
Senin...
Setelah istirahat makan siang, Tasya kembali ke ruangannya.
"Tasya!" Panggil Sekretaris Tya berdiri dari tempat duduknya.
"Iya!" Jawab Tasya berbalik melihat Sekretaris Tya dan berjalan menghampirinya.
"Tolong kamu hancurkan semua dokumen dokumen ini." Ucap Sekretaris Tya meminta tolong.
Sekretaris Tya memberikan setumpuk kertas dokumen kepada Tasya.
"Baiklah!" Ucap Tasya menerima dokumen tersebut.
Tasya terkejut dan dokumennya hampir saja terjatuh.
"Kamu kenapa?" Tanya Sekretaris Tya.
"Nggak apa apa. Cuma sedikit berat." Jawab Tasya tersenyum manja.
Sekretaris Tya hanya tersenyum heran.
Tasya pergi untuk menghancurkan semua dokumen yang dibawanya. Sesampainya di ruangan penghancur, Tasya meletakkan dokumennya disebuah meja di samping shredder (Mesin Penghancur Kertas). Tasya menyalakan shredder tetapi tidak berfungsi.
"Mesinnya mati? Huhh sangat tidak bersahabat." Gumam Tasya mengambil kembali tumpukan dokumen yang tadi diletakkannya.
Tasya turun kelantai dasar dan berencana pergi ke pusat percetakan. Sesampainya dilantai dasar, Tasya keluar dari lift dan buru buru pergi. Karena fokus dengan tumpukan dokumen yang dibawanya, Tasya tak memperhatikan jalannya. Dari pintu depan perusahaan, CEO Frans berjalan dengan wajah dinginnya. Dan ...
Bbrrrruuukkkkk..... Tak sengaja Tasya menabrak CEO Frans dan terjatuh karena tidak fokus. Sedangkan CEO Frans hanya mundur satu langkah. Semua dokumen yang dibawa Tasya oun berhamburan kemana mana. CEO Frans mengambil salah satu dokumen dan melihatnya.
"Kamu melihat saya tidak berada disini. Apakah kamu mulai berani menjual informasi perusahaan?" Tanya CEO Frans dingin dan menunjukkan kertas dokumen itu kepada Tasya.
"Ti.. Tidak! Tidak! Shredder perusahaan rusak. Jadi saya berencana membawanya ke pusat percetakan untuk menghancurkannya. Ngomong ngomong, kenapa Anda kembali sendiri? Dimana Asisten Riko?" Tanya Tasya melihat keluar dan tak melihat Asisten Riko di sana.
__ADS_1
Tak menjawab pertanyaan Tasya, CEO Frans pergi meninggalkan Tasya tanpa permisi.
Tasya mulai merapikan dokumen yang berhamburan. Dia memungut satu per satu dokumen tersebut. Tiba tiba dengan berjalan cepat, Asisten Riko menghampiri Tasya.
"Situasi macam apa ini?" Tanya Asisten Riko terkejut.
"Shredder rusak!" Jawab Tasya singkat.
"Oke! Oke! Sekarang kamu cepat temani CEO Frans saja." Ucap Asisten Riko.
"Tidak! Tidak perlu! Aku sendiri..." Balas Tasya menolak.
"Dia sedang dalam mood yang sangat buruk sekarang. Saya tidak ingin naik lift yang sama dengannya. CEO Frans akan dengan mudah membunuhku. Cepat pergi!" Penggal Asisten Riko mendorong tubuh Tasya.
"Bagaimana bisa saya yang harus ..." Ucap Tasya ragu tetapi belum selesai Tasya berbicara, Asisten Riko sekali lagi mendorong tubuh Tasya dan menyuruhnya pergi. Tasya hanya menurut pada perintah Asisten Riko.
"Siapa yang akan membantuku?" Gumam Asisten Riko mulai memunguti dokumen yang berhamburan dilantai.
Tasya mengejar CEO Frans yang masih berdiri didepan pintu lift menunggu pintunya terbuka. Tasya berdiri di samping CEO Frans dengan rasa sedikit takut. Setelah pintu lift terbuka, CEO Frans masuk kedalam lift. Tetapi Tasya ragu untuk mengikutinya. CEO Frans menatap tajam Tasya. Dengan cepat Tasya langsung masuk kedalam lift karena takut CEO Frans akan marah karena menunggu terlalu lama.
Suasana masih tampak hening. Tasya tak tau harus darimana dia akan mengajaknya berbicara. Dia takut salah kalau mengajaknya berbicara.
Tasya kembali menatap CEO Frans.
"Tuan Frans!" Panggil Tasya dengan hati hati.
CEO Frans menatap Tasya tanpa menjawab dengan kata kata.
"Apakah meeting Anda hari ini sangat keras?" Tanya Tasya tetap berhati hati dengan perkataannya.
CEO Frans menatap tajam Tasya. Karena takut, Tasya mengalihkan pandangannya dan menunduk. Tak mengatakan apapun lagi.
"Apa yang ingin coba kamu katakan?" Tanya CEO Frans tetap bersikap dingin dengan tatapannya yang tajam.
__ADS_1
"Apakah meeting Anda dengan klien Anda tidak berjalan dengan baik?" Tanya Tasya menatap CEO Frans dengan ragu ragu.
CEO Frans berpose bertolak pinggang dan sedikit menggeser badannya menghadap kearah Tasya. CEO Frans menghela nafas kesal. Tasya semakin takut dan satu langkah mundur dari posisinya.
"Maksud saya... Saya ingin tau, bagaimana meeting Anda hari ini? Apakah lancar? Apakah ada ketidakpuasan? Apakah klien tidak puas dengan hasil dari project yang saya tangani? Kalau iya, saya akan bekerja lebih sungguh sungguh lagi kedepannya." Ucap Tasya gugup.
"Jangan mengatakan kamu akan bekerja sungguh sungguh. Tapi akan lebih baik kalau kamu mengatakan akan bekerja lebih baik lagi." Ucap CEO Frans.
"Maafkan saya. Saya akan bekerja lebih baik lagi kedepannya." Ucap Tasya merevisi ucapannya.
"Tetapi apa rencana kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Tampaknya ada banyak preferensi pribadi." Tanya CEO Frans memojokkan Tasya.
"Tiiiddaaaakkk! Segala sesuatu dilakukan dengan hati, selalu ada bayangan pribadi. Itu wajar." Jawab Tasya mengelak dan tersenyum gugup. Tasya menggelengkan kepalanya dan memalingkan tatapannya dari CEO Frans.
"Jadi kamu akan selalu mengirimkan bayangan kamu dimana pun saya berada?" Tanya CEO Frans tetap memojokkan Tasya dengan pertanyaannya. CEO Frans menatap Tasya semakin tajam. Tatapannya membuat Tasya semakin guguo.
"Tidak! Saya bersumpah, saya sangat sibuk! Saya tidak ada waktu untuk melakukannya. Saya benar benar bekerja keras untuk project ini." Jawab Tasya terus mengelak.
"Sibuk atau tidak sibuk, bukanlah masalah disini. Tapu permasalahannya, sejauh mana kerja keras kamu." Ucap CEO Frans tersenyum licik.
"Tapi aku benar benar sudah bekerja keras." Balas Tasya.
"Kita lihat saja nanti. Seberapa tinggi hasil pencapaianmu. Setelah itu, bekerja keras atau tidak saya akan tau." Ucap CEO Frans membuat Tasya semakin gugup.
"Baiklah!" Jawab Tasya pasrah.
"Klien meminta semua selesai lebih cepat. Kamu harus mengatur semua strategi agar semua bisa segera dipasarkan." Ucap CEO Frans memberi informasi tentang hasil meetingnya.
"Baiklah Tuan." Jawan Tasya.
"Beritahu teman kamu agar lebih serius untuk bekerja. Kamu cukup tau kan berapa kerugian project ini kalau sampai gagal?" Ucap CEO Frans.
CEO Frans meninggalkan Tasya tanpa pamit setelah pintu lift terbuka. Tasya semaki ragu dengan perasaannya.
__ADS_1
"Tak mungkin kan aku menyukai orang sekejam ini? Bukan dia kan?" Pertanyaan tiba tiba muncul di benak Tasya.
"Sudahlah! Bukan waktunya memikirkan tentang ini. Aku harus berjuang lebih keras dan tak mengecewakannya. Dia sudah banyak membantuku." Gumam Tasya dan berjalan keluar dari lift. Tasya berjalan dibelakang CEO Frans.