
Tttiinng.. Ponsel kembali berbunyi.
Dengan segera CEO Frans mengambilnya dan membaca pesannya.
"Tuan Frans maaf tadi ponsel saya mode hening jadi saya tidak tau kalau Anda telepon. Ini saya sedang mengerjakan tugas yang Anda berikan." Balas Tasya pada pesannya.
Tiba tiba CEO Frans tersenyum dan membuat Asisten Riko semakin penasaran.
"Tuan sebenarnya ada apa dengan Anda?" Tanya Asisten Riko penasaran.
CEO Frans hanya menatap tajam kearah Asisten Riko.
"Ngapain kamu disini?" Tanya CEO Frans dingin.
"Saya khawatir dengan Anda." Jawab Asisten Riko.
"Ada apa dengan saya?" Tanya CEO Frans.
"Temperamen Anda mudah berubah. Tadi selama rapat sepertinya sedang buruk. Tetapi sekarang sudah terlihat lebih baik." Jawab Asisten Riko.
"Apa?" Tanya CEO Frans marah.
"Maafkan saya." Balas Asisten Riko membungkukkan badannya.
CEO Frans menekan tombol telp untuk tersambung dengan Sekretaris Tya.
"Hallo Tuan Frans." Sapa Sekretaris Tya dibalik telepon.
"Kamu urus penghapusan bonus Asisten Riki bulan ini. Ahh! Dan juga sekalian potong bonus tahunannya." Ucap CEO Frans tanpa langsung mengancam Asisten Riko.
"Baik Tuan.!" Jawab Sekretaris Tya.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak akan mengganggu Anda lagi. Saya permisi." Ucap Asisten Riko dan keluar ruangan CEO Frans untuk melarikan diri.
CEO Frans hanya menatap kepergian Asisten Riko dengan senyum liciknya.
Karena merasa bosan, CEO Frans menelepon Tasya.
"Kenapa dia video call lagi." Gumam Tasya kesal.
Dengan sangat terpaksa Tasya mengangkatnya.
"Ada apa lagi Tuan Frans? Semua tugas saya sudah saya kirimkan melalui email." Ucap Tasya kesal.
"Kamu terlihat kesal kepada saya." Ucap CEO Frans.
Tasya terkejut mendengat ucapan CEO Frans. Tasya bingung mau menjawab apa. Karena jika disuruh berbicara jujur dia memang kesal dengan CEO Frans. Selama Tasya disuruhnya bekerja di rumah, dia hampir tidak ada privasi. Karena setiap saat CEO Frans menelepon atau mengirimnya pesan. Jika lama tak menjawab atau membalas temperamennya akan menjadi sangat buruk dan mudah marah.
"Hem? Saya? Ti.. Tidak! Mana mungkin saya berani kesal dengan Anda? Anda kan bos saya. Tetapi apakah Anda tidak sibuk?" Ucap Tasya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Saya selalu sibuk. Tetapi karena saya tidak suka dibohongi, jadi saya ingin memastikan bahwa kaki kamu belum sembuh dan kamu benar benar sedang bekerja." Jawab CEO Frans.
__ADS_1
"Kalau boleh memilih aku lebih memilih masuk kerja ke kantor daripada haris bekerja di rumah. Karena selama aku bekerja di rumah, kamu tidak membiarkanku hidup dengan tenang." Gumam Tasya lirih dan memalingkan wajahnya kesamping.
"Kamu ngomong apa? Kamu memaki saya?" Teriak CEO Frans.
"Tidak!" Jawab Tasya menatap layar ponselnya dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah! Saya akan kembali bekerja. Ingat kalau sudah sembuh segera masuk kerja. Jangan malas malasan." Ucap CEO Frans.
"Baiklah!" Jawab Tasya.
CEO Frans mematikan teleponnya.
"Ahhh! Akhirnya aku bisa hidup tenang sekarang." Ucap Tasya merasa lega dan berjalan menuju tempat tidurnya. Tasya merebahkan badannya dan beristirahat.
Ttiiinngggg.....! Suara ponsel Tasya tanda pesan masuk.
Tasya meraba raba sekitar tempat tidurnya dengan mata masih tertutup untuk mencari ponselnya. Setelah ketemu dia mengambil ponselnya dan membuka matanya untuk memeriksa pesan masuk.
"Semua berkas sudah saya kirim ke email kamu. Segera cek." Isi pesan CEO Frans.
"Aaaaarrrrggggghhhhh!" Teriak Tasya sangat kesal.
Tasya terbangun dari rebahannya.
"Kenapa sekali saja kamu tidak pernah membiarkanku hidup tenang? Apakah ada yang kurang dari hidupmu jika membiarkanku menjalani hidup normal. Apakah semua orang ingin kamu buat mati muda." Gerutu Tasya kesal. Mencaci CEO Frans.
Dengan sangat terpaksa, Tasya kembali ke meja belajarnya untuk membuka email yang CEO Frans kirimkan. Tasya menggeser mouse kebawah.
"Benar benar gila kerja. Bos kejam. Jahat. Pantas saja dia sama sekali tidak tertarik kepada wanita." Gumam Tasya.
"Kalaupun ada wanita yang menyukainya. Fixs wanita itu dalam masalah dan butuh datang ke dokter untuk periksa. Gila!" Gerutu Tasya.
Mulut Tasya tak henti hentinya memaki dan mengutuk CEO Frans yang dianggapnya sangat kejam.
"Terkadang bersikap manis. Terkadang bersikap kejam. Memang susah ditebak orang seperti itu. Benar cerita orang orang. Dia tidak akan membiarkan salah satu karyawannya selamat dan hidup dengan tenang." Ucap Tasya.
Tasya kembali mulai bekerja.
Ttookk.. Ttookk.. Ttookk.. Suara ketukan pintu.
"Siapa lagi itu?" Tanya Tasya kepada dirinya sendiri.
Dia beranjak pergi untuk membuka pintu.
"Nona ini makanan pesanan Anda." Ucap Driver makanan memberikan 2 kotak makanan yang berbeda kepada Tasya.
"Maaf tapi saya sama sekali tidak memesan makanan apa apa." Ucap Tasya bingung.
"Tetapi alamat pengantaran benar alamat Nona." Ucap Driver makanan.
"Tetapi saya benar benar tidak memesannya. Sebaiknya Bapak tanya dulu ke restoran apa benar ini untuk saya. Mungkin ada kekeliruan." Ucap Tasya.
__ADS_1
Driver makanan tersebut mengeluarkan ponselnya dan menghubungi restorannya untuk bertanya alamat pengantarannya. Setelah jelas Driver tersebut mematikan panggilannya.
"Nona alamat pengantarannya memang benar disini. Ini!" Ucap Driver makanan memberikan makanannya ke Tasya.
Dengan sangat terpaksa menerimanya dan membawanya masuk. Dia penasaran siapa yang mengirimkan makanannya.
Tasya menelepon Anggi.
"Hallo Sya! Ada apa?" Sapa Anggi dibalik telepon.
"Anggi apa kamu mengirimiku makanan?" Tanya Tasya.
"Makanan? Makanan apa?" Tanya Anggi tak mengerti.
"Tadi tiba tiba ada driver mengirim makanan kesini. Apa itu kamu?" Tanya Tasya lagi.
"Tidak! Memang makanannya apa?" Tanya Anggi penasaran.
"Pizza sama pancake." Jawab Tasya.
"Ohh mungkin itu dari CEO Frans." Balas Anggi.
"Kamu jangan bercanda." Ucap Tasya.
"Beneran. Aku tidak bercanda." Balas Anggi.
"Darimana kamu tau kalau ini dari CEO Frans?" Tanya Tasya penasaran.
"Karena disini juga sama makanannya yang diberi oleh CEO Frans." Jawab Anggi.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu kembalilah bekerja." Ucap Tasya mematikan teleponnya.
Tasya berpikir sejenak. Baru saja dia memaki dan mengutuknya. Dan sekarang CEO Frans,mengirimnya makanan.
"Tuan kenapa Anda repot repot mengirim saya makanan?" Ketik Tasya dan mengirimkannya kepada CEO frans.
"Kamu tidak perlu merasa istimewa. Bukan hanya kamu yang saya belikan. Tapi semua karyawan perusahaan." Balas CEO Frans.
"Ihh siapa juga yang merasa istimewa. Narsis banget sih." Gumam Tasya setelah membaca pesan CEO Frans.
Tasya tak ingin berdebat dengannya. Dia memilih tak membalas dan meletakkan ponselnya ke meja. Dia menikmati memakan pizza dan pancake yang dikirimkan CEO Frans. Karena kebetulan dia juga merasa sangat lapar.
Setelah selesai memakan pizza beberapa potong, Tasya kembali bekerja dan menyelesaikan tugasnya dan mengirim kembali kepada CEO Frans.
Baru beberapa menit dia beristirahat, teman temannya sudah pulang.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Tasya.
"Sudah. Kamu juga baru saja beristirahat?" Tanya Vera balik.
"Iya. Biasalah ada orang yang sangat hobi merepotkan." Jawab Tasya cemberut.
__ADS_1
Anggi, Vera dan Intan hanya tersenyum mendengar jawaban Tasya. Kemudian mereka berbaring ditempat tidur masing masing untuk beristirahat.