
Setelah 3 hari bekerja di rumah, Tasya memilih kembali ke perusahaan. Tasya berangkat bersama teman temannya pagi ini. Tasya dan teman temannya masuk ke perusahaan. Semua karyawan yang baru berangkat menepi untuk memberikan jalan kepada Presdir Johan dan CEO Frans. Asisten Riko mengikuti langkah mereka di belakang.
"Selamat Pagi Presdir." Ucap karyawan membungkukkan badan memberi salam hormat kepada Presdir Johan dan CEO Frans.
Presdir Johan tersenyum ramah kepada semua karyawan yang menyapanya. Sedangkan CEO Frans tetap berekspresi dingin seperti hari hari sebelumnya.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Tasya dan teman temannya bersama. Mereka membungkukkan badan memberi salam hormat.
Presdir Johan tersenyum kepada Tasya dan melayangkan tangan kanannya untuk memberi semangat kepada Tasya. Tasya hanya membalasnya dengan senyuman.
Setelah Presdir dan CEO Frans berlalu, semua karyawan menuju resepsionis untuk mengabsen diri mereka sendiri. Setelah itu mereka mulai bekerja sesuai dengan departemen dan bidang mereka masing masing.
Tasya menaiki lift untuk menuju ke ruangannya yang bersebelahan dengan CEO Frans.
ttookk.. ttookk.. ttookk.. Tasya mengetuk pintu dan masuk.
"Selamat pagi Tuan Frans." Sapa Tasya dengan senyuman di pagi harinya.
"Hemm." Jawab CEO Frans.
Tasya berjalan menuju mejanya.
"Sudah sembuh kaki kamu?" Tanya CEO Frans tiba tiba.
Pertanyaan CEO Frans membuat Tasya terkejut.
"Su.. Sudah Tuan. Ini saya sudah bisa berjalan dengan baik." Jawab Tasya berjalan ke depan meja CEO Frans.
"Baguslah! Saya pikir kamu akan tetap bermalas malasan di rumah." Ucap CEO Frans ketus.
"Siapa yang malas malasan. Setiap ada waktu senggang sedikit saja Anda sudah memberi tugas kepada saya. Saya seperti masuk neraka hidup hidup. Saya sampai tak ada waktu buat beristirahat. Sampai saya kurang tidur." Balas Tasya mengeluh sangat kesal.
"Apa?" Tanya CEO Frans dengan raut muka menakutkan.
"Tidak.. Tidak.. Maafkan saya." Ucap Tasya menyesal sudah mengatakannya.
"Tidurlah sebentar di sofa." Ucap CEO Frans memencet remot penutup kaca jendela ruangannya.
"Ehm Anda sedang tidak menyindirku kan? Apakah saya sedang diuji saat ini?" Tanya Tasya tersenyum masam.
"Saya hanya tidak suka melihat wajahmu seperti tidak tidur semalaman seperti itu." Jawab Frans.
"Maaf sudah mempersulit Anda." Balas Tasya.
"Jadi mau atau tidak?" Teriak CEO Frans bertanya pada Tasya.
__ADS_1
"Baiklah! Baiklah! Saya mau." Jawab Tasya.
Tasya berjalan menuju sofa dan mengambil selimut yang sudah CEO Frans siapkan. Tasya mencium aroma selimut tersebut.
"Wahh aromanya sangat enak dan nyaman. Kelihatannya dia sering bolos kerja." Gumam Tasya lirih.
"Kamu ngomong apa?" Tanya CEO Frans dingin dan menatap tajam Tasya.
Tasya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dan meletakkan selimut di atas tubuhnya dan memejamkan matanya.
CEO Frans memandangi wajah Tasya saat tertidur. Tanpa sadar tampak jelas senyum tergambar diwajahnya. Tiba tiba dia mendengar suara tak jelas yang keluar dari mulut Tasya. CEO Frans yang penasaran dengan kata kata tersebut beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Tasya.
Sesampainya didepan Tasya, CEO Frans membungkukkan badannya untuk mendengarkan tetapi tetap tidak jelas. Tanpa berpikir panjang dia jongkok dan mendekatkan telinganya ke mulut Tasya.
"Ahh enak sekali. Siomay, Capcay, pangsit dan es jeruk." Ucap Tasya mengigau dan mengucaokan kalimat yang sama secara berulang.
Frans yang telah mendengar semuanya heran dan menjauhkan kepalanya dari mulut Tasya karena terkejut.
"Bisa bisanya ngigau makanan. Dasar!" Gumam CEO Frans menyengirkan bibirnya d tersenyum.
CEO Frans berdiri dan kembali ke mejanya. Dia duduk di kursinya dan tersenyum senyum sendiri setiap mengingat igauan Tasya.
CEO Frans menekan tombol telepon untuk menghubungi Sekretaris Tya.
"Sekretaris Tya, belikan saya sarapan hari ini." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Apa yang ingin Anda makan untuk sarapan?" Tanya Sekretaris Tya.
"Ehm! Saya mau makan siomay, Capcay dan pangsit. Oh iya minumnya es jeruk. Masing masing 2 porsi." Jawan CEO Frans.
"Baiklah! Mohon ditunggu." Balas Sekretaris Tya.
CEO Frans menutup teleponnya dan kembali mengamati Tasya yang masih terlelap. CEO Frans tersenyum senyum bak orang yang sedang kasmaran.
Tiga puluh menit kemudian Sekretaris Tya membawa makanan dan minuman yang CEO Frans minta.
"Ini Tuan makanan yang Anda minta." Ucap Sekretaris Tya.
"Letakkan di sana." Ucap CEO Frans menunjuk meja didepan Tasya tertidur.
"Baiklah." Ucap Sekretaris Tya.
"Tuan! Itu...?" Ucap Sekretaris Tya penuh tanda tanya.
"Sejak kapan Tuan Frans membiarkan orang tidur di ruangannya. Apakah aku tidak salah lihat?" Batin Sekretaris Tya.
__ADS_1
Sekretaris Tya meletakkan makanan dan minumannya di meja dan kemudian berpamitan untuk pergi kembali ke mejanya.
CEO Frans beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa. Sesampainya di sofa, CEO Frans sengaja duduk didepan Tasya dan membuka semua penutup pada makanannya.
"Wahh baunya enak sekali!" Gumam Tasya dengan mata masih tertutup karena tertidur.
"Memang peka hidung kamu kalau soal makanan." Ucap CEO Frans dan membangunkan Tasya.
"Tuan Frans!" Ucap Tasya dan membangunkan tubuhnya dan duduk di sofa.
"Anda mau makan sebanyak ini?" Tanya Tasya menatap semua makanannya.
"Bagaimana saya bisa menghabiskan semua ini? Masing masing makanan 2 porsi. Kamu bantu saya menghabiskan makanan ini." Ucap CEO Frans.
"Wahh kebetulan sekali. Ini semua adalah makanan kesukaan saya. Ada siomay, capcay dan pangsit." Ucap Tasya tersenyum senang dan mengambil siomay.
Tasya sangat menikmati makanannya. Ketika CEO Frans melihat senyum Tasya sesenang itu karena makanan, dia pun juga tersenyum senang.
"Hem? Anda tersenyum? Baru kali ini saya melihat senyum Anda sesenang ini." Ucap Tasya menggoda CEO Frans.
"Siapa yang tersenyum. Cepat habiskan." Ucap CEO Frans mengelak.
Tasya kembali fokus pada makanannya dan menghabiskannya. CEO Frans sesekali meliriknya sambil menikmati makanannya juga.
"Segera habiskan. Setelah itu kami ikut saya sebentar." Ucap Frans.
"Kemana?" Tanya Tasya bingung.
"Memilih bahan kain yang akan digunakan perusahaan kita." Jawab CEO Frans.
"Kenapa bukan dari departemen perancangan yang memilihnya? Atau designernya sendiri?" Tanya Tasya semakin bingung.
"Aku ingin memilih kainnya sendiri. Sekalian ingin melihat model model yang akan diluncurkan." Jawan CEO Frans.
"Ohh!" Balas Tasya.
"Kamu jangan terlalu banyak bertanya. Kamu tidak punya hak untuk melontarkan banyak pertanyaan kepada saya." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Biarkan saya menghabiskan ini dulu." Ucap Tasya.
"Apakah kamu serakus ini soal makanan?" Tanya CEO Frans heran melihat Tasya makan banyak.
"Semua ini adalah makanan kesukaan saya. Sayang kalau harus dibuang. Lagian Anda sudah terlanjur membelinya. Jadi saya tidak boleh membuangnya." Jawab Tasya.
"Terserah kamu saja. Cepat selesaikan. Saya tunggu kamu di mobil." Ucap CEO Frans meninggalkan Tasya sendiri.
__ADS_1