
Rumah Keluarga Johan..
"Apa yang akan tante rencanakan? Apa yang haris saya lakukan?" Tanya Riko.
"Nyalakan apinya. Buat Frans dan Tasya bersama." Ucap Mama Johan.
"Apa? Bagaimana caranya?" Tanya Riko terkejut.
"Buat Frans dan Tasya satu ruangan di perusahaan. Jadi kamu harus mengaturnya. Jika tidak, kamu tau apa yang akan terjadi." Ancam Mama Johan tidak perduli.
"Tetapi Om Johan ...?" Tanya Riko
"Soal Om Johan biar aku yang urus." Penggal Mama Johan.
Mama Johan pergi meninggalkan Riko sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? Setelah aku nyalakan apinya, nasinya mungkin tidak akan matang. Tetapi jika tidak aku nyalakan, Aku Riko Nugroho pasti akan mati. Bagaimana ini?" Gumam Riko.
***
Malam Minggu..
Seperti yang telah dijanjikan, Tasya pergi ke kafe tonight ditemani oleh Anggi. Mereka datang setengah jam lebih awal. Mereka mencari meja yang mudah ditemukan.
"Tasya apakah kamu yakin mau menemui sendiri?" Tanya Anggi menggenggam tangan Tasya.
"Tenang! Aku baik baik saja." Jawab Tasya tersenyum.
"Baiklah! Aku akan menunggumu dimeja sebelah sana." Ucap Anggi menunjuk sebuah meja kosong.
"Baiklah!" Balas Tasya.
"Kalau kamu butuh bantuan, kamu panggil aku." Ucap Anggi.
"Hem!" Tasya menganggukkan kepalanya.
"Semangat!" Ucap Anggi melayangkan kepalan tangan kanannya keatas.
Tasya membalas melayangkan kepalan tangan kanannya keatas. Anggi berpindah ke meja yang tadi ditunjuknya.
Tak lama kemudian Mama Johan datang diikuti oleh Riko dibelakangnya.
"Di sana." Ucap Riko menunjuk kearah Tasya.
Mama Johan berjalan menghampiri Tasya. Tasya berdiri untuk memberi salam.
"Selamat malam Tante. Lama tidak bertemu." Sapa Tasya ramah.
__ADS_1
Mama Johan duduk di samping kursi Tasya.
"Selamat malam. Duduklah!" Ucap Mama Johan mempersilahkan Tasya duduk.
"Oh!" Tasya duduk kembali di kursinya.
Riko ikut duduk.
"Apakah Tante ingin minum?" Tanya Tasya.
"Tidak! Tidak perlu." Jawab Mama Johan ramah.
"Mari langsung ke intinya saja." Ucap Riko menatap Tasya.
"Ahh ada banyak orang yang ingin menjadi asisten putraku. Setelah seharian mewawancarai mereka, mataku sulit berfokus. Ehh Riko, lulusan dari Universitas manakah kandidat terakhir?" Ucap Mama Johan berpura pura didepan Tasya.
"Maksud Anda AGSM? Tetapi menurut saya dia tidak cocok. Dia terlalu rajin. Saya pikir yang dari ICAN Education Consultant harus diwawancarai selanjutnya." Jawab Riko mengikuti alur Mama Johan.
"Sejujurnya aku tidak begitu perduli dengan pendidikan formal. Menurutku pengalaman hidup jauh lebih penting. Eh Tasya, Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi asisten putraku?" Tanya Mama Johan menatap penuh harap.
"Tapi Tante, Saya baru mau memulai magang." Jawab Tasya ragu.
"Tidak masalah. Semua bisa diatur. Asalkan kamu bersedia. Saya akan menggaji kamu dua kali lipat dari pemagang lainnya. Dan saya pastikan teman teman kamu bisa magang di Perusahaan Start. Bagaimana?" Ucap Mama Johan penuh keyakinan.
"Apakah pemagang digaji?" Tanya Tasya terkejut.
"Iya tentu. Meski tak hanya 20% dari gaji karyawan tetap." Jawab Riko.
"Sepertinya Mama Johan bisa dipercaya. Dan beliau sepertinya bukan orang yang ingkar dengan ucapannya. Mungkin aku harus menyetujuinya demi masa depanku dan teman temanku. Tapi aku tidak tau putra mana yang Tante maksud. Ahh terima saja dulu biar hutang aku segera lunas. Dan aku tidak ada urusan lagi dengan si es batu. Lagian aku hanya perlu bekerja selama 3 bulan. Jadi tidak masalah." Batin Tasya.
"Memilih asisten harus dilakukan dengan hati hati. Selama beberapa tahun terakhir, pekerjaan sangat menekannya. Bagaimana aku harus menjelaskannya kepadamu?Jika menyangkut emosinya, suasana hatinya kadang suka berubah ubah. Baru baru ini dia didiagnosa dengan gangguan bipolar ringan." Ucap Mama Johan untuk meyakinkan Tasya.
"Tetapi gangguan bipolar adalah kondisi yang serius." Ucap Tasya.
"Itulah sebabnya, aku harus berhati hati memilih asisten. Asistennya harus bisa mengurusnya setiap hari. Saat suasana hatinya buruk, asistennya bisa menasehatinya. Pada dasarnya mengurus kebutuhannya sehari hari selama dia di kantor. Dia sering begadang dan tidur di kantor." Ucap Mama Johan sedih.
"Saya mengetahui sedikit tentang psikolog. Gangguan seperti ini harus benar benar menjaga kondisi. Makan teratur, tidak makan sembarangan dan tidur yang cukup karena tidak boleh terlalu lelah." Ucap Tasya.
"Makanya, aku memilih kamu untuk mengurus putraku. Tante akan percayakan dia ke kamu." Ucap Mama Johan.
"Apakah saya cocok jadi asisten putra tante?" Tanya Tasya.
"Sangat cocok." Jawab Mama Johan.
"Ehemm... Ehemmm... Hari ini cuacanya cukup dingin. Maaf!" Ucap Riko batuk batuk.
"Bagaimana kalau kita memeriksa kontraknya sekarang? Ada cukup banyak klausul yang dikemukakan." Ucap Riko menyerahkan kontrak ke Tasya.
__ADS_1
"Oh iya benar! Lihat kontraknya." Ucap Mama Johan membenarkan.
Tasya mengambil surat perjanjian tersebut dan membacanya serta memahami poin poinnya. Tasya merasa semua poin banyak yang menguntungkannya. Tanpa membaca sampai akhir, Tasya mengambil pena dan menandatanganinya.
"Tante, saya sudah menandatanganinya." Ucap Tasya menyerahkan kontraknya.
"Kamu telah menandatanganinya?" Tanya Mama Johan terkejut.
Riko pun terkejut dan melongo.
"Kenapa begitu mudah dia percaya? Apakah dia tidak tau, menandatangani kontrak sama dengan dia menyerahkan nyawanya? Dia belum tau seberapa menakutkannya Frans." Batin Riko.
"Urus Putraku baik baik." Ucap Mama Johan.
"Jangan khawatir Tante, saya akan melakukan yang terbaik." Balas Tasya tersenyum.
Riko tersenyum masam. Dia khawatir jika Frans mengetahui apa rencana Mamanya pasti Riko akan mati.
"Jika Frans tau rencana Tante, pasti aku akan mati. Tapi lebih baik mati ditangan Frans daripada ditangan Tante." Batin Riko.
"Nona Tasya, ini salinan kontraknya untuk Anda." Ucap Riko menyerahkan salinan yang juga telah ditandatangani oleh Tasya.
"Terimakasih." Ucap Tasya tersenyum.
"Baiklah! Saya masih ada urusan. Jadi saya permisi dulu." Ucap Mama Johan berdiri hendak pergi.
"Baik Tante Hati hati." Ucap Tasya ikut berdiri dan memberi salam.
Mama Johan pergi meninggalkan Tasya.
Anggi yang penasaran tentang apa yang dibicarakan Tasya bergegas mendekati Tasya setelah mereka pergi.
"Tasya, apa yang kamu bicarakan? Kamu baik baik saja? Tadi apa yang kamu tandatangani?" Tanya Anggi penasaran.
"Aku baik baik saja." Jawab Tasya.
"Itu apa?" Tanya Anggi melihat surat perjanjian ditangan Tasya dan meraihnya.
"Itu surat perjanjian untuk menjadi asisten putra Nyonya Johan." Jawab Tasya.
"Kamu sudah tau seperti apa putranya?" Tanya Mama Johan.
"Belum. Tapi aku harap bukan orang yang pernah aku temui." Jawab Tasya.
"Apakah kamu yakin akan melakukannya?" Tanya Anggi khawatir.
"Aku harus melunasi hutangku ke pria es itu. Agar aku tidak urusan lagi dengan dia." Jawab Tasya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mendukungku apapun yang menurutmu terbaik. Tetapi jangan terlalu memaksakan jika memang kamu tidak sanggup." Ucap Anggi menggenggam tangan Tasya.
Tasya menganggukkan kepalannya dan membalas genggaman tangan Anggi.