DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 34


__ADS_3

Ttokk.. Ttookk.. Ttookk... Suara ketukan pintu.


Tasya membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Frans.


"Selamat malam Tuan!" Ucap Tasya membungkukkan badannya.


Frans yang sibuk dengan ponselnya mengabaikan Tasya. Tasya memilih diam dan melihat di sekeliling ruangan karena dia tak melihat orang lain selain Frans yang duduk di sofa. Tasya menatap tajam Frans dengan penuh rasa curiga karena tidak melihat Riko di ruangan tersebut.


"Tuan Frans, dimana Asisten Riko? Bukankah Anda bilang kita akan membahas tentang ide saya bersamanya?" Tanya Tasya curiga.


"Keluar." Jawab Frans dingin tanpa melihat Tasya.


"Kemana?" Tanya Tasya lagi.


"Duduklah! Dan interogasi dia setelah dia datang." Jawab Frans tetap fokus ke ponselnya.


Tasya memilih tidak bertanya lagi. Dia hanya duduk diam dengan rasa kesalnya.


"Tadi ditelepon nyuruh cepat cepat datang. Giliran sudah datang, sibuk sendiri dengan ponselnya. Dasar orang aneh." Keluh Tasya dalam hati. Tasya menatap Frans dengan amarahnya.


"Kenapa?" Tanya Frans menatap Tasya.


"Ehm.. Ti.. Tidak apa apa. Maafkan saya." Ucap Tasya menundukkan kepalanya.


Lagi lagi Frans mengabaikan Tasya lagi. Dan kembali fokus pada ponselnya.


Tasya diam tak bersuara. Hanya hembusan nafas yang sesekali terdengar karena keluhan rasa bosannya.


Beberapa menit kemudian, tiba tiba listrik padam.


"Kenapa listrik tiba tiba padam?" Ucap Frans lirih.


Tasya yang merasa agak ngeri hanya duduk diam tak bersuara. Frans melihat layar ponselnya dan melihat sisa baterai tinggal 1%.


"Tasya? Tasya? Nona Tasya?" Panggil Frans dan tak mendengar jawaban Tasya.


Frans menyalakan senter pada ponselnya dan mengarahkannya ke Tasya. Tasya yang merasa ketakutan, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Frans yang melihat Tasya ketakutan langsung beranjak dan duduk di samping Tasya.


"Kamu takut gelap?" Tanya Frans khawatir.


Tasya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Sudah tidak usah takut. Ada aku disini. Tetap tutup matamu. Bayangkan saja yang membuatmu bahagia." Ucap Frans lembut.

__ADS_1


Tasya sedikit terkejut karena baru pertama kalinya Frans berbicara lembut terhadapnya. Tetapi dia tetap diam karena rasa takutnya.


Tasya memeluk erat tubuh Frans. Frans sedikit tersentak dengan apa yang dilakukan Tasya. Tetapi Frans tak tega jika ingin melarangnya. Entah bagaimana ceritanya, Tasya merasa nyaman di pelukan Frans.


Frans menghidupkan layar ponselnya dan berniat menelepon Riko agar segera kembali arau agar bisa menghubungi teknisi. Tetapi ponsel mati karena kehabisan daya baterai.


"Sial!" Gumam Frans.


"Nona Tasya, bolehkah saya pinjam ponsel Anda?" Tanya Frans.


Tasya memberikan ponselnya tanpa melepaskan pelukannya. Frans mencoba menelepon Riko dengan ponsel Tasya. Beberapa kali menghubungi Riko tidak ada jawaban.


"Ayo kita pergi dari sini." Ucap Frans.


Frans menyalakan senter ponsel Tasya. Dia memegang pergelangan tangan Tasya dan mengajaknya berjalan keluar menuju tangga darurat. Dengan menggandeng Tasya, Frans berjalan didepan dan memandu Tasya dibelakangnya. Mereka menuruni tangga lantai demi lantai.


Sesampainya dilantai 3, ditengah tengah tangga tak sengaja Tasya terjatuh.


"Aduch." Teriak Tasya.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya Frans khawatir. Dia memegang bahu Tasya dan membantunya berdiri. Tetapi Tasya kembali terduduk setelah merasakan kakinya sakit.


"Kenapa?" Tanya Frans.


"Kita istirahat dulu disini sebentar." Ucap Frans.


"Tidak apa apa! Ayo kita lanjutkan jalan. Aku takut gelap." Balas Tasya.


Frans membantu Tasya berdiri. Dia menopang Tasya yang kesakitan. Hanya beberapa langkah Frans tak tega melihat Tasya kesakitan. Dia menghentikan langkahnya dan melepas topangannya. Frans mengembalikan ponsel Tasya dengan senter masih menyala. Tasya hanya diam dan bingung. Frans maju satu langkah membelakangi Tasya dan membungkukkan badannya.


"Naiklah!" Ucap Frans memberikan isyarat dengan tangannya.


"Ti.. Tidak! Tidak usah. Saya masih kuat berjalan." Ucap Tasya gelagapan.


"Dengan kaki seperti itu?" Tanya Frans dingin.


"Aku masih kuat berjalan." Jawab Tasya.


"Cepat. Ini perintah!" Ucap Frans tegas.


Tasya menuruti perintah Frans. Dia menaiki punggung Frans dan melingkarkan kedua tangannya dileher Frans. Dan mengarahkan senternya kedepan.


"Lain kali tidak usah bersikap sok kuat." Ucap Frans dingin.

__ADS_1


"Baiklah!" Jawab Tasya.


Entah apa yang terjadi dengan hatinya, dia merasa ada yang berbeda. Tanpa dia sadari dia tersenyum senang dengan perlakuan yang diberikan Frans kepadanya. Frans oun merasakan hal yang sama. Dia tanpa sadar juga tersenyum senang.


"Ada apa ini? Kenapa sikapnya berubah menjadi manis dan hangat? Apakah jangan jangan dia mulai menyukaiku? Ahh Tidak tidak. Jangan sampai deh." Ucap Tasya dalam hati.


Tiba tiba senyumannya kembali muncul di bibirnya seakan akan apa yang dikatakan hatinya berlawanan dengan yang dikatakan pikirannya.


Tanpa disadari Tasya, langkah kaki Frans sudah sampai dilantai dasar perusahaan.


"Tadi kamu sedang makan malam dengan siapa? Tian?" Tanya Frans tiba tiba.


Pertanyaan Frans membuatnya sadar dari lamunannya. Tasya terkejut mendengar nama Tian dari mulut Frans.


"Ehh! Darimana Tuan tau saya makan malam dengan Tian?" Tanya Tasya penasaran.


"Iya atau tidak?" Tanya Frans dengan tegas.


"Iya." Jawab Tasya.


"Orang seperti apa dia?" Tanya Frans kesal.


"Tian ya? Dia orangnya itu baik. Dia pantang menyerah. Dia selalu ngajakin saya makan malam meski saya sering menolaknya karena sibuk magang. Tadi saja pas Tuan telepon saya, dan tau bahwa saya ada urusan mendesak, dia tidak marah dan sangat mengerti saya. Dia juga tadi yang mengantar saya kesini." Ucap Tasya tersenyum membanggakan Tian.


"Hanya seperti itu saja membuatmu sangat senang?" Tanya Frans sangat kesal dengan jawaban Tasya tentang Tian.


"Iya! Saya merasa beruntung saja." Jawab Tasya dengan penuh keyakinan.


Frans sangat kesal karena Tasya terlalu membanggakan Tian. Dia melepaskan tangannya dari pegangannya di paha Tasya. Tasya terkejut dan terjatuh kelantai.


"Aduch! Sakit." Keluh Tasya memegang pantatnya. Tasya menatap Frans dengan penuh dendam.


Tak lagi menghiraukan Tasya, Frans melanjutkan jalannya tanpa berbalik melihat Tasya.


Tasya merasa heran dengan perubahan sikap Frans yang tadinya lembut dan hangat tiba tiba menjadi seperti iblis setelah mendengar dia membanggakan Tian.


"Ada apa dengan dia? Apakah dia cemburu? Ah tidak mungkin. Masak iya CEO Frans cemburu dengan Tian." Ucap Tasya dalam hati.


"Aduch sakit pantatku." Keluh Tasya menyeringai kesakitan.


"Ehh tunggu dulu. Bukankah dia tau aku makan malam dengan Tian? Jangan jangan ini hanyalah caranya menggagalkan acaraku dengan Tian. Masak iya dia memang cemburu? Apa aku tidak berpikir terlalu berlebihan?" Batin Tasya semakin menjadi jadi.


"Wahhh caranya terlalu kekanak kanakan. Usianya saja yang tua. Tapi cara mendekati wanita seperti anak SD yang tidak punya pengalaman apa apa. Apakah dia sama sekali belum pernah mempunyai hubungan dengan siapapun? Bukankah banyak wanita yang mendekatinya? Apakah tidak ada yang menarik dimatanya? Lalu kenapa dia mendekatiku? Padahal banyak wanita yang lebih cantik di sekelilingnya." Gumam Tasya dalam hati terlalu percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2