
Setelah 3 hari menjalani perawatan di rumah sakit, Ana sudah kembali pulih dan Ia sudah bisa kembali ke mansion.
Hari Ini Nico memutuskan untuk berada di samping istrinya itu. Nico tahu Ana masih sedih dengan kematian ibunya. Ia ingin menjaga dan menghibur hati Ana. Nico menyerahkan urusan pekerjaan kepada Aldo Asistennya.
Nico dan Ana baru saja tiba di mansion. Nico segera membawa Ana ke kamar mereka dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan siang.
"Aku lapar." Lirih Ana.
"Aku akan menyuruh pelayan membawa makan siang ke kamar, kau mau makan apa sayang aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkannya?" Tanya Nico sambil membelai rambut istrinya yang sedang bersandar di tempat tidur dengan satu tangannya lagi mengusap perut Ana.
"Aku ingin makan siang spesial buatanmu, apa kau bisa membuatnya sayang?" Tanya Ana sambil mengelus pipi mulus Nico.
"Kau mau makan siang apa aku akan membuatnya?"
"Aku mau makan sup Ayam buatanmu sayang." Pinta Ana dengan wajah memelas. Ana tahu Nico tidak pernah memasak, bahkan Suaminya itu tidak bisa membedakan jenis-jenis bumbu dapur. Tapi semua adalah keinginan dari banyinya yang menginginkan masakan buatan dari Nico.
"Baiklah aku akan mencoba membuatnya, kau istirahatlah di kamar, aku akan memanggilmu setelah masakannya siap."
Nico meninggalkan Ana di kamar. Ia turun ke lantai bawah dan menuju dapur untuk membuat makanan untuk istrinya itu.
"Apa ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya bi Rum.
Bi Rum dan para pelayan merasa heran dengan kedatangan Tuannya itu ke dapur. Ini pertama kalinya Nico turun langsung ke dapur untuk memasak.
"Aku mau memasak makan siang untuk istriku." Nico sudah berada di dapur dengan memakai celemek yang membuatnya telihat semakin tampan
Tuan akan memasak, ini benar-benar keajaiban, apa tuan bisa memasak? membedakan garam dan gula saja Tuan tidak bisa. Bagaimana jadinya kalau tuan memasak?. Batin bi Rum.
"Bagaimana cara membuat sup ayam yang enak? apa aku menyuruh bibi saja yang membuat masakan untuk Ana?" Guman Nico.
"Aku ingin makan siang spesial buatanmu." Kata-kata Ana kembali terngiang di kepalanya.
Nico memutuskan untuk membuat makan siang spesial untuk istrinya itu. Ia akan mencari resep dan cara membuat sup ayam di internet dan membuatnya sendiri.
Beberapa menit bergelut di dapur. Nico yang kesulitan untuk membedakan bumbu dapur sesekali bertanya kepada bi Rum. Ingin rasanya bi Rum tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol tuannya yang sudah membuat dapur terlihat sangat berantakan. Sayur yang berserakan di lantai, piring dan panci yang berserakan ke mana-mana membuat bi Rum hanya menggelengkan kepalanya. Keringat bercucuran di kening Nico yang sejak tadi terlihat mondar mandir di dapur. Ia sesekali mengusap keringat di keningnya itu.
Beberapa menit bergelut di dapur sup ayam buatan Nico sudah siap. Ana yang sejak tadi sudah lapar memutuskan turun ke bawah memeriksa suaminya apakah sudah membuat makan siang untuknya.
"Astagaaaa, kenapa dapur seperti ini sayang? kau seperti habis berperang saja." Tanya Ana yang terlihat begitu terkejut saat matanya melihat ulah suaminya.
Nico yang sedang asik memasak dikejutkan dengan kedatangan Ana yang sudah berada di belakangnya.
Nico hanya bisa tersenyum semanis mungkin menampilkan deretan gigi putihnya itu.
"Kau sudah lapar yah, maaf membuatmu menunggu lama, kau duduklah dulu, Aku akan menyiapkan makanan untukmu." Nico menarik kursi untuk Ana dan menyuruhnya duduk.
Ana mengikuti perintah Suaminya itu, Ia duduk menunggu Nico menyajikan makanan buatannya.
Dia benar-benar tampan dan sengat lucu memakai celemek seperti itu, menggemaskan sekali suamiku itu, aku akan menyuruhnya sering-sering memasak untukku. Batin Ana yang sejak tadi memperhatikan suaminya menyiapkan makan siang untuknya.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku memasak, Semoga saja rasanya tidak begitu buruk." Gumam Nico dengan membawa makanan hasil buatannya sendiri.
"Taraaaaa, sup ayam spesial pesanan istriku tersayang sudah siap." Nico menyajikan makanan yang Ia buat dengan raut wajah bahagia di depan Ana.
"Kelihatannya enak sayang, apa aku boleh mencicipinya, aku benar-benar lapar." Ucap Ana begitu antusias ingin mencicipi masakan pertama buatan suami tercintanya itu.
Ana mengambil nasi untuk Nico dan juga untuknya. Ana dan Nico makan siang bersama.
"Ini benar-benar enak sayang, kau memang hebat." Puji Ana dengan makan begitu lahapnya.
"Bagaimana bisa ini dibilang enak rasanya seperti minum air laut, ini sangat asin." Batin Nico.
Ia protes sendiri dengan rasa masakan yang Ia buat.
"Hemmm, Sayang kita makan di restoran saja yah?" Ajak Nico.
"Aku sudah keyang sayang, terima kasih sudah membuat makanan enak untukku." Ana tersenyum dengan binar kebahagian di wajahnya. Ia merasa begitu bahagia Nico mau membuat makanan untuknya dengan susah payah.
"Aku masih lapar sayang, makanannya benar-bebar tidak enak." Batin Nico.
(Itu salahmu sendiri Nico masak makanan rasanya lautan, Namanya juga orang ngidam walaupun rasanya tidak enak mah pasti dibilang enak sama Ana secara itukan buatan tanganmu sendiri dengan penuh cinta) šš
******
Sementara itu, Di rumah sakit Rea masih terlihat sibuk, Ia baru saja selesai melakukan operasi Cesar. Rea berjalan di Loby rumah sakit dan bertemu dengan dokter Zera. Ke duanya memutuskan untuk makan siang bersama di kantin rumah sakit.
"Apa kau kenal dengan Ana? aku liat sepertinya kalian saling mengenal." Tanya dokter Zera yang sedang menyeruput jus jeruk segar dengan bongkahan es yang terasa sangat menyegarkan di tenggorokan.
"Apa kau tahu kenapa Nico dan Ana bisa menikah?" Tanya Rea. Ia benar-benar penasaran tentang hubungan Ana dan Nico.
"Aku tidak tahu alasan mereka menikah, pernikahannya juga dirahasiakan dari semua orang, hanya beberapa kerabat yang tahu tentang pernikahan mereka." Jawab Dokter Zera dengan jujur.
"Apa kau dan Nico saling mengenal, sepertinya kalian juga sangat akrab." Tanya Dokter Rea.
"Aku adalah sahabat dan juga dokter pribadi keluarga Alexander, aku dan Nico sejak kecil sudah saling mengenal, aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri." Jawab Dokter Zera.
"Oh begitu yah." Rea terlihat tersenyum dan menikmati teh manis pesanannya.
Aku rasa dokter Zera juga tidak tahu alasan kenapa Nico dan Ana bisa menikah, ah.. sudahlah, aku akan menanyakan langsung dengan Ana saja. Batin Rea.
Sesaat ke duanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Apa kau tahu di rumah sakit ini ada pasien misterius yang sedang menjadi pembicaraan para dokter dan suster akhir-akhir ini? sudah beberapa hari ini kondisinya kritis dan tidak ada satupun keluarganya yang datang untuk menjenguknya, Aku benar-benar kasihan melihat kondisinya yang sedang koma dan berjuang untuk tetap hidup." Dokter Zera berbagi cerita mengenai pasien yang cukup misterius yang sedang Ia tangani itu.
"Pasien misterius? Apa yang terjadi dengan pasien misterius itu?" Tanya Rea yang mulai tertarik dengan topik pembicaraan kali ini. Ia penasaran dengan pasien misterius yang dikatakan oleh dokter Zera.
"Pasien misterius di kamar 100 A, Sudah beberapa hari ini aku menangani kondisinya tapi sepertinya belum ada kemajuan dari pasien itu, Saat datang ke rumah sakit ini kondisinya benar-benar mengenaskan dengan luka tembak di beberapa bagian tubuhnya. Untung saja Ia masih bisa bertahan hidup, Nico hanya memerintahkan agar aku merawatnya dengan baik dan memastikan Ia tetap hidup." Ucap dokter Zera.
"Kalau kau penasaran dengan pasien misterius itu, kau bisa melihatnya saat selesai bekerja, mungkin saja kau mengenalnya, aku harus kembali bekerja." Dokter Zera beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Waktu istirahat sudah berakhir. Mereka juga sudah selesai makan siang dan memutuskan untuk kembali bekerja. Rea menuju Ruangannya. Hari ini ada beberapa pasien yang harus ia tangani membuat Rea terlihat begitu sibuk.
Pasien misterius di kamar 100 A. Batin Rea. Ia terlihat penasaran dengan pasien tersebut.
"Aku akan melihatnya nanti setelah selesai bekerja." Gumam Rea yang sedang berjalan menuju ruang operasi.
********
Menjelang sore hari Ana dan Nico sedang duduk di balkon kamar mereka. Ana sedang menatap langit yang menampilkan warna orange keemasan, perlahan sinar matahari mulai meredup yang menandakan siang akan berganti malam dan matahari akan kembali keperaduannya.
Hari ini Nico benar-benar tidak pergi bekerja dan lebih memilih menemani istrinya itu. Walau Ana menyuruhnya untuk tetap pergi ke kantor. Tapi Nico menolak dan mengatakan kalau Ia adalah bos dan tentu saja seorang bos bebas untuk pergi bekerja atau tidak. Ana merasa kasihan dengan Aldo yang harus menyelesaikan urusan perusahaan sendiri.
"Apa aku boleh mengajak Rea dan juga Aldo untuk makan malam, pasti akan seru kalau kita makan malam bersama mereka, apa tidak masalah sayang?" Tanya Ana.
Huuufff..
Nico menghela nafasnya kasar. Malam ini Nico hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya. Tapi Ana ingin makam malam bersama sahabatnya itu dan tentu saja Nico tidak bisa menolak keinginan Ana.
"Apa boleh?" Tanya Ana yang melihat suaminya itu diam saja.
Nico mengangguk pelan yang berarti Nico tidak menolak keinginan Istrinya itu.
Cup... Cup...
Nico mencium pipi Ana dan menarik lembut pipi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Kau menggemaskan sekali, aku benar-benar ingin melahapmu sayang." Nico menggoda istrinya membuat pipi Ana bersemu merah.
"Kau ini benar-benar mesum, aku mau mandi dan bersiap untuk menyambut kedatangan Rea dan asistenmu itu." Ana berdiri dari kursinya. Namun, Nico menarik tangannya membuat Ana jatuh ke pangkuannya
"Jadi kau ingin berdandan cantik di depan Aldo, kau mau menyambut laki-laki lain, kau benar-benar istri yang nakal, kau hanya boleh berdandan cantik di depanku, kau paham sayang." Bisik Nico di telinga Ana sambil memberikan gigitan lembut di telinga istrinya itu.
"Kau ini kenapa sayang? Aku hanya berdandan biasa saja, apa masalahnya jika aku menyambut asistenmu itu." Jawab Ana.
"Kau ingin membuatku cemburu yah?" Tanya Nico.
"Hahah sayang, mana mungkin aku berani membuatmu cemburu, aku hanya kasihan dengan asistenmu yang jomblo itu, Bagaimana kalau kita mencarikan wanita untuknya?"
Apa ini permintaan istriku atau permintaan anakku yang ingin menjodohkan Aldo dan dokter kandungan itu?. Batin Nico dengan penuh tanya.
"Biarkan Aldo mengurus dirinya sendiri sayang, jangan terlalu peduli dengannya, aku bisa saja cemburu dengan asistenku itu kalau kau begitu peduli dengan laki-laki lain."
"Ah sudahlah, kau tidak akan mengerti." Ucap Ana dengan wajah kesal, Ia segera berdiri dari pangkuan suaminya itu. Ana menuju ke kamar mandi ingin segera bersiap-siap untuk makan malam bersama sahabatnya itu.
Malam hari pun tiba, Rea yang sudah selesai bekerja memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Namun, Rasa penasaran membuatnya ingin menemui pasien misterius yang dikatakan oleh dokter Zera siang tadi.
"Aku akan menemui pasien misterius itu, sepertinya pasien itu jadi pembicaraan para dokter dan suster di rumah sakit ini, aku juga ingin melihat seperti apa pasien itu." Gumam Rea.
Rea segera turun dari lantai 5 ruangannya. menggunakan lift. Ia berhenti di lantai 4 tempat pasien misterius yang dikatakan oleh dokter Zera. Ia segera menuju ke ruangan 100 A. Rea sudah berdiri di depan ruangan VVIP itu. Tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu ruangan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.....
__ADS_1
Bersambung.....
Siapa yah kira-kira pasien misterius itu?