DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 72


__ADS_3

"Apakah ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Vera curiga.


"Tidak! Tidak ada!" Ucap Tasya berbohong.


"Kamu tak pandai berbohong Sya." Balas Anggi.


Tasya tidak tau harus mulai darimana untuk bercerita kepada Vera dan Intan tentang perasaannya terhadap CEO Frans.


"Entah sejak kapan aku bisa menyukai CEO Frans." Ucap Tasya ragu ragu.


"Apa? Bagaimana bisa kamu mencintai iblis itu? Dia itu buaya Sya." Ucap Vera terkejut mendengar ucapan Tasya.


"Aku tau! Tapi aku juga tidak bisa mencegah perasaan ini." Balas Tasya.


"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Vera khawatir.


"Hati aku sakit!" Jawab Tasya.


"Aku tidak akan membiarkan dia tenang kalau sampai dia menyakiti kamu." Ucap Vera mengancam.


***


Beberapa hari kemudian..


Hari ini, Perusahaan Start akan mengadakan pesta pameran produk baru mereka. Tasya dan Raka datang bersama untuk melihat persiapan pameran tersebut.


Didalam ruang pameran Tasya dan Raka berkeliling untuk mengecek semua persiapannya dan asyik mengobrol. Tak sengaja Asisten Riko lewat didepan pintu pameran dan melihat mereka berdua. Dengan muka penasaran apa yang asyik mereka bicarakan, Asisten Riko berhenti dan menguping pembicaraan mereka dan bersembunyi dibalik dinding luar perusahaan tersebut. Matanya terus melihat kearah mereka.


Karena tak ingin Tuannya kalah, Asisten Riko menelepon CEO Frans dan memberitahunya.


"Ada apa?" Tanya CEO Frans setelah mengangkat telepon.


"Tuan, cinta Anda telah dikhianati. Mungkin Anda tidak akan dapat kesempatan lagi merebut hatinya." Ucap Asisten Riko.


"Apa maksudmu?" Tanya CEO Frans.


"Nona Tasya dan Tuan Raka terlihat sangat mesra diruang pameran." Jawab Asisten Riko


Tanpa berkata apapun, CEO Frans mematikan panggilan dari Asisten Riko.


"Semoga semua berjalan lancar!" Ucap Raka tersenyum kearah Tasya.

__ADS_1


"Aku juga berharapnya begitu." Imbuh Tasya membalas senyum Raka.


"Butuh suatu bakat agar bisa sampai dititik ini." Ucap Raka melihat sekeliling.


"Dan kamu mempunyai bakat itu! Jadi berbahagialah." Balas Tasya tersenyum dan menepuk lengan Raka.


"Mari kita lihat di sana." Ucap Raka mengajak Tasya lanjut berkeliling.


"Baik!" Jawab Tasya berjalan di samping Raka.


Asisten Riko merasa khawatir karena kedekatan mereka bisa dengan mudah mempengaruhi CEO Frans.


"Mereka bersenang senang! Mereka saling menggoda!" Gumam Asisten Riko ketika melihat Raka membantu Tasya mengambilkan tasnya yang tak sengaja terjatuh. Kemudian Raka membantu Tasya memakai tas tersebut di bahu Tasya.


"Aku bisa sendiri!" Ucap Tasya dengan senyumannya ketika Raka memakaikan tasnya.


"Mereka saling bersentuhan! Aaaacchh Tuan Frans! Cintamu dikhianati! Tuan Frans! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Gumam Asisten Riko semakin khawatir tidak tenang.


Asisten Riko tetap fokus memperhatikan tingkah mereka. Tiba tiba CEO Frans masuk kedalam ruang pameran tanpa sepengetahuan Asisten Riko. CEO Frans masuk tanpa permisi, tanpa menghiraukan Asisten Riko dan dengan muka dinginnya. Asisten Riko terkejut dan fokus melihat kearah CEO Frans.


"Ayo Tuan Frans! Nyatakan cintamu sekarang juga! Rebutlah cintamu! Semangat." Gumam Asisten Riko untuk dirinya sendiri.


CEO Frans berjalan menghampiri Tasya dan Raka. Mereka berdua terkejut ketika melihat CEO Frans berjalan kearah mereka dengan mukanya yang dingin.


"Untuk melihat persiapan pameran Tuan!" Jawab Raka.


Dengan marah, CEO Frans meraih tangan tangan Tasya dan menariknya pergi.


"Tunggi sebentar!" Ucap Raka mencegah CEO Frans membawa Tasya pergi.


CEO Frans menghentikan langkahnya.


"Anda mau bawa Tasya kemana?" Tanya Raka.


CEO Frans berbalik kearah Raka.


"Dia asisten pribadi saya. Jadi terserah saya mau membawa dia kemana!" Jawab CEO Frans.


"Tetapi dia salah satu penanggung jawab atas pameran ini." Balas Raka tak terima Tasya dibawa pergi oleh CEO Frans.


"Kamu bisa mengatur semua ini sendiri tanpa Tasya." Ucap CEO Frans.

__ADS_1


Tasya hanya terdiam dan tak mengerti. Dia hanya menatap bingung CEO Frans dan Raka secara bergantian.


"Ikutlah denganku!" Ucap CEO Frans menarik tangan Tasya untuk keluar dari ruang pameran.


Raka tak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya diam menyaksikan Tasya dibawa CEO Frans pergi meninggalkannya. Begitu juga dengan Asisten Raka, yang hanya mematung menyaksikan kejadian tersebut. Pandangannya tak teralihkan. Dia tetap fokus kearah CEO Frans dan Tasya sampai mereka berdua berlalu tak terlihat.


CEO Frans berjalan tanpa henti dan membawa Tasya kesebuah ruangan pribadi. Langkah CEO Frans terhenti sesampainya di ruangan tersebut. CEO Frans membuka pintu dan menarik Tasya masuk kedalam ruangan. Dia menyuruh Tasya duduk disebuah sofa.


"Kamu tetaplah disini. Jangan kemana mana sebelum aku datang kesini." Ucap CEO Frans memegang kedua bahu Tasya.


"Bagaimana bisa? Aku harus bertanggung jawab atas persiapan pameran malam ini." Ucap Tasya.


"Biarkan saja mereka yang mengurusnya. Kamu tetaplah disini." Balas CEO Frans.


"Tidak! Aku harus pergi membantu mereka." Ucap Tasya menolak perintah CEO Frans dan berdiri hendak pergi.


"Sudah aku bilang, kamu tetaplah disini! Jangan kemana mana!" Ucap CEO Frans dengan nada sedikit kasar dan meraih tangan Tasya untuk menahannya agar tidak pergi.


Tasya terkejut mendengar bentakan CEO Frans. Dia hanya diam dan menatap tajam CEO Frans dengan mata berkaca kaca. Tasya tak menyangka akan mendapat teriakan kasar dari CEO Frans.


CEO Frans merasa bersalah karena sudah membentak Tasya. Dia tak tega melihat mata Tasya yang mulai berkaca kaca dan takut kepadanya.


CEO Frans menarik nafas dalam dalam agar emosinya lebih tenang dan memejamkan matanya. Setelah merasa lebih tenang, CEO Frans kembali membuka matanya. CEO Frans memegang kedua bahu Tasya.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Tolong kamu dengarkan aku sekali ini saja. Kamu tunggu aku disini dan jangan kemana mana." Ucap CEO Frans menurunkan nada bicaranya menjadi sedikit lembut.


Tasya menatanya sedih dan meneteskan air matanya. Dan tetap diam.


"Maafkan aku! Kamu jangan menangis! Tunggu aku disini. Nanti aku akan menjemputmu. Datanglah bersamaku ke pameran ini." Ucap CEO Frans lembut menghapus air mata di pipi Tasya dengan tangannya.


Tasya tetap diam dan merasa lebih tenang dengan perlakuan lembut CEO Frans.


"Dengarkan aku sekali ini saja!" Lanjut CEO Frans memohon.


Luluh dengan sikap lembut CEO Frans, Tasya hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Melihat Tasya akhirnya menurut, CEO Frans tersenyum.


"Kamu tunggu aku disini. Aku akan kembali." Ucap CEO Frans mengelus pipi Tasya.


Tasya hanya menganggukkan kepalanya untuk kedua kalinya. CEO Frans mencium kening Tasya dengan lembut sebelum meninggalkan Tasya sendiri di ruangan tersebut.


Tasya masih mematung menatap perginya CEO Frans sampai benar benar berlalu dari ruangan itu.

__ADS_1


Setelah CEO Frans tak terlihat, Tasya duduk dan bersantai. Meski merasa bosan, dia tetap menunggu CEO Frans menjemputnya.


Tasya melihat ada beberapa majalah di atas meja. Dia membuka satu persatu majalah tersebut dan membaca setiap halaman yang menurutnya menarik.


__ADS_2