
Sudah satu minggu kepergian pak Bagaskara. Namun, luka yang dirasakan Ariana dan ibunya belum hilang. Ariana selalu mengurung diri di dalam kamar, sikapnya menjadi pendiam. Gadis yang dulu selalu tersenyum kini terlihat lebih murung dan kurang bersemangat. Bu Ella sudah mulai mengikhlaskan kepergian suaminya. Ia percaya semua sudah menjadi takdir yang maha kuasa. Dan setiap musibah selalu ada hikmah di baliknya. Bu Ella mengetuk pintu kamar Ariana yang sejak pagi sampai siang hari belum juga keluar kamar.
Tookk...Toookk..Toookk..
“Nak... buka pintunya, ayo kita makan bersama, sejak pagi kamu belum makan apapun.” Ucap bu Ella dari balik pintu.
Tak berapa lama kemudian.
Cekleekk.. (suara pintu terbuka)
Ibu Ella terus memperhatikan wajah putrinya yang terlihat murung. Bu Ella mendekati Ariana dan membujuknya.
“Nak.. sudahlah, jangan terlalu bersedih, jangan menghukum dirimu sendiri, ibu tahu kamu sedih, ini semua sudah menjadi takdir dari Tuhan, kamu harus bangkit dan tetap semangat”. Bu Ella meyakinkan Ariana.
“kenapa ini harus terjadi kepada Ariana bu, Kenapa semua orang meninggalkan Ariana, apa salah Ariana bu, Aldwin meninggalkan Ariana dan juga Ayah, mereka berdua meninggalkan Ariana bu, hiikks...hikkss”. Ariana tak kuasa membendung air matanya dan tangisnya pecah mengisi kesunyian di rumah itu.
Bu Ella memeluk Ariana dengan erat. Tak terasa air mata bu Ella juga mengalir di pipinya. Tak kuasa menahan rasa sakit yang masih dirasakannya.
“Maaffkan Ariana bu.” Lirih Ariana.
“Berjanjilah kamu tidak akan bersedih lagi, kita harus tetap melanjutkan hidup Nak, walau ayahmu telah pergi kamu harus tetap bangkit seperti anak ibu yang dulu, ibu yakin ayahmu pasti akan ikut sedih kalau putrinya juga bersedih.”
“Baiklah bu, Ariana janji tidak akan bersedih lagi bu.” Ariana memeluk ibunya dengan erat menyalurkan rasa sedihnya. Bu Ella menatap putrinya dengan tersenyum dan menghapus air mata di pipi Ariana.
******
Pagi hari yang cerah Ariana sudah bersiap dengan memakai pakaian yang rapi. Hari ini Ariana memutuskan untuk mencari pekerjaan. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Dengan membawa map coklat berisi surat lamaran pekerjaan. Ariana berjalan menuju beberapa rumah sakit untuk melamar pekerjaan. Namun, tak ada satu pun rumah sakit yang mau menerimanya bekerja. Sulit baginya untuk bisa kembali bekerja di rumah sakit. Mengingat video dirinya dengan seorang Nico yang terkenal kejam.
Ariana terus berjalan dengan terik matahari yang terasa begitu membakar kulit. Ia tetap semangat untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa menit berjalan ia berhenti di sebuah restoran yang sangat terkenal sedang membuka lowongan pekerjaan.
Dengan memberanikan diri Ariana masuk ke dalam restoran tersebut.
“Permisi pak, maaff mengganggu waktunya pak, apa di restoran ini sedang membutuhkan karyawan?.” Tanya Ariana kepada laki-laki paruh baya pemilik restoran tersebut.
“Iyyya...benar, saya sedang mencari seorang pelayan restoran.” Jawab laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
“Apa bapak mau menerima saya bekerja di sini, saya sedang membutuhkan pekerjaan pak.” Tanya Ariana kembali.
Pria pemilik restoran itu menatap Ariana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menatap wajah Ariana. Kemudian berpikir sejenak.
“Baiklah.. besok datanglah lebih pagi, besok kamu sudah mulai bekerja.”
“Terimah Kasih pak.”
Ariana menjabat tangan pemilik restoran tersebut dan berpamitan untuk pulang. Ia ingin istirahat sebelum besok mulai bekerja. Ia ingin kembali ke rumah dan beristirahat sebelum hari menjelang sore.
Namun, ada yang mengganggu pikirannya. Ia ingin mencari keberadaan Aldwin yang sudah satu minggu lebih tidak bisa dihubungi dan tidak pernah memberinya kabar. Bahkan saat kematian ayahnya. Aldwin tak pernah menemuinya.
Ariana memutuskan untuk menemui Aldwin di rumahnya. Ia memesan taksi Online. Tak berapa lama kemudian taksi yang di pesanya tiba. Ia segera masuk ke dalam taksi tersebut.
“Sesuai aplikasi Yah pak.” Ucap Ariana kepada laki-laki pengemudi taksi tersebut.
“Baik lah bu.”
Beberapa menit mengendarai taksi online. Ariana sampai di rumah Aldwin. Di perumahan yang terkenal di kota Jakarta itu. Ia turun dan mengatakan kepada pengemudi taksi tersebut untuk menunggunya. “Bapak bisa menunggu saya sebentar, saya tidak akan lama.” Ucap Ariana.
“Baik bu.”
“Permisi pak, apa pak Aldwin ada di rumah?.” Tanya Ariana kepada satpam tersebut.
“Pak Aldwin baru saja berangkat ke bandara Soekarno Hatta, beliau akan berangkat ke London bu” Jawab satpam itu.
Jantung Ariana bagai berhenti berdetak. Ia tidak percaya kalau Aldwin laki-laki yang sangat dicintainya dan begitu mencintainya tega meninggalkannya.
Ariana berlalu begitu saja meninggalkan pak satpam tersebut dan segera masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya.
“Ke bandara Seokarno Hatta yah pak.” Ucap Ariana.
“Baik bu”.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Ariana menatap jalanan dengan wajah yang sedih. Tanpa terasa air matanya kembali mengalir. “Tuhan, apa yang terjadi?, kenapa kau tega meninggalkan aku, Aldwin?, apa salahku, kenapa kau tidak datang di hari pernikahan kita?, bukankah kau sudah berjanji akan bersamaku selamanya?.” Batin Ariana yang di penuhi dengan begitu banyak pertanyaan. Ia ingin mendengar langsung dari Aldwin. Kenapa ia tega melakukan ini semua?
Sekitar 20 menit, taksi yang ditumpangi Ariana sampai di bandara. Ia segera masuk dan menuju ruang tunggu penumpang untuk mencari keberadaan Aldwin. Ia mencari ke sana kemari, mencari keberadaan laki-laki yang dicintainya. Namun, ia tidak melihat keberadaan Aldwin. Araiana segera menuju ke bagian Passenger Service untuk menanyakan apakah pesawat jurusan London sudah berangkat atau belum.
__ADS_1
“Permisi bu., apa pesawat jurusan Jakarta-Landon sudah berangkat atau belum.” Ucap Ariana.
“Pesawat jurusan Jakarta-London baru saja Take Off.”
Ariana berlalu dari tempat tersebut. Ia hanya berjalan tanpa arah. Hatinya begitu hancur. Langkah kakinya terasa lunglai. Air matanya juga tak henti mengalir di pipinya. Harapan untuk bertemu dengan pria yang dicintainya kini telah pupus. Ia hanya bisa menangisi nasibnya. Ia duduk terkulai lemah di lantai bandara dan terus memanggil nama pria tersebut.
“Aldwin.. ke-kenapa, kenapa kau tega meninggalkan aku, apa salahku, aku sangat mencintaimu, kenapa kau lakukan ini, hikkss... hikkssa....” Tangisnya pecah.
Beberapa orang yang ada di bandara itu menatapnya dengan tatapan aneh dan juga iba. Ariana tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya sejak tadi. Ia terus menangis dengan nafas yang terasa begitu sesak. Ia memegang dadanya yang terasa sulit bernapas. Hatinya benar-benar sakit.
Setelah beberapa menit, Ariana kembali tenang. Ia sudah bisa mengatur nafasnya dan berusaha untuk tetap kuat. Ia berjalan keluar dari bandara dengan tatapan kosong. Ia berjalan tanpa arah. Ia hanya mengikuti langkah kaki yang entah membawanya ke mana.
Setelah lelah, Ariana duduk di bangku taman. Ia kembali termenung. Entah apa yang dipikirkannya.
Seorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam sejak tadi mengikuti Ariana. Laki-laki itu memperhatikan Ariana. Ia tidak ingin wanita itu lepas dari pengawasannya. Pria itu mengambil telefon dari saku jasnya. Dan mencoba menghubungi seseorang.
“Tuan.. saya sudah menemukan wanita itu, apa yang harus saya lakukan?” Ucap pria itu.
“Terus ikuti wanita itu, jangan biarkan dia lolos .” Jawab suara di seberang telefon.
“Baik..Tuan.”
Pria itu terus mengawasi Ariana. Sementara itu, Ariana tidak sadar jika sejak tadi ada seorang pria yang mengawasinya.
Matahari sudah kembali keperaduaannya. Semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Sejak tadi Ariana hanya duduk di bangku taman itu. Suasanya begitu sunyi. Ia memperhatikan di sekelingnya tidak ada siapa pun. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Ariana mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya untuk menelefon taksi.
Belum sempat Ariana menghubungi taksi. Seorang pria dari arah belakang membekab mulutnya dan membawanya ke dalam mobil yang terdapat banyak pria dengan setelan serba hitam.
Ariana diculik oleh seseorang...
Bersambung.
LIKE, VOTE DAN KOMEN
🙏🙏
__ADS_1