
Selasa pagi...
Perusahaan Start kedatangan Klien dari Perusahaan tekstil yang telah lama bekerja sama.
"Selamat pagi Tuan Tio!" Sapa CEO Frans menyambut Direktur dari perusahaan Tekstil tersebut. CEO Frans mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
CEO Frans ditemani oleh Asisten Riko dan Sekretaris Tya berdiri depan meja resepsionis untuk menyambut Direktur Tio.
"Selamat pagi Tuan Frans. Lama tidak bertemu? Bagaimana kabar Anda?" Tanya Direktur Tio membalas sapaan dan salaman CEO Frans.
"Kabar saya baik. Bagaimana dengan Anda?" Jawab CEO Frans balik bertanya.
"Kabar saya juga baik." Jawab Direktur Tio.
"Mari kita berbicara di ruang rapat." Ucap CEO Frans mempersilahkan Direktur Tio berjalan mengikutinya keruangan rapat.
"Oh iya! Konsep yang kemarin Anda kirimkan kepada saya sangat menarik. Bisakah saya secara langsung bertemu dengan orang yang bertanggung jawab atas project ini?" Ucap Direktur Tio.
"Baiklah!" Jawab CEO Frans.
"Asisten Riko , panggilkan Tasya kesini." Ucap CEO Frans.
"Baik Tuan!" Jawab Asisten Riko.
Asisten Riko pergi memanggil Tasya diikuti oleh Sekretaris Tya.
Sekretaris Tya membawakan 2 cangkir kopi untuk CEO Frans dan Direktur Tio. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Tasya.
"Tasya, kamu sekalian bawa masuk ini ya." Ucap Sekretaris Tya menyerahkan nampan yang dibawanya.
"Baiklah!" Jawab Tasya menerima nampan tersebut.
Tasya masuk kedalam ruang rapat dan tersenyum menyajikan minuman untuk CEO Frans dan Direktur Tio.
"Tuan silahkan diminum. Oh iya! Anda memanggil saya?" Tanya Tasya setelah berdiri tegak di samping CEO Frans.
"Duduklah." Ucap Frans.
"Tuan Tio, perkenalkan ini Tasya yang bertanggung jawab atas project ini. Tasya perkenalkan ini adalah Direktur Tio dari perusahan Tekstil." Ucap CEO Frans memperkenalkan mereka berdua.
Tasya tersenyum dan membungkukkan badannya menyapa Direktur Tio.
"Wah! Anda benar benar hebat memilih seseorang. Dia masih muda dan sangat cantik." Ucap Direktur Tio memuji Tasya.
"Dia tak secantik yang Anda pikirkan." Gumam CEO Frans tersenyum.
Tasya yang mendengarnya melirik penuh dendam kearah CEO Frans.
Mereka bertiga membahas project Pakaian Dalam. Tasya menjelaskan secara detail tentang konsep project tersebut.
"Baiklah! Saya sangat puas dengan semua penjelasan Nona Tasya tentang konsep project ini. Besok perwakilan dari team produksi akan mulai bekerja sama dengan Nona Tasya disini. Semoga kerjasama kita lancar Tuan Frans." Ucap Direktur Tio.
"Saya harap juga begitu." Balas CEO Frans tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Direktur Tio mengulurkan tangannya dan disambut oleh CEO Frans dan Tasya.
"Mari saya antar." Ucap CEO Frans mengarahkan tangannya ke depan.
__ADS_1
CEO Frans dan Tasya mengantar Direktur Tio sampai didepan pintu keluar masuk perusahaan.
"Tuan Frans, apa maksudnya dengan saya akan bekerjasama dengan team produksi?" Tanya Tasya setelah Direktur Tio pergi.
"Kamu yang akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk project ini." Ucap CEO Frans sambil berjalan kembali ke ruangannya.
"Apa?" Tanya Tasya terkejut.
CEO Frans tak lagi menghiraukan Tasya. Tasya mengikutinya dari belakang. CEO Frans masuk kedalam ruangannya dan duduk di kursinya. Begitu juga Tasya, dia duduk di kursinya dan menatap CEO Frans dengan penuh tanya.
Ttokk.. Ttookk.. Ttookk..
Sekretaris Tya masuk kedalam ruangan CEO Frans. Tasya menatap Sekretaris Tya tanpa berkedip dari pintu masuk sampai didepan CEO Frans.
"Tuan Frans, jadwal pesawat Anda akan berangkat 1 jam lagi." Ucap Sekretaris Tya.
"Baiklah!" Jawab CEO Frans.
Sekretaris Tya membungkukkan badannya dan pergi keluar.
"Pesawat? Mau kemana dia?" Tanya Tasya dalam hati.
CEO Frans mengambil kopernya dan akan segera berangkat menuju bandara.
"Tuan Frans! Anda ada perjalanan bisnis?" Tanya Tasya.
"Saya harus menyelesaikan sedikit masalah di perusahaan cabang." Jawab CEO Frans.
"Kapan Anda kembali?" Tanya Tasya.
"Saya akan kembali dalam waktu tiga sampai empat hari." Jawab CEO Frans.
"Kamu hanya perlu menyeimbangi mereka. Asisten Riko akan mendampingimu. Dan ingat, project ini sepenuhnya tanggung jawab kamu. Jadi jangan pernah main main mengerjakannya. Dan lagi, batalkan semua kegiatan diluar project ini." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Baiklah! Anda tidak perlu khawatir. Anda bisa pergi dengan tenang." Jawab Tasya.
"Kamu sepertinya senang saya pergi?" Tanya CEO Frans dingin.
"Ah! Bagaimana mungkin?" Tanya Tasya tersenyum.
"Kalau sampai project ini gagal, kamu yang harus bertanggung jawab atas kegagalannya." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Saya akan bekerja keras untuk project ini agar tidak mengecewakan Anda." Ucap Tasya percaya diri.
"Bagus kalau begitu." Balas CEO Frans.
"Anda bisa berangkat dengan tenang sekarang." Ucap Tasya tersenyum.
CEO Frans keluar ruangan untuk berangkat ke bandara.
"Aaacchhhh! Akhirnya aku bisa bernafas lega. Bekerja tanpa pengawasan CEO berhati dingin." Gumam Tasya menyandarkan punggungnya di kursi.
Tasya, Anggi, Vera dan Intan berkumpul diruang santai.
"Tasya, kenapa wajahmu terlihat ceria hari ini?" Tanya Anggi penasaran.
Tasya hanya tersenyum senang.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Vera penasaran.
"Untuk pertama kalinya aku akan bekerja tanpa pengawasan CEO dingin. Aku bisa tenang beberapa hari ini." Jawab Tasya senang.
"Memangnya dia kemana?" Tanya Intan.
"Pergi keluar negeri untuk menyelesaikan masalah di perusahaan cabang." Jawab Tasya.
"Jadi kamu nggak akan dipersulitnya?" Tanya Anggi.
Tasya hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Kita harus merayakannya." Ucap Anggi.
"Bagaimana kalau kita pergi ke karaoke malam ini?" Tanya Intan memberi saran.
"Karaoke? Aku setuju. Sudah lama kita tidak ada hiburan. Ayo pergi ke karaoke." Ucap Intan semangat.
"Mari kita pergi ke karaoke dan bernyanyi sepuasnya di sana. Aku yang akan mentraktirnya." Ucap Tasya semangat.
***
Sepulang magang, Tasya dan teman temannya langsung pergi untuk berkaraoke bersama. Dengan semangat mereka pergi.
Sesampainya ditempat yang mereka tuju, Tasya langsung memesan ruangan selama 3 jam.
Mereka bersenang senang sore ini dan menikmati suasana ruangan yang redup. Mereka bernyanyi dan menari mengikuti irama musik yang dimainkan.
Suara nyaring dan fals tak lagi di perdulikan. Hanya perasaan puas karena akhirnya mereka bisa mendapat hiburan tanpa gangguan orang lain.
Tasya sangat bersemangat, dia tak henti hentinya bernyanyi sampai suaranya serak hampir habis. Dan akhirnya Tasya memilih lagu slow untuk dinyanyikannya. Intan, Anggi dan Vera duduk dan menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Tasya. Tasya sangat mendalami lagu tersebut. Sehingga membuat teman temannya terharu karena mimik wajah Tasya.
Selama Tasya bernyanyi, Intan, Anggi dan Vera mengayunkan badannya ke kanan dan ke kiri tanda sangat menikmati lagu tersebut.
Tiga jam telah berlalu, Tasya dan teman temannya bersiap untuk pulang. Sebelum pulang Tasya memeriksa ponselnya yang berada di mode silent didalam tas. Tasya sangat terkejut melihat berapa banyak panggilan yang tak terjawab dari CEO Frans dan Asisten Riko. Tasya hampir saja menangis dan meminta belas kasihan kepada teman temannya.
"Ada apa?" Tanya Anggi khawatir.
"25 panggilan tak terjawab dari CEO Frans." Jawab Tasya frustasi.
"Ayo kita segera keluar dari sini. Setelah itu baru kita bahas." Ucap Vera mengajak teman temannya segera keluar.
Setelah keluar dan sedikit merasa tenang, Tasya menyuruh teman temannya diam. Dan dia menelepon CEO Frans.
"Darimana kamu? Sudah berani tidak mengangkat panggilan saya?" Tanya CEO Frans dingin dibalik telepon.
"Maaf Tuan! Ponsel saya dalam mode silent jadi tidak tau Anda menelepon. Ada apa menelepon saya?" Tanya Tasya hampir menangis.
"Saya hanya ingin mengingatkan besok dari team produksi akan datang. Sambut beliau dengan ramah." Ucap CEO Frans.
"Baiklah Tuan." Jawab Tasya.
CEO Frans langsung mematikan teleponnya.
"Halo! Halo Tuan! Tuan Frans." Panggil Tasya.
"Sial! Sudah dimatikan." Gumam Tasya mematikan layar ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa? Pakah dia marah?" Tanya Anggi penasaran.
"Dia menelepon hanya untuk hal tidak penting. Ayo pulang!" Ucap Tasya berjalan pulang diikuti oleh teman temannya.