
Satu bulan berlalu....
Sudah satu bulan berlalu kondisi Aldwin masih sama. Ia belum bisa berjalan dengan normal. Berbagai pengobatan pun sudah Ia lakukan. Aldwin bahkan sudah putus asa dan menyerah dengan kondisinya yang belum sembuh. Setiap hari Ana selalu setia mendampingi Aldwin melakukan pengobatan dan berbagai terapi tetapi hasilnya tetap saja sama. Sikap Aldwin juga semakin berubah ia selalu marah dan terlihat begitu dingin kepada Ana. Walau Ana selalu bersabar dengan perubahan Aldwin. Namun, Ia juga begitu kecewa dan sedih. Aldwin yang dulu Ana kenal sudah begitu berubah sejak Aldwin cacat.
Seperti hari ini Ana datang membawa makanan untuk Aldwin. Ana membuka pintu ruangan Aldwin dan melihatnya sedang duduk termenung menatap keluar jendela rumah sakit. Ana membuka kotak makanan yang ia bawa. Ia ingin menyuapi Aldwin...
Praaaannkk.....
Piring yang berisi makanan berserakan di lantai ruangan Aldwin.
"Aku sudah bilang aku tidak lapar, apa kau tidak mendengarku, berapa kali aku menyuruhnu untuk tidak peduli denganku, berhentilah berpura-pura kau peduli dan mencintaiku, mana mungkin kau menyukai pria cacat sepertiku, jangan pernah menemuiku lagi, kau bisa pergi dan bebas bersama dengan pria yang kau cintai dan jangan menghabiskan waktumu untuk mengurus pria cacat sepertiku Ana." Ucap Aldwin dengan tatapan tajam menatap Ana yang sedang membersihkan pecahan piring yang berserakan di lantai.
Ana menatap wajah Aldwin dengan tatapan sendu. Kedua matanya menanak sungai ingin mengalirkan air bening di kedua pelupuk mata indahnya. Namun, Ana mencoba terlihat kuat di depan pria yang begitu di cintainya.
"Maaafkan aku Win, aku akan membawa makanan yang lain untukmu, sepertinya kau tidak menyukai makanan yang aku buat, kau pasti laparkan?" Ucap Ana.
Ana selalu saja tidak peduli dengan kata-kata kasar Aldwin. Baginya Aldwin adalah pria yang begitu ia cintai dan sampai kapanpun Ana akan tetap bertahan disisi Aldwin walau Aldwin meyuruhnya untuk pergi.
"Aku sudah tidak lapar, aku ingin istirahat dan sebaiknya kau keluar, aku tidk ingin ada yang menggangguku." Ucap Aldwin dengan dinginnya.
"Istirahatlah, jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggilku." Ana berjalan mendekati Aldwin ingin merapikan selimut Aldwin. Namun, tangan Aldwin menepis tangan Ana yang ingin menyentuhnya.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri." Ucap Aldwin dengan nada ketus.
Ana hanya bisa menatap Aldwin dari balik pintu ruangan. Ana menangis menatap Aldwin pria yang dulu begitu lembut dan mencintainya. pria yang selalu ingin melindungi dan menyayanginya tapi saat ini Aldwin bukanlah Aldwin yang dulu. Ia sudah berubah 180 derajat. Sikapnya saat ini begitu kasar dan selaku bersikap dingin dengannya.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu Aldwin, kenapa kau begitu berubah? apa salahku kenapa kau menjauhiku." Lirih Ana dengan bulir bening jatuh di pipi mulusnya.
Ana berharap setelah bertemu Aldwin. Ia akan hidup bahagia bersama dengan pria itu. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan mereka. Tapi siapa yang tahu seperti apa takdir Tuhan. Sepertinya ujian cinta yang harus Ana lewati masih begitu banyak.
Ana hanya bisa menghela nafasnya dengan berat memberi semangat dan kekuatan untuk dirinya sendiri bahwa masih banyak ujian untuk bersama dengan Aldwin. Ana kembali ke ruangan dan melanjutkan aktivitasnya memeriksa pasien-pasiennya.
"Apa kau yakin akan meninggalkan negara ini? Bagaimana dengan dokter Ana, apa kau yakin akan meninggalkannya, sepertinya wanita itu benar-benar mencintaimu dengan tulus, aku hanya tidak ingin kau menyesal suatu saat nanti." Ucap dokter David dokter sekaligus sahabat baik Aldwin.
"Uhffffff..., Entahlah!!! Saat ini aku hanya ingin sembuh dari cacat dan bisa berjalan normal, Aku tidak ingin menjadi beban untuk siapa pun dengan kondisiku seperti ini, Aku yakin suatu saat nanti aku akan kembali bersama dengan Ana saat aku sudah kembali pulih, berjanjilah jangan sampai Ana tahu tentang kepergianku, malam ini aku akan berangkat, kau atur semuanya sesuai dengan yang aku inginkan." Ucap Aldwin dengan hembusan nafasnya yang begitu berat.
Di sisi lain Ia tidak ingin berpisah lagi dengan Ana tapi Ia juga tidak ingin bersama dengan Ana yang akan membuat wanita itu semakin menderita dengan semua sikapnya selama ini. Walau Ana tidak pernah mengeluh dan menyerah dengan Aldwin tapi Aldwin tahu kalau Ana begitu menderita dengan semua perlakuan kasar Aldwin kepada Ana.
"Jika aku ditakdirkan untuk bersama dengan Ana, maka aku yakin Tuhan akan menyatuhkan cintaku dengannya, tapi jika tuhan tidak mengizinkan aku bersamanya sekuat apa pun aku berusaha maka sekuat itu juga Tuhan akan menjauhkan aku darinya, aku percaya jika Ana adalah wanita yang akan menjadi jodohku maka sampai kapanpun dan apa pun yang terjadi suatu saat nanti maka aku akan tetap bersamanya." Batin Aldwin.
__ADS_1
Malam hari pun tiba. Aldwin sudah bersiap untuk berangkat ke luar negeri. Rencananya Aldwin akan melakukan pengobatan di luar negeri di rumah sakit terbaik dan juga fasilitas yang terbaik di negara Jepang.
Aldwin dan Dokter David bersiap untuk berangkat dengan menggunakan jet pribadi milik Aldwin. Akhirnya mereka berdua berangkat malam ini tanpa sepengetahuan Ana.
Sementara itu, Ana yang sudah selesai memeriksa pasiennya dan waktu kerjanya juga sudah selesai. Ana selalu menghabiskan malamnya menjaga Aldwin setelah selesai bekerja. Bahkan Ana menginap di rumah sakit menemani Aldwin memastikan Aldwin baik-baik saja.
Cekkklleeekkk....
Ana membuka Pintu ruangan Aldwin dan...
Degggg....
Jantungnya kembali berdetak kencang saat melihat ruangan itu kosong dan terlihat begitu rapi. Ana segera menemui suster yang masih merapikan tempat tidur Aldwin.
"Suster.. kemana Aldwin? apa dia sudah keluar dari rumah sakit?" Tanya Ana.
"Maaf dokter saya juga tidak tahu kemana tuan Aldwin, saya hanya mendapat tugas untuk membersihkan ruangan ini. Sebaiknya dokter menanyakan kepada dokter David." Ucap suster itu.
Ana segera meninggalkan ruangan itu dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan dokter David. Ia membuka rungan dokter muda itu namun tidak ada siapa pun di ruangan itu bahkan rungannya terlihat begitu rapi.
Ana segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor dokter David hanya suara operator yang menjawab dan nomornya juga tidak aktif.
Ana terlihat begitu panik dan bertanya kepada para suster yang ada di rumah sakit itu. tapi sayang tidak ada yang tahu kemana Aldwin pergi. Ana meminta alamat rumah dokter David. Ia pikir Aldwin pasti ada di rumah David. Setelah mendapat alamat yang diinginkan Ana segera meninggalkan rumah sakit dan menuju rumah Dokter David.
Dengan naik taksi Ana sampai di rumah dokter David. Ia segera menanyakan keberadaan dokter David kepada pelayan yang ada di rumah itu.
Ting.... Tong.....
"Apa dokter David ada di rumah bi?" Tanya Ana kepada bibi yang membuka pintu.
"Dokter David baru saja pergi non."
"Apa bibi tahu kemana dokter David pergi? apa dokter David pergi bersama seorang laki-laki yang memakai kursi roda?" Tanya Ana.
"Iya non, mereka sudah berangkat sekitar satu jam yang lalu." jawabnya.
"Apa bibi tahu kemana mereka akan pergi?"
"Maaf saya tidak tahu non."
__ADS_1
"Terima kasih bi, saya permisi."
Ana segera meninggalkan rumah dokter David. Lututnya seketika lemas dan nafasnya memburu dadanya sudah sesak sejak tadi. Pikirannya kembali tertuju kepada kenangan di masa lalunya ketika Aldwin meninggalkannya.
"Aku mohon jangan pergi Aldwin, aku sudah berusaha agar kita bisa bersama, aku begitu mencintaimu tapi kenapa kau memilih meninggalkan aku lagi, apa kita tidak ditakdirkan bersama, aku sudah lelah Aldwin, aku lelah memperjuangkan cinta ini, aku tidak tahu apa kau masih mencintaiku setelah semua peristiwa yang terjadi." Lirih Ana dengan air mata yang sudah mengalir deras di pelupuk matanya.
Malam ini langit benar-benar gelap tanpa satu bintang yang menyinari. Ana hanya berdiri mematung menatap langit yang begitu gelap.
Hikkkkssss.....
"Aldwin aku mohon jangan pergi, apa kau tidak mencintaiku lagi? hikkkksssss....." Ana sesak menahan dadanya. Perasaannya kembali hancur. Aldwin kembali meninggalkannya begitu saja tanpa memberitahu alasannya.
***********
Sementara itu di belahan Negara lain tepatnya di London. Seorang pria terlihat sedang menenggak wine dan bahkan meminum langsung dari botolnya. Entah sudah berapa botol minuman yang ia habiskan. Ia terlihat begitu mabuk bibirnya terus saja menyebut nama Ana. Yah dia adalah Nico Alexander pria yang dulu begitu kejam dan angkuh malam ini Nico terlihat begitu rapuh.
Sejak Ana memutuskan untuk meninggalkan London dan meminta Nico untuk berjanji agar tidak menemuinya lagi. Sejak saat itu Nico terlihat prustasi dan bahkan selalu menghabiskan malamnya di club membuat dirinya mabuk agar bisa melupakan Ana wanita yang sudah mengisi relung hatinya.
Nico yang mengetahui bahwa Ana bertemu dengan Aldwin pria yang begitu dicintai oleh Ana. Nico pikir Ana akan kembali bersama dengan pria itu. Nico tahu semua tentang Ana dari anak buah yang ia tugaskan untuk mengawasi Ana dan melaporkan semua informasi tentang wanita itu kepadanya.
"Sebaiknya tuan kembali ke mansion, sepertinya tuan sudah begitu mabuk, saya akan mengantarkan tuan kembali." Ucap Aldo.
Setiap Nico mabuk Aldo selalu mengantarkan kembali ke mansionnya. Aldo selalu setia menemani Nico.
"Ana... maafkan Aku, jangan menyuruhku menjauhimu, aku akan mengejarmu Ana, aku mencintaimu Annnnaaa." Lirih Nico yang sudah mengigau sejak tadi. Nico sudah berada di kamar mewah miliknya di bantu oleh Aldo yang membopong tubuh kekar Nico.
"Sampai kapan tuan akan seperti ini?" Tanya Aldo yang menatap wajah pucat Nico.
"Apa dia mabuk lagi? sampai kapan dia akan berhenti menyiksa dirinya sendiri?" Tanya Reynad yang sudah berada di dalam kamar Nico.
Reynad tahu bahwa Nico begitu mencintai Ana. Ia tidak pernah melihat keponakannya itu begitu prustasi seperti ini. Nico menyesali semua perbuatannya kepada Ana wanita yang dulu begitu ia benci dan selalu ia siksa. Namun saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya Nico tidak bisa melihat wajah Ana. Ia menyesal dengan semua yang sudah Nico lakukan kepada Ana dan keluarganya. Apalagi setelah Ana meminta Nico untuk menjauhinya dan Ana terlihat begitu membenci Nico.
Bersambunggggg.....
Like, Vote dan Komentar.
Terima Kasih.
šš
__ADS_1