DIANTARA BENCI DAN CINTA

DIANTARA BENCI DAN CINTA
Episode 90


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini?" Bisik Tasya ketika menerima bunga tersebut.


Tanpa menjawab, CEO Frans menarik tangan Tasya dan mengajaknya masuk kedalam mobil.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Tasya menatap CEO Frans setelah mereka berdua masuk kedalam mobil.


"Apakah salah kalau aku datang kesini menemui kekasihku?" Tanya CEO Frans menatap Tasya.


"Enggak ada yang salah. Tapi setidaknya kamu kasih tau aku dulu biar gak terjadi kerumunan seperti ini." Jawab Tasya sedikit kesal.


"Aku cuma ingin kasih kamu surprise!" Balas CEO Frans.


"Tapi jangan buat kerumunan seperti tadi." Ucap Tasya.


"Bukan salah aku dong! Mereka sendiri yang membuat kerumunan. Aku tidak memintanya." Ucap CEO Frans.


"Terserah kamu saja lah." Ucap Tasya memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


CEO Frans mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tasya. Dan mengarahkan wajahnya didepan Tasya. Tasya sempat terkejut dan tanpa sadar memejamkan matanya. Melihat tingkah Tasya, CEO Frans menatap wajah Tasya dan tersenyum dan membiarkan Tasya menutup matanya beberapa saat. Merasa sudah cukup lama memandangi Tasya, tangan CEO Frans kearah sabuk pengaman dan memakaikannya untuk Tasya. Setelah sabuk pengaman terpasang ditubuh Tasya, CEO Frans kembali ke kursi kemudi dan memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.


Sedikit demi sedikit Tasya membuka matanya dan melirik kearah CEO Frans. CEO Frans hanya diam menatapnya dengan tersenyum. Tasya merasa semakin malu dan kesal. Pipi Tasya mulai merona. CEO Frans semakin tersenyum menggodanya.


Karena malu dan kesal Tasya kembali berpaling dan menatap kearah kaca jendela. Karena merasa gemas, CEO Frans melepas kembali sabuk pengamannya dan mendaratkan ciuman ke pipi Tasya dan kembali memakai sabuk pengamannya. Tasya terkejut dan memukul lengan CEO Frans.


"Udah.. Udah.. Sakit! Ayo kita jalan." Ucap CEO Frans dengan tawanya dan mengerang kesakitan.


Tasya menghentikan pukulannya dan kembali ke posisi duduknya. CEO Frans mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengemudikannya.


"Kita makan dulu ya!" Ajak CEO Frans.


"Aku udah makan!" Jawab Tasya ketus.


"Tapi aku yang belum makan. Sudah jangan ngambek lagi." Ucap CEO Frans lembut menatap Tasya.


"Siapa yang ngambek?" Tanya Tasya menatap tajam kearah CEO Frans.


"Kamulah! Masak iya aku." Jawab CEO Frans.


"Aku nggak ngambek!" Balas Tasya.


"Lalu cemberut seperti sekarang ini apa kalau nggak ngambek?" Tanya CEO Frans heran.


"Cuma lagi kesel aja sama kamu." Jawab Tasya kesal.


"Itu sama aja ngambek kan?" Tanya CEO Frans lagi.

__ADS_1


"Bedaaa!" Jawab Tasya memalingkan wajahnya menatap kearah depan.


"Baiklah! Baiklah! Aku yang salah. Udah ya jangan ngambek lagi. Kita makan dulu ya!" Ucap CEO Frans lembut sambil mengusap usap rambut Tasya.


Tasya menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya pelan dengan menutup matanya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Tasya menatap CEO Frans.


"Apa ya? Kamu beneran nggak makan?" Tanya CEO Frans.


"Enggak!" Jawab Tasya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya CEO Frans lagi.


"Aku tadi udah makan sama Anggi." Jawab Tasya menatap CEO Frans.


"Ya udah! Kamu temani aku makan dulu ya." Ucap CEO Frans.


Tasya tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya. CEO Frans membalas senyum Tasya dengan mengusap usap rambut Tasya lagi.


CEO Frans kembali fokus menyetir mobilnya mencari restoran terdekat. Suasana hening karena saling diam.


"Kamu nggak kembali ke kantor?" Tanya Tasya menatap CEO Frans memecahkan keheningan.


"Kenapa? Memangnya kamu nggak sibuk? Bukannya mau ngerjain proyek baru?" Tanya Tasya penasaran.


"Iya sih!" Jawab CEO Frans.


"Lalu kenapa kamu disini kalau sibuk?" Tanya Tasya lagi.


"Karena kangen sama kamu." Jawab CEO Frans tersenyum.


Tasya memalingkan wajahnya kearah jendela mobil sampingnya untuk menyembunyikan senyumnya.


"Kenapa?" Tanya CEO Frans mengetahui Tasya menyembunyikan senyumnya.


"Enggak apa apa!" Jawab Tasya merubah ekspresi wajahnya dan menatap depan.


"Kalau sibuk kamu kembali saja ke kantor. Bukankah kantor butuh kamu?" Ucap Tasya.


"Semua sudah aku serahkan ke Riko untuk menangani semua proyek barunya." Jawab CEO Frans.


"Seorang CEO yang gila kerja, kenapa sekarang jadi sering keluar kantor?" Tanya Tasya menggoda CEO Frans.


"Kalau semua proyek aku yang tangani, lalu apa gunanya aku merekrut mereka untuk bekerja di kantorku?" Jawab CEO Frans.

__ADS_1


Mendengar jawaban CEO Frans, Tasya sedikit terkejut. Dia bertanya tanya kepada dirinya sendiri.


"Ada apa? Sepertinya kamu mempunyai sesuatu yang ingin kamu tanyakan ke aku?" Tanya CEO Frans melihat raut wajah Tasya yang termenung.


"Enggak! Memangnya aku mau tanya apa?" Jawab Tasya kembali bertanya


"Bagaimana aku tau. Coba katakan apa yang baru saja kamu pikirkan?" Balas CEO Frans.


"Memangnya aku memikirkan apa?" Tanya balik Tasya.


CEO Frans menepikan mobilnya dan menghentikannya. Tasya terkejut. CEO Frans membuka pengait sabuk pengamannya dan mengarahkan tubuhnya kearah Tasya.


"Ke.. Kenapa?" Tanya Tasya terbata bata menyandarkan kepalanya di pintu mobil.


"Katakan apa yang kamu pikirkan tadi." Jawab CEO Frans memaksa Tasya berterus terang.


"Aku tidak memikirkan apa apa." Jawab Tasya menggelengkan kepalanya.


CEO Frans semakin mendekatkan tubuhnya. Tasya hanya diam karena tak bisa bergerak lagi.


"Baiklah! Baiklah aku katakan." Ucap Tasya menyerah.


"Apa?" Tanya CEO Frans kembali ke posisi duduknya.


"Tadi aku berpikir bagaimana aku bisa meluluhkan hati seorang CEO dingin yang gila kerja. Dan sekarang menjadi bucin sama aku." Ucap Tasya lirih.


"Kalau itu tanyakan kepada diri kamu sendiri. Kamu makai sihir apa untuk meluluhkan aku? Aku sendiri bingung. Kamu tau kan pertama ketemu kamu aku sangat membencimu?" Ucap CEO Frans.


"Aku juga." Balas Tasya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil dan menatap kedepan.


"Juga apa?" Tanya CEO Frans mengeryitkan dahinya.


"Juga benci sama kamu. Kalau ingat cara kita bertemu pertama kali, aku selalu bertanya tanya kepada diri aku sendiri. Bagaimana bisa aku jatuh cinta sama orang yang ngeselin kaya kamu." Jawab Tasya.


"Hahahahaha! Kamu tau aku sangat membencimu? Tapi anehnya aku sekarang sangat mencintaimu." Balas CEO Frans dan ketawa sedikit keras.


Tasya menundukkan wajahnya dan tersipu malu mendengar CEO Frans berkata bahwa ia sangat mencintainya.


CEO Frans memegang dagu Tasya dan mengangkatnya. Dia mengarahkan wajahnya agar menatapnya. Tasya yang masih tersipu tak berani menatap CEO Frans.


Gemas melihat Tasya tersipu CEO Frans mencium kening Tasya dengan lembut. Tasya memejamkan matanya.


"Kita lanjut perjalanan dulu. Keburu petang. Aku belum makan siang." Ucap CEO Frans setelah melepaskan ciumannya.


Tasya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. CEO Frans kembali memasang pengait sabuk pengamannya dan kembali mengemudikan mobilnya sedikit cepat karena sudah merasa sangat lapar dan tak kuat lagi menahannya.

__ADS_1


__ADS_2