
Kondisi Ana masih belum sadarkan diri. Dokter Zera datang ke mansion untuk memeriksa kondisi Ana setelah mendapat telefon dari Nico di tengah malam.
Dokter Zera menghela nafasnya kasar setelah memeriksa kondisi Ana.
"Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Nico. Setelah melihat raut wajah dokter Zera yang terlihat panik.
"Sebaiknya kita bicara di luar biarkan istrimu istirahat." Ucap Dokter Zera.
Nico memutuskan untuk bicara dengan dokter Zera di ruang kerjanya.
"Bagaimana keadaan Ana dok?" Tanya Nico lagi.
"Ada hal penting yang harus aku katakan mengenai keadaan istrimu, Ada kabar baik dan juga kabar buruk mengenai keadaan istrimu, kau ingin dengar kabar baik atau kabar buruk mengenai keadaan Ana." Ucap Dokter Zera dengan wajah sedih.
"Jangan bertele-tele dokter, jangan membuatku semakin khawatir, katakan saja tentang keadaan Ana." Ucap Nico tak sabaran untuk mendengar penjelasan dari dokter mengenai keadaan istrinya.
Nico dan Dokter Zera memang terbiasa berbicara santai kerena memang hubungan mereka adalah sahabat dekat.
"Baiklah! aku akan mengatakan kabar baiknya lebih dulu, Saat ini Istrimu sedang hamil dua minggu dan kabar buruknya adalah kondisi Ana saat ini sedang tertekan dan stres, janin yang ada di dalam kandungannya sangat lemah, Ana harus dirawat di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya." Ucap Dokter Zera menerangkan kondisi Ana.
"Apa benar Istriku sedang hamil dok?" Tanya Nico dengan raut wajah bahagia.
"Iya, istrimu sedang hamil."
"Itu artinya aku akan menjadi seorang ayah." Ucap Nico dengan perasaan begitu bahagia. Ia bahkan memeluk Dokter Zera. Nico ingin meluapkan kebahagiannya dengan berjingkrak-jingkrak, Namun Ia tidak mungkin melakukan itu di depan Dokter Zera. Nico begitu menginginkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya bersama Ana.
Di tengah duka yang dirasaakan oleh Ana dan Nico ada kabar baik yang membuat mereka bisa kembali merasakan kebahagiaan. Kematian bu Ella membuat Ana begitu terluka. Namun, di tengah duka yang sedang mereka rasakan ada hikmah di balik semua peristiwa yang terjadi.
"Kau harus menjaga istrimu dengan baik, kondisi istrimu sangat lemah dan itu sangat berbahaya terhadap janin yang ada di dalam perutnya, Ana harus dirawat di rumah sakit." Ucap Dokter Zera.
"Lakukan apa pun yang terbaik untuk istri dan calon anakku, aku tidak ingin terjadi hal buruk dengannya." Perintah Nico kepada Dokter Zera.
Raut wajah Nico yang tadi bahagia terlihat murung.
"Ada apa?" Tanya Dokter Zera yang melihat raut wajah Nico berubah menjadi murung dan sedih.
"Aku hanya ingat dengan ibu mertuaku, ibu begitu menginginkan seorang cucu, ibu pasti bahagia dengan kabar tentang kehamilan Ana, Tapi saat istriku hamil ibu harus pergi untuk selamanya." Jawab Nico dengan raut wajah sedih.
"Tenanglah, Aku turut berduka atas kepergian bu Ella, kau harus kuat demi istrimu dan calon anakmu, kau jangan terlalu larut dalam kesedihan." Dokter Zera menepuk bahu sahabatnya itu untuk menenangkannya.
Nico masuk ke dalam kamar istrinya. Ia menatap wajah pucat Ana. Kondisi Ana yang sedang hamil di tambah dengan kematian ibunya membuatnya semakin lemah. Ana masih belum sadarkan diri.
"Kenapa istriku belum sadarkan diri dok?" Tanya Nico menatap dokter Zera.
"Sebaiknya Ana di bawah ke rumah sakit, kondisinya benar-benar lemah." Jawab Dokter Zera.
__ADS_1
Melihat kondisi Ana yang belum juga sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat, Nico memutuskan untuk membawa Ana ke rumah sakit miliknya. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk kepada Ana dan juga janinnya.
Nico dan dokter Zera tiba di rumah sakit. Ana segera di bawah di ruang VVIP rumah sakit. Dokter Zera segera memasang infus di tangan kiri Ana.
Nico setia mendampingi istrinya. Ia menggengam tangan Ana. Nico merasa begitu sedih dengan apa yang menimpa istrinya. Perasaanya juga begitu hancur melihat Ana yang begitu terpuruk di tengah kondisinya yang tengah hamil.
Nico berjanji untuk menjaga Ana dan juga janin yang ada di perut istrinya. Apa pun yang terjadi Ia tidak akan membiarkan hal buruk menimpa Ana.
*******
Pagi hari datang kembali, Sinar mentari merangkak naik dengan pelan. Matahari menyinari bumi dengan teriknya yang tak terlalu panas. Nico membuka matanya pelan. Semalam Ia tertidur di samping Ana dengan memeluk istrinya. Nico menatap wajah istrinya yang masih terlelap, Wajah Ana sudah tak sepucat tadi malam. Nico mengusap lembut rambut istrinya. Ia mencium kening Ana cukup lama, tangannya mengusap lembut pucuk kepala Ana.
"Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan, aku mencintaimu sayang." Nico mengelus lembut perut istrinya.
Ana membuka matanya pelan. Ia melihat suaminya sedang menatapnya dengan raut wajah bahagia. Ana melihat sekeliling ruangan.
"Aku ada di mana?" Tanya Ana.
"Kau ada di rumah sakit sayang, semalam kau pingsan, aku akan menyuruh dokter untuk memeriksamu." Ucap Nico lembut. Ia segera memencet tombol hijau yang ada di dekat tempat tidur Ana untuk memanggil dokter Zera.
"Apa yang terjadi denganku." Tanya Ana kepada suaminya yang melihatnya dengan raut wajah cemas.
"Dokter akan memeriksa dan menjelaskan kondisimu." Nico belum mau memberi tahu istrinya. Ia ingin dokter saja yang mengatakan langsung mengenai kondisi istrinya.
Beberapa menit kemudian, Dokter Zera masuk ke dalam ruangan Ana.
"Pagi juga dokter Zera." Balas Ana.
"Apa kondisimu sudah lebih baik dokter Ana?" Tanya dokter Zera sambil memeriksa keadaan Ana.
"Iya dok, apa yang terjadi denganku?" Tanya Ana.
"Salamat dokter Ana kau sedang hamil."
Deggg......
Jantung Ana berdetak tak beraturan, Ada raut wajah bahagia yang terlihat dari wajah Ana. Namun, ada juga kesedihan yang Ia rasakan. ibunya baru saja meninggal dunia.
"Hamil?" Tanya Ana masih tidak percaya dengan ucapan dokter Zera. Ia merasa begitu terkejut di tengah duka yang Ia rasakan Tuhan ternyata memberinya kebahagian dengan hadirnya janin dalam perutnya.
"Kau sedang hamil sayang, kau akan menjadi ibu, kita akan menjadi orang tua." Ucap Nico dengan raut wajah bahagia. Ia mengusap lembut perut istrinya yang masih rata itu.
"Hikksssss..... Hikksssss......, Aku merindukan ibu, ibu pasti senang mendengar kabar bahagia ini." Lirih Ana yang sudah sesenggukan mengingat bu Ella ibunya.
Ana begitu mudah menangis mungkin kerena kondisinya yang sedang hamil membuat emosinya menjadi tidak stabil akibat pengaruh hormon kehamilan yang ada di dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Tenanglah sayang, Kau sedang hamil, kau harus menjaga kondisimu." Nico berusaha membujuk Ana agar berhenti menangis. Ia memuluk Ana dan mengusap rambutnya pelan dan penuh kelembutan.
"Tenanglah Ana!, kau harus menjaga kesehatanmu, janin dalam perutmu sangat lemah, kau tidak boleh stres dan tertekan itu akan mempengaruhi kondisi kesehatanmu juga kandunganmu, Saat ini kesehatanmu sangat menurun dokter Ana." Ucap Dokter Zera.
"Aku akan menyuruh dokter Ahli kandungan untuk memeriksa keadaan istrimu, Dia dokter kandungan yang sangat hebat dan baru saja bekerja di rumah sakit ini, Dia adalah sahabatku, aku akan menyuruhnya untuk menangani kondisi Ana, kau bisa bertanya dengannya nanti mengenai kesesehatan Ana dan janin yang ada di dalam kandungannya." Ucap dokter Zera.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk istriku."
"Aku harus melakukan operasi, sebentar lagi dokter kandungan itu akan datang kemari untuk memeriksa keadaan istrimu, Aku harus pergi dulu." Dokter Zera keluar dari ruangan Ana setelah memberi suntikan penenang agar Ana bisa tidur dan istirahat.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan Ana dibuka dan masuklah dokter kandungan yang akan memeriksa kondisi Ana.
Deggg.....
Jantung Nico berpacu kenjang saat melihat dokter kandungan yang akan memeriksa istrinya.
Begitu pula dengan dokter kandungan yang akan memeriksa keadaan Ana. Ke dua matanya membualat sempurna saat melihat sosok yang terbaring lemah dan pucat di tempat tidur.
"Apa kau dokter kandungan yang akan memeriksa istriku?" Tanya Nico dengan wajah datarnya saat melihat dengan jelas wajah dokter wanita yang merupakan dokter kandungan itu.
"Iy-iya, Dokter Zera yang menyuruhku untuk memeriksa istri Anda."
Gleeekkkk..
Susah payah Rea menelan salivanya saat mendengar ucapan Nico.
"Istri, jadi Ana adalah istri dari Nico, mereka suami Istri, Bagaimana bisa mereka menjadi pasangan suami-istri, Ana apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau menikah dengan laki-laki kejam ini?" Batin Rea dipenuhi ribuan pertanyaan yang begitu mengganjal di hatinya. Raut wajahnya terlihat begitu bingung.
Dokter kandungan yang akan memeriksa kondisi Ana adalah dokter Rea sahabat terbaik Ana. Sejak Ana meninggalkan negara London, Ana dan Rea jadi jarang berkomunikasi karena kesibukan mereka masing-masing. Rea tidak tahu bahwa Ana sudah menikah dan sedang hamil.
Rea sedang memeriksa kondisi Ana untuk memastikan kondisi Ana dan janin yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja.
"Ana apa yang terjadi denganmu? kondisimu sangat lemah dan juga janin yang ada di perutmu, apa laki-laki itu menyiksamu, semoga kau cepat sadar dan menjelaskan semuanya kepadaku." Batin Rea.
Nico sejak tadi memperhatikan dokter Rea memeriksa istrinya. Nico tahu betul hubungan antara istrinya dan dokter Rea. mereka adalah sahabat dekat, Rea yang selalu membantu Ana melalui masa-masa sulitnya. Bahkan Nico juga tahu Hubungan rumit antara Ana, Rea dan Juga Aldwin di masa lalu.
Bersambung......
Terima kasih yang sudah mendukung novelku ini. Maafkan Author yang jarang up.
Semoga kalian suka dengan novelku ini. Maaf kalau novel ini kurang menarik.
Dukungan kalian sangat Author butuhkan.
Like, Vote dan Komentar.
__ADS_1
šš