
CEO Frans hanya terdiam menatap ke depan untuk berpikir. Asisten Riko pun memikirkan cara.
"Begini saja! Sepertinya dia memiliki hati yang lembut. Itu juga bisa menjadi salah satu kekurangannya." Ucap Asisten Riko tiba tiba.
CEO Frans menatap Asisten Riko dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu? Apa yang ingin kau katakan? Jangan bertele tele." Ucap CEO Frans tak mengerti.
"Kau tidak bisa bersikap keras kepala kepadanya. Kau harus mendapatkan simpatinya." Ucap Asisten Riko membalas tatapan CEO Frans.
"Bagaimana aku bisa melakukannya?" Tanya CEO Frans semakin bingung tak mengerti.
"Katakan saja kalau kau bangkrut dan banyak rentenir mengejarmu. Perusahaanmu keselamatannya berada diujung tanduk." Ucap Asisten Riko menjelaskan maksudnya.
"Apakah kamu gila? Aku perhatikan IQ-mu tentang ini kayak mendapatkan simpati juga." Ucap CEO Frans mulai kesal.
"Kalau semua tindakan tadi tidak akan berhasil. Bagaimana kalau begini saja, Buat dia tunduk kepadamu!" Ucap Asisten Riko mengatakan cara lain.
"Bagaimana caranya?" Tanya CEO Frans.
"Pertama tama, gunakan suara menawanmu untuk memikatnya." Ucap Asisten Riko.
"Suara menawan?" Tanya CEO Frans.
"Seperti 'Hai Sayang!' ..." Bisik Asisten Riki mendekati telinga CEO Frans.
CEO Frans menatap Asisten Riki dan mengernyitkan dahinya.
"Lalu gunakan tubuhmu untuk menarik perhatiannya." Lanjut Asisten Riko menatap CEO Frans dalam dalam. Tangannya memegang kedua bahu CEO Frans. Seolah seolah sedang mengeluarkan semua karismanya.
CEO Frans yang sudah semakin kesal hanya diam dan mengibaskan kedua tangan Asisten Riko agar menjauh dari bahunya. Dia merasa risih sendiri dengan semua cara yang diberikan Asisten Riko.
"Terakhir, gunakan kekayaanmu untuk menaklukkannya. Beri dia blackcard dan suruh dia membeli apa yang dia inginkan. Manjakan dia dengan uangmu." Ucap Asisten Riko.
"Kamu pikir itu akan berpengaruh untuk dia?" Tanya CEO Frans.
"Sebenarnya saya juga tidak yakin. Dilihat dari kepolosannya dia wanita yang tidak bisa memanfaatkan keadaan. Kalau aku jadi dia, aku akan mendekati dan memanfaatkanmu untuk menuruti semua yang aku inginkan. Aku akan menghabiskan semua blackcard-mu!" Jawab Asisten Riko tak yakin.
"Aku bersyukur dia bukan wanita seperti kamu. Kalau dia sepertimu, aku sama sekali tidak akan tertarik kepadamu." Ucap CEO Frans.
"Hanya wanita bodoh yang tak bisa memanfaatkan orang sekaya kamu." Gumam Asisten Riko.
__ADS_1
"Lupakan! Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku." Ucap CEO Frans kesal.
"Apakah itu terlalu mengada ngada?" Tanya Asisten Riko bingung.
"Pendapatmu tak berkelas." Jawab CEO Frans.
"Bagaimana bisa? Dari sekian banyak cara yang aku cari di internet, menurutku itu semua cara yang menurutku paling jitu untuk menaklukkan wanita." Ucap Asisten Riko tak terima.
"Jadi, semua itu bukan dari keyakinanmu sendiri?" Tanya CEO Frans terkejut.
"Tentu saja bukan! Bagaimana aku bisa tau cara menaklukkan wanita kalau aku saja tidak pernah punya kesempatan mendekati wanita. Kamu kan tau sendiri bagaimana Mamamu. Beliau akan membunuhmu kalau sampai aku lebih dulu mendapatkan wanita lebih dulu daripada kamu. Kalaupun tidak membunuhku, Beliau tidak akan membiarkan aku hidup dengan tenang." Jawab Asisten Riko meluapkan kekesalannya.
"Kenapa kamu ceritakan masalahmu kepadaku?" Tanya CEO Frans tak perduli.
"Itu hanya agar kamu tau saja penderitaanku selama ini gara gara kamu." Jawab Asisten Riko mulai kesal.
"Kenapa aku kamu jadikan alasan karena ketidak berdayaanmu menggoda wanita? Dan kamu juga berani membawa nama Mamaku untuk alasanmu itu?" Tanya CEO Frans tak perduli.
"Terserah kamu saja. Aku tidak akan pernah menang berdebat dengan orang sepertimu. Kamu terlalu jauh dari kata kalah." Ucap Asisten Riko frustasi.
"Pulanglah! Aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku." Ucap CEO Frans berdiri.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Asisten Riko ikut berdiri di samping CEO Frans karena rasa penasaran.
"Contohnya?" Tanya Asisten Riko.
"Dengan merayunya." Jawab CEO Frans percaya diri.
"Merayunya? Apa kamu yakin bisa merayunya?" Tanya Asisten Riko sedikit berteriak tak percaya karena terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut CEO Frans.
"Apa maksudmu?" Tanya CEO Frans menatap tajam Asisten Riko.
"Tidak ada! Aku hanya tak percaya saja kamu bisa melakukannya." Jawab Asisten Riko.
"Kau mau bertaruh denganku?" Tanya CEO Frans menantang.
"Bagaimana cara kita bertaruh?" Tanya balik Asisten Riko.
"Jika kamu menang, kamu akan bisa membeli apapun yang kamu inginkan. Tetapi jika aku yang menang, kamu akan melakukan apa yang aku inginkan." Ucap CEO Frans.
"Baiklah! Aku juga tidak akan rugi apapun. Jika aku kalah, aku hanya perlu melakukan apa yang kamu inginkan. Bukannya aku sudah terbiasa akan hal itu?" Ucap Asisten Riko menyetujui taruhan tersebut.
__ADS_1
Asisten Riko mengajak CEO Frans bersalaman untuk saling menyetujui.
"Ingat, aku hanya perlu melihat kau merayunya." Ucap Asisten Riko bangga.
"Siapa menyangka aku akan mengatakan ini kepadamu!" Ucap CEO Frans terheran.
"Kau sudah membuat taruhan ini. Dan kita sudah menyetujuinya. Jadi kamu tidak bisa membatalkannya hanya karena kamu menyesal." Ucap Asisten Riko.
"Aku bukan tipe orang yang lupa akan janjinya. Sudah! Pulanglah! Aku sudah muak melihat wajahmu setiap hari." Ucap CEO Frans kesal.
"Cepat dapatkan dia. Agar aku bisa terlepas dari ancaman Mamamu." Ucap Asisten Riki menepuk bahu CEO Frans.
CEO Frans menatap tajam Asisten Riko.
"Baiklah! Aku pulang dulu." Ucap Asisten Riko pergi keluar rumah CEO Frans karena merasa tak aman.
Setelah Asisten Riko pergi, CEO Frans mengambil ponselnya dan membuka internet.
"Cara merayu wanita." Ketik CEO Frans di kolom pencarian. Dia menskroll layar ponselnya untuk mencari cara untuk merayu.
Sesekali dia membuka situs untuk membaca lebih lanjut tentang cara tersebut.
"Kenapa merayu wanita lebih ribet daripada mendapatkan proyek besar." Ucap CEO Frans frustasi.
CEO Frans melempar ponselnya ke meja. Dengan frustasi dia menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya karena merasa kesal.
Beberapa menit kemudian, CEO Frans kembali mengambil ponselnya. Kali ini bukan untuk mencari sesuatu di internet. Akan tetapi dia ingin menghubungi Tasya. Dia masuk ke obrolannya dengan Tasya.
"Kamu lagi apa?" Ketik CEO Frans kemudian menghapusnya.
"Apakah kamu sudah tidur?" Ketiknya lagi dan menghapusnya lagi.
"Apakah kamu sibuk?" Ketiknya lagi untuk ketiga kalinya.
Kkkrrrriiinnnggg.... Telepon rumahnya berbunyi.
CEO Frans meletakkan ponselnya di sofa secara tengkurap dan dia beranjak mengangkat telepon rumahnya. Dalam beberapa menit percakapannya berakhir. CEO Frans kembali mengambil ponselnya dan menyalakannya. Dia sangat terkejut karena ketikan terakhirnya terkirim ke Tasya.
"Kapan aku mengirimkannya? Bagaimana bisa aku menekan tombol kirim. Perasaan tadi aku pergi untuk mengangkat telepon." Gumam CEO Frans merasa kesal.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Ucap CEO Frans gelisah.
__ADS_1
"Entahlah!" Ucapnya lagi. Dia berjalan ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke kasur dan memejamkan matanya untuk tidur karena tak ingin lagi memikirkan apa yang baru saja terjadi.