Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 14: Pembunuhan 20 tahun lalu


__ADS_3

Flashback On


Dua puluh tahun yang lalu saat itu kakek Nico yang bernama Bernat Alxander datang ke Indonesia untuk membuka cabang perusahaan. Saat berada di Indonesia ia diserang oleh sekelompok orang yang merupakan musuh besarnya yaitu kelompok mafia Yardies. Mafia Yardies adalah mafia terbesar kedua yang dipimpin oleh seorang pria bernama Andrew Zexander.


Terjadi pertarungan sengit antara Bernat dengan mafia Yardies yang sengaja mengikutinya ke Indonesia. Setelah beberapa menit bertarung anak buah Bernat satu persatu dikalahkan oleh anak buah Yardies. Ronad asisten Bernat tidak mampu melawan para anak buah Yardies.


Beruntung ada seorang pria yang menolong Bernat dan membantunya melawan para anak buah Yardies.  Pria itu adalah Bagaskara Wijaya. Bagaskara dan Ronad berhasil melenyapkan anak buah Yardies dan menolong Bernat. Ia membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota. Bagaskara wijaya adalah ayah Ariana yang saat itu berusia 20 tahun.


Bernat memutuskan untuk membawa Bagaskara dengannya ke London dan menjadi asisten William Alexander putranya yang saat itu berusia 18 tahun.


Bagaskara Wijaya atau biasa dipanggil Bagas merupakan anak yatim piatu. Ia tidak punya keluarga dan hidup di jalanan. Namun, ia memiliki kemampuan bela diri yang tidak bisa diragukan karena kemampuan itulah yang membuat Bernat Alexander membawanya sebagai asisten William.


............


Bernat kembali ke London dengan seorang pria yang ikut bersamanya. Ia membawa Bagaskara untuk menemui putranya.


“Kenalkan ini adalah Bagas, mulai saat ini dia akan menjadi asistenmu.” Ucap Bernat kepada William putranya. Bagaskara mengulurkan tangannya kepada William.


William menatap laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tajam.


“Aku tidak butuh asisten sepertinya, aku bisa mengurus dan melindungi diriku sendiri.” Jawab William dengan sinisnya.


“Saya akan bekerja dan melindungi Tuan dengan baik, saya akan mengorbankan nyawa saya untuk melindungi Tuan, saya tidak akan menghianati dan setia kepada Tuan.” Ucap Bagas dengan penuh semangat.


“Baik aku akan memberimu waktu, jangan berani menghianatiku atau aku akan melenyapkanmu.” Ucap William dengan tatapan tajam menatap Bagaskara.


Setelah beberapa bulan menjadi asisten dan orang kepercayaan keluarga Alexander. William menjadi sangat dekat dengan Bagaskara dan menganggapnya sebagai sahabat dan kuliah di kampus yang sama dengan William.


Sampai akhirnya Bernat Alexander ayah William meninggal dunia dan menyerahkan markasnya kepada William Alexander putranya yang sudah berusia 20 tahun dan ia meminta kepada Bagaskara agar menjaga ke dua putranya William dan Reynad Alexander yang merupakan adik dari William (paman Nico).


................


Ternyata Bagaskara dan Ronad sudah saling mengenal, keduanya merupakan mata-mata dari mafia Yardies. Ronad adalah adik dari Andrew Zexander ketua mafia Yardies sedangkan Bagaskara Wijaya adalah mata-mata yang dikirim oleh mafia Yardies. Rencana penyerangan yang dilakukan kepada ayah William adalah rencana yang sudah disusun oleh mafia Yardies. Rencana mereka berhasil dan membuat William mempercayai kedua penghianat tersebut.


Suatu malam Ronad berniat untuk membunuh William. Ia masuk dengan cara mengendap-ngendap ke dalam kamar William dengan membawa senjata api.  Namun, rencana itu gagal saat Reynad membuka pintu kamar William dengan tiba-tiba dan melihat Ronad memegang senjata api yang diarahkan tepat di kepala William yang saat Itu sedang tidur.


Ia kemudian memukul kepala Ronad dari arah belakang dan membuat pria itu pingsan. Reynad lalu membawa Ronad ke dalam markas untuk menyiksanya.


“Katakan kenapa kau melakukan hal ini, kau menghianati keluargaku dan berniat untuk membunuh kakakku, selama ini keluargaku sudah mempercayaimu tapi kau ternyata adalah seorang penghianat.” Ucap Reynad dengan penuh kemarahan.


“Hahahha, dari dulu aku memang ingin melenyapkan keluargamu, kau tahu Bernat Alexander ayahmu sudah berhasil aku lenyapkan, dan sekarang giliranmu dengan kakakmu itu, Cihhhh” Ronad meludahi wajah Reynad dan membuat laki-laki itu begitu marah. Pukulan mendarat di sekujur tubuhnya.


 “Kau pantas untuk mati.” Reynad lalu mengambil samurai dan menebas tubuh Ronad dengan  kepala yang terpisah dari tubuhnya. Tubuhnya sudah terbagi menjadi tiga bagian. Kirim kepala laki-laki ini kepada ketua mafia Yardies. Akhirnya Ronad sang asisten yang sudah menghianati keluarganya mati dengan tragis di tangannya.


“Aku akan melenyapkan keluarga Alexander yang sudah melenyapkan adikku dengan tragis, aku akan mencari dan melenyapkan mereka semua.” Andrew begitu merah setelah membuka isi kotak yang merupakan kepala dari adiknya Ronad yang telah tewas dengan sangat mengerikan.


Bagaskara yang mengetahui  tentang kematian Ronad mulai takut. Ia takut jika penyamarannya suatu saat akan terbongkar.  Ia masih beruntung karena rahasia yang disimpannya selama ini belum terbongkar. William yang mengetahui tentang Ronad yang menghianati keluarganya begitu marah dan ia memerintahkan Reynad adiknya untuk mengawasi setiap anak buah yang bekerja padanya. Ia tidak akan membiarkan pengkhianat untuk hidup.


 


Setelah Reynad mulai dewasa William memutuskan untuk menyerahkan markasnya dan perusahaan keluarga Alexander kepada adik satu-satunya yaitu Reynad Alexander. William memutuskan untuk mengembangkan  perusahaan peninggalannya ayahnya dengan membuka berbagai cabang di negara Asia. Ia memutuskan akan membuka cabang perusahaannya di Indonesia.


“Aku akan mempercayakan markas dan perusahaan ayah kepadamu, aku percaya kau sudah bisa mengurus semuanya.” Ucap William kepada Reynad.


“Aku akan menjaga markas dan perusahaan dengan baik, apa kau yakin akan berhenti dari dunia mafia?” Tanya Reynad.


“Aku akan membuka markas di Indonesia dan juga mengembangkan perusahaan di negara itu, aku akan menjadi mafia yang paling ditakuti di setiap negara, ini adalah impian ayah, aku akan mewujudkan impian itu.” Ucapnya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Setelah mantap dengan keputusannya, William dan Bagaskara asisten yang sangat dipercayainya memutuskan untuk berangkat ke Indonesia dan mengembangkan perusahaan ayahnya serta membuka markas baru di sana.


Setelah sampai ia membuka cabang perusahaan yang diberi nama Star Company ia bekerja sama dengan Bagaskara Wijaya untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Bagaskara Wijaya terkenal sangat cerdas dalam mengembangkan sebuah perusahaan sampai akhirnya perusahaan Star Company berkembang dengan cepat. Hingga William memberikan kepercayaan penuh kepada Bagaskara untuk menangani perusahaan itu.


William yang saat itu merupakan seorang CEO yang sangat terkenal di Asia karena perusahaan yang didirikannya merupakan perusahaan besar yang bergerak di bidang properti. Selama beberapa tahun tinggal di Indonesia akhirnya William memutuskan untuk menikah dengan Olivia Pratama seorang perempuan asli Indonesia yang bekerja sebagai sekretarisnya. Olivia adalah gadis yang sangat cantik yang mampu meluluhkan hati William yang saat itu sebagai bosnya. Mereka berdua saling mencintai hingga akhirnya mereka berdua menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Nico Alexander.


William memutuskan untuk meninggalkan dunia mafia dan fokus mengurus keluarga dan perusahaannya. Ia menetap di Indonesia. Sementara Bagaskara Wijaya yang bekerja sebagai asisten pribadinya juga menikah dengan seorang perempuan bernama Ellana.  Kehidupan Bagaskara tidak bisa tenang ia selalu mendapatkan ancaman dari mafia Yardies yang dipimpin oleh Andrew. Ia harus menyelesaikan misinya yaitu membunuh William Alexander. Namun, Bagaskara memutuskan untuk tidak melaksanakan misi yang diberikan oleh Mafia Yardies.


“Berani sekali kau menghianatiku, kau tahu aku tidak akan mengampuni seorang penghianat, aku akan melenyapkan istrimu dan juga anakmu jika kau tidak melakukan perintahku.” Ucap Andrew kepada Bagaskara.


“Saya mohon jangan lakukan itu Tuan, saya akan melakukan apa pun yang Tuan inginkan, jangan bunuh istri saya dia tidak tahu apa-apa Tuan.” Bagaskara memohon kepada Andrew.


“Kau tahu keluargaku sudah membantumu untuk tetap hidup, kau harus membayar hutang budi keluargaku, orang tuaku sudah mengambilmu dari jalanan dan kau mau menghianatiku, kau tahu aku sudah menganggapmu sebagai saudara, tapi ini balasanmu, kau harus menunjukkan kesetiaanmu kepadaku dan keluargaku.” Ucap Andrew dengan nada yang meninggi.


“Hancurkan perusahaan William dan lenyapkan dia, kalau perlu bunuh seluruh keluarganya, aku tidak ingin kau gagal, jika kau gagal melakukan yang aku perintahkan maka aku akan membunuhmu, istrimu, dan anakmu, kau paham. Ucapnya lagi.


“Saya akan melakukan apa yang Tuan inginkan tapi jangan sakiti istri dan anak saya Tuan,  saya mohon biarkan istri saya tetap hidup dan Tuan bisa membunuh saya jika saya gagal melakukan apa yang Tuan perintahkan.” Bagaskara kembali memohon kepada Andrew.


 


Hingga akhirnya Bagaskara melakukan apa yang di perintahkan oleh Andrew. Ia menghancurkan perusahaan Star Company dengan menggelapkan dana perusahaan tersebut. Hingga suatu hari William mengetahui tentang penggelapan uang perusahaan yang dilakukan oleh Bagaskara dan ia mengajak asistennya itu untuk bertemu dan membahas masalah penggelapan dana perusahaan yang dilakukannya. William tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Bagaskara orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara dan juga Sahabat yang sangat dipercayainya tega menghianatinya.  


“Apa yang sudah kau lakukan?, berani sekali kau menghianatiku, Kau bahkan sudah menggelapkan dana perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit, katakan siapa yang sudah menyuruhmu, apa selama ini kau adalah seorang mata-mata.” Tanya William dengan tatapan tajam kepada Bagaskara asistennya sekaligus sahabatnya.


Plaaakkk... tamparan mendarat di pipi laki-laki itu.


“Maafkan saya Tuan, saya terpaksa melakukan ini Tuan.” Lirih Bagaskara.


“Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah aku akan membuatmu berada di dalam penjara.”


William memerintahkan anak buahnya untuk membawa Bagaskara ke kantor polisi atas penggelapan dana perusahaan.


Anak buah William membawa Bagaskara dengan menggunakan mobil hitam menuju kantor polisi. Namun, di tengah perjalanan mobil  anak buah William dihadang oleh beberapa mobil hitam yang merupakan anak buah Andrew. Anak buah Andrew berhasil melumpuhkan anak buah William dan membebaskan Bagaskara. Kemudian Bagaskara di bawah masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan tempat tersebut.


“Sial beraninya dia kabur, penghianat itu tidak akan aku lepaskan, aku menyesal sudah membiarkannya hidup, seharusnya aku melenyapkannya dengan tanganku sendiri.” Ia melemparkan barang-barang yang ada di atas meja. Kemarahan terlihat di wajahnya. Ia memanggil menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Bagaskara.


“Cari laki-laki penghianat itu, kalau perlu kalian lenyapkan saja laki-laki itu, dasar penghianat aku tidak akan mengampunimu.” Perintah William kepada Anak buahnya.


“Baik Tuan.” Anak buah tersebut menjawab serempak.


Para anak buah tersebut keluar dari ruangan William untuk mencari Bagaskara.


..............


Malam ini William memutuskan untuk pulang lebih awal  ke mansionnya untuk bertemu anak dan Istrinya. Malam ini adalah malam yang sangat spesial untuk William dan Olivia Alexander. Malam ini adalah malam Aniversary pernikahan mereka yang ke sepuluh tahun. Ia ingin mengajak Istri dan anaknya untuk merayakan malam spesial bagi keluarga kecil itu yang sangat bahagia.


Mereka memutuskan untuk pergi ke suatu restoran ternama di kota itu dengan mengendarai mobil mewah milik Willia ia berangkat bersama istri dan anaknya. Ditemani dengan beberapa anak buah yang mengikuti mobil mereka dari belakang. Namun, di tengah jalan yang sunyi beberapa mobil hitam tiba-tiba menghadang mobil yang dikendarai oleh William. Beberapa orang keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Bagaskara Wijaya mantan asistennya dan Andrew Zexander bos besar mafia Yardies. Anak buah kedua mafia tersebut saling bertarung.


Andrew menyeret Olivia ibu Nico keluar dari mobil dan menembak tepat di jantung wanita itu dan membuatnya tewas seketika. Nico yang melihat ibunya yang tewas begitu takut dan ia menjerit dan keluar dari mobil untuk melihat kondisi ibunya.


“Ibu.. ibu bangun, Nico mohon bangun bu, paman jahat kenapa paman melenyapkan ibuku?, Nico kecil mulai menangis.


William yang masih sibuk melawan para anak buah Yardies langsung menghampiri Nico dan melihat istrinya yang sudah tewas mengerikan.


“Kau sudah membunuh istriku, aku tidak akan memaafkanmu, kau adalah penghianat.” Ia menatap Bagaskara yang memegang senjata dan mengarahkan tepat di hadapannya.


“Tembak laki-laki itu.” Perintah Andrew kepada Bagaskara. Namun, Bagaskara tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh bosnya itu.

__ADS_1


Akhirnya Andrew melepaskan tembakan tepat mengenai jantung William dan membuatnya tewas seketika. Nico hanya bisa melihat ke dua orang tuanya yang tewas mengerikan di depan matanya. Ia menjerit dan semakin menangis.


“Tembak anak itu.” Perintah Andrew lagi kepada Bagaskara. Laki-laki itu kembali terdiam. Ia tidak bisa membunuh anak kecil yang tidak berdosa.


Andrew akhirnya mengarahkan senjata tepat di jantung Nico dan Dorrr.... tembakan itu meleset ke udara. Bagaskara memukul Andrew dari arah belakan dan membuat laki-laki itu pingsan.


Bagaskara segera membawa Nico dengan paksa. Nico kecil berusaha memberontak.


“Lepaskan, Lepaskan aku, paman jahat, paman sudah membunuh orang tuaku, ibu ayah bangun.” Lirih Nico dengan suara yang sangat lemah. Ia lalu tidak sadarkan diri dan Bagaskara membawa Nico ke suatu tempat.


Bagaskara kemudian meninggalkan Nico kecil yang menurutnya sudah aman. Ia membawa Nico ke panti asuhan. Nico mengalami depresi akibat trauma peristiwa pembunuhan orang tuanya di depan matanya sendiri.


Sementara itu Bagskara  pergi jauh meninggalkan kota itu dengan membawa anak dan istrinya. Ariana yang berusia 3 tahun saat itu.


.......


Reynad yang mengetahui tentang kematian kakaknya dan istrinya. Ia memutuskan untuk segera ke Indonesia untuk mengurus jenazah kakak dan istrinya. Ia juga mencari keberadaan Nico Alexander keponakannya. Ia tidak akan membiarkan pembunuh kakaknya untuk hidup. Ia akan mencari keberadaan orang yang sudah  menghianati dan membunuh kakaknya. Sampai akhirnya ia mengetahui tentang keberadaan Nico di sebuah panti asuhan. Ia segera menemui Nico kecil yang mengalami depresi. Anak itu menjadi begitu pendiam. Reynad memutuskan untuk membawa Nico ke London bersamanya. Ia akan merawat dan melindungi keponakannya itu.


.........


Bagaskara Wijaya memutuskan untuk meninggalkan dunia mafia. Ia hidup sederhana di sebuah desa yang jaraknya begitu jauh dari ibu kota. Ia ingin melindungi istri dan anaknya dari Andrew laki-laki kejam yang siap membunuhnya kapan saja.


“Dasar penghianat, Dia sudah menghianati dengan menolong anak William Alexander, aku tidak akan memberinya ampun, dasar penghianat.” Tangan Andrew mengepal dengan penuh kemarahan.


Flashback Off


“Orang yang sudah membunuh orang tuamu adalah Andrew Zexander, dia adalah pemimpin mafia Yardies, kau harus mencarinya dan membalaskan dendam kepada orang yang sudah menghianati keluarga kita.” Ucap Raynad kepada Nico.


“Aku tidak akan membiarkan mereka hidup.” Nico mengepal tangan menahan dendam yang bergemuruh di hatinya.


Tiba-tiba ponsel Nico berdering ia lalu mengangkat panggilan tersebut.


“Tuan sebaiknya tuan segera kembali ke Indonesia, perusahaan kita mengalami masalah.” Ucap suara di seberang telefon.


“Baik aku akan kembali malam ini.” Nico segera menutup sambungan telefon tersebut.


Ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama paman Raynad dengan mengendarai jet pribadi miliknya. Nico tidak ingin meninggalkan pamannya ia tidak ingin pamannya itu diculik lagi oleh mafia Yardies. Nico akan kembali ke London untuk melenyapkan Andrew Zexander yang saat ini tengah menghilang. Reynad menyerahkan markasnya kepada Diego yang merupakan tangan kanan kelurga Alexander.


Bersambung...


Like, Vote dan Komentar


 


Tinggalkan jejak yah.


 


Happy Readers


🙏🙏


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2