DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 12


__ADS_3

*R**umah Tasya*..


"Ma, boleh nggak besok temen temen aku ikut ke rumah?" Ketik Tasya di ponselnya. Tasya menekan tombol kirim untuk mengirimkan pesannya kepada Ibunya.


Setelah mengirim pesan, Tasya memencet tombol power untuk mengunci layar ponselnya. Kemudian ponselnya ia lempar ke kasur. Tasya mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.


Tasya mengisi bath up dengan air hangat. Setelah air hampir penuh Tasya mematikan kran dan mulai merendam tubuhnya didalam bath up.


Hampir setengah jam Tasya merendam tubuhnya. Dia berdiri dan mengambil handuknya dan melilitkan ke tubuhnya. Keluar dari kamar mandi Tasya menuju almari untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan. Setelah selesai memakai pakaian, Tasya berjalan mendekati tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya ke kasur.


"Ahh aku lelah!" Gumam Tasya memejamkan matanya.


Matanya kembali terbuka setelah dia ingat kalau sebelum mandi dia mengirim pesan ke Ibunya. Tasya meraba raba disekitarnya mencari ponselnya. Ketemu dan mengambilnya. Dia membuka kunci layar ponsel dan sudah ada pesan masuk dari Ibunya.


Tasya membuka isi pesannya.


"Iya tidak apa apa. Sudah lama juga teman teman kamu tidak main kesini." Balas Ibunya.


"Makasih Ma!" Balas Tasya.


Tasya tersenyum dan langsung memberi kabar baik itu kepada teman temannya melalui grup chatnya.


"Teman teman Mama aku setuju kita pergi!" Ketik Tasya.


"Papa aku juga ngizinin kita tinggal di asrama. Jadi setelah dapat surat izin kita sudah bisa pindah ke asrama!" Balas Vera.


"Sepertinya hari ini adalah hari baik buat kita. Haha!" Balas Anggi.


"Untuk lanjutnya kita bahas besok." Balas Vera.


Grup chat berakhir.


"Ahh aku lapar!" Gumam Tasya setelah mendengar perutnya keroncongan. Tasya mengelus ngelus perutnya yang kelaparan.


Langsung dia memesan makan melalui go food seperti biasanya.


***


Rumah Gadis...


"Pa, bulan depan aku dan teman teman aku magang di perusahaan Papa ya. Loloskan kami ya." Pinta Gadis dengan merayu Ayahnya.


Saat ini Gadis dan Ayahnya sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menunggu makan malam siap.


"Anak satu ini, belum nyoba apa apa sudah minta koneksi Papanya." Ucap Papa Johan.


"Hehe! Aku rasa aku paling cocok magang di perusahaan Start. Yang lain aku tidak minat." Ucap Gadis tersenyum kepada Ayahnya.

__ADS_1


"Iya besok Papa suruh kakakmu yang ngatur." Ucap Papa Johan mengusap usap kepala anak bungsunya.


"Yah kenapa harus si dingin yang ngurus? Pasti bakal mempersulitku." Gumam Gadis cemberut.


"Siapa yang akan mempersulitmu?" Tanya Frans dingin dari belakang sofa tempat duduk Gadis dan Papa Johan.


Gadis tersentak mematung tak berani menatap Frans, kakaknya.


"Siapa yang akan mempersulit kamu?" Tanya Frans sekali lagi dengan nada dingin.


Gadis menolehkan kepalanya kearah Frans dan tersenyum masam karena takut kalau Frans tau dialah yang dia maksud.


"Hehehe! Bukan siapa siapa." Jawab Gadis gugup.


"Kalau bukan siapa siapa, kenapa kamu terlihat takut?" Tanya Frans dingin seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangkanya.


"Si.. Siapa yang takut? Enggak kok. Enggak kan Pa!" Jawab Gadis menoleh ke Papa Johan untuk meminta bantuan Ayahnya.


"Frans, bulan depan Gadis dan temannya mau magang di perusahaan kita. Jadi kamu yang urus semuanya ya." Ucap Papa Johan mengalihkan pembahasan yang membuat Gadis lega.


"Kenapa harus Frans? Biar saja mereka mengikuti prosedur seperti yang lainnya." Jawab Frans.


"Tuh kan Pa. Pasti dia mempersulit aku." Ucap Gadis kesal. Tampak jelas di wajah Gadis rasa kecewanya.


"Tenang! Kalau dia tidak mau bantu, biar Papa yang urus. Asal kamu juga mengikuti prosedur seperti yang lainnya. Tapi Papa pastikan kamu sama teman teman kamu bisa magang di perusahaan Start." Ucap Papa Johan.


"Ciiihhhh!" Gumam Frans melihat tingkah manja adiknya.


"Wleeeekkkk!" Gadis menjulurkan lidahnya kearah Frans untuk mengejeknya.


"Dasar!" Gumam Frans pergi meninggalkan Gadis dan Ayahnya.


"Kak!" Panggil Gadis melepaskan pelukannya dan berlari kearah Frans.


Frans menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Frans dingin.


"Kakak mau kemana?" Tanya Gadis berjalan kearahnya.


"Mau pulang!" Jawab Frans.


"Kakak nggak sekalian nunggu makan malam? Sebentar lagi makan malam loh." Tanya Gadis.


"Enggak! Aku nggak lapar!" Jawab Gadis.


"Kak, besok kamis adalah hari ulang tahun Mama, jadi kakak jangan lupa pulang ya." Bisik Gadis mengingatkan Frans.

__ADS_1


"Oke!" Jawab Frans, kemudian berbalik meninggalkan Gadis tanpa mengatakan apapun lagi.


"Papaaaa!" Panggil Gadis kesal setelah melihat kakaknya pergi.


Gadis kembali mendekati Ayahnya dengan tampang kesalnya.


"Kenapa? Hem??" Tanya Papa Johan.


Gadis kembali duduk di sofa. Wajah kesalnya tampak jelas. Gadis duduk dan menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangannya menyilang di dadanya..


"Dulu Mama ngidam apa sih pas hamil kak Frans. Sifat siapa yang menurun ke dia? Berhasil banget kalau bikin orang kesel." Ucap Gadis kesal.


"Tanya aja tuh Mama kamu dulu ngidam apa." Jawab Papa Johan menahan tawanya dan mengisyaratkan matanya kearah Mama Johan.


"Ada apa? Kenapa Mama dibawa bawa. Padahal Mama baru datang loh ini." Tanya Mama Johan berjalan mendekati mereka.


"Nggak tau ah! Aku lagi kesel!" Jawab Gadis.


"Siapa yang membuat kamu kesal? Bilang sama Mama!" Tanya Mama Johan.


"Siapa lagi yang hobi membuat orang kesal di rumah ini kalau bukan si es balok?" Jawab Gadis dengan kesalnya.


"Upssss!" Balas Mama Johan menutup mulutnya dengan ujung jarinya.


"Sudah sudah jangan dimasukin hati. Kamu kan tau sendiri kakak kamu itu seperti apa." Lanjut Mama Johan duduk mendekati Gadis.


"Tapi Ma.. Apa nggak bisa sekali saja nggak buat orang kesal?" Gadis terus bergumam.


"Tuan, Nyonya makan malam sudah siap." Ucap salah satu pelayan setelah mendekati mereka.


"Ayo kita makan malam dulu. Nggak usah kesal lagi." Ucap Mama Johan mengajak Suami dan anak bungsunya untuk makan malam.


"Ma, bantuin aku bujuk kakak ya. Biar aku dan teman aku lolos magang di perusahaan Papa." Pinta Gadis.


"Kenapa bukan Papa yang ngurus? Melihat sifat anak itu pasti akan mempersulit kamu." Ucap Mama Johan ragu.


"Aku juga berpikir begitu, makanya aku minta bantuan Mama buat bujuk kakak. Cuma sama Mama dia sesekali nurut. Meski banyak nggak nurutnya." Ucap Gadis menjelaskan.


"Iya! Besok Mama coba bicara sama kakak kamu." Ucap Mama Johan.


"Bener ya Ma? Makasih Ma." Ucap Gadis senang dan mencium pipi Ibunya.


"Ya sudah ayo makan malam. Keburu dingin makanannya. Kasihan mereka kalau harus hangatin makanannya lagi." Ucap Mama Johan.


Papa Johan yang tadi pergi terlebih dahulu sudah menunggu di meja makan. Setelah Anak dan istrinya datang, Papa Johan memulai makan malamnya.


Mereka makan malam dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2