
Tiga Bulan Berlalu
Seorang wanita cantik masih terlihat tidur terlelap dengan damai di atas tempat tidur. Wajahnya pucat dengan tubuh yang kurus. Di sisinya seorang laki-laki sedang duduk dan terus saja menatap wajah wanita itu. Selama tiga bulan ini Ia terus saja menunggu dengan sabar dan Ia percaya bahwa wanita yang dicintainya itu akan segera bangun.
"Bangunlah sayang.. apa kau tidak ingin melihat suamimu ini? aku sangat merindukanmu dan juga bayi kita sangat membutuhkanmu. Apa kau tidak ingin berkumpul bersamaku dan juga anak kita.?" Lirih Nico yang saat ini tengah menggenggam tangan istrinya yang masih saja memejamkan mata.
Sejak Ana melahirkan, Ia masih koma sampai saat ini. Nico lah yang mengurus bayinya bersama dengan keluarganya yang sangat menyayanginya dan juga putranya itu. Beruntung Ia memiliki keluarga seperti keluarga Aldo dan Rea yang begitu tulus menyayangi Ana. Mereka bergantian menjaga Ana saat Nico sedang sibuk mengurus putranya. Ia membantu menjaga dan merawat bayinya.
"Kapan istriku akan bangun dok?." Tanya Nico kepada dokter yang memeriksa istrinya.
"Maafkan kami tuan, kami tidak tahu kapan istri Anda akan bangun, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar istri Anda tetap hidup." Ucap dokter pribadi Nico dengan perasaan sedikit takut menyampaikan kenyataan tentang kondisi Ana.
Huuuuufffffff.....
Nico menghela nafasnya dengan berat. kenyataan mengenai kondisi istrinya membuat hatinya sakit dadanya terasa sesak. Ia sangat mencintai Ana dan wanita itu sedang terbaring lemah membuat separuh nyawanya terasa hilang dan Ia merasa dunianya hampa tanpa istrinya disisinya.
Ia hanya bisa menatap nanar ke arah istrinya yang masih saja memejamkan matanya seolah Ia sedang tertidur dengan sangat lelap. Nico menatap Istrinya dengan air mata yang tak terasa terjatuh mengenai jemari istrinya. Perasaannya hancur melihat wanita yang dicintainya tidak bisa lagi berada disisinya. mengurus segala kebutuhannya. Ia merindukan sosok Ana yang selalu lemah lembut menghadapi sikapnya yang pemarah.
"Aku akan menunggumu bangun dan aku yakin kau akan bangun sayang..." Nico mengusap kepala Ana dengan penuh cinta. Ia juga membelai pipi Ana yang terlihat tirus.
"Apa kau tau sayang... Bayi kita sangat lucu dan menggemaskan? dia begitu mirip denganmu, Aku memberinya nama sesuai dengan keinginanmu. Aidan Alexander nama yang indah bukan, putra kita sangat merindukanmu, kau tidak ingin bangun dan memeluknya." Lirih Nico dengan suara parau.
Cup... Cup...
Ia mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. Ia tidak akan menyerah dan terus menunggu sampai wanita yang Ia cintai membuka mata dan berkumpul bersamanya dan juga putranya.
Aidan Alexander nama yang Ana pilih untuk putranya. Ana yang begitu antusias dan begitu bahagia mengetahui bahwa bayinya berjenis kelamin lelaki memilih nama untuk putranya itu. Ia berharap Aidan Alexander akan tumbuh menjadi anak yang baik, berani dan penuh belas kasih.
"Aku akan membawa bayi kita lagi, saat ini bayi kita sedang bersama Rea dan Aldo, kau tenang saja bayi kita tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu, mereka menjadi orang tua untuk bayi kita sayang, Rea menggantikan mu menjaga putra kita, Ia begitu menyayangi Aidan, apa kau tidak merindukan sahabatmu?." Ucap Nico lagi sambil menggenggam tangan Ana dengan lembut.
Nico biasanya menitipkan Aidan kepada Rea ketika akan bekerja dan juga menjaga Ana yang masih koma di rumah sakit. Rea yang sangat menyukai anak kecil begitu senang bisa mengurus bayi sahabatnya itu terlebih saat ini Ia juga tengah hamil dan usia kandungannya sudah memasuki tiga bulan.
Aldo yang merupakan asisten dan sahabat Nico selalu berada di sisi tuannya itu baik dalam keadaan suka maupun duka. Aldo lah yang selalu membantu Nico mengurus perusahaannya. Ia tahu saat ini tuannya begitu membutuhkan seseorang dan Ia akan selalu berada di sisi tuannya.
******
Di mansion Aldo dan Rea.
Rea dan Aldo terlihat sibuk dengan rutinitas pagi mereka. Aldo baru saja selesai mandi dan Rea sedang menidurkan Aidan yang terlelap setelah selesai menangis.
Aldo keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk melilit pinggangnya menampilkan roti sobek yang terlihat begitu seksi.
__ADS_1
Rea yang melihat suaminya hanya bisa menelan ludah. Sejak hamil Rea selalu ingin berada di dekat Aldo dan menurutnya suaminya itu terlihat sangat tampan ketika sedang bertelanjang dada.
"Sayang...." Bisik Aldo pelan di telinga Rea yang terlihat menatapnya tanpa berkedip. Rea bahkan tidak sadar jika Aldo sudah berada di depannya.
"Hemmm." Rea segera tersadar.
"Apa istriku ini sedang menginginkan sesuatu, aku akan memberinya jika kau memintanya." Goda Aldo dengan berbisik di telinga Rea sambil memeluk pinggang istrinya.
"Kau selalu saja membuatku kesal."
"Lepaskan aku." Rea melepaskan pelukan Aldo dengan wajah cemberut membuat Aldo begitu gemas dengan istrinya itu.
"Kita bisa melakukannya malam ini sayang.." Bisik Rea sensual di telinga Aldo.
"Aku akan pulang cepat dan menagihnya, persiapkan dirimu sayang..."
Aldo yang sedang memakai kemeja terlihat. tersenyum nakal menatap istrinya.
"Hemmmm.. Ka- kau akan ke kantor kan, Biarkan aku membantumu." Rea segera berjalan ke arah suaminya yang terlihat sedang sibuk merapikan kemeja dan memakai dasinya.
Rea membantu Aldo dengan merapikan dasi dan kemeja miliknya suaminya itu.
"Kau sudah sangat tampan." Ucap Rea menatap penuh cinta laki-laki yang berdiri di depannya itu.
begitu menggodanya di pagi hari.
"Morning Kiss baby." Ucap Aldo kembali ******* bibir ranum istrinya.
"Emmmmpppp... sa-sayang kau harus pergi bekerja." Ucap Rea.
"Kita akan melanjutkannya malam ini sayang." Ucap Aldo sedikit berbisik di telinga istrinya membuat Rea tersipu.
Oeeeeekkkkkk......
Suara bayi menangis membuat Rea dan Aldo menoleh ke tempat tidur kecil yang ada di sudut kamar mereka.
"Anak mama sudah bangun yah... Cupp... cuppp..." Rea menggendong bayi mungil yang baru saja bangun dari tidur lelapnya dan berusaha menenangkannya.
"Cupppp.... Lucu sekali keponakan paman." Ucap Aldo sambil mencium dan mengusap lembut pipi Aidan.
Aidan Alexander merupakan bayi Nico dan Juga Ana. Saat ini Aidan sedang berada di rumah Rea karena Nico sedang berada di rumah sakit menjaga istrinya dan menitipkan bayinya itu kepada Rea dan Aldo.
__ADS_1
"Ana apa kau tidak ingin bangun dan melihat betapa lucu dan menggemaskannya bayimu? kami semua sangat merindukanmu Ana." Batin Rea.
Tanpa terasa air matanya terjatuh. Ia menatap bayi mungil yang ada digendonganya itu dengan penuh cinta. Ia merasa sedih dan begitu kasihan dengan bayi mungil yang saat ini tidak bisa bersama dengan ibu kandungnya.
"Cupppp.... Ibu akan menjagamu Nak sampai ibumu bisa berkumpul lagi bersama kita, ibu yakin Aidan anak yang kuat." Lirih Rea yang sudah menganggap Aidan seperti bayinya sendiri.
Beruntung Aidan kecil bisa merasakan kasih sayang seorang ibu walau Rea bukan ibu kandungnya. Namun Rea sangat menyayanginya.
"Jangan menangis sayang... Aku yakin semua akan baik-baik saja. Kita semua akan berkumpul bersama lagi seperti dulu, lebih baik sekarang kita berdoa untuk kesembuhan kakak ipar."
Aldo mengusap lembut pipi istrinya dan menenangkannya agar tidak menangis lagi. Sejak hamil Rea lebih mudah menangis.
Rea menatap Aldo dan tersenyum. Ia percaya apa yang Aldo katakan benar dan Ana akan segera sadar dan berkumpul bersama lagi.
Ponsel Aldo berdering dan Ia segera mengangkatnya.
"Tuan, meeting akan dilaksanakan 1 jam lagi."
"Baik, aku akan segera ke kantor, kau urus semua dokumen yang diperlukan untuk meeting nanti." Aldo menutup panggilan telepon.
"Apa kau baik-baik saja sayang? apa sebaiknya aku batalkan meeting hari ini dan menemanimu?" Aldo merasa khawatir dengan istrinya yang terlihat sedih.
"Aku tidak apa-apa sayang, pergilah ke kantor, kau harus bekerja dengan baik hemmm." Aldo memang sangat sibuk mengurus perusahaan Nico dan juga beberapa proyek. Aldo tidak ingin membuat Nico kecewa dengannya. Ia akan bekerja dengan baik mengurus segalanya dan membantu Nico agar Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit mengurus Ana.
"Baiklah sayang... Aku akan cepat kembali dan menemanimu."
"Jangan nakal yah anak Dedy, Jangan menyusahkan ibumu hemmm." Aldo mengusap lembut perut istrinya yang mulai membuncit.
"Jangan khawatir ayah.... Aku akan jadi anak yang baik dan menjaga mommy." Rea menirukan suara anak kecil membuat Aldo tersenyum lembut dan mencubit gemas pipi istrinya.
Cuppp...
Aldo mengecup kening istrinya cukup lama. Ia menyalurkan kasih sayang untuk wanita yang tidak akan lama lagi menjadi ibu dari anaknya itu.
Cuppp.
"Ayah berangkat yah sayang." Aldo mengusap dan memberi ciuman lembut di perut istrinya.
"Aku akan berangkat bekerja sayang.." Ucap Aldo mengelus lembut rambut istrinya dan tersenyum penuh cinta.
"Sayang... berhati-hatilah dan aku akan menunggumu." Ucap Rea sambil melambaikan tangan. Mobil yang membawa suaminya itu keluar dari gerbang dan terlihat semakin menjauh dan menghilang.
__ADS_1
Bersambungggg.....
Setelah sekian purnama akhirnya bisa up lagi.