DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 37


__ADS_3

Sesampainya didepan asrama kampus Frans mengantarkan Tasya sampai didepan pintu masuk asrama.


"Sudah ditutup? Bagaimana kamu masuk?" Tanya Frans.


"Saya akan menelepon teman saya. Anda sudah boleh pulang. Terimakasih tumpangannya." Jawab Tasya tersenyum.


"Telepon saja dulu teman kamu. Saya akan menunggu sampai teman kamu menjawabnya." Balas Frans.


Tasya mengeluarkan ponselnya dan menelepon Anggi. Tetapi tidak ada jawaban. Tasya mengulanginya sampai 5 kali.


"*Apakah dia sudah tidur?" Gumam Tasya.


"Kenapa? Nggak diangkat*?" Tanya Frans.


"Iya. Mungkin mereka sudah tidur." Jawab Tasya.


"Coba ditelepon sekali lagi." Ucap Frans.


Tasya sekali lagi menelepon Anggi.


"Halo!" Sapa Anggi dari balik telepon.


"Halo Anggi. Apakah kamu sudah tidur?" Tanya Tasya.


"Sudah. Ada apa?" Tanya Anggi dengan suara serak bak orang bangun tidur.


"Aku bisa minta tolong? Bukain pintu asrama. Aku dibawah nggak bisa masuk." Pinta Tasya.


"Apa? Kamu belum pulang? Aduh maaf Sya, kita nggak ada di asrama. Kita semua lagi di rumah Vera. Nggak mungkin jam segini ada taksi menuju kesitu. Ini sudah hampir tengah malam." Ucap Anggi khawatir.


"Ya sudah. Aku tutup dulu teleponnya." Ucap Tasya menutup teleponnya sedikit kecewa.


"Tuan, teman saya sudah mau turun membukakan pintu. Anda sudah bisa pulang. Terimakasih." Ucap Tasya.


"Baiklah!" Balas Frans meninggalkan Tasya sendiri.


"Bagaimana ini? Aku harus tidur dimana hari ini? Aku tidak ada teman dekat selain mereka. Kalau aku ke hotel terdekat, aku tidak punya uang untuk membayarnya." Batin Tasya ingin menangis.


Beberapa saat kemudian Tasya berbalik dan berniat pergi. Tetapi dia dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Berdiri seseorang yang dikenalnya didepan pandangannya. Dia berdiri bersandar di mobilnya dengan tampang dingin dan kedua tangan menyilang di dadanya.


"Tu.. Tuan Frans, kenapa masih disini?" Tanya Tasya gugup dan tersenyum masam.


"Saya tidak begitu mudah percaya sama kamu." Jawab Frans.


Tasya berjalan kearah Frans.

__ADS_1


"Masuklah!" Ucap Frans dan masuk kedalam mobil.


Tasya masuk kedalam mobil.


"Tuan, bisa antarkan saya ke hotel?" Ucap Tasya menatap Frans memohon.


"Memangnya kamu punya uang untuk membayar?" Tanya Frans dingin.


"Tidak! Atau begini saja. Anda pesankan saya 1 kamar? Bagaimana?" Ucap Tasya memberi usulan.


"Apakah kamu ingin nama baik saya tercoreng dengan berita berita miring tentang saya menyembunyikan wanita di hotel?" Jawab Frans tidak setuju.


"Lalu bagaimana?" Tanya Tasya pasrah.


"Pakai sabuk pengamanmu." Ucap Frans.


Tasya menurut saja. Setelah Tasya memakai sabuk pengaman, Frans mengemudikan mobilnya dan menuju kembali ke perusahaan.


"Kenapa kita kembali ke perusahaan?" Tanya Tasya tak mengerti.


"ikut saja." Jawab Frans.


Frans berjalan menuju lift dan Tasya dibelakangnya membuntutinya.


Frans menuju rumahnya yang berada di perusahaan lantai paling atas.


Frans membuka pintu dan menyuruh Tasya masuk.


"Masuklah." Ucap Frans.


"Ini rumah Anda?" Tanya Tasya yang matanya sudah berkeliling mengelilingi ruangan.


"Iya. Tapi jarang aku tempati. Aku biasa pulang ke apartemen." Jawab Frans.


"Jangan tinggalkan saya sendiri disini." Ucap Tasya menggeleng gelengkan kepalanya dan memegang lengan Frans memohon agar tidak Frans tak meninggalkannya sendiri.


"Apa kamu tidak takut kalau saya juga tinggal disini?" Tanya Tasya.


Tasya bingung dan ketakutan. Entah mana yang lebih dia takutkan. Sendiri di perusahaan, atau serumah dengan Frans.


"Tidak mungkin kan Anda macam macam dengan saya. Saya tau bahwa Anda tidak pernah tertarik dengan perempuan. Jadi saya rasa saya akan aman." Jawab Tasya yakin.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Kamu yakin bahwa aku tidak akan apa apain kamu?" Tanya Frans mendekat kearah Tasya.


Tasya yang merasa tak yakin dengan keyakinannya sendiri merasa takut dan melangkah mundur dan Frans terus melangkah maju sampai Tasya terpojok didinding. Frans mendekatkan kepalanya ke kepala Tasya. Tasya yang merasa terpojok oleh dinding, spontan berjongkok dan menghindari tubuh Frans. Dengan kaki pincang Tasya menjauh dari tubuh Frans. Frans tersenyum licik menghadap dinding.

__ADS_1


"Kamu mandi dulu saja." Ucap Frans.


"Baiklah!" Jawab Tasya.


Tasya pergi ke kamar mandi dan berdiri didepan cermin. Dia hanya terdiam merenungi perasaannya yang tak menentu dan jantungnya berdegup kencang setiap kali dia berada didekat Frans.


"Sepertinya aku tidak pernah mempunyai riwayat penyakit jantung, tetapi kenapa akhir akhir ini sering merasa jantungku tak normal?" Gumam Tasya bingung.


Ttookkk ttookk ttookk...


Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Tasya. Tasya membuka pintu. Dan Frans memberikan pakaian wanita berwarna pink kepada Tasya.


"Wahh Anda menyimpan pakaian wanita. Apakah Anda pernah membawa wanita kemari?" Tanya Tasya menggoda Frans.


"Diam. Pakai saja itu. Tidak perlu banyak komentar." Ucap Frans dingin.


"Baiklah baiklah." Jawab Tasya.


"Dan lagi hati hati saat mandi. Aku tidak bisa membantumu kalau sampai kamu terpeleset." Ucap Frans menunjukkan perhatiannya kepada Tasya.


"Iya. Terimakasih." Jawab Tasya tersenyum dan menutup pintunya.


"Siapa juga yang butuh bantuannya." Gumam Tasya menyeringaikan bibirnya.


Selesai mandi Tasya kembali keruang tamu. Frans membuat coklat hangat untuk Tasya dan dirinya sendiri.


"Duduklah. Obati lukamu dengan itu dan minumlah coklat hangat ini." Ucap Frans menunjuk Sekantong es dan spray untuk mengobati lukanya.


Tasya meletakkan kakinya yang sakit di atas meja dan mulai mengobatinya. Dia meletakkan sekantong es tersebut di atas kakinya yang terkilir. Dan setiap kali dia akan mengambil spray untuk disemprotkan ke kakinya, kantong es tersebut terjatuh. Terus begitu sampai berulang ulang. Frans yang geram langsung mengambil alih mengobati kaki Tasya. Dia meletakkan kaki Tasya di atas pahanya dan mulai mengobatinya. Frans memijat kaki Tasya.


Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


"Sudah jam 01.00. Segera tidurlah. Tidurlah di kamar." Ucap Frans mengakhiri pijatannya dan menunjuk kamarnya.


"Saya tidur disini saja." Ucap Tasya.


"Yakin?" Tanya Frans.


"Iya." Jawab Tasya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Tidurlah disini. Aku akan tidur di kamar. Tetapi kamu harus pastikan selalu pakai selimutmu. Karena aku takut, kalau aku terbangun mengambil minum dan aku melihatku tak memakai selimut, aku tidak bisa memastikan apa yang akan aku lakukan terhadapmu." Ucap Frans menakuti Tasya.


Frans berbicara tidak formal kepada Tasya.


"Baiklah. Selamat malam. Saya pergi ke kamar dulu. Sampai jumpa besok. Semoga Anda mimpi indah tidur di sofa." Ucap Tasya berlari dengan kaki pincangnya kearah kamar Frans.

__ADS_1


Frans yang melihat tingkah Tasya hanya tersenyum senang. Frans merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Sedangkan Tasya hanya terdiam tak bisa tidur .


"Ini pertama kalinya aku tidur di ranjang pria. Kenapa dia tiba tiba mengijinkan wanita tidur di ranjangnya. Bukankah menurut cerita dia tidak suka barangnya disentuh orang lain? Haaa? Apakah dia benar benar menyukaiku? Ahh aku mulai berpikir gila. Sebaiknya aku tidur." Gumam Tasya menutupkan selimutnya sampai ke kepalanya dan berusaha untuk tidur.


__ADS_2