DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 92


__ADS_3

Setelah Asisten Riko pergi, CEO Frans berdiri dan berjalan mendekati Tasya. CEO Frans memeluknya dari belakang.


"Kamu malu dengan Asisten Riko?" Bisik CEO Frans ditelinga Tasya.


Tasya hanya terdiam tak menjawab apapun. CEO Frans mencium telinga Tasya, kemudian turun ke leher.


"Jangan seperti ini di kantor." Ucap Tasya menolak dan melepaskan pelukan CEO Frans.


"Berarti kalau diluar kantor tidak apa apa?" Tanya CEO Frans.


"Juga tidak boleh. Jangan macam macam." Jawab Tasya.


"Iya! Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seijin kamu." Balas CEO Frans.


Tasya diam dan berjalan ke sofa dan duduk di sana. CEO Frans mengikutinya dan duduk disebelahnya. Tangannya merangkul pundak Tasya. Tasya lalu menyandarkan kepalanya di bahu CEO Frans.


"Aku sayang sama kamu!" Ucap CEO Frans.


"Aku juga sayang sama kamu." Balas Tasya.


CEO Frans sesekali mencium kepala Tasya. Tasya merasa nyaman dengan posisi tersebut. Dia melingkarkan tangannya di pinggang CEO Frans.


"Kamu mau jalan jalan?" Tanya CEO Frans.


"Enggak! Aku lebih nyaman seperti ini." Jawab Tasya.


"Ya sudah! Aku akan turuti apapun mau kamu." Ucap CEO Frans.


***


Rumah kediaman Keluarga Johan..


Setelah Tasya pulang, CEO Frans juga pulang ke rumah keluarganya. Seperti biasa semua pelayan di rumahnya memberikan rasa hormat kepada CEO Frans.


"Selamat datang, Tuan Frans." Sapa ketua pelayan di rumah keluarga Johan.


Frans tersenyum dan terus berjalan menuju rumahnya diikuti oleh ketua pelayan tersebut.


"Tumben anak Mama pulang!" Ucap Mama Johan menghampiri CEO Frans.


"Memangnya nggak boleh pulang?" Tanya CEO Frans dingin.


"Seperti biasa. Tampang dingin yang tak pernah berubah. Kamu pulang kenapa nggak kabari Mama?" Tanya Mama Johan.

__ADS_1


"Apakah setiap aku pulang ke rumah sendiri harus ngabarin Mama dulu?" Tanya CEO Frans balik.


"Sudahlah! Duduklah dulu." Balas Mama Johan menyerah.


CEO Frans duduk di sofa ruang keluarga. Mama Johan ikut duduk di samping CEO Frans.


"Nak!" Panggil Mama Johan.


"Hemm!" Jawab CEO Frans.


"Bagaimana kabar calon menantu Mama?" Tanya Mama Johan tanpa basa basi.


CEO Frans terkejut setelah mendengar kata calon menantu. Seketika CEO Frans menatap Mama Johan dengan penuh tanda tanya.


"Calon menantu?" Tanya CEO Frans tak mengerti.


"Maksud Mama Tasya." Jawab Mama Johan tersenyum dan memegang tangan CEO Frans.


"Oh! Tasya? Dia baik baik saja! Tunggu dulu! Anak Mama kayaknya aku, tapi kenapa Mama malah tanya kabar Tasya? Bukannya kabar aku?" Jawab CEO Frans.


"Kamu kan di depan Mama sekarang. Dan dengan tampang kamu yang dingin seperti biasanya, Mama sangat yakin bahwa kamu baik baik saja saat ini. Iya kan?" Ucap Mama Joha tersenyum.


"Terserah Mama saja. Sepertinya aku bukan anak kandung Mama. Kalau anak kandung, mana mungkin bilang seperti itu tentang anaknya." Balas CEO Frans.


"Mama mau Tasya datang ke rumah?" Tanya CEO Frans.


"Iya dong! Dia kan calon menantu Mama." Jawab Mama Johan.


"Baiklah! Besok aku bilang ke dia." Balas CEO Frans.


"Ma, aku mau istirahat ke kamar dulu ya." Pamit CEO Frans beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke atas, ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, CEO Frans merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengambil ponsel disaku jasnya karena tak ada kabar dari Tasya.


CEO Frans mengotak atik ponselnya menunggu pesan dari Tasya tetapi tak kunjung datang. Sampai CEO Frans ketiduran karena kelelahan bekerja.


Ttoookkk.... Ttookkk... Ttoookkkk!


Suara ketukan pintu kamar membangunkan CEO Frans. Dia melirik jam dimeja samping tempat tidurnya. Ternyata sudah 2 jam dia tertidur.


"Masuk!" Teriak CEO Frans dari dalam kamarnya.


Seorang pelayan membuka pintu kamar CEO Frans.

__ADS_1


"Tuan Frans, makan malam sudah siap. Nyonya menyuruh saya memanggil Anda." Ucap Seorang pelayan dengan sopan dan ramah.


"Baiklah!" Jawab CEO Frans.


"Kalau begitu saya permisi Tuan." Pamit pelayan tersebut dan kembali menutup pintu kamar CEO Frans.


CEO Frans terdiam sejenak dan mengumpulkan nyawanya. Dia beranjak dari kamar tidurnya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah selesai membasuh muka, CEO Frans keluar dan turun menuju meja makan. Dari tangga dia melihat keluarganya sedang duduk di ruang makan dan menunggunya datang. CEO Frans tersenyum tipis, merasa senang karena dia sudah lama tak makan bersama keluarganya.


"Kak Frans cepetan! Aku sudah lapar ini." Teriak Gadis menatap kearah CEO Frans yang masih berdiri ditengah tengah tangga dan tak kunjung turun karena lamunannya.


"Iya iya! Dasar bawel." Jawab CEO Frans mempercepat jalannya dan menuju keruang makan dan duduk di meja yang masih kosong.


Mereka makan bersama dalam keheningan. Sudah menjadi tradisi keluarga Johan, disaat makan tak ada satupun orang yang boleh berbicara kecuali sangat mendesak.


Selesai makan pun tidak boleh langsung pergi. Harus menunggu semua selesai makan dan pergi bersama.


Selesai makan malam, CEO Frans pamit kembali ke kamarnya untuk pergi mandi. Mama Johan, Mama Johan dan Gadis pergi ke ruang keluarga untuk mengobrol dan menonton tv. Sedangkan semua pelayan sedang sibuk membereskan ruang makan dan dapur sesuai dengan pekerjaan mereka masing masing.


Setelah 1 jam berlalu, CEO Frans kembali turun dan ikut bergabung dengan keluarganya. Mama Johan, Papa Johan dan Gadis mengobrol dengan santai dan bercanda tawa, sedangkan CEO Frans hanya menjadi pendengar. Matanya fokus melihat acara di televisi.


"Kak! Bagaimana bisa Tasya jatuh cinta sama kakak. Padahal Kakak sama sekali bukan tipe kebanyakan wanita." Ucap Gadis tiba tiba menggoda Kakaknya.


"Siapa bilang aku bukan tipe wanita. Dengan ketampanan dan kekayaanku saat itu, banyak wanita yang ingin menjadi pacar Kakak. Seandainya kamu itu bukan adik Kakak, mungkin kamu salah satu wanita yang tergila gila karena ketampanan Kakak. Iya kan?" Jawab CEO Frans menyerang Gadis.


Mama Johan yang mendengar kepercayaan diri dari CEO Frans hanya diam dan menyembunyikan senyumnya.


"Iya sih! Mungkin banyak wanita yang mengejar Kakak dengan ketampanan Kakak saat ini. Tetapi akan banyak juga wanita yang nggak tahan dengan sikap Kakak yang dingin itu." Balas Gadis tak mau kalah.


"Siapa bilang? Buktinya masih banyak tuh wanita yamg masih mengejar ngejar Kakak. Tasya saja tergila gila sama Kakak." Balas CEO Frans.


"Itu mungkin karena Tasya belum sadar saja. Lihat saja kalau dia sudah tersadar pasti dia juga akan kabur. Seakan akan jadi pacarnya Kakak itu seperti mimpi buruk. Hahahaha!" Balas Gadis sambil tertawa terbahak bahak.


CEO Frans yang merasa kesal langsung melepas sandal yang dipakainya dan mendekati Gadis. Tetapi dengan cepat Gadis berlari menjauh dari CEO Frans.


"Sini kamu! Sini!" Ucap CEO Frans melambaikan tangannya kearah Gadis menyuruhnya mendekat.


"Enggak! Nggak mau! Weeekkkk!" Ucap Gadis mengejek CEO Frans dengan menjulurkan lidahnya.


"Sini nggak!" Teriak CEO Frans kesal.


"Enggak mau!" Jawab Gadis.


"Sudah! Sudah! Jangan seperti anak kecil deh kalian. Duduk!" Ucap Papa Johan karena merasa risih melihat kedua anaknya yang sudah dewasa bertingkah seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2