DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 28


__ADS_3

Jam didinding menunjukkan pukul 16.00. Sudah waktunya untuk pulang. Tasya mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kedalam tas. Dia membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.


"Mari pulang!" Ucap Tasya mengambil beruang kecilnya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Ehh tunggu! Tapi dia belum menyuruhku pulang. Melihat temperamennya yang sangat buruk, dia tidak akan melepaskan aku dengan mudah jika aku pulang tanpa perintah darinya." Ucap Tasya menghentikan langkahnya dan menatap kearah ruang istirahat Frans yang masih tertutup.


"Sebaiknya aku menunggu sebentar lagi." Ucap Tasya kembali duduk ditempat duduknya.


Kkrriiinnggg...


Kkrrriiinggg...


Terdengar bunyi nada ponsel Tasya.


Tasya mengambil ponselnya didalam tas dan melihat siapa yang meneleponnya. Tertulis nama Anggi dilayar ponselnya. Tasya menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilannya.


"Halo!" Sapa Tasya setelah mengangkat teleponnya.


"Tasya, cepat keluar. Kami menunggumu di lobi." Ucap Anggi dari balik telepon.


"Kalian duluan saja. Aku belum bisa pulang. Aku harus menunggu perintah dari es batu." Ucap Tasya menyuruh teman temannya pulang duluan.


"Ini sudah waktunya untuk pulang. Apakah dia mau menguras tenaga mahasiswa magang? Untung tampan." Teriak Anggi terdengar sangat kesal.


"Dia sedang istirahat diruang istirahatnya. Dan tidak ada yang berani mengganggunya sat dia beristirahat. Melihat temperamennya yang sangat buruk, dia akan sangat marah ketika ada yang mengganggu waktu tidurnya. Pasti akan membunuh yang berani mengganggunya. Aku akan tunggu sebentar lagi. Kalian pulang duluan saja." Ucap Tasya yang terdengar kesal juga.


"Beneran kamu akan nunggu dia? Kamu tidak apa apa?" Tanya Anggi meyakinkan.


"Iya! Tidak apa apa. Kalian pulang dulu saja." Jawab Tasya.


"Ya udah kita pulang dulu ya. Nanti kalau pulang kamu hati hati. Jangan terlalu malem. Kita akan nungguin kamu di rumah. Muachh" Ucap Anggi.

__ADS_1


"Iya! Kalian juga hati hati." Ucap Tasya mematikan teleponnya.


Tasya meletakkan ponselnya di atas meja dan melihat kearah ruangan tempat Frans beristirahat. Tetapi Frans tak kunjung keluar. Tasya mulai bosan dan dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena kelelahan setelah bekerja seharian. Tasya sesekali menarik nafas dan mengeluarkannya kasar dengan rasa bosan. Lagi lagi dia melirik jam didinding. Tasya berusaha bersabar menunggu Frans karena tidak berani dengan konsekuensinya jika dia melanggar peraturan dari Frans.


Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, tetapi Frans tak juga keluar. Karena rasa lelahnya seharian bekerja, Tasya menjadi sangat ngantuk. Tasya meletakkan kepalanya di atas tumpukan lengannya menghadap kearah ruang istirahat Frans. Masih menunggu dengan bosan. Dan akhirnya lama kelamaan tanpa disadari Tasya memejamkan matanya karena tidak kuat menahan kantuknya.


Setelah pukul 19.00, Frans keluar dari ruang istirahatnya berencana untuk mandi. Dia sangat terkejut ketika melihat Tasya tertidur di mejanya.


"Kenapa dia belum pulang?" Ucap Frans mendekati Tasya.


"Hemm, dia terlihat manis ketika tidur. Setidaknya tidak terlalu merepotkan." Gumam Frans menyeringaikan bibirnya.


"Hei bangun! Kenapa masih disini? Pulang sana!" Ucap Frans kasar dan menendang kaki kursi yang diduduki Tasya.


Tasya dikagetkan oleh getaran dari tendangan Frans di kaki kursi yang dia duduki. Tasya kesulitan membuka matanya. Dia kemudian mendongakkan kepalanya dengan matanya yang masih keriyip. Tasya menggaruk garuk kepalanya dan berusaha membuka matanya. Betapa terkejutnya ketika dia berhasil membuka matanya. Terlihat dengan samar samar wajah dingin Frans. Mata Tasya langsung membelalak dengan lebar setelah dia sadar bahwa tadi dia tertidur di ruangan Frans.


"Maafkan saya Pak! Saya tertidur ketika saya menunggu Anda keluar dari ruangan istirahat Anda." Ucap Tasya membungkukkan badannya untuk meminta maaf.


Tasya merasa kesal mendengar perkataan Frans, tetapi dia berusaha untuk menahan kekesalannya.


"Saya hanya menunggu perintah dari Anda. Jika saya pulang menurut aturan jam pulang perusahaan tanpa ada perintah langsung dari Anda, saya tidak berani mengambil resiko dan harus membayar denda Kepada Anda." Jawab Tasya santai dan menyindir Frans.


"Lain kali jam pulang perusahaan jam 16.00, jadi patuhi aturan itu. Saya tidak suka orang terlambat dan orang yang mengulur waktu dan pulang terlambat." Ucap Frans dengan tampang dinginnya.


"Baiklah! Kalau begitu saya pamit pulang dulu." Pamit Tasya membungkukkan badannya dan segera pergi menjauh dari Frans.


***


Sesampainya di asrama kampus, Tasya melihat teman temannya sedang menunggunya. Anggi langsung berlari menghampiri Tasya setelah dia membuka pintu.


"Tasya kenapa jam segini kamu baru pulang? Apakah si pangeran es itu benar benar ingin membalas dendam kepadamu dengan menguras tenagamu untuk bekerja?" Tanya Anggi merangkul lengan Tasya.

__ADS_1


"Memang benar benar sakit jiwa itu orang. Dia membuat aturan dan aku harus menuruti perintahnya dan tak boleh melanggar aturannya.Sampai aku tak berani pulang sampai aku mendengar perintahnya. Tapi setelah melihat aku masih di sana dan belum pulang dia marah marah tak karuan dan bilang 'jangan harap aku akan memberikan uang lembur hanya karena kamu belum pulang.' Siapa juga yang menginginkan uang darinya? Tadi kalau aku nekat pulang pasti dia juga akan marah marah karena aku melanggar peraturan. Memang suka mencari gara gara itu orang." Gerutu Tasya sangat marah.


Anggi, Intan dan Vera hanya saling tatap karena selama mereka mengenal Tasya belum pernah mereka melihat Tasya semarah ini.


"Ya sudah! Kamu duduk dulu dan istirahatlah." Ucap Anggi mengarahkan Tasya untuk duduk di ranjangnya.


Tasya menurut saja.


"Aku benar benar sangat kesal." Ucap Tasya cemberut.


"Begitu menakutkannya kah peraturan dari dia?" Tanya Vera tak mengerti kenapa temannya sangat kesal.


"Kalian tau? Aku harus membayar denda setiap kali aku melanggar aturannya." Ucap Tasya yang kekesalannya semakin menjadi jadi.


"Apa? Membayar denda? Denda apa?" Tanya Intan dengan kepolosannya.


"Apa menurut kalian ini wajar? Kalau menurut aku dia memang tak waras. Pantas saja dia didiagnosa gangguan bipolar. Gila gitu." Gerutu Tasya.


"Apa maksudnya dengan denda?" Tanya Vera belum paham.


"Aku harus membayar denda setiap aku melanggar peraturan yang dia buat. Semua peraturan hanya menguntungkan pihaknya saja. Dan aku harus membayar Rp. 200.000 untuk setiap pelanggaran." Jawab Tasya.


"Apa? 200.000? Dia gila? Aturan macam apa ini yang hanya menguntungkan salah satu pihak saja?" Ucap Anggi kesal.


"Makanya itu. Aku belum pernah bertemu dengan orang selicik dia." Ucap Tasya.


"Ya sudah. Mandilah agar kamu kembali segar." Ucap Vera menyuruhnya mandi.


"Sebentar. Energiku terkuras banyak hari ini." Ucap Tasya terlihat lelah.


"Ku berikan sebagian energiku untukmu." Ucap Anggi meletakkan telapak tangannya di kepala Tasya.

__ADS_1


"Terimakasih. Aku merasa energiku sudah pulih. Aku mandi dulu." Ucap Tasya akhirnya tersenyum dan pergi mandi agar kembali segar.


__ADS_2