
Tasya terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya dan melihat CEO Frans tertidur di kursi di samping tempat tidur. Tasya memiringkan tubuhnya dan meletakkan tangannya dibawah kepalanya. Tasya tersenyum melihat CEO Frans yang terlelap dalam tidurnya.
"Tampan juga kalau sedang tidur." Gumam Tasya tersenyum.
Setelah menatap CEO Frans begitu lama, Tasya merasa tenggorokannya kering. Dia sangat haus. Dia bangun dari rebahannya dan berjalan pelan pelan keluar dari ruang istirahat CEO Frans untuk mengambil minum.
"Mau kemana?" Ucap CEO Frans dengan mata masih terpejam tanpa mengubah posisinya.
Tasya yang sudah berjalan sampai dibelakang CEO Frans tiba tiba menghentikan langkahnya setelah mendengar suara CEO Frans. Tasya membalikkan badannya kearah CEO Frans.
"Ma.. Mau ambil minum." Jawab Tasya gugup.
"Baiklah! Ambilkan aku sekalian!" Balas CEO Frans.
Tasya kembali membalikkan badannya dan akan melanjutkan langkahnya.
"Tunggu dulu! Kamu cuma mau pergi mengambil minum. Kenapa kamu sangat gugup seperti ketahuan mencuri?" Tanya CEO Frans masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Aku tidak gugup! Aku hanya terkejut dengan suaramu." Jawab Tasya berjalan keluar dan tak lagi menghiraukan CEO Frans.
CEO Frans hanya tersenyum dan membuka matanya. Setelah nyawanya terkumpul menjadi satu dia berdiri dan berjalan keluar. CEO Frans menunggu Tasya didalam ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Tasya masuk kedalam ruangan dengan membawa 2 gelas es coklat.
"Ini!" Ucap Tasya memberikan 1 gelas es coklat kepada CEO Frans.
"Aku baru ingat! Tadi aku juga membawa 2 gelas es coklat dan beberapa potong roti." Ucap CEO Frans.
"Bagaimana saya tau kalau Anda tidak bilang Bambaaang!" Ucap Tasya kesal.
"Aku lupa!" Jawab CEO Frans.
Tasya duduk di sofa dan mengambil sepotong roti. Dia membuka bungkusnya dan mulai memakannya karena merasa lapar. CEO Frans menghampirinya dan duduk disebelahnya.
"Kapan magangmu berakhir?" Tanya CEO Frans tiba tiba bertanya.
Tasya menghentikan gigitan pada rotinya.
"Minggu depan!" Jawab Tasya dan melanjutkan menggigit rotinya kembali.
CEO Frans hanya terdiam.
"Kenapa?" Tanya Tasya menatap CEO Frans penuh tanya.
__ADS_1
Tasya melihat wajah CEO Frans ada sedikit kekecewaan.
"Aku akan jarang bertemu kamu." Ucap CEO Frans menatap Tasya.
"Kampus aku hanya ada diseberang jalan sana. Jangan bertingkah seolah olah aku akan pergi keluar negeri." Jawab Tasya.
"Tapi kan aku tidak bisa setiap saat melihatmu." Ucap CEO Frans.
"Kalau kamu ingin melihatku, kamu tinggal datang ke kampusku kan?" Ucap Tasya heran.
"Apakah tidak apa apa?" Tanya CEO Frans frustasi.
"Sedikit mengganggu sih sebenarnya." Jawab Tasya berpikir.
CEO Frans kembali terdiam dengan wajah kecewa.
"Tapi kalau dipikir pikir, dengan tidak bertemu setiap saat bukankah justru lebih bagus ya? Jadi kita tidak akan cepat merasa bosan." Ucap Tasya mengutarakan pendapatnya.
.
"Apakah kamu berencana merasa bosan denganku?" Tanya CEO Frans menatap tajam Tasya.
Tasya terkejut dan menelan ludah. Dia menatap CEO Frans dengan penyesalan atas kata kata yang baru saja dia lontarkan.
"Lalu apa?" Tanya CEO Frans kesal.
"Kalau jarang bertemu kan kita jadi sering saling merindukan satu sama lain." Jawab Tasya merajuk agar CEO Frans tak lagi marah kepadanya.
"Aku tidak mau disiksa oleh rindu. Sudah cukup disiksa karena mencintaimu saja." Jawab CEO Frans.
"Jadi? Kamu menganggap mencintaiku adalah sebuah siksaan? Kamu terpaksa mencintaiku?" Teriak Tasya dengan nada marah.
Dia sangat kesal dengan CEO Frans.
"Sedikit." Jawab CEO Frans mengisyaratkan jari jempol dan telunjuknya.
"Sedikit? Wahhhh....." Balas Tasya semakin kesal.
Tasya memalingkan wajahnya kearah lain karena semakin kesal setiap melihat wajah CEO Frans.
"Tapi aku bahagia kok. Dan aku sangat menikmati siksaan ini." Bisik CEO Frans tersenyum dan memeluk erat pinggang Tasya.
CEO Frans meletakkan dagunya di atas bahu Tasya. Tanya memegang tangan CEO Frans yang memeluknya. Dia berusaha melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini. Melihatku didepan mataku saja aku masih sangat merindukanmu. Bagaimana aku bisa bernafas tenang kalau aku tak melihatmu." Bisik CEO Frans lembut dan menutup matanya.
Tasya membiarkan CEO Frans tetap memeluknya. Dia tersenyum senang mendengar kata kata yang keluar dari mulut CEO Frans.
"Bagaimana kalau dalam seminggu ini kita pergi berkencan?" Usul CEO Frans melepaskan pelukannya.
"Tidak! Tidak! Dalam seminggu aku banyak tugas yang harus aku selesaikan. Semua harus selesai sebelum aku kembali ke kampus." Jawab Tasya menolak.
"Bagaimana bisa kamu setega ini sama aku?" Tanya CEO Frans kembali frustasi.
"Melihat kamu seperti ini, membuatku benar benar percaya bahwa baru kali ini kamu jatuh cinta dan berkencan. Sikap kamu yang jatuh cinta, 360 derajat berbeda dengan kamu yang belum pernah merasakan jatuh cinta. Dan kamu yang seperti ini lebih menakutiku." Ucap Tasya heran.
"Siapa suruh kamu membuatku jatuh cinta padamu?" Tanya CEO Frans sedikit kesal.
"Kamu pikir aku sengaja? Aku tak pernah sedikitpun terlintas di benakku bahwa kamu akan jatuh hati kepadaku. Aku pun tak pernah berpikir untuk jatuh cinta padamu." Jawab Tasya tersenyum licik karena berhasil membuat CEO Frans kesal.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya CEO Frans.
"Karena aku berhasil membuatku kesal padaku." Jawab Tasya tertawa.
CEO Frans geram. Dengan ganas dia menggelitiki tubuh Tasya.
"Iya! Iya! Iya! Aku salah! Aku minta maaf! Sudah hentikan!" Ucap Tasya sambil tertawa tawa tak kuat menahan gelitikkan tangan CEO Frans.
CEO Frans tak menghiraukan ucapan Tasya. Dia terus saja menggelitik tubuh Tasya sampai Tasya tergeletak di sofa. CEO Frans menindih tubuh Tasya dan terus menggelitik. Berulangkali Tasya meminta maaf tetapi terap tak dihiraukan oleh CEO Frans. Sampai akhirnya tak sengaja wajah CEO Frans mendekat ke wajah Tasya. Mata mereka saling bertatapan. CEO Frans menghentikan gelitikannya. Dia menatap Tasya dalam dalam. Begitu juga Tasya.
Dengan pelan CEO Frans mendekatkan bibirnya ke bibir Tasya. Tasya menutup matanya. Sampai Tasya tersadar bahwa mereka berada di perusahaan.
Tasya membuka kembali matanya. Dan sebelum bibir CEO Frans menempel ke bibirnya, dia menahan bibir CEO Frans dengan jari telunjuknya.
"Kita sedang berada di perusahaan. Tunjukkan wibawamu." Bisik Tasya tersenyum.
Merasa kesal CEO Frans memegang jari telunjuk Tasya dan menjauhkan dari bibirnya. Kemudian dia mencium bibir Tasya dan kemudian kembali duduk. Begitu juga Tasya.
Tiba tiba CEO Frans menatap tajam Tasya.
"Kenapa?" Tanya Tasya penuh tanya.
"Berarti kalau kita tidak di perusahaan, kita boleh melakukannya?" Tanya CEO Frans tiba tiba tersenyum.
Tasya sangat terkejut dan menelan ludahnya. Dia menarik nafas dalam dalam agar merasa lebih tenang.
"Jangan gila kamu!" Ucap Tasya beranjak pergi dan kembali ke mejanya. CEO Frans hanya tersenyum melihat pipi Tasya yang mulai memerah karena tersipu.
__ADS_1