DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 67


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Hari ini adalah hari pertama sesi pemotretan. Vio bersiap siap untung menjadi model project yang ditangani oleh Tasya. Dihari pertama CEO Frans datang untuk melihat bagaimana sesi pemotretan berlangsung.


Tasya sangat bekerja keras dengan menyiapkan semua perlengkapan dan konsep yang akan digunakan untuk sesi pemotretannya hari ini. Ketika pemotretan dimulai, Tasya terlihat sangat sibuk. CEO Frans memperhatikan gerak gerik Tasya dan tersenyum sendiri melihatnya.


Setelah berganti pakaian 3 kali, Tasya menyuruh semua kru untuk beristirahat selama setengah jam. CEO Frans merasa puas dengan kerja keras mereka dan mempercayakan semua kepada Tasya.


"Kak Frans!" Teriak Vio berjalan kearah CEO Frans dan merangkul lengannya.


"Hem!" Jawab CEO Frans tersenyum kearah Vio.


"Kak Frans nungguin aku ya?" Tanya Vio percaya diri.


Tasya merasa kesal karena melihat tingkah Vio yang dengan seenaknya bisa memegang megang CEO Frans sesuka hatinya. Tasya tak ingin mengambil pusing, dia tak ingin lagi memperdulikan apa yang mereka lakukan. Dia memilih bergabung dengan yang lainnya untuk beristirahat.


Tiba tiba rangkulan Vio di lengan CEO Frans dipisahkan oleh Asisten Riko. Vio tersentak.


"Apa apaan sih kamu?" Tanya Vio kesal.


"Jaga sikap kamu! Ini di perusahaan, bukan di rumah. Semua karyawan melihatnya." Jawab Asisten Riko.


"Ada apa?" Tanya CEO Frans.


"Tuan Frans sudah waktunya untuk rapat project baru kita." Jawab Asisten Riko.


"Baiklah!" Balas CEO Frans.


"Kak Frans mau pergi?" Tanya Vio kecewa.


"Aku ada rapat project baru hari ini." Jawab CEO Frans.


"Yaah! Kirain mau nungguin aku sampai selesai pemotretan." Ucap Vio.


"Aku harus pergi! Kalau kamu butuh apa apa, langsung bilang saja sama Tasya." Ucap CEO Frans.


Vio hanya diam kecewa.


"Tasya!" Panggil CEO Frans.


Tasya beranjak menghampiri CEO Frans.


"Iya!" Jawab Tasya cuek.


"Saya ada rapat hari ini, kamu selesaikan sesi pemotretan ini. Tetapi jangan biarkan Nona Vio terlalu capek." Ucap CEO Frans perhatian.


"Baik Tuan." Jawab Tasya.


CEO Frans pergi dan diikuti oleh Asisten Riko.

__ADS_1


"Mari Nona Vio, kita lanjutkan ke sesi berikutnya. Ayo semua kita lanjutkan ke sesi berikutnya." Ucap Tasya menepuk tangannya beberapa kali.


Semua beranjak dan bersiap kembali ke tugas mereka masing masing.


"Aku tidak mau lanjutin sesi ini lagi. Aku capek." Ucap Vio kesal.


Vio berjalan kearah sofa dan duduk dengan kesal.


"Nona Vio apa maksud Anda?" Tanya Tasya menghampiri Vio.


"Aku bilang aku tidak mau lanjutin pemotretan." Jawab Vio.


"Bagaimana bisa? Apa yang akan saya katakan kepada CEO Frans kalau Anda tidak mau melanjutkan ini?" Tanya Tasya kesal.


"Bilang saja apa adanya. Dia tidak akan marah." Ucap Vio.


"Nona Vio, Anda jangan mengulur ngulur waktu kami. Kami semua ini orang sibuk semua. Tolong kerjasamanya. Jangan membuat pekerjaan kami semakin runyam." Ucap Tasya kesal.


Karena tak ingin berdebat lebih lama, Tasya memilih menghubungi CEO Frans. Dia mengambil ponsel disaku kemejanya dan mencari nomor CEO Frans dan meneleponnya. Tasya menjauh dari Vio.


"Halo! Ada apa?" Tanya CEO Frans dari balik telepon setelah mengangkat teleponnya.


"Halo Tuan Frans. Nona Vio tak ingin melanjutkan sesi pemotretan hari ini." Ucap Tasya kesal.


"Dimana Nona Vio?" Tanya CEO Frans.


Tasya kembali mendekati Vio dan memberikan ponselnya kepada Vio. Dengan tampang bingung, Vio mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.


"Dasar tukang ngadu!" Ucap Vio kesal dan menyahut ponsel Tasya


"Halo Kak Frans." Sapa Vio lirih.


"Vio, tolong jangan kaya anak kecil. Tolong kerjasamanya." Ucap CEO Frans dibalik telepon.


"Baiklah! Tapi Nanti malam Kak Frans temani Vio makan malam ya." Ucap Vio memberi syarat.


"Iya." Jawab CEO Frans mematikan panggilannya.


Melihat CEO Frans menyetujui syarat dari Vio dengan mudah, Tasya tersenyum kesal dan memalingkan mukanya kearah lain. Vio tersenyum senang dan mengembalikan ponsel Tasya. Setelah itu, dia berjalan menuju lokasi pemotretan untuk melanjutkan ke sesi berikutnya.


***


Dihari kedua pemotretan, lagi lagi Vio membuat masalah. Lagi lagi dia mempersulit kerja mereka. Tasya semakin geram dibuatnya. Dengan tampang kesal, Tasya berjalan ke ruangan Vio. Tanpa mengetuk pintu, Tasya langsung masuk tanpa permisi. Tasya sangat kesal melihat Vio hanya duduk dengan santainya di sofa dan membaca sebuah majalah.


"Apakah kamu tidak punya sopan santun masuk ke ruangan orang?" Tanya Vio tanpa menatap Tasya dan masih fokus dengan bacaannya.


"Nona Vio, kenapa Anda harus mempersulit kami? Tolong kerjasamanya." Ucap Tasya mencoba mengendalikan rasa kesalnya.


"Saya tidak punya waktu mempersulit kalian. Saya orang sibuk." Jawab Vio.

__ADS_1


"Kalau begitu, selesaikan pekerjaan Anda. Jangan membuang buang waktu untuk hal yang tidak penting." Ucap Tasya mulai kesal dengan kesombongan Vio.


"Kamu marah?" Tanya Vio dengan santainya.


"Tidak! Saya tidak marah!" Jawab Tasya.


"Suruh CEO Frans kesini. Kalau dia tidak datang, aku juga tidak mau melanjutkan pemotretan ini." Ucap Vio.


Tanpa menjawab, Tasya pergi keluar ruangan Vio. Tasya berjalan Menuju ruangan CEO Frans.


Tasya mendekati meja CEO Frans.


"Tuan Frans!" Panggil Tasya menahan rasa kesalnya.


"Ada apa?" Tanya CEO Frans tetap fokus memeriksa berkas ditangannya.


"Nona Vio tidak mau melanjutkan sesi pemotretan lagi." Jawab Tasya.


"Lalu?" Tanya CEO Frans lagi.


"Tolong bujuk dia untuk melanjutkan sesi pemotretan ini." Jawab Tasya.


"Lalu apa tugasmu disini kalau membujuk saja kamu menyuruh saya. Bagaimana bisa kamu memegang project ini kalau membujuk modelnya saja tidak bisa." Ucap CEO Frans menatap Tasya dingin.


"Tapi dia tidak mau dibujuk siapapun kecuali Anda." Ucap Tasya memohon.


"Saya tidak mau tau. Itu sudah menjadi tanggungjawab kamu. Saya juga orang sibuk. Bukan tugas saya membujuk model. Saya tidak mau tau. Kalau membujuk model juga menjadi tugas CEO? Lalu apa tugas kalian yang bekerja disini?" Ucap CEO Frans.


"Maafkan saya! Saya permisi." Ucap Tasya langsung berbalik pergi dari ruangan CEO Frans.


Tasya keluar ruangan dengan sangat kesal.


"Pantas saja mereka berteman sangat akrab. Dua duanya sama sama menyebalkan. Bagaimana Asisten Riko bisa bertahan mempunyai dua orang teman seperti mereka. Bukankah rasanya seperti didalam neraka?" Gumam Tasya setelah keluar dari ruangan CEO Frans.


Tasya menatap pintu ruangan tersebut dengan penuh dendam dan mengumpat sepuas hatinya.


Setelah puas, Tasya kembali ke ruang pemotretan. Dia melihat semua kru putus asa. Mereka duduk dengan raut wajah kecewa karena harus menunggu lama.


"Nona Tasya! Bagaimana?" Tanya Bagas, salah satu kru pemotretan.


'Saya tidak bisa membujuk Nona Vio. Saya juga gagal meminta tolong kepada CEO Frans." Jawab Tasya kecewa.


Mendengar jawaban Tasya, semua kru pemotretan menjadi semakin kecewa.


'Bagaimana ini Nona Tasya? Kita masih banyak pekerjaan yang lain." Ucap Bagas.


Yang lain hanya mengiyakan ucapan Bagas.


"Kita tunggu satu jam lagi ya. Kalau satu jam Nona Vio tetap kekeh tidak mau pemotretan, kita tunda pemotretan hari ini." Ucap Tasya memohon.

__ADS_1


Semua Kru pemotretan menyetujui permintaan Tasya.


__ADS_2