
"Berani beraninya kamu mematikan telepon saya." Tulis CEO Frans dalam pesan dan dikirimkan kepada Tasya.
"Tuan Frans yang terhormat. Ini sudah malam. Sudah waktunya saya beristirahat. Apakah Anda ingin membunuh mahasiswa magang? Ingin perusahaan Anda masuk berita karena pembunuhan?" Balas Tasya kesal.
"Disini saya bosnya. Kenapa kamu lebih menakutkan daripada saya?" Balas CEO Frans.
"Anda juga keterlaluan. Saya sudah bekerja sehari penuh. Malamnya Anda juga tidak memberi saya waktu istirahat." Balas Tasya.
"Sepertinya kamu sangat senang sekarang. Apakah dengan bunga dan makana kamu sudah bahagia?" Tanya CEO Frans.
"Apa? Bahagia? Apakah dia tidak tau dari kata kataku ini jelas jelas aku sedang marah dan kesal?" Gumam Tasya semakin kesal.
"Ya iyalah. Aku sangat senang dan bahagia." Balas Tasya sekenanya.
"Apa istimewanya bunga dan makanan saja." Gumam CEO Frans.
CEO Frans kesal dan melemparkan ponselnya ke meja dan fokus ke laptopnya.
***
Keesokan harinya...
Ttookk.. Ttoookkk.. Ttookkk... Suara ketukan pintu.
Tasya membuka pintu.
"Pak Satpam. Ada apa Pak?" Tanya Tasya.
"Nona Tasya?" Tanya Pak Satpam.
"Iya saya sendiri." Jawab Tasya.
"Nona ada yang mencari Anda didepan." Ucap Pak Satpam.
"Siapa?" Tanya Tasya penasaran.
"Saya juga kurang tau Nona. Saya permisi." Ucap Pak Satpam dan berlalu pergi.
Tasya ke pintu utama untuk menemui siapa yang datang untuk menemuinya.
"Tuan Frans?" Gumam Tasya melihat Frans berdiri membelakangi pintu masuk.
"Tuan Frans!" Panggil Tasya.
Frans membalikkan badannya.
"Ini!" Ucap Tasya memberikan sebuket bungan mawar berwarna merah besar dan 5 kotak makan. Beserta camilan.
Setelah memberikan bunga dan makanan, Frans berbalik untuk pergi.
"Tuan! Apa ini?" Teriak Tasya tak mengerti.
Frans kembali menatap Tasya.
"Itu.. Itu.. Katanya kamu bahagia dengan itu. Jadi itu buat kamu." Ucap CEO Frans malu malu.
__ADS_1
Tasya hanya mengernyitkan dahinya.
"Saya permisi." Ucap CEO Frans dan pergi.
Tasya kembai ke kamarnya.
"Wahhh bunga yang lebih besar dan lebih banyak makanan. Dari siapa Sya?" Tanya Vera penasaran.
"Ini? Dari orang aneh!" Jawab Tasya menunjukkan buket bunga dan 2 kantong plastik berisi makanan.
"Aneh? Siapa?" Tanya Anggi.
"pembunuh berdarah dingin." Jawab Tasya.
"CEO Frans?" Tanya Vera tak percaya.
Tasya hanya menganggukkan kepalanya.
"Bisa romantis juga dia ternyata. Jangan jangan dia menyukaimu Sya." Ucap Anggi menggoda Tasya.
"Romantis apaan? Gila mungkin dia. Kemarin kan aku dapet bunga dan makana dari Tian. Dan CEO Frans tak sengaja mengetahuinya. Lah dia tanya apa dengan itu aku bahagia? Karena aku kesal sama dia aku jawab sekenanya saja. Aku bilang kalau aku bahagia. Eee pagi pagi datang cuma nganter ini doang trus pergi. Aneh kan." Ucap Tasya.
"Wahh pasti dia ada rasa tuh sama kamu. Buktinya dia cuma perhatian sama kamu doang. Sama yang lain, jangankan perhatian, nglirik saja enggak." Ucap Anggi.
"Kalau kamu bisa memikat hatinya, itu sama dengan kamu pantas untuk dapat penghargaan pesona wanita terbaik." Imbuh Intan.
"Ahh udah ahh. Kalian nggak mau siap siap berangkat magang?" Tanya Tasya mengalihkan pembicaraan.
***
Di kantor...
"Berani sekali dia tak menjawab teleponku." Gumam CEO Frans.
Tiba tiba Asisten Riko masuk keruangan CEO Frans tanpa permisi.
"Tuan rapat pemasaran akan segera dimulai." Ucap Asisten Riko.
"Apakah kamu sudah lupa peraturan di perusahaan ini?" Tanya CEO Frans dingin.
"Baiklah! Maaf!" Jawab Asisten Riko kembali keluar ruangan dan mengetuk pintu.
"Masuk!" Ucap Frans.
Asisten Riko masuk.
"Ada apa?" Tanya CEO Frans.
"Rapat pemasaran akan segera dimulai." Jawab Asisten Riko.
"Baiklah!" Jawab CEO Frans.
CEO Frans masuk kedalam ruang rapat. Semua yang hadir dari departemen pemasaran berdiri dan membungkukkan badannya. Mereka kembali duduk setelah CEO Frans duduk.
Semua terdiam dan saling pandang karena rapat tak segera dimulai. CEO Frans sibuk dengan ponselnya. Asisten Riko heran dengan tingkah CEO Frans yang tak seperti biasanya. Dia terlihat sangat gelisah.
__ADS_1
"Tuan mari kita mulai rapatnya." Ucap Asisten Riko.
"Mulai saja." Jawab Frans tanpa melihat Asisten Riko dan tetap fokus dengan ponselnya.
"Baiklah mari kita mulai rapatnya." Ucap Asisten Riko memulai rapat.
Direktur Departemen pemasaran menjelaskan tentang konsep pemasaran yang akan mereka luncurkan. Tetapi CEO Frans tak menghiraukannya sama sekali.
CEO Frans berulang kali menelepon Tasya, tetapi tetap tidak diangkat. CEO Frans semakin kesal.
"Berani beraninya kamu tidak mengangkat teleponku." Ketik CEO Frans di ponselnya dan mengirimkannya ke Tasya.
Pesan yang CEO Frans kirim tak ada balasan. Dibaca pun tidak oleh Tasya.
Direktur Departemen pemasaran menjelaskan panjang lebar tetapi tak dihiraukan oleh CEO Frans.
"Tuan Frans bagaimana dengan rencana kami? Apakah Anda menyetujuinya?" Tanya Direktur Dion.
CEO Frans tetap tak menghiraukannya.
"Sudah! Sudahi saja dulu rapatnya." Bisik Asisten Riko.
"Bagaimana caranya?" Balas Direktur Dion berbisik.
"Ehem! Untuk hari ini cukup. Kita sudahi rapatnya." Ucap Asisten Riko mengakhiri rapatnya.
Semua peserta rapat beranjak dari kursi masing masing.
"Tunggu! Duduk!" Ucap CEO Frans dingin.
Semua kembali duduk. Asisten Riko mempunyai firasat tidak baik melihat raut wajah CEO Frans. Temperamennya sangat buruk saat ini.
"Bagaimana bisa kita menggunakan konsep seperti itu? Ini tentang produksi pakaian couple. Bagaimana bisa memakai konsep tidak berdasarkan cinta? Kamu pikir ini akan berhasil? Sebelum memasarkan produk ini, sebaiknya kamu memahami apa artinya cinta dan pasangan itu seperti apa." Ucap CEO Frans kesal.
"Haha." Manager Ria tertawa tipis.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya CEO Frans dengan nada marah.
"Maaf! Maaf Tuan. Saya tidak sengaja." Ucap Manager Ria.
"Kamu yang bertugas memahami cinta dan pasangan." Ucap CEO Frans marah.
Mereka hanya diam tak berani menjawab apapun.
CEO Frans kembali melihat ponselnya dan belum ada jawaban dari Tasya. CEO Frans dibuat semakin kesal. Dia langsung pergi dari ruang rapat tanpa permisi.
"Bubar bubar." Ucap Asisten Riko tanpa suara dan pergi mengikuti CEO Frans kembali ke ruangannya.
"Tuan Frans Anda kenapa?" Tanya Asisten Riko penasaran.
CEO Frans hanya di karena kesal dengan Tasya. Dia tak henti hentinya melihat ponselnya dan menunggu Tasya membalasnya. Karena kesal CEO Frans melempar ponselnya ke meja.
Ttiiiinnng... Suara pesan ponsel CEO Frans.
Dengan segera CEO Frans mengambil ponselnya dan membuka pesan. Pesan yang diterimanya bukan yang dia harapkan. Jadi dia tak menghiraukannya dan kembali melempar ponselnya ke meja.
__ADS_1
Asisten Riko hanya bingung melihat tingkah CEO Frans.
"Ada apa dengannya? Belum pernah aku melihat dia segelisah ini." Batin Asisten Riko penuh tanya.