DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 93


__ADS_3

"Sayang! Mama nyuruh kita datang ke rumah untuk makan malam nanti. Kamu bisa nggak?" Isi pesan CEO Frans yang akan dikirimkan ke Tasya.


Bangun tidur Tasya membuka ponselnya dan mendapati ada pesan masuk dari CEO Frans. Raut wajah Tasya sedikit terkejut dan shock mendapat pesan tersebut dari CEO Frans.


Tasya menenangkan dirinya sejenak.


"Baiklah!" Balas Tasya untuk pesan CEO Frans.


"Ya sudah! Nanti aku jemput kamu ya." Balas CEO Frans.


***


Tepat pukul 16.30, CEO Frans menjemput Tasya di asrama kampusnya. Tasya berjalan menghampiri CEO Frans yang sedang menunggu diluar. Mereka masuk kedalam mobil. Tanpa sopir CEO Frans membawa mobilnya.


"Kita mau bawa apa ke rumah kamu? Nggak mungkin kan aku datang dengan tangan kosong. Nggak mungkin kan aku meninggalkan kesan yang tidak baik buat Mama kamu?" Tanya Tasya menatap CEO Frans setelah mereka berdua masuk kedalam mobil.


"Khawatir banget sih kalau sampai Mama punya kesan jelek." Ucap CEO Frans mengusap usap rambut Tasya.


"Ya bukannya gitu. Tapi kan setidaknya aku datang nggak dengan tangan kosong." Ucap Tasya menegaskan.


"Ya sudah! Mama suka mengkoleksi parfum. Kita belikan Mama parfum." Ucap CEO Frans sambil menyalakan mobilnya.


Tasya hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


"Aku ahli dalam memilih parfum." Ucap Tasya tersenyum dengan bangganya.


Sesampainya di depan toko parfum, Tasya dan CEO Frans turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam toko parfum. Tasya mulai sibuk memilih aroma parfum dengan mengoleskannya ditangannya dan menciumnya.


Tasya mendapatkan aroma parfum yang elegan. Dia memilih aroma parfum yang ia temukan terakhir kali. Setelah mendapatkannya, Tasya memberikannya kepada pelayan toko agar diambilkan yang baru.


Tasya menghampiri CEO Frans yang hanya duduk diruang tunggu, menunggu Tasya memilih parfum untuk Mamanya. Tasya duduk di samping CEO Frans.


"Sudah dapat?" Tanya CEO Frans tersenyum menatap Tasya.


"Sudah!" Jawab Tasya menganggukkan kepalanya.


"Tuan! Nyonya! Ini parfumnya." Ucap pelayan toko dengan ramah memberikan parfumnya kepada Tasya.


"Kamu tunggu disini. Aku akan membayarnya dulu." Ucap CEO Frans mengikuti pelayan tersebut menuju kasir.


"Ayo!" Ucap CEO Frans menghampiri Tasya setelah membayarnya.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah, CEO Frans dan Tasya masuk kedalam rumah di ikuti oleh kepala pelayan di rumah tersebut.


"Selamat sore, Tante!" Sapa Tasya yang masih berdiri didepan Mama Johan.


"Tasya! Duduk! Duduk!" Ucap Mama Johan dengan senyumannya dan menutup sebuah album foto keluarganya.


"Terimakasih Tante!" Balas Tasya.


Tasya dan CEO Frans duduk di depan Mama Johan.


"Ma, Papa dan Gadis dimana? Kok sepi?" Tanya CEO Frans.


"Oh! Mereka masih di atas. Sebentar lagi turun." Jawab Mama Johan.


"Tasya! Apakah Mama mengganggu waktumu?" Tanya Mama Johan.


"Enggak Ma! Ehh! Tante!" Jawab Tasya tersenyum malu.


"Mama aja nggak apa apa!" Balas Mama Johan.


"Iya Tante! Ehh! Iya Ma!" Jawab Tasya merasa sedikit tidak enak kepada Mama Johan.


"Biarin! Nggak apa apa kan Tasya?" Tanya Mama Johan menatap Tasya.


"Nggak apa apa kok Tante. Ehh! Ma." Jawab Tasya malu malu.


"Tasya! Sini duduk disebelah Mama." Ucap Mama Johan menepuk nepuk sofa disebelahnya.


Tasya menatap CEO Frans dan CEO Frans hanya mengangguk tanda menyetujuinya. Setelah CEO Frans menyetujuinya, Tasya pindah kesamping Mama Johan.


"Namanya juga pacaran, apa apa harus seijin pacar." Goda Mama Johan tersenyum.


"Ma!" Ucap CEO Frans.


Tasya hanya diam dan merasa malu kepada Mama Johan.


"Sambil menunggu makanan siap, kita liat liat foto keluarga aja ya." Ucap Mama Johan mengambil kembali album di meja.


Mama Johan mulai membuka satu per satu halaman albumnya. Dari waktu Mama Johan pacaran dengan Papa Johan sampai mereka mempunyai 2 anak. Tasya hanya melihat dan mendengarkan semua cerita Mama Johan tentang keluarganya.

__ADS_1


"Nah ini bayinya Frans. Aku merasa dia sangat imut waktu kecil. Setiap kali dia ketakutan pasti dia ngompol Di celana." Ucap Mama Johan sambil tertawa.


"Ma!" Teriak CEO Frans tetapi tidak digubris oleh Mama Johan.


Tasya hanya tersenyum kearah CEO Frans. CEO Frans merasa malu di hadapan Tasya karena Mama Johan mulai menceritakan semua kehidupannya semasa kecil.


"Ini ulang tahun Frans yang pertama, dia masih lucu kan? Dia dulu seorang yang sangat penyayang. Membunuh semut pun dia tak akan tega. Mama juga heran kenapa semakin kesini, dia semakin membuat orang kesal saat melihatnya. Kalau tau dia akan jadi begini, dulu Mama nggak akan lahirin dia. Mama suruh masuk lagi kedalam kandungan." Ucap Mama Johan melirik kearah CEO Frans.


"Ma! Apakah aku bukan anak kandung Mama? Kenapa Mama mempermalukan aku di depan pacar aku?" Ucap CEO Frans kesal.


Mama Johan dan Tasya hanya saling tatap dan tertawa bersamaan. Setelah puas tertawa, Mama Johan kembali membuka satu demi satu halaman album yang dipegangnya dan menceritakan semua momen yang ada didalam foto tersebut.


Mama Johan juga menceritakan semua masa kecil CEO Frans dan Gadis. Tasya dengan senang hati mendengarkan semua cerita dari Mama Johan.


CEO Frans sesekali tersenyum melihat keakraban Mamanya dan kekasihnya. Dia merasa tidak salah memilih kekasih.


"Tasya, Mama mau tanya. Bagaimana kamu bisa jatuh cinta sama orang sedingin dia?" Tanya Mama Johan memegang tangan Tasya dan melirik kearah CEO Frans.


"Ma! Jangan mulai deh!" Ucap CEO Frans dibuat kesal oleh Mamanya sendiri.


Tasya hanya tersenyum melirik raut muka CEO Frans yang merasa kesal. Dia tersenyum melihat Mama Johan yang penasaran dengan awal mula perasaannya.


"Ehmmm! Enggak tau tante. Semua datang dengan tiba tiba. Saya merasa aman dan nyaman saja setiap kali berada didekat CEO Frans." Jawab Tasya tersenyum dan melihat kearah CEO Frans.


"Pria sedingin dia bagaimana bisa membuat kamu merasa aman dan nyaman? Aku saja sebagai Mamanya, kalau bisa ingin masukin dia lagi kedalam perut. Biar kapok. Benar benar membuat kesal setiap kali melihat dia." Balas Mama Johan menggoda CEO Frans agar semakin kesal.


"Ma, apakah aku benar benar bukan anak kandung Mama? Kenapa dari tadi Mama selalu saja mempermalukan aku?" Ucap CEO Frans frustasi dengan perlakuan Mama Joha didepan Tasya.


"Apaan sih kamu. Jangan mengganggu Mama ngobrol sama calon menantu Mama ya." Ketus Mama Johan.


Mendengar ucapan Mama Johan, Tasya mematung sejenak. Seperti jantungnya berhenti berdetak dan darahnya mengalir tidak lancar.


"Kenapa berisik sekali sih?" Tanya Papa Johan berjalan menuruni tangga.


"Tau nih Pa. Anak satu ini nggak bisa melihat Mamanya ngobrol dengan calon menantu." Jawab Mama Johan tersenyum.


"Nggak mempermalukan aku juga kali Ma ngobrolnya." Balas CEO Frans kesal.


Papa Johan hanya tertawa diikuti oleh Mama Johan. Gadis yang baru datang pun ikut tertawa melihat Kakaknya dipermalukan.


"Hanya kamu Tasya yang mampu membuat kakak aku tidak berkutik seperti ini." Timbrung Gadis tak mampu menahan tawanya.

__ADS_1


Tasya hanya tersenyum dan semakin merasa malu. Tapi dia senang karena keluarga CEO Frans memperlakukannya dengan baik.


__ADS_2