
Waktu bergulir begitu cepat. Hari yang dinantikan oleh pasangan yang tengah di mabuk cinta itu akhirnya tiba. Anggita Azena yang kerap di sapa Zena tengah dirias dengan begitu cantik. Begitu juga dengan para keluarga semua sudah berkumpul. Pesta pernikahan yang akan diadakan di salah satu hotel berbintang.
Para tamu berdecak kagum dengan desain interior pesta yang terkesan mewah dan elegant. Semua terlihat bahagai dan begitu antusias dengan pesta pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung.
Rea dan Ana sudah berada di ruangan rias. Mereka menemani dan menunggu dokter Zena selesai dirias. Walau perut Ana semakin membuncit. Ia terlihat begitu bersemangat membantu persiapan pernikahan adik iparnya itu.
"Adikku ini terlihat sangat cantik." Puji dokter Zera yang tengah menatap takjub adiknya itu.
"Terima kasih kakak."
"Hemmm."
"Jadilah istri yang baik untuk suamimu! apa pun yang terjadi nanti kalian harus tetap bersama dan menghadapinya bersama, berumah tangga itu tidak selalu berjalan dengan lancar kadang ada kerikil tajam dalam setiap hubungan, kakak yakin kau sudah dewasa dan bijak dalam menyelesaikan masalah yang terjadi nanti." Nasehat dokter Zena kepada adiknya.
"Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi suamiku kelak, terima kasih kak sudah menjagaku dan menjadi ibu sekaligus ayah untukku, aku sangat menyangangi kakak."
"Sudahlah! jangan sedih, kau harus bahagia ini hari yang spesial untukmu, kakak tidak ingin melihatmu bersedih."
Mereka saling berpelukan dengan erat. "Sekarang tersenyumlah!" Perintah Zera kepada adiknya itu.
"Tante cantik sekali, apa tante akan menikah? aku juga akan menikah nanti setelah dewasa." Ucap Denis putra dari dokter Zera berusia 8 tahun itu yang telihat menggemaskan dan juga tampan.
"Kau juga akan menikah nanti sayang, kau harus besar dulu yah baru boleh menikah.. hemmm." Ucap Ana lembut membelai rambut Denis kecil.
"Sekarang pergilah bermain dengan adikmu yah!" Perintah Ana kepada Denis kecil.
"Baik tante." Ucap Denis.
"Sekarang Denis ikutlah dengan tante yah!" Ucap Rea menggendong Deniz dan mengajaknya keluar dari ruang rias.
*******
__ADS_1
Sementara di ruangan yang berbeda. Aldwin juga tengah bersiap. Ia sudah rapi dengan Jaz berwarna Gold senada dengan gaun yang digunakan oleh calon istrinya. Perasaan gugup menghinggapi hatinya. "Aku benar-benar gugup." Ucap Aldwin.
Huuufffh.
Ia menghembuskan nafasnya dengan berat.
Aldo yang membantunya hanya bisa tersenyum karena Ia pun pernah mengalami perasaan yang sama dengan Aldwin. Aldo hanya bisa memberi nasehat dan menenangkan sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Tenanglah! Jangan cemas semua akan berjalan dengan lancar." Ucap Aldo sambil menepuk pundak Aldwin.
Sementara itu, seseorang yang tengah duduk di sofa dengan kaki bersilang hanya bisa menatap tajam dua orang yang ada di depannya itu. Hatinya di penuhi perasaan iri dan tidak bisa menerima bahwa dua pria itu merasakan perasaan bahagia dan juga gugup di saat yang bersamaan. Berbeda dengannya yang tidak bisa merasakan apapun saat pesta pernikahannya. Karena pernikahan yang tiba-tiba dan terpaksa membuatnya tidak bisa mempersiapkan pesta yang megah yang akan membuat semua orang iri dengannya. pernikahannya dulu harus Ia rahasiakan dari semua orang dan itu membuat hatinya terusik. Siapa lagi kalau bukan Nico Alexander. Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu masih saja merasa iri dengan Aldo dan juga Aldwin.
Cihh....
Ia hanya bisa berdecih dan menghela nafasnya dengan kasar. "Cepatlah! kau sudah seperti wanita saja, Apa kau akan terus menatap dirimu di depan cermin itu?" Tanya Nico dengan raut wajah tidak sabaran dan terlihat kesal.
Aldo dan Aldwin yang melihat Nico tengah kesal hanya bisa tersenyum dan menggodanya.
"Kurang aja kau yah!"
"Hahahahha." Aldo semakin tertawa saat Nico melemparnya dengan bantal sofa. Untung Ia sigap menankapnya. "Kau mau aku kirim ke Benua antartika hah."
"Maafkan aku tuan Alexander, kau selalu saja kesal saat melihat orang lain menikah."
Pheefffttt....
Aldwin hanya bisa menahan tawanya. Ia tidak ingin membuat kakak iparnya yang sedang iri tingakt dewa iti semakin kesal dan Ia memilih diam saja sambil memperbaiki penampilanny agar terlihat sempurna nanti.
"Cepat bersiap atau kau akan meraskan akibatnya karena membuatku menunggu." Perintah Nico kepada Aldwin dengan sedikit mengancam membuat Aldwin hanya bisa menghela nafasnya.
"Kau bahkan lebih beruntung dari kami berdua, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah." Puji Aldo. Ia tidak ingin Nico kesal sepanjang acara berlangsung.
__ADS_1
Aldwin hanya bisa tersenyum tipis Melihat tingkah dua pria di depannya itu. Ia sedang berusaha menghilangkan perasaan gugupnya dengan menarik nafas dalam-dalam dan sesekali menghembuskannya pelan.
"Aku memang selalu beruntung dan menang dari kalian berdua haha.." Nico tengah membanggakan dirinya sendiri dan merasa lebih unggul dari dua pria yang ada di depannya itu.
Kekesalannya yang tadi memuncak lenyap begitu saja saat Ia bisa menemukan fakta bahwa dirinyalah yang paling beruntung diantara dua orang yang di depannya itu.
"Selalu saja suka jika seseorang memujinya, dasar tuan Nico yang tidak mau mengalah dan selalu ingin menang." Batin Aldwin.
Acara yang dinantikan akhirnya tiba.. Para orang tua dan juga tamu sudah berkumpul di Aula pernikahan. Mereka sedang menunggu dua manusia yang akan mengucapkan janji suci pernikahan.
Tak berselang lama, Aldwin dengan di temani oleh Nico, Aldo dan juga Zein (Suami dari dokter Zera) berjalan di belakang Aldwin menuju Aula pernikahan. Semua mata menatap takjub ke arah mereka. Empat pria super tampan yang menghipnotis mata semua tamu wanita yang ada di sana. Mereka hanya bisa mengangumi dan merasa iri dengan wanita yang bisa menjadi istri pria tampan seperti mereka.
"Andai aku yang menjadi istri salah satu dari pria tampan itu, Aku pasti sangat beruntung." Guman salah satu tamu wanita yang ada di sana.
"Jangan bermimpi."
Aldo yang sudah berada di aula pernikahan menunggu wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Jantungnya berdegub kencang. Matanya menatap lekat wanita yang memakai gaun pengantin bak putri dari negeri dongeng itu. Tatapan Aldo sungguh begitu terpesona dengan penampilan Dokter Zena yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin membalut tubuhnya. Semua tamu yang ada di sana terlihat terpesona dengan kecantikan empat wanita yang juga sedang berjalan menuju tempat acara. Ana, Rea dan Dokter Zera berhasil membuat tamu laki-laki yang ada di sana menatap dengan tatapan takjub dan mengangumi kecantikan mereka.
Dan itu membuat tiga pria yang juga menatap ke arah mereka terlihat kesal dan tidak suka karena wanita mereka ditatap oleh pria lain. Mereka sedang cemburu.
"Aku akan menghukummu nanti, kau sudah menggoda laki-laki lain." Bisik Nico di telinga istrinya.
"Aissshhh... Menyebalkan sekali, aku kan tidak menggodanya siapa pun." Gumam Ana.
"Kau harus aku hukum di ranjang malam ini." Bisik Aldo di telinga Rea istrinya itu.
"Aisshhhh.... Dasar mesum." Guman Rea denga tersenyum ke arah Suaminya itu.
"Aku sangat merindukannmu." Ucap Aldwin yang sudah menahan rindu dengan kekasihnya itu selama beberapa hari karena Ia dilarang menemui dokter Zena sampai hari pernikahan tiba.
Dengan satu kali tarikan nafas Aldwin telah Resmi menjadi suami dari wanita cantik yang duduk di sampingnya. Dokter Zena kini resmi meyandang status sebagai seorang istri dari Aldwin Zexander. Aldwin tidak pernah menyangka akan menikah dan menemukan tambatan hatinya tempatnya untuk pulang dan menghabiskan sisa umurnya bersama dengan istrinya kelak.
__ADS_1
Para orang tua bergantian mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Ana, Rea dan Dokter Zena merasa begitu bahagia akhirnya adiknya itu menemukan laki-laki yang Ia cintai. Begitu juga dengan Aldo, Nico dan Zein merasa bahagai. Merka semua mengucapka seoamat kepada Aldwi dan juga dokter Zena yang baru saja rersmi menjadi pasangan suami istri.