
***
Tasya dan Vera sedang asik ngobrol diruang santai perusahaan sambil menikmati kopi yang baru mereka buat. Tiba tiba Anggi datang dan berteriak teriak menghampiri mereka.
"Hei hei hei bagaimana hasilnya, Tasya?" Teriak Anggi duduk disebelah Tasya.
Tasya dan Anggi duduk membelakangi pintu, sedangkan Vera duduk didepan mereka.
"Seharusnya sih oke. Direktur Elsa dan juga Direktur Tio memuji ideku. Tetapi CEO Frans tampaknya tidak bereaksi apa apa ketika aku mengatakan ideku." Ucap Tasya agak kecewa.
"Aku perhatikan hanya kamu yang mempersiapkannya sungguh sungguh. Aku dengar dengar sistem voting seperti ini tidak pernah ada di industri ini. Aku lihat ini adalah sebuah tanda dari metode radikal CEO Frans saja. Dan itu akan membuat yang berada di departemen perencanaan berdarah darah." Ucap Vera menjelaskan kepada Tasya menurut pemahamannya.
"Benarkah?" Tanya Tasya terkejut.
"Kemarin banyak yang aku bahas dengan departemen perencanaan. Dan memang kenyataannya seperti itu." Jawab Vera.
"Ini sudah keterlaluan." Ucap Tasya menggedor meja.
Frans tiba tiba datang dan berhenti didepan pintu karena dikagetkan oleh gedoran Tasya. Setelah melihat bahwa itu adalah Tasya, Frans diam diam berjalan mendekatinya dan ingin mendengarkan apa yang akan dia katakan.
"Bukankah yang penting idenya bagus, sampai ide dari cleaning service saja bisa diterima. Dasar pengusaha muda yang jahat. Dulu merekrut orang orang yang tidak ahli dalam bidangnya saja sudah puas. Sekarang mau mengumpulkan orang orang ambisius kedalam perusahan. Semua orang dipermainkan olehnya. Mengorbankan sesuatu hanya untuk voting ini. Beberapa hari aku cuma tidur beberapa jam saja untuk mempersiapkan ini. Aku menyesal bekerja dengan sangat giat. Dasar orang jahat. Orang aneh." Gerutu Tasya kesal.
Tasya tidak tahu kalau Frans berdiri dibelakangnya. Vera yang mengetahui itu, memberi kode melalui matanya kepada Anggi. Anggi yang paham langsung menoleh kebelakang Tasya dan merasa takut setengah mati ketika melihat ekspresi dingin Frans.
Anggi langsung mencolek Tasya dengan jari telunjuknya dan mengisyaratkan matanya. Mata Anggi mengatakan bahwa ada hal berbahaya dibelakangnya. Tasya yang paham dengan maksud Anggi, terkejut dan melirikkan matanya kesamping. Tasya mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Maksudku.. Maksudku itu adalah bos di perusahan perusahaan lainnya yang seperti itu. Iya kan? Kalian juga mengetahuinya kan? Benar benar bos aneh. Iya kan?" Ucap Tasya mencari pembelaan dari kedua temannya.
Anggi dan Vera hanya menganggukkan kepala mereka dan tersenyum masam karena rasa takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Sama sekali tidak seperti bos kita, CEO Frans. Sudah orangnya baik, tampan dan kaya. Dia juga perduli dengan semua karyawannya." Ucap Tasya.
Tasya menoleh kebelakang dengan senyum semanis mungkin.
"Tuan Frans. Baru selesai meeting ya?" Tanya Tasya dengan senyumnya.
Seketika senyumnya berubah menjadi masam setelah melihat tampang dingin Frans.
Frans tetap diam. Dan meninggalkan mereka setelah Tasya selesai berbicara. Frans membuat kopi tanpa memperdulikan mereka. Tubuh Tasya terasa lemas tak berdaya. Dia menjatuhkan kepalanya keatas meja dengan wajah penuh penyesalan.
__ADS_1
Tasya kembali menegakkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia sesekali melirik kearah Frans yang membuat kopi tanpa ekspresi sedikitpun. Tetap terlihat seperti gunung es. Tasya ingin menjerit karena menyesal sudah sembarangan berbicara.
Tasya kembali bersikap tenang ketika melihat Frans selesai membuat kopi dan meminum seteguk kopi yang baru saja dibuatnya sendiri. Frans berjalan menuju pintu keluar. Tetapi dia kembali berhenti dibelakang Tasya.
"Nona Tasya, datang keruangan saya." Ucap Frans dingin tanpa menatap Tasya.
Tubuh Tasya kembali merasa lemas dan tak berdaya. Raut wajahnya penuh dengan penyesalan. Dia seakan tak mampu untuk berjalan menuju ruangan Frans. Dia berjalan dengan lemasnya.
Vera hanya melambaikan tangannya kearah Tasya. Vera dan Anggi pun merasa sangat takut dengan apa yang akan terjadi.
Setelah Tasya keluar dari ruang santai. Gantian Intan yang berlari masuk.
"Hei hei hei aku punya berita bombastis." Teriak Intan menghampiri Vera dan Anggi.
Intan bingung karena melihat Vera dan Anggi terlihat sangat lemah.
"Dimana Tasya?" Tanya Intan kepada Vera dan Anggi yang tampak murung.
"Tasya, Tasya dimana?" Tanya Intan lagi mengulangi pertanyaannya karena tidak mendapatkan jawaban.
Intan clingak clinguk ke kiri dan ke kanan mencari Tasya.
"Haaa? Akan tamat riwayat?" Teriak Intan dan matanya melotot karena terkejut.
Vera dan Anggi kembali diam.
"Maksudnya gimana? Jelasin ke aku." Ucap Intan.
"Dia pergi keruangan CEO Frans. Dia mencela CEO Frans dan CEO Frans mendengarnya." Ucap Vera gelisah.
"Apa?" Teriak Intan serasa tubuhnya ikut lemas setelah mendengar penjelasan Vera.
Mereka bertiga hanya diam tak semangat bekerja dan menunggu hasil dari Tasya.
***
Di ruangan Frans..
Tasya hanya diam berdiri didepan meja Frans dengan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya berada didepan dan saling bergandengan. Tasya merasa takut dan gelisah.
__ADS_1
Ttookkk ttookkk ttoookkk... Suara ketukan pintu.
"Masuk!" Ucap Frans menyuruhnya masuk.
Riko masuk kedalam ruangan Frans dan memperhatikan raut wajah Tasya yang terlihat takut dan gelisah. Riko menghampiri Frans dan menyerahkan berkas dan meminta tanda tangan Frans. Tanpa berkata Frans menandatangani berkas tersebut dan kembali menyerahkannya kepada Riko.
"Kalau kamu ada keluhan, silahkan saja katakan langsung kepada saya. Jangan hanya mencela saya dibelakang." Ucap Frans dingin tanpa menatap Tasya.
Riko semakin bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi. Dia menatap Tasya dan ikut mendengarkan apa jawaban Tasya. Tetapi Tasya tetap diam.
Riko kembali menatap Frans dengan bingung.
"Ada apa bro?" Tanya Riko penasaran.
"Ayo katakan saja. Akan saya dengarkan." Ucap Frans kepada Tasya tanpa menghiraukan pertanyaan Riko.
"Hei bro ada apa sebenarnya? Baru kali ini aku melihat kamu mau mendengarkan alasan dari orang lain. Apakah kamu sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Tanya Riko bingung.
"Diam kamu! Aku membayarmu untuk bekerja bukan untuk ikut campur urusan orang lain. Apa kamu mau bonus tahunan kamu saya potong?" Ucap Frans dingin.
"Tidak tidak. Saya permisi." Ucap Riko membungkukkan badannya.
"Kamu akan tetap diam?" Tanya Frans dingin tanpa menatap Tasya.
Riko memelankan jalannya karena ingin mendengar jawaban Tasya.
Tasya menarik nafas dalam dalam dan mendongakkan kepalanya yakin.
"Sejujurnya setelah saya menenangkan diri, saya baru mengerti bahwa ini adalah pelatihan untuk kami. Perencanaannya berhasil atau gagal itu tidak penting. Yang terpenting adalah proses kita dalam mengerjakannya. Belajar dan tumbuh. Tuan Frans, Anda benar benar bijaksana." Ucap Tasya dengan penuh keyakinan.
Frans menoleh kearah Tasya dengan senyumnya. Riko terkejut melihatnya tersenyum. Sudah lam dia mengenal Frans tetapi baru kali ini melihat senyuman Frans.
Frans sadar bahwa Riko masih berdiri didepan pintu. Seketika Frans merubah raut wajahnya kembali menjadi dingin.
"Ngapain kamu masih disitu? Kamu benar benar ingin dipotong bonus tahunanmu?" Teriak Frans dengan tatapan tajam kearah Riko.
Riko yang terhanyut dalam lamunan setelah melihat senyuman Frans pun terkejut dan langsung keluar tanpa permisi.
"Baru kali ini aku melihat senyumannya. Memang tidak salah Tante Johan dalam memilih wanita. Bro, apa aku bilang. Pasti akan ada wanita yang akan mengalahkan dan meruntuhkan pertahananmu." Gumam Riko didepan pintu ruangan Frans dengan tersenyum.
__ADS_1
Sekretaris Tya yang melihat tingkah Riko pun bingung dengan apa yang terjadi didalam. Riko kembali ke ruangannya dengan perasaan lega.