
Pagi hari yang cerah di kota London. Rea hari ini memutuskan untuk mencari Ariana. Kebetulan hari ini ia mendapat jatah shift malam. Ia punya kesempatan seharian penuh mencari keberadaan Ariana.
Ia memutuskan untuk mencari Ariana di apartemennya. Ia berharap Ariana ada di sana. Namun saat ia pergi ke apartemen Ana tidak ada tanda-tanda orang di apartemen tersebut.
Berkali-kali Rea menghubungi ponsel Ariana namun ponselnya tidak aktif. Sejak kematian Andrew dan Aldwin yang menghilang Rea tidak bisa menghubungi Ariana. Ia begitu khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan sahabatnya itu.
“Hufffff.” Rea membuang nafasnya dengan kasar.
Ia bingung harus mencari Ariana di mana. Tiba-tiba ia teringat dengan dokter Bryan yang merupakan sahabat dari Aldwin sekaligus kepala rumah sakit tempat Ana bekerja.
Rea segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju rumah sakit tempat Ariana bekerja. Ia ingin menghubungi Bryan tapi Rea tidak memiliki nomor ponsel dokter itu.
Dan sampailah Rea di depan rumah sakit ia segera masuk dan mencari ruangan Bryan.
“Excuse me nurse, I want to see hospital head, is he in his room?” Ucap Rea kepada seorang suster.
(Permisi suster, saya ingin menemui kepala rumah sakit ini, apakah dia ada di ruangannya?)
“Yes. Please come with me, I'll take you to the chief's office of this hospital.” Rea dan suster tersebut menuju ruangan dokter Bryan.
(Ya, silahkan ikut dengan saya, saya akan mengantar anda ke ruangan kepala rumah sakit ini).
Ceklek
Pintu ruangan dokter Bryan terbuka dan masuklah Rea ditemani dengan suster yang mengantarnya tadi.
“Excuse me doctor, this woman is looking for you a doctor.”
(Permisi dokter, wanita ini mencari anda dokter)
Suster itu pergi meninggalkan Rea dan dokter Bryan.
“Silakan duduk.” Ucap Bryan mempersilahkan Rea untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
“Maaf mengganggu waktu anda dokter.”
“Perkenalkan saya adalah Rea sahabat dari dokter Velin, apa dokter Velin masih bekerja di rumah sakit ini?” Tanya Rea.
“Hufffffff.” Dokter Bryan membuang nafasnya dengan kasar. Raut wajah cemas terlihat jelas di wajahnya.
“Ada apa dokter? Apa yang terjadi kepada dokter Velin?” Tanya Rea lagi ketika melihat raut cemas di wajah dokter Bryan.
“Ayo ikutlah denganku! Aku akan menunjukkan sesuatu.”
Rea mengikuti langkah kaki dokter Bryan menuju ruangan VVIP nomor 30. Dan di sinilah Rea berdiri di depan ruangan tempat Ariana dirawat. Terlihat 2 orang berpakaian serba hitam berdiri di depan ruangan itu.
Rea terlihat bingung kenapa tiba-tiba dokter Bryan mengajaknya ke ruangan itu pikirnya.
“Maaf kami tidak bisa membiarkan anda masuk nona, kecuali dokter yang akan memeriksa kondisi pasien, ini perintah dari tuan Nico.” Ucap salah satu pengawal yang berdiri mengawasi ruangan Ariana.
“Biarkan dia masuk, dia adalah salah satu dokter yang akan memeriksa kondisi pasien.” Ucap Bryan.
Rea semakin terlihat bingung.
Ceklekkkk...
Pintu ruangan tempat Ariana dirawat terbuka.
Degggg....
Jantung Rea berpacu kencang saat ia melihat seseorang terbaring lemah dengan alat-alat medis menancap di tubuhnya.
“Tidak mungkin itu Ariana.” Batinnya.
__ADS_1
Ia mendekati orang yang terbaring di ranjang rumah sakit itu dan....
Bola matanya membulat sempurna saat melihat dengan jelas wajah orang yang terbaring koma tersebut.
“An-Ana, ap-apa yang terjadi dok? Kenapa Ana bisa seperti ini dokter?” Rea bertanya kepada Bryan dengan terbata.
“Pasien terkena tembakan dan hampir saja ia kehilangan nyawanya. Beruntung ia masih bisa tertolong walau kondisinya saat ini sedang koma.” Ucap dokter Bryan dengan wajah sedih memandang wajah pucat Ariana.
“Ini semua karena Nico laki-laki kejam yang sudah membuat Ana menderita, aku tidak akan memaafkanmu Nico.” Tangan Rea mengepal dengan wajah yang terlihat begitu sedih.
Rea tahu semua ini karena perbuatan Nico. Ia tahu semua masalah yang sedang terjadi kepada Ariana dan juga Aldwin.
Rea duduk di samping ranjang Ariana dan menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
“Bertahanlah Ana, aku yakin kau pasti akan sadar kembali, aku akan selalu ada di sampingmu, maafkan aku tidak bisa menolongmu dari laki-laki jahat itu.” Tanpa terasa bulir bening berhasil lolos dari ke dua bola mata Rea.
Perasaan sedih begitu dalam ia rasakan ketika melihat sahabatnya dan juga orang yang dicintainya Aldwin mengalami peristiwa yang begitu buruk.
“Sebaiknya anda tetap di sini dan menjaga pasien, saya permisi masih bayak pasien yang menunggu saya.” Ucap dokter Bryan dan ia segera pergi meninggalkan dua orang sahabat itu.
Tak berapa lama kemudian, Nico dan Aldo juga memasuki ruangan Ariana.
Nico dan Aldo terkejut melihat seseorang sedang duduk di samping Ariana dan menggenggam erat tangannya.
“Siapa kau dan apa yang kalau lakukan di ruangan nona Ariana?” Tanya Aldo.
Rea yang terkejut dengan sumber suara segera menoleh dan melihat Nico dan asistennya berdiri disampangnya.
“Seharusnya aku yang bertanya mau apa Anda ke ruangan Ariana, jangan mengganggunya lagi, ini semua karena anda, Ana harus menderita seperti ini.” Ucap Rea dengan emosi yang ia tahan sejak dulu.
Rea tidak takut sama sekali dengan ancaman Aldo. Ia mendekati Nico dan ingin melampiaskan semua kekesalannya kepada Nico.
“Sebaiknya Anda pergi dan jangan lagi menemui Ariana, saya akan menjaganya mulai saat ini.” Ujar Rea.
“Apa hakmu untuk menyuruhku pergi, kau tahu siapa aku HAH.” Bentak Nico dengan geramnya.
“Bawa wanita ini keluar dan jangan biarkan wanita ini masuk ke dalam ruangan ini lagi, aku tidak peduli kau sahabat Ana atau bukan, kau sudah berani menghinaku.” Perinta Nico kepada asistennya.
Aldo meraih lengan Rea dengan menggenggamnya dengan erat. Membawa paksa Rea keluar dari ruangan tempat Ariana dirawat.
“Jangan biarkan wanita ini masuk ke ruangan nona Ana lagi.” Perintah Nico kepada anak buah yang berjaga di luar ruangan Ana.
“Baik tuan.”
Aldo membawa Rea dengan paksa ke luar dari rumah sakit tersebut.
“Lepaskan! Jangan menyentuhku.” Sungut Rea
“Sebaiknya nona segera pergi dari rumah sakit ini, nona tahu siapa tuan Nico. Jangan berani membuat tuan kami marah.” Ancam Aldo.
“Aku tidak peduli kau dan tuanmu itu marah atau tidak, seharusnya tuanmu itu tidak mengganggu Ana lagi. Aku yakin Ana juga sangat membenci tuanmu itu, ini semua karena tuanmu yang kejam itu Ana harus menderita, kalian hampir saja membunuh Ana, apa kau puas HAH.” Bentak Rea dengan raut wajah kesal. Ia tidak takut dengan laki-laki yang ada di depannya saat ini.
“Huffffff.” Aldo menghela nafasnya.
“Beraninya kau menghina tuan kami, Kau mau cari mati HAH.” Bentak Aldo juga tak mau kalah.
“Arggggggghhhhhh.” Teriak Aldo ketika kaki Rea menginjak kaki Aldo membuat laki-laki itu meringis kesakitan dengan ujung sepatu higheels mengenai kakinya.
__ADS_1
“Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu.” Rea segera masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan Aldo yang terlihat masih begitu kesal dengannya.
“Sialll, beraninya wanita itu menginjak kakiku, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.” Aldo menatap mobil Rea dengan tatapan tajam.
Aldo segera masuk ke dalam rumah sakit. Ia menuju ruangan tempat Ana dirawat.
“Apa wanita itu sudah pergi.” Tanya Nico.
“Wanita itu sudah pergi tuan, saya sudah mengusirnya dan memastikan wanita itu tidak akan masuk ke dalam ruangan nona Ana.” Jawab Aldo.
“Siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Ariana.” Tanyanya lagi.
Nico terlihat menggenggam tangan Ariana.
“Wanita itu sepertinya sahabat nona Ariana.”
“Aku ingin kau menyelidiki wanita itu, apa di benar-benar baik, kalau wanita itu benar-benar berteman baik dengan Ana biarkan dia menemui Ana di rumah sakit, aku yakin wanita itu bisa membantu Ana sadar dari koma.”
“Baik tuan.”
Sementara itu, Rea masih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Apa yang harus aku lakukan? aku tidak akan membiarkan Nico menyakitimu lagi Ana, aku akan membantumu lepas dari laki-laki jahat seperti Nico.” Gumam Rea.
Di ruangan perawatan Ariana.
Nico masih setia menjaga Ana berharap wanita itu segera sadar.
Sudah 2 minggu berlalu dan belum ada tanda Ariana akan sadar.
Ariana masih berada di alam mimpinya. Mimpi yang membuatnya tidak ingin membuka matanya. Ia merasa berada di suatu tempat yang begitu indah dengan taman bunga dan kupu-kupu yang terbang mengelilinginya. Ana terlihat berkeliling di taman bunga itu. Dan tak lama kemudian sosok cahaya putih menghampirinya.
“Sudah saatnya kau kembali Nak, kau akan segera merasakan kebahagiaan Nak, ibumu sudah begitu merindukanmu. Ayah ingin melihatmu bahagia, maafkanlah orang-orang yang pernah menyakitimu, beri mereka kesempatan, ayah yakin kau akan hidup bahagia. Ayah begitu menyayangimu Nak.” Terlihat sosok Bagaskara dengan wajah bercahaya dan memakai pakaian serba putih menghampiri Ariana yang tengah berdiri di taman bunga itu.
Ana memeluk sosok ayahnya yang berada di depannya. Bagaskara mengusap lembut rambut putrinya.
“Aku begitu merindukan Ayah, biarkan aku ikut dengan ayah, aku lelah ayah, mereka semua membenciku dan membuat hidupku begitu menderita. Hikkssss......” Tangis Ana pecah di pelukan ayahnya.
“Kembalilah Nak, ayah menyayangimu, Ayah tidak bisa membawamu ikut dengan ayah. Duniamu dan ayah berbeda. Kembalilah dan hiduplah dengan bahagia, ayah selalu merindukanmu dan selalu mendoakanmu dengan ibumu agar kau hidup bahagia Nak. Sudah saatnya ayah pergi.” Bayangan Bagaskara semakin menghilang dari pandangan Ariana.
“Tidak, ayah...” Teriak Ana.
“Hikkkksssss.” Bayangan ayahnya menghilang.
Air mata Ana mengalir dan tangannya tiba-tiba bergerak secara perlahan. Nico yang menggenggam tangan Ariana merasa pergerakan kecil dari tangan Ana.
Nico segera memencet tombol hijau yang ada di samping tempat tidur Ana untuk memanggil dokter Bryan.
Bersaambung....
Like, Vote dan Komentar.
🙏🙏
__ADS_1