
Malam harinya, mereka berkumpul bersama di kedai dekat pantai.
"Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan?" Ucap Asisten Riko memberi saran agr tidak terlalu tegang.
"Permainan apa?" Tanya Anggi penasaran.
"Masing masing dari kita berhak memberi sebuah pertanyaan. Dan kita harus menjawabnya jujur pada diri kita sendiri. Nah cara mainnya, siapa yang pernah ngalamin tentang apa yang ditanyakan, jawabannya cukup meminum segelas minuman ini." Jawab Asisten Riko menjelaskan dan mengangkat sebuah gelas didepannya.
"Wah sepertinya seru nih. Ayo kita lakukan. Semua yabg ada disini wajib ikut tanpa terkecuali." Ucap Vera.
"Tapi...?" Ucap Intan melirik CEO Frans yang duduk dingin.
CEO Frans terlihat sangat dingin. Dia duduk bersandar di kursi dengan tangan menyilang di atas dada dan kakinya saling bertumpu.
"Tuan Frans! Apakah Anda keberatan dengan permainan ini?" Tanya Asisten Riko.
"Ti.. Tidak! Silahkan saja." Ucap CEO Frans mengayunkan tangan kanannya ke depan mempersilahkan mereka untuk bermain.
"Tapi Anda juga harus ikut. Semua yabg ada disini wajib ikut tanpa terkecuali." Ucap Asisten Riko memberanikan diri.
"Ba.. Baiklah kalau begitu. Saya ikut." Ucap CEO Frans terbata bata dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Baiklah! Ayo kita mulai! Aku akan mulai dengan pertanyaan pertama." Ucap Asisten Riko.
Semua terlihat tegang menunggu pertanyaan dari Asisten Riko.
"Siapa yang ada disini, yang masih jomblo?" Ucap Asisten Riko melontarkan pertanyaan dengan semangat.
Tasya, Anggi, Intan dan Vera saling tatap dan meminum minuman mereka masing masing. Sedangkan CEO Frans hanya tetap diam tak perduli.
"Wahhh berarti aku ada kesempatan ini mendekati kalian." Canda Asisten Riko tertawa.
"Giliran aku yang bertanya. Siapa yang ada disini saat ini sedang jatuh cinta?" Tanya Anggi penuh keyakinan. Dan mengarahkan jari telunjuknya kearah yang lainnya.
Dengan wajah datar tanpa ekspresi, CEO Frans meminum minuman ya. Otomatis membuat yang ada disekitarnya tercengang dan menatap kearahnya dengan penuh rasa penasaran. CEO Frans balik menatap mereka. Tatapan tak mengerti CEO Frans membuat mereka frustasi.
"Sudah! Sudah! CEO Frans tak asik. Kita lanjut saja." Ucap Asisten Riko.
__ADS_1
Semua mengangguk. Tasya tetap diam.
"Aku yang akan bertanya. Apakah orang yang kamu cintai ada disini sekarang?" Tanya Vera tertawa.
Lagi lagi CEO Frans meminum minumannya sampai tetes terakhir. Semua saling tatap dan menatap penuh tanya kearah CEO Frans.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans dingin.
Semua hanya diam tak menjawab.
"Aku lelah. Aku akan beristirahat terlebih dahulu." Ucap CEO Frans beranjak pergi meninggalkan mereka.
Mereka melanjutkan permainan mereka sampai mereka merasakan lelah dan ngantuk. Semua kembali ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat. Tasya satu kamar dengan Anggi. Vera dengan Intan. Sedangkan Asisten Riko dan CEO Frans memiliki kamar masing masing.
Malam semakin larut, tetapi Tasya belum terbiasa tidur ditempat asing. Matanya masih terbuka lebar.
"Anggi! Kamu sudah tidur?" Tanya Tasya berbisik.
Tak ada jawaban dari Anggi karena sudah tidur pulas.
Tasya memutuskan untuk keluar dan mencari angin segar di pantai. Dia berjalan menelusuri tepi pantai. Tasya membeli 3 kaleng minuman dan menikmatinya sambil duduk ditepi pantai. Merasakan sejuknya hembusan angin malam di tepi pantai.
"Sudah malam. Kenapa kamu belum tidur? Dan ngapain kamu sendirian disini?" Tanya CEO Frans berdiri di samping Tasya.
"Ehm? Tuan Frans? Saya tidak bisa tidur. Jadi saya jalan jalan buat nyari udara segar." Jawab Tasya.
"Oh!" Balas CEO Frans.
"Kalau Tuan sendiri?" Tanya Tasya.
"Aku juga tidak bisa tidur. Mungkin belum terbiasa dengan tempat asing." Jawab CEO Frans. CEO Frans mulai terbiasa berbicara tidak formal kepada Tasya.
CEO Frans duduk di samping Tasya dan mengambil 1 kaleng minuman milik Tasya. Mereka minum bersama.
"Aku mau minta maaf untuk kejadian beberapa hari lalu." Ucap CEO Frans tiba tiba membuat Tasya tercengang.
"Beberapa hari lalu?" Tanya Tasya tak mengerti.
__ADS_1
"Soal adikku dan kekasihmu. Aku benar benar tidak tau soal mereka. Aku juga terkejut waktu itu." Jawab CEO Frans.
"Oh itu? Sudahlah! Lupakan saja." Ucap Tasya tersenyum memandang pantai dan meneguk minumannya.
"Apakah kamu baik baik saja?" Tanya CEO Frans.
"Kenapa tidak baik baik saja? Saya hanya terkejut saja. Lagian saya tidak ada hubungan apa apa dengan pria itu." Jawab Tasya tersenyum.
"Tidak ada hubungan apa apa? Lalu kenapa kamu marah?" Tanya CEO Frans tak mengerti.
"Saya hanya sedikit terkejut saja. Dan saya mengira Anda sudah tau dan merencanakan semua ini. Jadi saya merasa sangat kesal. Saya kira Anda sengaja melakukan semua itu untuk menggagalkan saya bertemu dengan dia." Jawab Tasya menjelaskan.
"Aku tidak bermaksud seperti itu." Balas CEO Frans.
"Saya juga merasa sedikit lega. Karena dia tak bisa mengejar saya lagi. Sebenarnya saya merasa sedikit risi dengan dia. Tapi tak bisa begitu saja menolak dia. Dia juga irang yang baik." Balas Tasya.
CEO Frans hanya diam tak menjawab. Tasya merasakan perasaan hangat didekat CEO Frans. Entah apa yang membuatnya menceritakan semua tentang hubungannya dengan Tian. Hanya saja Tasya merasakan kenyamanan.
"Apakah Anda benar benar Tuan Frans yang saya kenal? Kenapa Anda begitu hangat malam ini? Membuat jantungku berdebar debar." Canda Tasya. Tasya tertawa melihat telinga CEO Frans yang berubah menjadi merah.
"Kenapa telinga Anda berubah menjadi merah?" Tanya Tasya tertawa dan menunjuk kearah telinga CEO Frans.
"Mungkin karna aku merasa kedinginan malam ini. Aku mungkin memakai pakaian yang salah malam ini." Jawab CEO Frans.
"Hahaha (tertawa)! Saya sempat berpikir orang yang didekat saya bukanlah Anda. Saya belum pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Anda benar benar membuat jantung saya berdebar debar." Ucap Tasya tersenyum.
CEO Frans hanya tersenyum dan tak menjawab apapun.
"Apakah Anda benar benar Tuan Frans atasan saya?" Tanya Tasya menatap CEO Frans dengan penuh tanya.
"Lalu siapa lagi kalau bukan saya?" Tanya balik CEO Frans menatap Tasya.
Mereka saling bertatapan.
"Saya seperti mengenal orang lain dari diri Anda. Saya sepenuhnya tidak percaya bahwa Anda bisa menjadi orang sehangat ini. Saya belum pernah bercerita kepada orang lain tentang saya senyaman ini. Meskipun dengan sahabat sahabat saya." Ucap Tasya tak mengerti.
"Saya juga tidak mengenali diri saya yang sebenarnya seperti apa. Yang pasti saya memang sangat sempurna. Makanya banyak wanita yang tergila gila kepada saya karena saya sempurna." Ucap CEO Frans membanggakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dasar narsis!" Ucap Tasya memalingkan wajahnya dan tersenyum diam diam.
Bibir CEO Frans menyeringai melihat tingkah Tasya.