DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 50


__ADS_3

Hampir satu jam lamanya CEO Frans menunggu Asisten Riko datang.


"Kenapa kamu lama sekali? Kamu sudah berani membiarkan aku menunggumu? Disini aku bosnya." Ucap CEO Frans kesal.


"Tapi Tuan, bagaimana Anda bisa membuat bawahan Anda tetap bekerja diakhir pekan?" Tanya Asisten Riko membantah.


"Kamu berani membantah saya?" Teriak CEO Frans.


"Tidak Tuan! Saya tidak berani! Maafkan saya!" Ucap Asisten Riko menurunkan suaranya dan membungkukkan badannya untuk minta maag kepada CEO Frans.


"Ayo kita juga pergi ke pantai hari ini." Ucap CEO Frans dingin.


CEO Frans meninggalkan Asisten Riko dan pergi lebih dulu ke mobil.


"Apa apaan ini? Dia tidak akan membiarkan orang lain dengan privasinya? Dia yang jatuh cinta ternyata lebih menakutkan daripada dia yang dingin. Kalau tau akan jadi begini aku tidak akan membantunya." Gumam Asisten Riko penuh penyesalan.


"Tante Johan! Kenapa Anda memasukkan aku kedalam neraka setelah menolongku dari jurang yang curam." Teriak Asisten Riko ingin menangis.


Dengan langkah frustasi, Asisten Riko segera mengejar CEO Frans.


"Kalau aku biarkan dia menunggu terlalu lama, dia pasti akan membunuhku." Gumam Asisten Riko berjalan lebih cepat.


Sesampainya di depan mobil, dari kaca jendela mobil Asisten Riko melihat CEO Frans duduk didalam mobil dengan temperatur yang sangat menakutkan. Dia duduk kursi belakang. Dengan badan bersandar di sandaran kursi, kedua tangannya menyilang di atas dadanya dan posisi kaki saling bertumpu. Dia memejamkan matanya. Tetapi tetap terlihat bahwa temperamennya sangat buruk.


"Tuan, mari kita berangkat." Ucap Asisten Riko duduk di kemudi mobil.


CEO Frans tak menghiraukannya. Dan tetap berada diposisi semula. Dengan pelan Asisten Riko mengemudikan mobilnya agar CEO Frans tetap tenang.


"Lebih cepat!" Ucap CEO Frans dingin secara tiba tiba.


"Apa?" Tanya Asisten Riko tak mengerti. Dia melirik dari kaca spion mobil.


"Kemudi mobilnya lebih cepat." Ucap CEO Frans mengulangi perintahnya.


"Jalanan macet. Kita harus mengurangi kecepatan. Kalau tidak polisi akan mengejar kita." Balas Asisten Riko.


Tiba tiba CEO Frans membuka matanya dan menatap tajam kearah Asisten Riko. Asisten Riko melihat tatapan tajam CEO Frans dari spion mobil.


"Ba.. Baiklah!" Ucap Asisten Riko dengan penuh rasa takut.


Asisten Riko menambah kecepatan mobilnya. Dan CEO Frans kembali memejamkan matanya.


***


"Tasya, kenapa Tian nggak jadi ikut?" Tanya Anggi penasaran setelah tiba di pantai.


"Aku tidak mengajaknya. Lagian mungkin dia sibuk dengan pacar barunya." Jawab Tasya mengangkat kedua bahunya.


"Apa? Pacar baru?" Tanya Vera terkejut menatap Tasya.


Tasya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kemarin aku lihat dia sedang berduaan di sebuah rumah makan. Berpegangan tangan lagi." Ucap Tasya.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju sebuah motel yang dekat dengan pantai tersebut. Memang dari awal rencana mereka ingin bermalam di pantai.


"Siapa pacarnya? Cantik tidak? Cantikan mana sama kamu?" Tanya Anggi membandingkan dengan Tasya.


"Ihh apaan sih Nggi. Udah pasti cantikan Tasya lah." Jawab Intan.


"Hahahah! (tertawa) Apaan sih? Pacarnya itu Gadis. Temen kita sekaligus adik CEO perusahaan tempat kita magang." Ucap Tasya.


"Gadis?" Tanya Vera terkejut.


"Iya!" Jawab Tasya tersenyum.


Vera termenung sejenak.


"Udah ahh kita kesini kan mau refreshing. Bukan untuk membahas Tian kan. Ayo pesan kamar dan kita jalan jalan." Ucap Tasya.


***


Setelah memesan 2 buah kamar, mereka beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah mereka selama perjalanan.


Setelah beristirahat mereka berencana jalan jalan keluar.


"CEO Frans?" Tanya Anggi terkejut melihat CEO Frans dan Asisten Riko.


Frans yang sudah melihat mereka berpura pura tak melihatnya dan tetap berjalan seperti orang yang tak berdosa. CEO Frans berlagak seperti sedang mencari seseorang.


Tasya menghentikan langkahnya dan melihat tingkah aneh CEO Frans.


"Dimana mana selalu ada dia. Apakah dia benar benar tak akan membiarkan hidupku tenang tanpa gangguannya sebentar saja. Perasaanku tak enak setiap kali melihat dia." Gumam Tasya kesal.


"Tuan Frans? kebetulan setelah Anda juga berada disini?" Sapa Anggi.


Tetapi Tasya membuang muka seolah olah tak perduli dan cuek.


"Oh kalian juga disini. Klien mengajak bertemu disini." Jawab CEO Frans dingin dan melirik Tasya yang masih membuang muka.


"Mana ada klien mengajak rapat diakhir pekan?" Gumam Tasya menyengirkan bibirnya.


"Apa? Saya benar benar akan bertemu klien." Jawab CEO Frans. Tampak jelas diwajahnya sebuah kebohongan.


CEO Frans pura pura membuka ponselnya.


"Asisten Riko!" Panggil CEO Frans.


"Iya!" Jawab Asisten Riko.


"Klien kita membatalkan rapat. Ada kepentingan mendesak. Karena sudah ada disini, pesan kamar." Ucap CEO Frans.


"Baiklah!" Ucap Asisten Riko.


Asisten Riko pergi untuk memesan kamar. Tasya semakin merasa kesal.


"Ayo!" Ajak Tasya menarik tangan Anggi.

__ADS_1


"Tunggu!" Teriak CEO Frans mengejar Tasya dan teman temannya.


"Ada apalagi?" Tanya Tasya.


"Saya.. Saya...!" Ucap CEO Frans.


Tasya tak ingin mendengarkannya dan mempercepat jalannya. CEO Frans terus mengikutinya. Tasya menghentikan langkahnya dan menatap CEO Frans.


"Kenapa Anda mengikuti kami?" Teriak Tasya kesal.


"Saya tidak tau daerah sini." Jawab CEO Frans.


"Terserah Anda mau kemana, tapi jangan ikuti saya." Balas Tasya.


"Sudah! Sudah! Biarkan saja! Daripada besok kamu di susahkan lagi." Bisik Anggi kepada Tasya.


CEO Frans terus membuntuti Tasya dan teman temannya.


"Tuan Frans! Tuan Frans!" Panggil Asisten Riko mengejar CEO Frans.


CEO Frans menghentikan langkahnya.


Dengan nafas ngos ngosan Asisten Riko menghampiri CEO Frans.


"Tuan! Kenapa Anda meninggalkan saya? Saya mencari Anda kemana mana." Ucap Asisten Riko.


Tanpa menghiraukan Asisten Riko, CEO Frans pergi mengejar Tasya dan yang lain.


"Tuan Frans, biarkan saya istirahat sejenak." Ucap Asisten Riko ingin menangis.


Dengan frustasi, Asisten Riko mengikuti CEO Frans.


"Apa kalian tidak lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu?" Tanya CEO Frans.


"Tidak!" Jawab Tasya.


"Tasya! Sebaiknya kita makan dulu. Laper." Ucap Intan.


Dengan sangat terpaksa Tasya mengikuti teman temannya.


CEO Frans yang mentraktir mereka semua. Semua mulai terbiasa dengan adanya CEO Frans diantara mereka. Meskipun sedikit canggung dengan sikap dinginnya. Tetapi mereka rak begitu memperdulikannya terutama Tasya.


Selesai makan semua pergi jalan jalan menelusuri tepi pantai Menikmati keindahan suasana pantai. Duduk ditepi pantai, terkadang bercanda dengan mengejar ombak. Dan membasahi diri mereka dengan air pantai.


Tak terasa senja telah tiba dan pantai mulai sepi.


"Pulang dulu yuk! Dinginnya udah mulai menembus tulang." Ajak Intan.


"Ayo!" Balas Vera dan yang lain menyetujuinya.


"Asisten Riko! Kita akan kembali terlebih dahulu. Tolong bilang sama bos kamu." Ucap Tasya.


"Perasaan bosku, bosmu juga!" Balas Asisten Riko.

__ADS_1


Tasya tak menghiraukannya. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dengan bibir menyeringai dan pergi meninggalkan Asisten Riko sendiri.


__ADS_2