
Setelah menikah Ana memutuskan untuk tinggal bersama Nico. Bu Ella juga tinggal bersama anak dan menantunya. Walau ia tidak ingin mengganggu kehidupan putrinya tapi Ana memaksa agar ibunya tinggal bersama mereka. Nico juga tidak keberatan dengan keputusan Ana.
Kehidupan sebagai pasutri baru saja di mulai. mereka baru beradaptasi dan saling menyesuaikan satu sama lain. Mereka memang tidak saling mengenal dengan baik karena itu sangat perlu untuk memahami satu sama lain agar pernikahan mereka bisa bertahan.
Ana dan Nico tinggal dalam satu kamar tapi Ana memilih tidur di sofa yang luasnya sama dengan tempat tidur. ia belum terbiasa tidur bersama Nico walau mereka sudah menjadi suami istri. Nico sebenarnya tidak ingin tidur terpisah dengan istrinya. Tapi ia juga tidak bisa memaksa Ana.
Pagi yang indah, suara kicauan burung membuat suasana pagi ini begitu cerah, Angin yang berhembus di pagi hari membuat setiap insan enggan untuk bangun, menarik selimut dan kembali terlelap, Dengan mata yang masih mengantuk Nico membuka matanya dengan pelan melihat seseorang yang masih bersembunyi di bawah selimut. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa di mana istrinya sedang tidur. Nico menarik pelan selimut yang menutupi wajah istrinya. Ia merapikan anak rambut Ana yang menutupi wajah cantiknya.
Cup..Cup, Nico mencium pipi kanan dan kiri istrinya.
Cuppp... Ciuman terakhir di bibir dengan sedikit me**lumatnya. Nico mengusap lembut bibir istrinya yang basah akibat ciuman pagi yang Ia lakukan. Ia terseyum melihat istrinya yang begitu cantik saat tertidur dengan pulas.
Ana yang menyadari sentuhan lembut di bibirnya segera membuka matanya. Kedua manik hitamnya menatap wajah suaminya yang jaraknya begitu dekat. Ana tidak menyadari bahwa suaminya sudah menciumnya sejak tadi. Nico tersenyum saat Ana menatapnya.
"Selamat pagi sayang." Sapa Nico dengan senyum sejuta wat menampilkan deretan gigi putihnya. Ia tersenyum semanis mungkin menatap wajah istrinya yang terlihat begitu cantik di pagi hari.
"Selamat pagi juga." Balas Ana.
"Kenapa wajahnya tampan sekali saat baru bangun tidur, Dan senyumnya manis sekali." Ana terpesona dengan wajah suaminya yang menurutnya sangat tampan di pagi hari.
Degggg... Deggggg....
"Kenapa dengan jantungku? Apa aku menderita penyakit jantung?" Batin Ana.
Deggg.....
Jantungnya sudah berdetak kencang saat kedua tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
Nico sudah mengungkung tubuh Ana. Membuat Ana gugup dengan memalingkan wajahnya. Nico sudah berada di atas tubuh istrinya bertumpu pada kedua lututnya agar tidak menindih tubuh mungil istrinya.
Ana begitu gugup dengan apa yang Nico lakukan. Ia belum siap jika harus melayani hasrat suaminya. Cepat atau lambat Ana menyadari tugasnya sebagai seorang istri adalah melayani suaminya. Tapi saat ini ia belum siap.
"Ap-Apa yang mau kau lakukan?" Ana dengan gugup bertanya kepada suaminya yang sudah menatapnya dalam. Tatapan ingin memangsa wanita yang ada di depannya.
"Aku ingin ciuman selamat pagi dari istriku tersayang, Apa aku boleh meminta ciuman itu sekarang?" Tanya Nico lembut dengan wajah memelasnya.
Ana hanya mengangguk pelan. Nico langsung mencium bibir istrinya lembut. Nico mel**mat bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut, Nico sudah menyusuri leher jenjang putih istrinya memberikan kecupan yang meninggalkan bekas kemerahan. Suara ******* berhasil lolos dari bibir mungil Ana saat Nico mencium dan me**gigit lembut leher jenjangnya. Nico tersenyum saat mendengar Ana mende*ah walau ia berusaha untuk menutupinya. Ana segera menghentikan aksi Nico saat tangannya sudah masuk di dalam piyama tidurnya.
"Ma-maafkan Aku, Aku belum siap." Lirih Ana dengan gugup. Ia takut suaminya akan marah.
"Aku tidak akan memaksamu Sayang, tapi dengan satu syarat kau harus memanggilku 'sayang' mulai saat ini, apa kau bisa melakukannya?" Ucap Nico mengusap bibir mungil Ana yang sudah basah dengan ulahnya.
Ana mengangguk pelan.
"Terima kasih sudah mangerti Sa-Sayang." Ucap Ana sambil memaksakan tersenyum. Ia belum terbiasa dengan panggilan sayang kepada suaminya.
Bagi Ana, Nico sudah begitu baik dan pengertian. Nico tahu bahwa mencintai seseorang tidak dengan cara memaksanya. Ia akan membuka hatinya sendiri saat tiba waktunya. Saat ini Nico tahu Ana belum bisa mencintainya. Tapi hal itu tidak membuat Nico putus asa untuk mendapatkan hati Ana. Ia akan membukanya dengan pelan dan masuk ke dalam hati istrinya untuk selamanya. Nico harus lebih sabar untuk membuat Ana mencintainya.
"Tidurlah kalau kau masih mengantuk, Aku akan bersiap untuk ke kantor, Kau tidak perlu mengerjakan apa pun, Di mansion ini banyak pelayan yang akan mengerjakan semuanya, kalau kau butuh sesuatu kau bisa meminta pelayan untuk membantumu." Ucap Nico yang sudah beranjak menuju kamar mandi bersiap untuk mandi dan pergi ke kantor.
"Kenapa aku benar-benar menginginkannya." Batin Nico.
Ia segera menggunyur tubuhnya dengan air dingin karena sejak tadi hasratnya sudah memuncak saat ia mencium istrinya.
Ana segera bangun dan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Selamat pagi Nona." Sapa para pelayan yang ada di dapur.
"Selamat pagi juga bi." Balas Ana.
"Apa ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya bi Rum kepala pelayan di mansion Nico.
__ADS_1
"Aku ingin membuat sarapan untuk suamiku." Jawab Ana.
"Silahkan nona!" Para pelayan meninggalkan dapur dan membiarkan Ana memasak sendiri. Ana lebih suka memasak sendiri tanpa di bantu oleh siapa pun.
Para pelayan meninggalkan Ana yang sedang membuat sarapan pagi. Ana yang belum tahu apa makanan kesukaan suaminya memutuskan untuk membuat sarapan yang biasa ia buat.
Beberapa menit sarapan sudah siap, Dua piring sandwich dan juga dua gelas juz jeruk sudah tersaji di meja makan.
Setelah menyiapkan sarapan ia kembali ke kamarnya untuk membantu suaminya bersiap.
Ana mengambil jaz yang ada di lemari pakaian Nico. Ia memilih jaz berwarna hitam dengan kemeja berwarna Navi.
Cekleeekkkk....
Suara pintu kamar mandi di buka dan menampakkan sosok Nico yang sudah mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.
"Ahhhhrgggg...." Ana berteriak dan berusaha menutup matanya saat melihat pemandangan di depan matanya. Ia bahkan membelakangi Nico yang bertelanjang dada.
"Ada apa sayang.? Kenapa berteriak hemmm.?" Tanya Nico yang melihat reaksi istrinya begitu menggemaskan dan sangat lucu baginya.
"Apa kau tidak bisa memakai baju? Kenapa keluar dengan hanya memakai handuk?" Tanya Ana kembali.
"Phffffftttthhh." Nico menahan tawa saat mendengar ucapan Ana.
"Apa kau lupa aku ini suamimu, tidak masalah jika aku tidak memakai pakaian, Kau bisa melihatnya sayang." Ucap Nico pelan di telinga Ana membuat tengkuk Ana meremang.
Ia melingkarkan tangannya di perut istrinya yang membelakangi tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Ana.
Ana mencium aroma maskulin dari tubuh suaminya. "Kenapa tubuhnya harum sekali." Batin Ana. Ia begitu suka dengan aroma maskulin dari tubuh suaminya, aroma yang bisa membuatnya nyaman.
Nico memutar tubuh Ana agar menatapnya. Nico menatap dalam wajah istrinya. Tatapan mereka kembali mengunci satu sama lain. Tatapan saling mengagumi ciptaan tuhan.
"Kenapa dia suka membuatku senam jantung, Wajahnya tampan sekali dengan rambut basah dan juga dada bidang dan perut kotak-kotaknya, apa yang aku pikirkan? kenapa aku mengagumi wajahnya yang begitu tampan." Batin Ana.
"Kau boleh menyentuhnya kalau kau begitu tertarik." Nico segera membuyarkan lamunan istrinya yang sejak tadi begitu terpesona dengan tubuh kekarnya.
"Siapa juga yang tertarik aku hanya kaget saja." Elak Ana dengan wajah datarnya.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, bersiaplah dan kita akan sarapan bersama." Ucap Ana yang ingin melangkah menuju kamar mandi. Tapi Nico mencekal tangan Ana.
"Kau mau kemana?" Tanya Nico.
"Aku akan mandi." Jawab Ana dan berlalu menuju kamar mandi.
Beberapa menit, Ana sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia membuka pintu kamar mandi dengan pelan melihat di sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan suaminya. Ia lupa membawa baju ganti dan ia hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya.
Ana keluar saat tidak melihat keberadaan suaminya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Nico yang sudah berada di belakangnya.
"Kau sudah selesai mandi sayang." Ucap Nico.
Ana reflek dan hampir saja membuat handuk yang ia gunakan terlepas.
"Apa kau ingin menggodaku dengan hanya memakai handuk seperti ini." Ucap Nico dengan senyum di bibirnya.
"Ak-aku lupa membawa pakaian, aku akan keruangan ganti pakaian." Ana sedikit gugup saat Nico semakin maju membuat tubuh Ana membentur tembok.
"Aku akan membantumu memakai pakaian sayang." Ucap Nico berbisik pelan.
Lagi-lagi jantung Ana sudah berpacu dengan kencang.
"Aku bisa memakai pakaianku sendiri, apa kau bisa melepaskan aku." Ucap Ana saat Nico sudah mengungkung tubuhnya dan membuat tubuh Ana menyatuh dengan tembok.
__ADS_1
Nico memegang kedua tangan Istrinya dan melancarkan aksinya mencium bibir ranum Ana. Mereka berciuman cukup lama. Ana hanya bisa pasrah saat Nico kembali mencium bibir mungilnya.
"Nikmat dan sangat manis, Terima kasih sudah memberikan sarapan pagi yang sangat enak Sayang." Bisiknya pelan.
Wajah Ana bersemu merah saat Nico mengusap lembut bibirnya.
"Ak-aku mau memakai baju, kau bisa menungguku di luar." Ucap Ana gugup dan ia berlalu meninggalkan Nico menuju Walk in Closet.
Nico sudah menunggu Ana untuk sarapan bersama. Beberapa menit Ana juga menyusul suaminya untuk sarapan di bawah. Ia sudah siap dengan memakai kemeja dan rok selutut yang membuat penampilannya semakin fress.
Mereka sarapan bersama kali ini bu Ella tidak ikut sarapan bersama mereka karena ia tidak ingin mengganggu ke dua pasangan yang sedang hangat-hangatnya.
Mereka sarapan dengan tenang tidak ada obrolan di meja makan. Setelah selesai Ana dan Nico memutuskan untuk berangkat bekerja.
"Apa kau akan ke rumah sakit?" Tanya Nico.
"Iya, aku harus kembali bekerja, banyak pasien yang sudah menungguku, Apa aku boleh bekerja?" Ana meminta izin kepada suaminya.
"Tentu saja sayang, kau bisa kembali bekerja, aku akan mengantarmu." Jawab Nico
"Kau akan terlambat ke kantor." Ucap Ana
"Aku ini bos dan bebas ke kantor kapanpun yang aku mau."
"Baiklah." Ana akhirnya mengikutih langkah Nico menuju mobil yang akan mengantar mereka.
Aldo sudah menunggu di luar untuk mengantar tuannya.
"Selamat pagi tuan dan nona." Sapa Aldo.
"Selamat pagi juga." Balas Ana. Sementara Nico hanya tersenyum saja.
Aldo membuka pintu untuk tuan dan nonanya. Ia akan mengantar ke mana pun mereka akan pergi.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat bersama kebutulan juga kantor dan rumah sakit tempat Ana bekerja satu arah.
Setelah beberala menit menempuh perjalana. Mobil yang mengantar Ana sudah sampai di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Aku akan menjemputmu saat pulang bekerja." Ucap Nico.
"Baiklah." Ana turun dari mobil Nico.
Nico menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
"Malam ini aku akan memberimu kejutan Sayang." Batin Nico menatap Ana yang semakin menjauh.
"Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku katakan? pastikan semuanya berjalan lancar malam ini, aku ingin memberikan kejutan untuk istriku yang tidak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya" Perintah Nico.
"Semuanya sudah beres tuan, Nona Ana akan menyukai kejutan yang tuan berikan." Jawab Aldo.
Nico tersenyum bahagia saat membanyangkan wajah Ana yang tersenyum bahagia dengan kejutannya malam ini.
Bersambung...
Like, Vote dan komentar biar author semangat.
Author mau curhat dikit Nih.
Sebenarnya Author bingung mau lanjutin novel ini atau tidak. Soalnya yang kasih like, Vote dan Komentar sangat kurang. šš
Author ucapin terima kasih buat kalian yang selalu mendukung dan masih setia dengan novelku.
__ADS_1
šš