalnya menjadi raut wajah dengan senyum semanis mungkin. Karena Riko sangat tau, jika dia memasang raut wajah kesal didepan temperamen buruknya Frans, dia pun tidak akan selamat.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Asisten Riko dengan senyum semanis mungkin.


"Ada apa? Sepertinya tadi ada sesuatu hal yang ingin kamu proteskan kepada saya." Tanya Frans dingin tanpa menatap Riko dan sibuk dengan laptopnya.


"Ahh Anda bisa saja. Mana mungkin saya berani memprotes Anda. Apakah Anda sedang bercanda?" Jawab Asisten Riko gugup tetapi mencoba tetap tenang.


"Amazing! Dia langsung bisa membaca pikiran seseorang dengan raut wajahnya. Memang pantas dia mendapat piala oscar." Batin Tasya terheran heran.


"Tetapi Tuan, apakah Anda menyusahkan departemen perencanaan lagi? Kenapa raut wajah mereka tadi seperti frustasi semua?" Tanya Asisten Riko memberanikan diri.


"Siapa yang menyusahkan mereka? Mereka saja yang tidak becus bekerja." Jawab Frans tetap fokus dengan laptopnya.


Tasya mengisyaratkan tangannya kepada Asisten Riko agar tak membahasnya lagi. Tasya juga mengatakan dengan bahasa mulutnya tanpa suara kalau temperamen Frans benar benar buruk. Asisten Riko yang mengerti maksud Tasya hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah!" Balas Asisten Riko.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Frans dingin.


"Oh iya! Berkas ini memerlukan tanda tangan Anda." Ucap Asisten Riko membuka berkas yang dibawanya dan menyerahkannya kepada CEO Frans.


Setelah CEO Frans selesai menandatanganinya, Asisten Riko mengambilnya kembali dan menutupnya.


Asisten Riko terdiam menatap CEO Frans. Frans yang sadar akan tatapan Riko membalas menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Frans dingin.


"Ti.. Tidak! Saya permisi." Ucap Asisten Riko membungkukkan badannya dan pergi.


"Oh iya! Sebaiknya Anda jangan terlalu menyusahkan departemen perencanaan." Ucap Asisten Riko berbalik menatap CEO Frans dan memberanikan diri mengatakannya.


"Apakah bonus bulanan dan tahunanmu ingin dihapus?" Tanya Frans mengancam Asisten Riko.


"Saya permisi." Ucap Riko berlari keluar ruangan CEO Frans.


***


Di bar...


"Tuan Frans kenapa Anda menyuruh saya datang kesini?Apakah Anda dalam masalah? Tidak biasanya Anda datang ketempat seperti ini?" Tanya Riko.

__ADS_1


Frans hanya diam tak menjawab.


"Apakah ini karena departemen perencanaan yang membuat Anda banyak pikiran dan ingin minum? Tuan Frans, Anda tenang saja. Departemen perencanaan pasti akan berhasil. Anda tidak perlu khawatir. Saya rasa ide Nona Tasya cukup menarik. Seharusnya itu tidak akan menimbulkan masalah untuk perusahaan kita." Ucap Riko panjang lebar.


Tetapi Frans tetap diam dan menikmati segelas minumannya.


"Aku telah berbicara panjang lebar. Tetapi kau terus minum. Aku disini tidak menemanimu untuk itu." Ucap Riko sedikit kesal.


"Apakah kamu ada pekerjaan lain?" Tanya Frans meletakkan gelasnya dan menatap Riko.


"Tentu saja. Aku akan pergi berkencan dengan wanita yang belum lama ini aku kenal." Jawan Riko.


"Apakah kau sedang merayu wanita saat ini? Tetapi dari perkataanmu sepertinya tidak akan ada perkembangan." Tanya Frans.


"Kesabaran adalah kunci utama. Aku diam diam mengumpulkan banyak kesan. Setelah membuatnya cukup terkesan aku akan memenangkan hatinya." Jawab Riko penuh keyakinan.


"Itu tidak akan mungkin berhasil." Balas Frans dam kembali meminum minumannya.


"Kenapa tidak akan berhasil? " Tanya Riko tak mengerti.


Frans hanya diam tak menjawab dan meneguk kembali minumannya.


"Tuan Frans, dalam hal hubungan aku adalah ahlinya." Ucap Riko membanggakan diri.


"Mari kita bahas perbedaannya. Apakah pria itu melakukan sesuatu yang mengecewakannya?" Tanya Riko menatap Frans.


Frans berpaling dan sejenak berpikir.


"Sama sekali tidak." Jawab Frans.


Frans kembali menatap Riko.


"Apakah pria itu perduli terhadap wanita itu?" Tanya Riko lagi.


Frans lagi lagi memalingkan wajahnya dan berpikir keras.


"Tidak begitu perduli." Jawab Frans.


"Apa ada perkataan wanita itu kepada temanmu sebelum dia pergi bersama pria itu?" Tanya Riko lagi.


"Tidak ada. Dia tiba tiba bertemu pria lain dan temanku tidak sengaja melihatnya sendiri dengan matanya." Jawab Frans kecewa dan terhanyut dalam perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan saat melihat dia pergi bersama pria lain?" Tanya Riko memancing Frans untuk berterus terang.


"Aku merasa sangat marah. Rasanya aku ingin sekali melarangnya pergi dengan pria lain. Tetapi aku tidak ada hak apa apa dengan dia. Jadi aku hanya bisa memendam amarahku." Jawab Frans tanpa sadar telah berterus terang.


Riko mendengar jawaban Frans langsung tertawa.


Frans menatap tajam Riko yang menertawakannya.


"Aku sangat memahamimu." Ucap Riko menepuk bahu Frans.


"Katakan saja." Ucap Frans dan menghindari tangan Riko di bahunya.


"Dengan analisis profesionalku, kamu butuh waktu lama untuk mengatakan kata kata ajaib itu. Fixs dia telah mencampakanmu." Jawab Riko menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Apakah dia benar benar menyukai pria itu?" Gumam Frans.


"Tuan Frans, Anda belum bertemu dengan mereka secara langsung. Bagaimana Anda bisa langsung membuat kesimpulan bahwa mereka adalah pasangan?" Tanya Riko.


Frans berpikir keras dan tangan kanannya memutar mutar gelasnya dan terhanyut dalam lamunannya.


"Tetapi senyuman terlihat bahagia ketika dia bertemu dengan pria itu. Dia tersenyum dengan sangat manis. Tampak jelas diwajahnya bahwa dia menyukainya." Ucap Frans kecewa dan mengangkat gelasnya dan meminumnya.


"Bersulang. Aku disini untuk temanku." Ucap Riko mengangkat gelasnya.


Frans menatap Riko tanpa berkata apapun.


"Tenang saja. Aku akan membantumu apapun tujuanmu. Jangan mengambil kesimpulan kalau kamu sendiri masih ragu dan tidak percaya. Jangan mendiskripsikan sesuatu hanya dengan melihatnya sekilas. Dia memang tipe orang yang tersenyum kepada siapapun. Berbeda dengan kamu." Ucap Riko.


Frans menatap Riko tajam.


"Bercanda. Bercanda." Ucap Riko tersenyum.


"Hanya denganku saja dia tak pernah tersenyum. Kenapa cuma denganku saja?" Tanya Frans menatap Riko penuh tanya.


"Apakah ada orang yang berani tersenyum di wajah dinginmu itu? Menatapmu saja badan mereka sudah gemetaran. Dan kamu dikenal sebagai pembunuh dingin. Tidak akan ada yang selamat ketika ada seseorang yang membuatmu kesal." Gumam Riko memalingkan wajahnya menghindari Frans.


"Kamu ngomong apa? Aku ada disini? Kenapa menghadap kearah lain? Apakah kamu sedang mengumpatku? Atau Mengutukku?" Tanya Frans memaksa Riko menghadap kearahnya.


Riko berbalik menghadap Frans dan tersenyum semanis mungkin.


Melihat senyum Riko, Frans merasa geli dan pergi meninggalkan Riko.

__ADS_1


"Tunggu! Kau mau pulang? Baiklah ayo kita pulang." Ucap Riko mengejar Frans.


__ADS_2