
Rea terduduk lemah di kursi dengan tatapan kosong. Air matanya tak henti luruh menatap ruangan Unit Gawat Darurat tempat sang kekasih menjalani operasi. Rea hanya bisa berdoa dan berharap agar keajaiban datang menyelamatkan nyawa pria yang sangat dicintainya.
Dokter sedang berjuang menyelamatkan Aldo yang menjadi korban kecelakaan. Kondisinya sangat parah dan mengalami pendarahan di bagian kepala akibat benturan keras.
Tak berapa lama, Kedua orang tua mereka tiba di rumah sakit setelah mendapat telofon dari pihak rumah sakit. Sementara Rea hanya bisa duduk termenung seolah hidupnya juga terasa mati. Aldo adalah sebagian dari kehidupannya, penyemangat hari-harinya yang selalu membuatnya bahagia. Penampilannya bahkan sangata berantakan. Ini adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya.
Dengan wajah panik para orang tua menghampiri Rea yang masih duduk sesenggukan seakan air matanya tak ada habisnya walau menangis seharian.
"Apa yang terjadi Nak?" Tanya Maharani dengan raut wajah Khawatir dengan kondisi putra satu-satunya itu.
"Ma-maafkan Ak-aku bu." Lirih Rea dengan memeluk Maharani menumpahkan semua kesedihannya. Tangisnya pecah mengisi kesunyian lorong rumah sakit tempat mereka berada.
"Hikkkkssss.... Hikkkssss.... Ini semua salahku bu."
Maharani semakin memeluk Rea yang terus menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Sayang, Tenanglah Nak, ini semua bukan salahmu sayang, Ibu yakin Aldo akan selamat Nak." Maharani juga ikut menangis.
Hatinya sungguh sangat cemas dan takut jika sesuatu menimpa putra kesayangannya itu.
Bu Aluna ikut menenangkan Rea yang belum juga berhenti menangis. "Berhentilah menangis sayang, Aldo akan baik-baik saja Nak, Kita doakan saja agar dia bisa melewati operasinya dengan selamat." Ucap Bu Aluna.
Rolad dan Jonathan juga terlihat sangat Khawatir dengan Aldo. Mereka semua menunggu dokter selesai melakukan operasi.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang berani mecelakai putraku hidup, aku akan menangkapnya dan memberinya pelajaran." Geram Rolad dengan tangan terkepal kuat seakan kemarahannya sudah menembus ubun-ubunya.
"Aku akan membantumu menangkap orang yang telah mencelakai calon menantuku." Geram Jonathan.
Jonathan sudah menganggap Aldo sebagai putranya juga dan tentu saja Ia tidak akan membiarkan siapa pun yang sudah mencelakai Aldo hidup dengan tenang dan bebas.
Seharusnya malam ini mereka semua merasakan kebahagian merayakan hari kelahiran Aldo. Tapi siapa yang menyangka musibah datang dalam kehidupan mereka. Apalagi hari pernikahan ke duanya yang semakin dekat. Entah bagaimana nasib pernikahan mereka. Rea seakan tidak memikirkan lagi pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Dipikirannya saat ini hanyanlah melihat Aldo selamat dan bisa tersenyum sudah cukup baginya.
"Pa, apa putra kita akan baik-baik saja?" Tanya Maharani memeluk suaminya. Rasa khawatir terlihat jelas di wajahnya.
" Tenanglah Mah, putra kita akan baik-baik saja." Ucap Rolad menenangkan istrinya. Walau sebenarnya perasaanya pun sangat cemas dan khawatir.
"Sayang, Apa kau tidak ingin mengganti bajumu, ibu akan menemanimu membersihkan diri." Ucap bu Aluna.
Ia merasa kasihan melihat Rea dengan gaun putih yang penuh dengan noda darah. Matanya yang sembab sungguh membuat orang yang melihatnya tak akan tega.
Rea hanya menggeleng pelan seakan Ia tidak ingin beranjak dari tempatnya. "Aku ingin menunggu dokter bu, Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku." Ucapnya dengan lirih.
Semua menunggu dokter melakukan operasi, Mereka duduk dengan pikiran masing-masing.
"Tuhan aku tidak meminta apa pun lagi, aku sungguh sudah bahagia dengan memilikimu Al, Tolong jangan engkau ambil dia dariku, aku belum siap kehilangannya."Batin Rea.
Rea menatap jam yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan tengah malam, Rea berkata dengan lirih.
"Selamat ulang tahun sayang, Kau harus kuat demi aku, tetaplah hidup Al, aku sungguh mencintaimu."
Tak berapa lama dokter keluar setelah kurang lebih 5 jam lamanya berada di ruang operasi.
Mereka semua menghampiri dokter dan menanyakan kondisi Aldo.
"How is my son's condition doctor." Ucap Rolad.
(Bagaimana kondisi putraku dokter)
"Your son is in critical condition due to a heavy blow to the head. Your son almost lost his life if he was late to the hospital." Ucap Dokter tersebut.
__ADS_1
(Putra Anda dalam kondisi kritis akibat benturan keras di bagian kepala. Putra anda hampir saja kehilangan nyawanya jika terlambat dibawah ke rumah sakit)
Buggg...
Seluruh tulang Rea seakan lemas seketika dan Ia terduduk lemah di lantai rumah sakit. Air matanya semakin mengalir deras. Bu Aluna yang melihat putrinya dengan kondisi yang begitu menyedihkan segera menenangkannya dan membantunya untuk berdiri.
"Aldo akan selamat sayang, Ibu yakin, kalian akan bersama lagi." Rea hanya bisa memeluk ibunya dan berusaha untuk tetap kuat dan tegar karena Ia pun yakin bahwa Aldo akan selamat dan bisa melewati masa kritisnya.
Setelah Aldo dipindahkan di ruang perawatan. Rea masuk dengan menggunakan baju steril. Ia menatap wajah pucat Aldo yang terbaring lemah. Air matanya kembali luruh tak kuat melihat calon suaminya terbaring lemah tak berdaya dengan alat madis terpasang ditubuhnya.
"Al, Aku mencintaimu, kau sudah janji denganku Al akan membuatku bahagia sekarang kau harus menepatinya, ak-aku tidak akan me-maafakanmu Al, kau Harus bangun sebelum hari pernikahan kita, ak-aku mohon, ak-aku merindukanmu Al." Air matanya kembali menetes.
Hatinya terasa sakit, sungguh melihat orang yang dicintai terbaring tak sadarkan diri akan membuat hati siapa pun terasa perih. Rea mengusap lembut rambut Aldo dan mencium keningnya dengan lembut sambil berkata. "Sayang.. Bangunlah, aku menunggumu."
Jari jemari tangannya mengenggam erat jemari tangan Aldo yang terasa dingin dengan wajahnya pucat pasi.
Setelah bertemu Aldo, Rea keluar dari ruangan Aldo. "Sabarlah sayang." Maharani memeluk Rea. Ia pun sudah siap bersama suaminya dengan baju steril untuk menemui putranya.
"Ini ibu Nak, Kami semua sangat menyanyangimu, Bangunlah Nak dan temui calon istrimu, dia sangat sedih, Sebentar lagi kalian akan menikah, Ibu---" Suaranya terhenti, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak saat melihat kondisi putranya yang sangat menyedihkan. Tubuh kekar putranya terbaring tak berdaya.
"Jangan membuat kami semua khawatir Nak, kau putra satu-satu kebangaanku, kami sangat menyanyangimu." Ucap Rolad.
Namun, Aldo tak juga membukanya matanya. Hanya terdengar suara layar monitor yang menampilakn detak jantungnya.
Maharani dan Rolad keluar dari ruangan Aldo dengan wajah sedih.
"Aku akan menjaga Al bu, aku ingin menemaninya, Ibu dan ayah pulang dan istirahatlah, kalian pasti lelah." Ucap Rea.
"Kau juga sangat lelah Nak, Biar ibu saja yang menemani Al, kau bisa pulang dan istirahat." Ucap Maharani.
Rea menggeleng dan berkata."Al pasti sangat membutuhkanku bu."
"Kau ingat Al, bagaimana pertemuan pertama kita, saat itu kau terlihat sangat menyebalkan dan aku benar-benar membencimu. Kau selalu mencari masalah denganku dan membuatku kesal tapi saat ini kau satu-satunya orang yang bisa membuatku selalu tersenyum dengan tingkah yang selalu mengejutkanku." Rea berbicara sendiri berharap agar Aldo mendengar ucapannya.
Rea yang kelelahan memutuskan untuk tidur di samping Aldo. Ia memeluk tubuh kekar Aldo membenamkan wajahnya di dada bidang Aldo yang selalu membuatnya tenang dan akhirnya Ia juga ikut terlelap menuju Alam mimpinya.
Sementara itu, Jonathan dan Rolad mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menuju lokasi tempat kecelakaan terjadi. Ia akan membantu polisi menyelidiki siapa pelaku yang sudah menabrak putranya.
"Siaaalllll, rekaman CCTV tempat kejadian sudah lenyap, sepertinya ada orang yang sengaja melakukan ini." Geram Rolad.
"Kau benar, aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk menangkapnya." Jonthan menawarkan bantuan.
Kali ini mereka menghadapi musuh yang sangat berbahanya. Seorang musuh dari masa lalu yang memiliki dendam dengan kematian orang yang dicintainya.
******
Pagi hari tiba, Sinar mentari menyeruak masuk ke jendela kamar rawat Aldo. Pesawat Jet Nico baru saja mendarat di bandara. Ana dan Nico segera menuju rumah sakit setelah mengetahui bahwa asistennya itu sedang berada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan.
Ana dan Nico tiba di rumah sakit. Mereka segera menuju ruang perawatan Aldo.
Cekkkleleeekkk...
Pintu ruangan Aldo terbuka dan masuklah An dan Nico. Rea menghambur memeluk Ana dan menagis dipelukan sahabat karibnya itu.
Ana mengusap pelan punggung Rea dan berkata."Semua akan baik-baik saja, Tenaglah!"
Nico menatap Aldo dengan wajah sedih, selama ini Aldo adalah orang yang selalu menemaninya dalam keadaan apa pun.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang sudah membuatmu seperti ini akan hidup tenang." Nico mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Ana memegang pundak Nico dan Ia memegang tangan Ana menatapnya dalam dan berkata."Aku akan melanggar janjiku, maafkan aku." Lirihnya.
"Tidak apa sayang, kau harus membalas orang yang sudah membuat Aldo dan Rea menderita."
Walau berat Ana tetap memberi Nico izin untuk kembali ke dunia hitamnya yang sudah Ia tinggalkan demi Aldo.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Ana.
Rea hanya menggeleng pelan.
"kau harus menjaga kesehatanmu juga, kau harus kuat demi Aldo, Aku akan membeli makanan untukmu." Ana ingin keluar dari ruangan Aldo. Tiba-tiba Maharani dan bu Aluna datang.
"Kalian sudah tiba, maafkan ibu, seharusnya kami menyambutmu." Ucap Bu Aluna.
"Tidak mengapa bu." Jawab Ana.
"Ibu membawa makanan." Bu Aluna meletakkan makanan di atas nakas.
"Sebaiknya kau pulang dan istirahat Nak, Biar ibu yang menjaga Aldo." Pinta Maharani.
Ia tahu Rea pasti sangat lelah dan belum istirahat dengan baik. Ia tidak ingi Rea jatuh sakit karena kelelahan.
"Kalian juga pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, ibu hamil harus banyak istirahat." Ucap Maharani.
"Ibu benar Sayang, sebaiknya kau dan Rea pulanglah dan istirahat, aku akan mengurus sesuatu." Nico menyuruh Ana dan Rea untuk pulang.
Ana dan Rea kembali ke mansion untuk istirahat dan berganti baju. Sementara Nico akan mengurus beberapa masalah dengan Rolad dan juga Jonathan di markasnya.
Sementara itu, di markas lain seseorang tengah duduk di kursi kebesarannya dan berkara kepada anak buahnya.
"Pergilah sejauh mungkin dengan menggunakan uang ini, kau bisa pergi kemana pun yang kau inginkan, tapi ingat jika kau tertangkap kau tahu apa yang harus aku lakukan." Perintahnya.
"Kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah membunuh dan menghancurkan keluargaku, kau harus membayar mahal, kematian akan dibalas dengan kematian." Ucapnya dengan tatapan tajam, kedua tangannya mengepal kuat.
Ia menancapkan anak panah ke foto Aldo dan Juga Nico sambil berkata. "Kau tidak akan bisa hidup dengan tenang."
"Seluruh orang yang aku sayangi akan aku lenyapkan, Setelah itu aku akan melenyapkanmu juga Nico Alexander, Kematianmu akan datang, HAHAHHAHAHAHA." Tawanya menggema diikuti aurah kebencian.
Sementara itu, di Negara Indonesia, Aldwin sedang menjalani pemulihan saraf ototnya. Kerena terlau lama berbaring membuat ototnya tidak berfungsi dengan baik. Kedua kakinya masih harus menjalani terapi agar bisa berjalan dengan normal.
Dibantu oleh Dokter Zena, Hari ini Aldwin akan kembali melakukan terapi, "Kau masih harus sering melati otot kakimu agar bisa berjalan dengan normal." Ucap dokter Zena.
"Berapa lama aku harus mengikuti terapi berjalan?" Tanya Aldwin.
"Sampai kau bisa berjalan dengan baik." Dokter Zena mencoba melepaskan Aldwin dan membiarkannya berjalan sendiri tiba-tiba saja Aldwin hampir terjatuh dan dokter Zena segera menahan tubuh Aldwin dan Kedunya dalam posisi berpelukan.
Deggg.....
Jantung Aldwin berdetak kencang. Pertama kalinya Ia kembali merasakan debaran di jantunganya saat berdekatan dengan seorang wanita selain Ana wanita di masa lalunya.
Tatapan mata Aldwin tak hentinya menatap wajah dokter Zena yang jaraknya begitu dekat bahkan Aldwin bisa merasakan deru nafasnya. Namun, Dokter Zena sama sekali tidak menatap dan memalingkan wajahnya.
"Kau bisa melanjutkan terapinya lain kali." Ucap Dokter Zena membantu Aldwin berbaring di tempat tidurnya.
"Terima kasih dokter."
Dokter Zena meninggalkan ruangan Aldwin. Di balik pintu dokter Zena mencoba menentralkan detak jantungnya. Sebenarnya Ia pun merasa deg-degkan saat jarak dan tubuh mereka bersentuhan.
Bersambung....
__ADS_1
Like, Vote dan komentar.