
Sepulang Magang..
Tasya hanya berdua dengan Anggi. Karena Intan dan Vera sudah pulang terlebih dahulu karena ingin mampir ke perpustakaan untuk mencari buku tentang manajemen bisnis sesuai dengan jurusan kuliahnya.
Tasya terlihat lebih ceria dibandingkan biasanya.
"Sayangku Tasya! Sampai bertemu besok hari senin. Pangeran mau pulang dulu karena ada sebuah janji dengan seseorang. Kamu jangan Cemburu ya. Kamu tetao nomor satu di hati aku." Ucap Raka merangkul bahu Tasya secara tiba tiba.
Tasya terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia tidak tau kapan datangnya Raka dan tiba tiba merangkulnya.
"Dasar! Ya sudah pergi ana. Pergi! Pergi! Sebelum aku benar benar marah!" Canda Tasya dengan tersenyum lebar.
"Oke! Oke!" Balas Raka dengan melambaikan tangannya dan berlalu pergi.
Tasya membalas melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Menandakan bahwa dia benar benar merasa lebih baik.
"Aku penasaran. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Ada hubungan apa?" Tanya Anggi. Anggi menatap Raka dan kemudian menatap Tasya curiga.
"Hem?" Balas Tasya terkejut dengan pertanyaan yang Anggi lontarkan kepadanya.
Anggi menyilangkan kedua tangannya di dada dan menunggu jawaban Tasya.
"Kita nggak ada hubungan apa apa? Kita cuma teman saja." Lanjut Tasya.
Tasya tau, ketika Anggi penasaran akan sesuatu, dia akan kekeh untuk memaksa bercerita sampai dia benar benar percaya dan puas akan jawaban yang diterimanya.
"Kamu pikir, orang orang yang melihat tingkah kalian akan percaya kalau kalian itu hanya sebatas teman?" Ucap Anggi mengelak.
"Beneran! Aku nggak bohong! Kita cuma teman." Balas Tasya meyakinkan Anggi.
Anggi tetap memasang raut muka curiganya.
"Beneran aku nggak bohong." Lanjut Tasya memegang lengan Anggi.
"Aku nggak percaya." Ucap Anggi memalingkan muka menghindari Tasya.
"Aku benar benar cuma teman sama dia. Lagian sudah ada orang lain yang aku suka." Ucap Tasya frustasi akhirnya mengaku.
"Apa? Beneran? Siapa?" Ucap Anggi terkejut dengan mata terbelalak menatap Tasya.
Tasya hanya mengangguk malu untuk menjawab pertanyaan Anggi.
"Siapa?" Tanya Anggi penasaran.
Tasya hanya tersenyum tak menjawab.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Anggi mengulang pertanyaannya.
"Ayo kita makan dulu. Aku laper! Nanti aku kasih tau setelah makan." Jawab Tasya tersenyum sambil mengelus perutnya.
"Baiklah! Baiklah! Ayo kita pergi cari makan. Kamu sudah janji akan bercerita setelah makan." Ucap Anggi menarik tangan Tasya untuk mencari makan.
Karena Anggi sudah tidak sabar dengan jawaban Tasya. Dia mencari Rumah Makan terdekat untuk mengisi perut mereka. Kebetulan Rumah Makannya berada didekat perusahan dan kebetulan tak begitu ramai. Anggi sengaja mengambil meja pojok agar lebih tenang untuk bercerita.
Skip Makan..
Selesai makan, Anggi menagih janji Tasya tadi.
"Ayo cerita. Tadi kamu sudah janji. Siapa orang yang akhirnya bisa meluluhkan hati sahabatku satu ini?" Tanya Anggi tak sabar mendengar jawaban Tasya.
"Pria yang aku sukai adalah ..." Ucap Tasya pelan dan menghentikan ucapannya.
"Siapa? Jangan bikin aki mati penasaran deh. Aku kepo banget nih. Siapa pria yang bisa naklukin kamu. Dia satu perusahaan?" Tanya Anggi kepo.
Tasya mengangguk malu.
"Satu perusahaan. Kalau bukan Raka siapa lagi yang kamu sukai? Setau aku kamu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Menurut aku kamu tidak akan jatuh cinta hanya dengan melihatnya saja. Pasti kalian sudah sangat dekat. Dan setau aku cuma Raka yang dekat sama kamu saat ini." Ucap Anggi bingung.
"Bukan Raka!" Balas Tasya.
"Lalu siapa? Asisten Riko?" Tanya Anggi menebak lagi.
"Kamu nggak sedekat itu sih sama Asisten Riko." Balas Anggi.
Tasya hanya diam. Dia menumpukan dagunya diantara kedua telapak tangannya menunggu Anggi kembali menebak. Anggi masih berpikir keras.
"Tasya!" Ucap Anggi tiba tiba.
"Hem!" Jawab Tasya menatap Anggi.
"Tasya!" Ucap Anggi dengan raut muka tak percaya.
"Heeemm!" Jawab Tasya tak curiga tentang apa yang dipikirkan Anggi.
"Aku aku terpaksa menyebut ini. Dan aku sendiri pun tak percaya tentang apa yang aku pikirkan. Tapi aku tak punya pandangan lain." Ucap Anggi tak percaya.
"Maksudnya?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Tasya!" Panggil Anggi lagi hampir frustasi.
"Iya! Apa? Kamu nggak capek dari tadi nyebut nama aku terus?" Tanya Tasya kewalahan.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau pria yang kamu sukai itu CEO Frans!" Ucap Anggi frustasi setelah mengatakannya.
Tasya tak mengelak sedikitpun dan hanya tersenyum tipis.
"CEO Frans?" Teriak Anggi dan hampir semua tang ada di sana menatap mereka.
"Jangan teriak! Ini masih dekat dengan wilayah kantor. Kemungkinan mereka juga kenal dengan CEO Frans. Lihat mereka menato kita semua." Ucap Tasya memegang erat tangan Anggi dan melihat disekitar untuk menunjukkan kepada Anggi bahwa semua menatap mereka setelah mendengar teriakan Anggi.
"Maaf! Maaf! Maaf!" Ucap Anggi meminta maaf dengan mereka satu persatu dan membungkukkan badannya di setiap kata maaf yang dia ucapkan.
"Tasya! Kamu jangan bercanda? Candaanmu ini benar benar nggak lucu." Ucap Anggi lirih.
"Aku nggak bercanda." Jawab Anggi.
"Kamu yakin kalau kamu suka CEO Frans?" Tanya Anggi masih tak percaya.
"Aku sendiri belum begitu yakin. Tapi jantung aku selalu berdegup cepat. Aku nyaman setiap kali merasakan kehangatannya." Jawab Tasya tak yakin.
"Tasya! Apakah kamu sakit hari ini? Kamu demam?" Tanya Anggi tetap tak percaya.
"Aku baik baik saja. Sangat baik malah." Jawab Tasya.
"Lalu bagaimana dengan CEO Frans terhadapmu?" Tanya Anggi.
"Aku juga belum yakin." Jawab Tasya lemas karena tak yakin dengan perasaan CEO Frans terhadapnya.
"Ya sudah! Aku dukung setiap keputusan kamu. Tapi kamu harus jaga hati kamu sampai kamu benar benar tau perasaan CEO Frans terhadap kamu bagaimana. Ku tidak ingin kamu kecewa nantinya." Ucap Anggi memegang tangan Tasya.
"Iya! Makasih ya!" Ucap Tasya tersenyum lega karena sahabatnya mendukungnya.
"Aku akan mendukung setiap keputusan kamu. Asalkan itu baik buat kamu." Balas Anggi tersenyum.
"Tapi jangan bilang ke yang lain dulu ya. Aku belum yakin juga soalnya. Kalau aku sudah yakin dan pasti, aku akan cerita sama mereka." Ucap Tasya memohon.
"Iya! Aku percaya sama kamu. Tidak ada rahasia diantar kita. Ayo pulang! Mereka pasti menunggu kita." Ucap Anggi berdiri.
"Hari ini aku yang traktir." Ucap Tasya berdiri.
"Oke!" Balas Anggi mengacungkan jempol tangan kanannya.
Tasya dan Anggi berjalan ke kasir untuk membayar dan mengambil pesanan yang dibungkus untuk Vera dan Intan. Setelah selesai transaksi, Tasya dan Anggi berjalan bersama dengan senyum manis di wajah mereka. Mereka berjalan menulusuri trotoar dan sekalian mencari udara segar. Sudah lama mereka tak berjalan jalan menikmati angin malam dan menikmati keindahannya.
Sesampainya di asrama, Intan dan Vera sudah menunggu dengan kelaparan.
"Maafkan kita. Kalian pasti sudah lapar ya. Ini makanan kalian." Ucap Tasya meletakkan 2 bungkus makanan di atas meja.
__ADS_1
Dengan segera Vera dan Intan menyantap makanannya. Tasya dan Anggi hanya duduk dan tersenyum bahagia dengan kebersamaan mereka.