DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 20


__ADS_3

Sepulang kuliah, Tasya dan teman temannya pergi ke perusahaan Start untuk interview magang.


Sesampainya di perusahaan , Tasya dan teman temannya menunggu giliran mereka interview diruang tunggu. Tasya merasa sangat gugup dan ingin menenangkan diri di keheningan.


"Anggi, aku mau ke toilet sebentar." Ucap Tasya dan pergi meninggalkan Anggi dan yang lainnya.


Tasya membasuh mukanya dan menarik nafas dalam dalam dan membuangnya kasar. Dia bercermin dan meyakinkan dirinya sendiri. Setelah merasa tenang Tasya keluar dari kamar mandi.


"Bbrrruuuukkkk...!" Tasya menabrak seseorang pria. Karena toilet wanita dan pria berseberangan. Tasya hampir terjatuh.


"Maaf! Maafkan saya! Saya tidak sengaja!" Ucap Tasya yang mencoba menyempurnakan berdirinya.


Frans tak memperdulikan Tasya, dia berlalu pergi meninggalkan Tasya.


"Cihh! Dasar orang aneh!" Gerutu Tasya.


Tasya mengambil langkahnya dan tiba tiba terhenti.


"Ehh! Ini?" Gumam Tasya melihat sebuah gantungan kunci beruang tergeletak dilantai dan mengambilnya. Tasya mengangkat bahunya tak perduli dan memasukkan beruang kecil tersebut kedalam sakunya. Dia berencana mengembalikan barang tersebut nanti setelah interview. Tasya kembali keruang tunggu.


Sesampainya diruang tunggu, Tasya sudah tak melihat Vera dan Intan.


"Vera dan Intan sudah dipanggil?" Tanya Tasya.


"Kita pulang duluan ya! Bye bye!" Pamit Intan melambaikan tangannya. Tasya dan Anggi membalas lambaian tangannya dan tersenyum.


"He'em!" Jawab Anggi menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian Vera dan Intan keluar, dan giliran Tasya dan Anggi.


"Tasya! Anggi! Semangat!" Ucap Vera dan melayangkan tangan kanannya yang menggenggam keatas sejajar dengan telinganya.


Setelah Intan dan Vera berlalu, Tasya dan Anggi masuk kedalam ruang interview. Didalam ruang interview terlihat seorang pria duduk dibelakang meja dengan tatapan menakutkan. Menatapnya saja sudah membuat Anggi dan Tasya merinding.

__ADS_1


Tasya memberanikan diri dan berdiri didepan pria tersebut dan menyerahkan biodata mereka berdua. Anggi dan Tasya membungkukkan badannya untuk memberi salam hormat kepada pria tersebut.


Tasya sedikit terkejut, ternyata pria tersebut adalah Frans. Orang yang kemarin meminta ganti rugi kepadanya. Tatapan Frans terlihat sangat dingin dan angkuh.


"Apa tujuan kalian datang kesini?" Tanya Frans dingin tanpa melihat biodata mereka terlebih dahulu.


Tasya dan Anggi saling tatap dan bingung.


"Kenapa tidak ada yang menjawab?" Tanya Frans lagi.


"Kami berniat untuk magang di perusahaan Bapak. Perusahaan Start adalah impian kami dan bisa membuat kami bersemangat." Jawab Anggi.


"Disini bukan taman bermain atau tempat untuk bersenang senang. Mengerti?" Ucap Frans tegas.


"Kami tidak menganggapnya begitu. Meskipun kami hanya magang, kami juga bisa profesional. Kami juga bisa membedakan dimana kami harus serius dan dimana kami bisa bermain." Balas Tasya mulai kesal dan tetap mencoba untuk menahan dirinya.


"Apakah magang perlu menyuap atau membutuhkan semacam koneksi bisa disebut profesional?" Tanya Frans memojokkan Tasya dan Anggi.


Tasya yang mengerti apa maksud dari perkataannya langsung naik darah dan tak bisa menahan diri lagi.


"Maaf! Mungkin saya yang salah. Dia tidak tau tentang itu. Dan mungkin Anda salah paham. Kami datang karena kami benar benar ingin belajar di perusahaan ini. Tolong beri kami kesempatan. Lihatlah dulu kemampuan kami. Jika kinerja kami tidak memenuhi harapan Anda, kami akan berhenti sendiri." Ucap Tasya mencoba tenang.


"Hentikan! Saya tidak akan pernah menerima mahasiswa magang seperti kalian." Ucap Frans tak perduli.


Frans berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Tasya dan Anggi. Tasya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Baik! (Berdiri dan berjalan menghalangi langkah Frans) Kamu memiliki prasangka sejak awal. Aku rasa kau tidak bisa memajukan perusahaan ini dengan baik." Ucap Tasya dengan tatapan tajam dan telunjuknya mengacung kearah muka Frans.


Frans terkejut dan mulai geram.


"Kau ingin tanya tentang beruang ini?" Ucap Tasya mengambil beruang dari sakunya dan menunjukkannya k di depan Frans. Frans menyadari bahwa itu adalah beruang miliknya.


"Tadinya aku ingin mengembalikannya. Tetapi sekarang ... (Menatap beruang) Beruang imut, maukah kau pulang dengannya? Tidak! Jika aku bisa memalingkan kepala dan menutup mataku, aku tidak pernah ingin melihat iblis berhati dingin dan keras kepala seperti dia. Aku melihatnya setiap hari sudah seperti neraka. Dia merusak pemandangan. (Tasya berbicara seolah olah beruang tersebut yang mengatakannya). Merusak pemandangan? Itulah hal yang aku pikirkan! ( Tasya menatap Frans tajam). Kau tidak mau pulang. Baiklah! Jadi sekarang kau milikku. Dia merusak pemandangan untukku juga." Ucap Tasya kesal dan menggenggam beruang yang ditangannya.

__ADS_1


Tasya melangkah pergi meninggalkan ruangan interview tanpa permisi.


Frans sangat marah, dia hanya mematung kesal dan merasa harga dirinya di injak injak oleh Tasya. Sedangkan Anggi merasa takut dan bergegas mengambil tasnya dan Tasya kemudian pergi menyusul Tasya.


"Maaf!" Ucap Anggi menundukkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan.


Frans geram dengan perlakuan Tasya. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani menginjak injak harga dirinya.


Frans menyengirkan bibirnya karena kesal dan menarik nafas dalam dalam dan membuangnya kasar. Frans mencoba menenangkan dirinya dan merasa bingung sendiri. Frans celingukan ke kanan dan ke kiri karena merasa kesal.


***


"Sungguh membuat emosi! Bagaimana dia bisa begitu keras kepala dan berpikiran sempit? 'Apakah magang perlu menyuap atau membutuhkan koneksi bisa disebut profesional?' Ya kita seharusnya tidak menyuap. Tapi itu semua karena Gadis yang mengajakku. 'Disini buka tempat bermain atau tempat untuk bersenang senang! Aku tidak akan pernah menerima mahasiswa maham seperti kalian.' Ciiihhh yang benar saja. Memangnya apa yang telah aku lakukan? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Bagaimana dia begitu curiga? Dan aku kemarin hanya diajak oleh Gadis. Itu pun aku tidak tau kalau itu adalah keluarganya. Apa salah aku ikut dengannya?" Ucap Tasya kesal dengan perlakuan Frans. Tasya merasa sangat jengkel dan ingin sekali memukulnya.


"Sudah ku duga!" Ucap Anggi menghentikan langkah Tasya.


"Hemm?" Gumam Tasya tak mengerti.


"Mungkin usahamu kurang meyakinkan." Ucap Anggi dengan polosnya.


Tasya yang semakin geram setelah mendengar ucapan Anggi memilih tak menjawab dan berpaling pergi.


"Ini mungkin!" Teriak Anggi dan kemudian berlari mengejar Tasya.


"Kamu tau? Setiap kali aku bertemu dengan dia pasti membuatku sial." Ucap Tasya kesal.


"Siapa tau ini takdir dan dia jodoh kamu." Ucap Anggi yakin.


"Ih amit amit dah." Balas Tasya memukul kepalanya tiga kali.


"Jangan begitu!" Ucap Anggi.


"Kamu tau tidak? Kemarin aku diajak Gadis ke ulangtahun siapa? Mamanya! Dan kamu tau pria itu adalah kakak kandung Gadis. Dan tanpa aku tau, Gadis mengambil barangnya dan diberikan kepadaku untuk hadiah Mamanya. Dan sialnya aku harus menanggung semua. Aku harus ganti rugi 5 juta untuk hadiah yang aku saja tidak tau isinya." Ucap Tasya geram.

__ADS_1


"Apa? 5 juta? Gila!" Ucap Anggi terkejut.


Tasya mempercepat langkahnya agar segera sampai di asrama dan beristirahat. Dia tak mau menggubris lagi apa yang dikatakan Anggi kepadanya.


__ADS_2