DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 27


__ADS_3

"Bagaimana sekarang? Kenapa aku harus berhadapan dengan orang aneh seperti dia?" Keluh Tasya frustasi.


Tasya terus berpikir bagaimana caranya berhenti menjadi asisten pribadi Frans. Tasya mondar mandir ke kanan dan ke kiri mengerahkan semua tenaganya untuk berpikir. Hatinya mulai gelisah dan pikirannya pun tak karuan.


"Bagaimana kalau aku berhenti? Tapi aku sudah berjanji kepada Tante Johan. Kau sudah berjanji kepadanya untuk mengurus putranya yang mengalami gangguan bipolar itu. Jadi kau harus bertahan apapun yang terjadi. Ya, kau harus bertahan. Hanya 3 bulan saja. Semangat!" Gumam Tasya menguatkan dirinya sendiri.


Tasya menepuk nepuk dadanya agar perasaannya lebih tenang.


***


Jam menunjukkan pukul 12.00, sudah waktunya makan siang. Setelah melihat jam ditangannya, Tasya mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Anggi. Dia mengajak Anggi dan kedua temannya untuk makan bersama di kantin perusahaan. Anggi dan yang lainnya pun menyetujuinya.


Anggi, Intan dan Vera tiba di kantin lebih dulu. Karena kantin berada dilantai dasar. Jadi Anggi dan yang lain lebih dekat dengan kantin.


"Tasya!" Teriak Anggi melambaikan tangannya kearah Tasya.


Tasya melihat kearah suara dan menghampirinya dengan muka kesal.


"Tasya ada apa? Kenapa wajahmu terlihat murung seperti pakaian belum disetrika? Ada masalah?" Tanya Intan tak mengerti.


Tasya hanya diam tak menghiraukan pertanyaan Intan. Tasya duduk dengan tampang kesal dan kedua tangannya menyilang di dadanya.


"Tasya! Ada apa?" Tanya Vera penasaran.


"Ssssttt... Dia sedang kesal hari ini." Bisik Anggi kepada Intan dan Vera dengan jari telunjuknya di mulutnya menyuruh Intan dan Vera diam.


"Dia kenapa?" Bisik Vera bertanya kepada Anggi.


"Kalian tau siapa yang harus dia urus di kantor ini? Dia adalah musuh bebuyutannya. Makanya dia terlihat sangat kesal." Jawab Anggi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Siapa dia? Orang seperti apa yang berhasil membuat Tasya sampai sekesal ini?" Tanya Vera semakin penasaran.


"Beberapa hari lalu Tasya bertemu dengan seorang pria yang sangat menyebalkan. Semenjak pertemuan itu, setiap kali Tasya bertemu dengannya, Tasya merasa sial. Dan sekarang dia menjadi asisten pribadinya." Jawab Anggi sebisanya.


Vera terdiam dalam pemikirannya.


"Dia sangat dingin. Tak bisa tersenyum kepada siapapun. Melihatnya saja aku merinding." Lanjut Anggi.


"Tasya, apakah sebaiknya kamu berhenti?" Tanya Vera ingin memberi saran.


Seketika ekspresi wajah Tasya berubah.


"Heem! Aku mau berhenti." Ucap Tasya memelas.


Anggi spontan langsung memberi isyarat kepada Vera tanpa sepengetahuan Tasya. Dia menyilangkan tangannya agar Vera tidak memberi saran. Anggi terus menggeleng gelengkan kepalanya. Tetapi Vera tak mengerti dengan isyarat yang Anggi berikan.


"Tasya, Sebaiknya kamu jangan berhenti. Bukankah kamu sudah berjanji kepada Nyonya Johan untuk mengurus putranya? Bukankah kamu orang yang tidak suka ingkar janji?" Ucap Anggi meyakinkan Tasya.


"Kamu harus bertahan sekuat tenaga demi prinsipmu. Semangat!" Ucap Anggi menguatkan Tasya.


***


Setelah jam makan siang sudah selesai, mereka buru buru kembali keruangan masing masing.


Tasya berjalan dengan sangat hati hati menuju ruangannya. Tasya merasa bahwa nyawanya terancam didalam ruangan tersebut. Tasya berjalan mendekati pintu ruangan. Tanpa sengaja dari balik dinding kaca yang penutupnya terbuka, Tasya melihat Frans yang masih sibuk membaca berkas bekas yang ada didepannya dan menandatanganinya. Frans terlihat sangat sibuk. Tasya memperhatikannya dari luar.


"Hem? Bukankah ini sudah lewat jam makan siang? Kenapa dia masih bekerja? Apakah dia itu robot? Apakah dia melewatkan jam makan siangnya untuk bekerja? Apa dia selalu begitu? Pantesan menderita bipolar, gila kerja begitu. Pasien gangguan bipolar harus makan dengan teratur. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku sudah berjanji untuk mengurusnya. Sebaiknya aku belikan dia makanan agar dia bisa makan." Gumam Tasya.


Tasya kembali ke kantin untuk membelikan Frans makanan. Sesampainya di kantin, karena Tasya tak tau apa yang biasa Frans makan, Tasya hanya membelikan 3 potong roti dan segelas coklat hangat. Setelah membelikan makanan, Tasya kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Tasya masuk kedalam ruangan.


"Apakah kamu tidak tau waktu? Ini sudah lewat jam makan siang, tetapi kamu baru kembali. Bukankah saya pernah bilang kalau disini bukan tempat untuk bermain. Saya tidak perduli dengan alasan apapun. Saya tidak suka ada orang yang terlambat. Time is money. Berapa banyak uang yang kamu buang karena kamu terlambat?" Ucap Frans dingin. Dan tetap fokus ke berkas didepannya tanpa melihat Tasya.


"Maafkan saya! Saya tadi sudah kembali, tetapi karena saya melihat Anda sibuk bekerja dan melewatkan jam makan siang, saya berniat membelikan Anda makanan ini." Jawab Tasya meletakkan 3 potong roti dan segelas coklat hangat di atas meja Frans.


"Saya tidak pernah menyuruhmu melakukan itu." Ucap Frans dingin.


"Saya hanya membantu Anda untuk tidak melewatkan jam makan siang." Ucap Tasya.


"Kamu hanya perlu melakukan apa yang saya perintahkan. Jangan pernah berasumsi sendiri. Saya tidak suka dengan orang yang sok pintar. Jadi jangan melakukan apa yang tidak saya perintahkan." Ucap Frans tetap tak melirik Tasya sedikitpun.


"Baiklah! Saya minta maaf! Lain kali saya akan lebih berhati hati." Ucap Tasya kembali kemejanya dengan sengat kesal.


"Sudah jelas jelas aku berbuat baik kepadanya. Bukannya berterimakasih eee malah marah marah gak jelas. Dasar orang aneh. Dia pikir aku melakukan semua ini atas dasar kemauanku sendiri. Kalau bukan karena aku berjanji kepada Tante Johan, aku tak sudi melakukannya." Batin Tasya sangat kesal. Lirikan mata Tasya sangat tajam dan penuh dendam.


"Tasya, berikan berkas berkas ini kepada sekretaris Tya." Ucap Frans menunjuk semua berkas yang ada di atas mejanya.


"Baik Pak!" Jawab Tasya. Dia langsung berdiri dan melaksanakan tugas dari Frans.


"Kamu akan merasakan akibatnya. Siapa suruh berani berurusan denganku. Aku tidak bisa mengusirmu, jadi aku akan membuat kamu pergi dengan sendirinya." Batin Frans mulutnya menyeringai licik.


Tasya kembali dengan lesu, Dan Frans masih sibuk dengan pekerjaannya. Tasya meliriknya tajam tetapi Frans tidak menghiraukannya.


"Apakah otaknya terbuat dari mesin? Kenapa bekerja tanpa istirahat sedikitpun?" Batin Tasya menatap Frans.


Tasya tiba tiba dikagetkan dengan suara Frans menutup lap topnya. Tasya segera mungkin mengalihkan tatapannya. Frans tetap tak menghairaukannya dan pergi meninggalkan Tasya. Frans pergi ke ruang istirahatnya untuk beristirahat.


Frans sudah terbiasa beristirahat diruang istirahatnya setiap dia merasa kelelahan dalam bekerja. Dan tak ada seorangpun yang berani mengganggu istirahatnya. Sepenting apapun masalahnya, tidak ada yang berani mengganggu waktu istirahatnya.

__ADS_1


"Wah dasar gila! Pergi seenaknya sendiri tanpa permisi." Gumam Tasya.


Tasya merasa bosan karena di ruangan itu sendiri. Dia mengambil ponselnya untuk bermain game karena tidak ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.


__ADS_2