
Selama rapat berlangsung, CEO Frans sama sekali tak fokus. Dia hanya melamun dan tampak jelas sedang memikirkan sesuatu. Asisten Riko tak tau harus berbuat apa. Semua anggota rapat melihat kearah CEO Frans yang sama sekali tak memperdulikan mereka. Semua hanya saling tatap dan bertanya tanya.
Melihat CEO Frans tak fokus, Asisten Riki menghentikan rapatnya dan sementara menundanya.
"Untuk hari ini rapat sampai disini. Sepertinya CEO Frans sedang tidak enak badan. Kita tunda rapat sampai beliau sehat." Ucap Asisten Riko menutup laptopnya.
Tanpa menjawab semua ikut menutup laptop mereka masing masing.
"Kembalilah bekerja!" Ucap Asisten Riko.
Sebelum mereka keluar, CEO Frans menggedor mejanya. Membuat mereka takut dan kembali duduk. Tampak jelas wajahnya sangat marah.
CEO Frans tak memperdulikan anggota rapatnya yang merasa ketakutan. Dia berdiri dan keluar dari ruang rapat. Asisten Riko mengikutinya dari belakang.
Sesampainya didepan pintu tanpa sengaja CEO Frans berpapasan dengan Tasya. CEO Frans dan Tasya menghentikan langkah mereka karena sedikit terkejut. Tasya menundukkan kepalanya karena tak berani menatap CEO Frans. Sedangkan CEO Frans merasa canggung dan mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri . Tasya gugup harus berkata apa. Begitu juga CEO Frans. Tasya tersenyum masam dan memberanikan diri menatap CEO Frans.
"Selamat pagi!" Sapa Tasya membungkukkan badannya dan kemudian pergi meninggalkan CEO Frans.
CEO Frans hanya diam tak menjawab sepatah katapun.
Asisten Riko yang baru saja keluar dari ruang rapat langsung bingung melihat tingkah canggung CEO Frans dan Tasya. Asisten Riko menghampiri CEO Frans.
"Tuan Frans, Anda membuat gadis kecil itu takut kepada Anda." Bisik Asisten Riko.
CEO Frans menatap tajam Asisten Riko. Tatapan yang sudah jelas membuat Asisten Riko tak akan selamat dari temperamen buruknya.
"Aku tidak memintaku menghentikan rapat dan keluar dari ruang rapat." Ucap CEO Frans dengan nada marahnya.
Asisten Riko yang merasa takut hanya bisa diam dan tersenyum seramah mungkin.
"Apakah aku menyuruhmu untuk membubarkannya? Kembali keruang rapat. Dan kirimkan hasilnya keruangan saya." Tanya CEO Frans tak terpengaruh dengan senyuman Asisten Riko.
CEO Frans pergi tanpa permisi. Semua anggita rapat yang baru saja keluar dari ruang rapat menatap CEO Frans dan Asisten Riko dengan rasa takut dan gelisah.
"Ada apa dengannya?" Tanya salah satu anggita rapat.
"Temperamennya buruk." Jawab anggota rapat yang lain.
Asisten Riko mendengar mereka membicarakan CEO Frans. Dengan cepat Asisten Riko merubah mimik wajahnya menjadi marah dan menatap anggota rapat yang masih berdiri didepan pintu.
"Apakah aku menyuruh kalian untuk keluar dari ruang rapat?" Ucap Asisten Riko dengan nada keras.
"CEO Frans menyuruh untuk melanjutkan rapat." Teriak Asisten Riko menghampiri mereka.
__ADS_1
Dan semua kembali keruang rapat untuk melanjutkan rapatnya.
***
Selesai rapat, Dewan Direksi yang bertanggung jawab atas proyek baru datang untuk memberikan laporan hasil rapat kepada CEO Frans. Dan lagi lagi temperamennya susah ditebak. Dia kembali marah marah tidak jelas. Dari luar ruangan CEO Frans, Asisten Riki melihat CEO Frans membanting berkas hasil rapat yang baru saja dia selesaikan.
"Wah cinta memang membuat dia benar benar gila." Gumam Asisten Riko menggelengkan gelengkan kepalanya.
Asisten Riko terus mengamati kemarahan CEO Frans. Dia mengernyitkan dahinya.
"Ini pertama kalinya aku melihat dia separah ini marahnya. Apakah cinta benar benar sekuat itu membawa pengaruh?" Gumam Asisten Riko lagi.
Beberapa saat kemudian, Asisten Riki melihat Tasya keluar dari lift. Asisten Riko berlari menghampiri Tasya.
"Nona Tasya!" Panggil Asisten Riko menghampirinya.
Tasya menghentikan langkahnya dan menatap Asisten Riko dengan penuh tanya.
"Nona Tasya!" Panggil Asisten Riko sesampainya didepan Tasya.
"Iya! Ada apa? Kenapa berlari seperti itu? Apakah ada hal buruk terjadi?" Tanya Tasya bingung.
"Untung kamu segera datang." Ucap Asisten Riko ngos ngosan.
"Sini ikut saya." Ucap Asisten Riko berjalan menuju ruangan CEO Frans.
"Ada apa?" Tanya Tasya berjalan dibelakang mengikuti Asisten Riko.
"Lihatlah! Temperamennya sangat buruk sejak pagi. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan mereka." Jawab Asisten Riko menunjuk kedalam ruangan CEO Frans.
Tasya menatap bingung kedalam ruangan CEO Frans dari dinding kaca yang terbuka. Tasya mengernyitkan dahinya dan heran dengan apa yang terjadi.
"Hanya kamu yang bisa menyelamatkan mereka." Ucap Asisten Riko lagi.
"Lah kenapa saya? Apa hubungannya dengan saya? Dengan temperamen seperti itu, sayapun akan dibunuhnya." Ucap Tasya menolak.
"Tolonglah! Hanya kamu yang bisa menenangkan dia." Ucap Asisten Riko.
"Apa hubungannya dengan saya? Kenapa juga tiba tiba dia seperti itu?" Tanya Tasya.
"Seharusnya bukankah kamu yang lebih tau dia kenapa seperti itu?" Tanya balik Asisten Riko.
"Kenapa dia begitu menakutkan seperti itu?" Gumam Tasya.
__ADS_1
"Enggak ah! Saya takut!" Ucap Tasya ingin melarikan diri.
"Cuma kamu yang bisa melakukan itu." Ucap Asisten Riko.
"Kenapa tidak Anda saja?" Tanya Tasya.
"Saya tidak akan bisa menenangkannya." Jawab Asisten Riko.
"Kenapa?" Tanya Tasya lagi.
"Karena saya bukan kamu." Jawab Asisten Riko.
"Hem?" Gumam Tasya.
"Cuma kamu yang bisa. Sampai disini paham maksud saya?" Tanya Asisten Riko.
"Baiklah!" Ucap Tasya.
"Sebelumnya terimakasih." Ucap Asisten Riko.
Tasya pergi meninggalkan Asisten Riko menuju pintu ruangan CEO Frans. Tasya membuka pintu dan masuk kedalam ruangannya beserta CEO Frans. Tasya sangat terkejut betapa marahnya CEO Frans kepada Dewan Direksi tersebut.
Tasya merasa takut karena belum pernah melihat CEO Frans semarah ini sebelumnya meskipun Dia sering melihat temperamennya tidak bisa diprediksi.
Tasya berjalan pelan pelan menuju mejanya dan memperhatikan wajah Dewan Direksi tersebut. Tampak jelas bahwa dia ketakutan.
"Keluar!" Ucap CEO Frans mengakhiri kemarahannya dengan menunjuk pintu keluar.
"Tuan Frans, saya benar benar minta maaf. Akan saya perbaiki semuanya." Ucap Dewan Direksi tersebut tak berani menatap CEO Frans.
"Saya bilang keluar! Ya keluar! Apakah kamu tuli?" Teriak CEO Frans dengan nada marah.
"Baiklah Tuan! Maafkan saya!" Ucap Dewan Direksi menundukkan badannya dan berbalik keluar ruangan CEO Frans.
Tasya hanya diam mematung menyaksikan betapa mengerikannya CEO Frans. Dia menundukkan badannya ketika berpapasan dengan Dewan Direksi tersebut dan tersenyum.
Kemudian Tasya kembali berjalan pelan menuju mejanya dengan menatap CEO Frans. Tetapi CEO Frans mengalihkan wajahnya kearah lain. Sedangkan Tasya menatap CEO Frans dengan rasa takutnya.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans kasar menatap tajam Tasya.
"Ti.. Tidak." Jawab Tasya mengalihkan pandangannya dan duduk ke kursinya.
Tasya tak berani bertanya ataupun berbicara kepada CEO Frans. Dia hanya pura pura menyibukkan diri dengan laptopnya dan sesekali melirik CEO Frans untuk melihat mimik wajahnya. Tasya menunggu CEO Frans lebih tenang.
__ADS_1