
Dihari sabtu pagi ini, Tasya ingin bersantai dan beristirahat. Karena beberapa hari ini dia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan project yang sedang ditanganinya.
Krriinnggg... Krriinnggg... Bunyi ponsel Tasya.
Tasya yang masih rebahan merasa terganggu dengan panggilan teleponnya.
"Siapa sih yang pagi pagi sudah telepon. Ini masih jam 06.30." Gumam Tasya meraih ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya.
Tasya melihat layar ponselnya "Es Balok!", itulah nama si pemanggil. Mau tak mau Tasya mengangkat panggilan teleponnya.
"Hallo!" Sapa Tasya dengan suara bak orang bangun tidur.
"Datang ke kantor pukul 08.00." Ucap CEO Frans dingin.
"Apa? Bukankah ini hari sabtu?" Teriak Tasya tak terima.
"Saya tidak perduli ini hari apa. Kita rapat sekarang juga." Ucap CEO Frans tak perduli.
"Apakah hidup Anda kurang tenang jika Anda membiarkan saya istirahat sebentar saja." Teriak Tasya frustasi dan hampir menangis.
CEO Frans mematikan teleponnya tanpa berkata apapun.
"Ada apa Sya? Dia mengganggumu lagi?" Tanya Anggi terbangun dari tidurnya.
"Dia menyuruhku datang ke kantor nanti jam 08.00. Haaaaaa!" Jawab Tasya ingin menangis.
"Lagi lagi dia tak melepaskanmu." Gumam Anggi kesal.
***
Pukul 08.00 Tasya tiba di kantor dan melihat di sekeliling. Sepi, tak ada seorangpun yang dilihatnya datang ke perusahaan. Tasya melihat jam ditangannya.
"Ini sudah jam 08.00 , kenapa belum ada yang datang?" Gumam Tasya bertanya pada dirinya sendiri.
Tasya berjalan menuju ruang rapat Departemen dan tak menemukan orang di sana. Kemudian dia pergi ke ruang CEO.
Dari luar jendela ruangan, Tasya melihat sosok tampan yang sedang menikmati kopi dan membaca sebuah buku ditangannya. Dia duduk di sofa dengan kaki kanan bertumpu di atas kaki kiri. Tasya sempat terpana melihat pemandangan tersebut, membuatnya melayang dalam lamunannya.
"Kalau dia seperti itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa dia benar benar tampan. Membuat jantungku tak berhenti berdebar debar." Gumam Tasya memegang dada bagian kirinya.
Lamunannya tiba tiba pudar, ketika tatapan tajam pria tersebut menembus ke ubun ubun. Tasya dengan sekejap langsung memalingkan wajahnya dan berjalan masuk kedalam ruangan.
"Selamat pagi pak!" Sapa Tasya.
"Kamu terlambat 15 menit." Ucap CEO Frans melihat jam ditangannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Ini saja baru saya yang datang. Dimana yang lain?" Tanya Tasya menahan kekesalannya.
"Siapa yang mau datang ke kantor diakhir pekan? Apa kamu bodoh?" Tanya CEO Frans balik dengan dingin.
"Lalu kenapa Anda menyuruhku datang?" Tanya Tasya balik dengan berteriak meluapkan kekesalannya.
"Project yang kamu tangani berjalan dengan sangat lambat. Dan Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Saya tidak ingin semua menjadi kacau gara gara kamu." Ucap CEO Frans.
Tasya hanya terdiam tak menjawab.
"Mana hasil definisi yang kamu siapkan kemarin?" Tanya CEO Frans meminta dokumen yang sudah Tasya siapkan.
Tak menjawab sepatah katapun, Tasya memberikan dokumen yang disiapkannya. CEO Frans fokus meneliti dokumen tersebut dan mengoreksinya. Tasya hanya menatapnya penuh dengan rasa dendam.
Satu jam telah berlalu, CEO Frans menyerahkan kembali dokumen yang telah di koreksinya kepada Tasya. Tasya menerimanya kembali.
"Kamu salin kembali dokumen itu. Dan besok senin serahkan kepada Departemen perencanaan. Agar segera dipelajari dan diproses oleh Departemen perancangan. Waktu kita terbatas. Harus segera dirancang dan diluncurkan." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Saya mengerti!" Jawab Tasya.
Krriiinngg.. Kriinnggg.. Kriinnggg.. Suara ponsel Tasya.
"Tuan, saya permisi mengangkat telepon dulu." Ucap Tasya hendak pergi.
"Jawab disini." Ucap CEO Frans dengan tatapan tajam.
Tasya mengangkat telepon.
"Hallo!" Sapa Tasya.
"Sudah! Sekarang? Baiklah, aku akan segera ke sana." Ucap Tasya dengan si penelepon dan mematikan panggilannya.
"Siapa?" Tanya CEO Frans.
"Teman." Jawab Tasya.
"Teman siapa?" Tanya CEO Frans lagi penasaran.
"Bukan urusan Anda." Jawab Tasya mengambil dokumennya.
"Kalau sudah tidak ada hak yang ingin Anda bicarakan, saya izin permisi pulang. Karena ini akhir pekan. waktunya saya beriatirahat dan bersantai." Ucap Tasya membungkukkan badannya dan berbalik hendak pergi.
"Tunggu! Kita belum selesai membahas tentang project ini. Kita masih harus membahas rancangan dan modelnya." Ucap CEO Frans menghentikan langkah Tasya.
Tasya kembali membalikkan badannya kearah CEO Frans.
__ADS_1
"Tuan jika ingin membicarakan soal project, Anda salah orang. Kalau soal itu Anda bisa bicara dengan Direktur Maya dari Departemen perancangan dan Designer Reina. Soal Model, Anda bisa bicarakan dengan Departemen Pemasaran. Bukan dengan saya. Saya permisi." Ucap Tasya pergi meninggalkan perusahaan.
"Siapa yang menghubunginya? Kenapa dia tidak berterus terang dan bilang siapa yang menelepon**?" Gumam CEO Frans kesal.
CEO Frans mengambil ponsel di atas meja dan menghubungi Asisten Riko.
"Selamat pagi Tuan Frans!" Sapa Asisten Riko dibalik telepon.
"Kamu cari tahu kemana Tasya pergi dan bertemu siapa sekarang juga." Ucap CEO Frans marah.
"Tapi Tuan, ini akhir pekan. Diluar jam kantor. Bagaimana bisa ikut campur privasi orang lain?" Balas Asisten Riko.
"Aku tidak perduli." Balas CEO Frans.
"Kenapa tidak Anda cari tahu sendiri?" Tanya Asisten Riko memberanikan diri.
"Aku atasanmu. Aku memerintahmu." Jawab CEO Frans.
"Tapi ini diluar jam kantor." Balas Asisten Riko frustasi.
"Kalau kamu tidak bisa menemukannya, bonus tahunanmu aku pastikan terhapus. " Ancam CEO Frans.
"Anda tau saja kelemahan saya dimana. Baiklah akan saya cari tahu." Ucap Asisten Riko akhirnya menyerah.
CEO Frans mematikan ponselnya dan terus penasaran siapa orang yang berbicara dengan Tasya ditelepon.
Asisten Riko tak tau harus mencari tau kemana. Dia hanya membuka forum pribadi perusahaan. Dan tidak ada story tentang Tasya. Dia mencari story teman teman Tasya dan akhirnya menemukannya.
Setelah menemukannya dan mengetahui mereka akan pergi kemana, Asisten Riko menelepon CEO Frans.
"Ya?" Ucap CEO Frans setelah mengangkat panggilan telepon Asisten Riko.
"Saya menemukan story teman temannya. Mereka ingin pergi ke pantai terdekat hari ini." Ucap Asisten Riko.
"Teman temannya? Apakah sudah pasti Tasya pergi bersama mereka? Sudah kamu pastikan?" Tanya CEO Frans tidak ingin ada kesalahan.
"Dia tidak menyebutkan nama siapa saja yang akan pergi. Yang pasti dia dan teman temannya akan pergi ke pantai." Jawab Asisten Riko.
"Belum tentu. Siapa yang membuat story?" Tanya CEO Frans ingin memastikan.
"Anggi!" Jawab Asisten Riko.
"Anggi? Sepertinya dia teman yang paling dekat dengan Tasya. Mungkin dia pergi bersamanya." Batin Frans.
"Baiklah! Saya tunggu kamu 30 menit harus sudah sampai disini." Ucap CEO Frans.
__ADS_1
"Tapi Tuan ..." Ucap Asisten Riko tetapi CEO Frans lebih dulu mematikan panggilannya.
"Enak saja! Kamu mau pergi bersenang senang sendiri. Tidak akan aku biarkan." Gumam CEO Frans.