
"Tasya, kamu benar benar tidak punya kekasih?" Tanya Raka setelah pekerjaan mereka selesai.
"Kenapa sih tanyanya itu mulu?" Tanya Tasya heran.
"Ya nggak apa apa. Kalau nggak punya kan aku jadi punya peluang deketin kamu." Jawab Raka bercanda.
"Hahahaha! Dasar playboy! Kamu pikir aku percaya pas kamu bilang kalau kamu nggak punya kekasih?" Ucap Tasya tertawa.
"Aku tuh selalu jujur kalau sama kamu. Kalau kamu mau sama aku, aku akan bahagiain kamu." Ucap Raka.
"Gila kamu." Ucap Tasya tertawa.
CEO Frans yang melihat kedekatan mereka semakin kesal. Tiba tiba dia berdiri dan berjalan kearah Tasya dan Raka.
"Kalau kalian mau bercanda jangan disini. Di perusahan tempatnya untuk bekerja. Bukan temoat main main. Kalau mau main main pergi saja ke taman hiburan." Bentak CEO Frans.
Tasya dan Raka tersentak dan memandang CEO Frans dengan penuh tanda tanya. CEO Frans langsung pergi tanpa sepatah katapun lagi.
"Ada apa?" Tanya Raka bingung tanpa mengeluarkan suara.
Tasya hanya mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan bahwa diapun tak mengerti apa yang terjadi dengan CEO Frans.
CEO Frans turun ke lobby dan hendak pergi.
"Tuan Frans, Anda mau kemana?" Tanya Asisten Riko mengikuti langkah CEO Frans.
CEO Frans hanya diam tak menghiraukan pertanyaan Asisten Riko. Dia menuju mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan rasa kesal.
***
CEO Frans pulang ke rumah keluarga Johan. Dengan tampang kesal dia keluar dari mobil. Mengetahui CEO Frans datang, Kepala pelayan memberi isyarat untuk menyambutnya.
"Selamat datang Tuan Frans." Ucap semua pelayang yang berbaris dihalaman rumah dan membungkukkan badannya untuk memberi rasa hormat.
CEO Frans bersikap dingin seperti biasa. Tetapi bagi mereka, hari ini adalah sikap yang paling mengerikan. Raut wajahnya tampak jelas bahwa dia sedang marah. CEO Frans duduk bersandar di sofa diruang keluarga.
"Tumben kamu datang? Ada apa?" Tanya Nyonya Johan.
"Apa aku butuh alasan untuk pulang?" Tanya balik CEO Frans dingin.
"Ya enggak! Hanya saja kamu jarang pulang. Malah hampir nggak pernah. Wajar dong kalau Mama tanya. Apa di kantor kamu nggak ada kerjaan?" Jawab Nyonya Johan.
"Nggak ada." Jawab CEO Frans singkat.
"Kenapa kamu terlihat begitu kesal hari ini? Ada apa?" Tanya Nyonya Johan.
"Nggak ada apa apa." Jawab CEO Frans memejamkan matanya agar lebih tenang.
"Oh iya! Bagaimana perkembangan hubunganmu sama Tasya?" Tanya Nyonya Johan penasaran.
"Bagaimana apanya?" Tanya CEO Frans membuka matanya kembali.
__ADS_1
"Kamu sama Tasya bagaimana?" Tanya Nyonya Johan penasaran.
"Ma, aku sama sekali tak tertarik dengan dia. Jadi Mama jangan pernah berpikir buat nyatuin aku sama dia." Jawab CEO Frans.
"Yahh! Mama kecewa deh. Padahal Mama sudah suka sama dia. Dia gadis yang berani dan mandiri. Malang sekali putra Mama karena tak bisa melihat dia sebagi wanita." Ucap Nyonya Johan kecewa.
"Mama itu ngomong apa sih?" Tanya CEO Frans tak mengerti.
"Mama kemarin melihat dia sangat dekat dengan temannya waktu SMA." Ucap Nyonya Johan tiba tiba.
"Teman SMA?" Tanya CEO Frans bingung.
"Siapa lagi yang ini teman SMA? Tebar pesona banget tu cewek." Batin CEO Frans.
"Iya! Kemarin Mama lihat mereka sangat dekat. Katanya dia teman SMA-nya. Dia bekerja di kantor kamu juga. Katanya dari team produksi." Jawab Nyonya Johan.
"Oh! Jadi dia teman sewaktu SMA? Pantesan mereka sangat akrab." Batin CEO Frans menunjukkan senyum tipisnya.
"Kenapa kamu melamun? Putraku, kamu harus memenangkan hati Tasya. Jangan sampai dia direbut oleh siapapun. Mama akan bantu kamu." Ucap Nyonya Johan melihat CEO Frans hanya melamun
"Mama apaan sih?" Tanya CEO Frans tak paham maksud Mamanya.
CEO Frans berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Nyonya johan.
"Pulang." Jawab CEO Frans.
"Kenapa buru buru pulang. Kamu kan baru saja sampai." Ucap Nyonya Johan.
"Enggak makan dulu?" Tanya Nyonya Johan.
"Enggak. Aku masih kenyang." Jawab CEO Frans.
"Ya sudah! Hati hati dijalan." Ucap Nyonya Johan.
CEO Frans tak menghiraukan Mamanya lagi. Dia berjalan keluar rumah keluarga Johan.
"Dasar anak itu!" Gumam Nyonya Johan sambil menyeruput secangkir teh.
***
CEO Frans kembali lagi ke kantor. Dia masuk ke ruangannya dan melihat Tasya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia fokus ke depan menatap layar komputernya. CEO Frans hanya melihat Tasya sendiri dan tak ada Raka di sana.
CEO Frans berjalan menuju mejanya.
"Tuan Frans? Bukankah Anda tadi sudah pulang?" Tanya Tasya menatap CEO Frans.
"Ada berkas yang tertinggal. Jadi saya kembali untuk mengambilnya." Jawab CEO Frans dengan menunjukkan berkas yang baru saja diambilnya.
"Oh!" Balas Tasya kembali fokus ke depan komputernya.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum pulang?" Tanya CEO Frans mengalihkan pandangannya.
"Saya? Saya harus menyiapkan bahan bahan untuk persentasi besok pagi. Jadi saya harus Menyelesaikannya hari ini." Jawab Tasya tetap fokus ke layar komputernya.
"Dimana kekasihmu? Kenapa tidak di temaninya?" Tanya CEO Frans lagi lagi mengalihkan pandangannya dari Tasya.
"Kekasih? Siapa?" Tanya Tasya terkejut.
"Itu, pria dari team produksi. Siapa namanya saya lupa." Jawab CEO Frans.
"Raka?" Tanya Tasya tersenyum.
"Iya! Itu." Jawab CEO Frans gelagapan
"Dia sudah pulang. (tertawa) Kekasih darimana?" Tanya Tasya tertawa geli.
"Bukankah dia kekasihmu?" Tanya CEO Frans lagi.
"Bukanlah. Dia itu teman saya sewaktu SMA. Kami berdua memang sudah akrab sejak SMA." Jawab Tasya.
CEO Frans tersenyum dan merasa lega.
"Apakah kamu belum selesai?" Tanya CEO Frans mengalihkan pembicaraan.
"Belum! Saya bingung di bagian ini harus bagaimana." Jawab Tasya.
"Mau saya bantu?" Tanya CEO Frans.
"Apakah tidak mengganggu waktu Anda?" Tanya Tasya.
Tanpa menjawab pertanyaan Tasya, CEO Frans menghampiri Tasya dan berdiri disebelah kirinya.
"Anda silahkan duduk disini." Ucap Tasya hendak berdiri.
"Tidak usah. Kamu saja yang duduk." Ucap CEO Frans.
Tasya kembali duduk. CEO Frans sedikit membungkukkan badannya. Dada bidangnya menempel di bahu Tasya. Tangan kanannya berada di atas mouse yang berada disebelah kanan Tasya. Sedangkan tangan kirinya bertumpu di atas meja. Wajah mereka saling berdekatan. Tercium jelas bau parfum yang menempel pada tubuh CEO Frans.
Jantung Tasya berdegup sangat cepat. Dengan mendengarkan arahan CEO Frans, dia juga berusaha untuk mengendalikan dirinya. Tasya tersenyum senang dan jantungnya terus berdegup sangat cepat.
Mulai tak terkendali, Tasya tiba tiba menatap wajah CEO Frans. Dan tanpa sengaja CEO Frans pun menatap wajah Tasya. Mereka saling pandang. Tanpa suara sedikitpun, hanya mata mereka yang saling berbicara.
CEO Frans mulai mendekatkan bibirnya kearah Tasya. Semakin dekat dan hampir menempel. Tasya pun memejamkan matanya menunggu ciuman bibir pertamanya.
Tiba tiba, CEO Frans tersadar dan langsung menahan diri dan menjauhkan tubuhnya dari Tasya. Tasya terkejut dan membuka matanya. Meraka menjadi salah tingkah dan canggung.
"Kamu sudah paham dengan apa yang aku jelaskan?" Tanya CEO Frans tiba tiba dengan mengalihkan pandangannya karena merasa canggung.
"Su.. Sudah!" Jawab Tasya yang canggung pula.
"Baiklah! Kamu selesaikan dulu. Nanti saya teliti lagi setelah selesai. Saya tunggu di sana." Ucap CEO Frans canggung dan berjalan kearah sofa.
__ADS_1
"Baik!" Jawab Tasya.
Tasya memfokuskan diri mengerjakan pekerjaannya. Dan mencoba menenangkan dirinya agar lebih tenang.