DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 74


__ADS_3

CEO Frans merasa sangat kecewa kepada dirinya sendiri karena tak berani berterus terang kepada Tasya. Dia berjalan menuju ke ruangannya dengan tampang kesalnya. Asisten Riko hanya mengikutinya dibelakang.


CEO Frans duduk di sofa dengan badan bersandar di sandaran sofa dan kedua tangannya menyilang di atas dadanya.


"Hebat! Itu sangat luar biasa!" Ucap Asisten Riko yang berdiri didepan CEO Frans dengan mengacungkan jari jempolnya ke depan CEO Frans.


Asisten Riko merasa sangat kesal dan geram kepada CEO Frans. CEO Frans melirik tajam Asisten Riko dan menampar acungan jempol Asisten Riko agar menyingkir dari hadapannya.


Setelah menyingkirkan acungan jempol Asisten Riko, CEO Frans kembali menyilangkan tangannya di atas dada dan memalingkan pandangannya ke depan.


"Yang Anda lakukan sudah sesuai dengan reputasi Anda saat ini. Apa yang baru saja Anda lakukan adalah pengakuan cinta terbaik yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Saya benar benar kagum kepada Anda!" Ucap Asisten Riko meluapkan rasa kesalnya.


"Kau ini mau mengatakan apalagi?" Tanya CEO Frans kesal.


"Apalagi? Kau lebih baik mengatakan bahwa kau jatuh cinta kepada orang lain. Setidaknya itu alasan yang lebih baik dari pada apa yang kamu katakan tadi. Bagaimana kau bisa mengatakan hal hal yang tidak bermutu seperti itu?" Ucap Asisten Riko geram.


CEO Frans hanya diam tak menjawab apapun.


"Ada apa dengan Anda Tuan Frans? Kenapa Anda membuat kekacauan ini? Kalau sudah begini apa yang akan Anda lakukan?" Tanya Asisten Riko semakin kesal.


"Aku hanya tidak bisa berterus terang kepadanya." Jawab CEO Frans.


"Bagus sekali! Bagaimana Anda bisa melakukan ini? Dilihat dari sisi manapun apa yang Anda lakukan adalah cara terbagus untuk memenangkan hatinya. Dan sekarang semua sudah menjadi kacau berkat Anda." Ucap Asisten Riko heran kepada teman serta atasannya di perusahaan.


Lagi lagi CEO Frans terdiam tak menjawab. Dia berpikir apa yang akan dia lakukan.


"Aku butuh asisten yang membuatkan aku kopi?' Benar benar tak habis pikir. Anda akan berkata seperti itu. Lalu sekarang apa yang akan Anda lakukan? Menyerah saja! Semua sudah kacau." Ucap Asisten Riko membelakangi CEO Frans.


"Tidak! Carikan jalan keluar!" Ucap CEO Frans tak perduli.


"Bagaimana bisa kekacauan ini terselesaikan?" Tanya Asisten Riko berbalik menghadap CEO Frans.


"Terserah kamu mau melakukan apa. Yang penting kamu carikan aku jalan keluar." Ucap CEO Frans berdiri dan pergi keluar dari ruangannya.


***

__ADS_1


Karena semua persiapan sudah selesai, Tasya dan Raka kembali ke perusahaan. Tasya mencari Anggi untuk mengajaknya minum kopi bersama dan bersantai.


"Kenapa kamu terlihat sangat kesal?" Tanya Anggi ketika mereka duduk dan menikmati kopi mereka masing masing.


"Bagaimana aku tidak kesal coba? Bayangkan saja, tadi pas aku bekerja untuk pameran nanti malam bersama Raka, tiba tiba CEO Frans datang dan membawaku pergi. Dia menyuruhku untuk tinggal di ruangan. Entah itu ruangan siapa." Jawab Tasya dengan kesalnya.


"Lalu?" Tanya Anggi penasaran.


"Lalu? Kamu tau apa yang dia katakan? Dia memintaku menjadi asistennya yang membuatkan dia kopi setiap hari. Apa dia sudah gila? Dia ingin aku menjadi pengasuhnya?" Ucap Tasya kesal.


"Mungkin dia mau membuat pengakuan tentang perasaannya kepadamu." Balas Anggi.


"Pengakuan? Bagaimana bisa seperti itu? Apakah dia memang sudah gila? Mana ada seperti dia?" Tanya Tasya semakin kesal.


"Apakah dia tipe irang yang memiliki IQ tinggi dan EQ hampir negatif? Mungkin dia jatuh cinta padamu tetapi dia tak bisa memberitahukannya kepadamu. " Gumam Anggi heran.


"Itu mustahil. Tidak mungkin!" Ucap Tasya tidak percaya.


"Kenapa tidak mungkin? Kalian sudah cukup dekat selama ini. Aku juga selalu melihat kekhawatiran CEO Frans setiap kali dia tidak melihatmu." Ucap Anggi yakin.


"Mungkin bukan cinta pada pandangan pertama. Tapi itu bisa menjadi cinta seiring berjalannya waktu. CEO Frans tidak pernah mempunyai wanita dalam hidupnya. Mungkin dia hanya tak bisa untuk mengakuinya." Lanjut Anggi semakin yakin.


"Hanya memikirkannya saja sudah membuatku hampir gila." Ucap Tasya.


"Jam berapa ini?" Lanjut Tasya melihat jam ditangannya.


"Sudah waktunya pulang. Kita harus bersiap siap untuk pergi ke pameran." Ucap Tasya mengajak Anggi pulang.


***


Di pameran Tasya datang bersama teman temannya. Dia melihat di sekeliling ruangan sudah banyak tamu undangan yang datang. Semua tamu menikmati pestanya. Mereka sedang berbincang satu sama lain sambil menikmati minuman ditangan mereka masing masing.


CEO Frans ditemani oleh Asisten Riko, sedang sibuk menemui tamu tamu penting yang menghadiri pameran tersebut. Menyapa satu demi satu tamu yang datang.


"Tasya!" Panggil Raka menghampiri Tasya dengan membawa 2 gelas minuman ditangannya.

__ADS_1


"Kenapa cuma 2?" Keluh Anggi karena Raka hanya membawa 2 gelas minuman.


"Maaf ya! Tangan aku cuma 2.. Jadi tidak bisa membawa lebih dari 2 minuman." Ucap Raka tersenyum.


"Tasya! Kita berkeliling dulu ya." Ucap Vera.


"Aku ikut!" Ucap Tasya.


Mereka pergi bersama sama dan berkeliling untuk melihat beberapa jenis model di galeri tersebut.


Tak sengaja Tasya bertemu dengan CEO Frans yang sedang berbincang dengan tamu undangannya.


"Selamat menikmati pestanya!" Ucap CEO Frans kepada tamu undangannya tersebut dan pamit pergi.


Tasya pura pura tak melihatnya dan terus berkeliling. CEO Frans mengejarnya, tetapi Tasya berusaha keras untuk menghindarinya.


"Frans!" Panggil Jenny.


Jenny adalah teman bisnis CEO Frans. Mereka cukup dekat meski hanya sebagai rekan bisnis.


CEO Frans menghentikan langkahnya dan berbalik kearah suara Jenny. Jenny menghampiri CEO Frans dan cipika cipiki dan saling peluk.


"Jenny! Selamat datang! Kapan kamu pulang? Bukankah kamu baru menjalankan bisnismu di Jerman?" Tanya CEO Frans tersenyum senang melihat kedatangan Jenny.


Tasya tiba tiba menjadi kesal melihat pemandangan tersebut. Rasa sakit hatinya karena Vio belum terobati sepenuhnya. Kini dia harus menahan lagi rasa cemburunya. Yang kali ini CEO Frans terlihat sangat akrab.


Tak lagi menghiraukan Tasya, CEO Frans mengajak Jenny duduk dan mengobrol karena sudah lama tidak bertemu. Mereka berbincang sampai acara fashion show akan dimulai.


"Tasya! Kamu mau kemana?" Tanya Anggi ketika melihat Tasya hendak pergi.


"Aku mau cari udara segar sebentar. Disini terlalu panas!" Jawab Tasya.


Tasya pergi keluar untuk mencari udara segar dan menenangkan dirinya. Tasya berjalan menuju taman dengan membawa segelas minuman ditangannya.


Dengan menikmati minumannya, Tasya beberapa kali menghela nafas panjang untuk menghirup udara segar di taman.

__ADS_1


Tasya duduk di kursi taman seorang diri. Taman terlihat sepi karena semua orang sedang menikmati pesta didalam galeri pameran CEO Frans.


__ADS_2