
...Kehidupan lebih berwarna bila bersama dengan orang yang dicintai. Cinta harus diungkapkan agar perasaan cinta itu terbalaskan. ...
Begitu pula yang dirasakan oleh Aldwin. Ia sangat mencintai Ariana. Walau dulu ia telah mengecewakan Ana. Ia masih berharap Ana akan memberinya kesempatan kedua.
Ia berusaha untuk mendapatkan maaf dari Ana dan membuat wanita itu kembali mencintainya. Aldwin tahu Ana sudah berubah. Namun, ia percaya perasaan cinta di hati Ana untuknya masih ada.
Hari ini Aldwin sudah menyiapkan kejutan untuk wanita yang dicintainya. Ia ingin melamar Ariana. Ia tidak bisa menunda dan membiarkan Ana mengubah perasaannya.
Aldwin berencana melamar Ariana di salah satu tempat yang menurutnya pas untuk melamar pujaan hati yaitu di The London Eye. Tempat ini sangat cocok untuk melamar pasangan. London Eye adalah wahana kincir di mana seseorang bisa menikmati pemandangan kota London dari ketinggian. London Eye menjadi tempat favorit orang-orang untuk bersantai dan melepas penat, tapi di tempat ini juga bisa dijadikan tempat untuk melamar pujaan hati.
London Eye tak hanya merupakan wahana bianglala tertinggi dan terpopuler di Eropa, namun juga bisa jadi tempat romantis untuk berkencan.
Aldwin yang sudah selesai meeting dengan kliennya membahas masalah proyek pembangunan Apartemen di pusat kota London. Ia bergegas kembali ke mansion utama keluarga Zexander. Ia sengaja tinggal di mansion orang tuanya agar ayah dan ibunya tidak curiga.
“Kau sudah kembali Nak, tidak biasanya kau pulang cepat, apa ada masalah?.” Tanya Bu Anna yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga.
Ia heran dengan putranya yang tiba-tiba pulang lebih Awal. Tidak biasanya Aldwin pulang sore hari. Bahkan ia selalu pulang larut malam.
“Tidak ada masalah apa pun Mah.” Ucap Aldwin berjalan menuju kamarnya. Ia ingin segera bersiap-siap untuk menjemput Ariana.
Setelah siap Aldwin menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Ia ingin segera menjemput Ariana.
“Kau mau ke mana Nak?” Tanya bu Anna yang melihat Aldwin berjalan terburu-buru.
“Aku hanya ingin keluar dan menikmati udara malam di kota London.”
“Apa kau ingin berkencan?” Tanya bu Anna lagi.
“Aku berangkat dulu Mah, aku sudah terlambat.” Aldwin mencium pipi bu Anna.
Aldwin yang memang sudah siap sejak tadi segera keluar dan mengendarai mobil mewah miliknya menuju rumah sakit tempat Ariana bekerja.
“Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku, apa anak itu sudah punya kekasih? Siapa wanita yang diajak berkencan oleh putraku.” Guman Bu Anna.
“Pergi ke mana anak itu?” Tanya Andrew yang dari tadi diam hanya mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Ia tengah sibuk membaca beberapa laporan dari perusahaannya.
“Apa anak itu sedang berkencan? Apa dia sudah punya kekasih, karena itu dia berani menolak perjodohan yang aku rencanakan.” Tanya Andrew bertubi-tubi.
“Sudahlah pak! Biarkan anak kita bahagia dengan wanita pilihannya, jangan terlalu egois dan memaksa putra kita, mama selalu mendukung siapa pun wanita yang kelak akan menjadi istri dari putraku, umur kita juga sudah tua, aku hanya ingin melihat putraku menikah dan aku juga menginginkan cucu, apa papa tidak mau melihat putra kita bahagia?” Ucap bu Anna lembut.
“Aku juga menginginkan putraku bahagia, aku hanya ingin dia menikah dengan wanita yang sudah aku pilih, aku hanya tidak ingin anak itu menikah dengan wanita yang tidak aku suka, apalagi dengan anak penghianat itu, sampai kapan pun aku tidak akan merestui mereka, anak itu memang keras kepala, dia sudah mengecewakanku, aku sudah menjodohkannya dan dia menolak keinginanku, aku dan Jonathan sudah sejak dulu menjodohkan anak itu dengan putrinya.” Andrew terlihat kesal dengan sikap Aldwin yang menolak untuk menikahi wanita pilihannya.
Aldwin memang menolak untuk dijodohkan. Ia rela meninggalkan orang tuanya jika orang tuanya masih menjodohkannya dengan Reana putri Jonathan. Kali ini Andrew mengalah dan menuruti keinginan putranya. Ia tidak bisa lagi memaksa Aldwin mengikuti keinginannya.
Andrew begitu penasaran dengan siapa wanita yang berhasil membuat putranya jatuh cinta lagi.
Kali ini Andrew ingin memastikan bahwa wanita yang dicintai oleh putarnya adalah wanita yang baik.
Ia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Aldwin. ia penasaran siapa wanita yang diajak oleh putranya untuk berkencan.
Beberapa menit mengendarai mobil mewah memecah jalanan kota London. Akhirnya Adwin sampai di rumah sakit tempat Ariana bekerja. Sementara itu, Ariana sudah bersiap untuk kembali ke apartemennya. Ia juga sudah lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya.
Ariana berjalan keluar dari rumah sakit. Saat sampai di Loby rumah sakit ia melihat Aldwin tersenyum manis dan wajahnya terlihat begitu tampan. Aldwin berjalan menghampiri Ariana.
“Kau sudah selesai sayang, aku ingin mengajakmu makan malam, kau pasti laparkan.” Ucap Aldwin dengan lembut.
“Hmmmmm, aku ingin pulang ke apartemen, aku lelah dan ingin istirahat.”
“Aku akan mengantarmu.” Aldwin membukakan pintu mobil dan menyuruh Ariana untuk masuk.
Akhirnya mobil Aldwin melaju meninggalkan rumah sakit tersebut.
“Aku lapar sebaiknya kita makam malam dulu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat dan kita bisa makam malam di sana, aku ingin mengatakan hal penting, apa kau punya waktu?” Aldwin menatap Ariana berharap ia mau makan malam bersama. Agar kejutan yang Aldwin siapkan berjalan lancar.
“Hmmmm baiklah, aku juga memang lapar.” Ana tersenyum manis.
“Mobil Aldwin berhenti di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari London Eye. Adwin berencana melamar Ariana di atas Bianglala yang terlihat sangat indah ketika malam hari. Terlihat sepasang mata sedang mengamati mereka.
Jpreettt... jepretttt.
Ia mengambil beberapa gambar Aldwin dan Ariana sedang makan malam bersama. Ia bahkan mengambil gambar mereka dengan ukuran yang sudah diperbesar. Sehingga terlihat jelas gambar kedua orang itu.
Ia kemudian mengirimkan gambar tersebut ke pada bosnya.
Setelah makan malam selesai, Aldwin mengajak Ariana untuk naik bianglala. Dan di sinilah ke duanya berada di atas bianglala besar yang terlihat pemandangan kota London dari atas. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Arian menatap takjub pemandangan kota London. Ia benar-benar merasa bahagia. Tubuh yang lelah sejak tadi hilang dengan pemandangan indah yang ada di depan matanya.
“Wowww, ini benar-benar indah.” Ariana tak hentinya tersenyum mantap pemandangan indah saat ini.
__ADS_1
“Kalau kau menyukainya aku akan selalu mengajakmu kemari.”
Ariana mengangguk dengan pelan. Ke dua matanya masih menatap keluar kaca bianglala terlihat pemandangan kota London dengan kerlap-kerlip lampu kota yang sangat indah.
Aldwin memeluk Ariana dari belakang. Kedua tangannya memegang pinggang Ariana dan kepalanya bersandar di bahu wanita itu.
Ariana hanya membiarkan Aldwin memeluknya. Ia tidak bisa menolak apa yang Aldwin lakukan kepadanya. Ia tidak ingin mengecewakan Aldwin yang sudah begitu baik membantunya.
Adwin memutar tubuh Ana yang membelakanginya. Tatapan mereka bertemu. Aldwin menatap manik hitam Ariana. Jantung Ariana berpacu dengan kencan begitu juga dengan Aldwin. Ia me***mat bibir tipis manis milik Ariana. Ia menekuk tengkuk Ana dan memperdalam ciumannya kepada Ariana.
“Ehmmppp.” Ariana merasa sesak dengan ciuman yang tiba-tiba Aldwin lakukan.
“Maafkan aku Ana, Apa kau marah?” Tanya Aldwin. Ia menatap dalam bola mata indah milik Ariana.
“Tidak, aku hanya belum siap.” Jawab Ana.
Malam ini Aldwin akan melamar Ariana untuk kedua kalinya. Kali ini ia tidak akan mengecewakan Ana.
“Ana aku tahu ini terlalu cepat untukmu, aku bahkan belum mendapatkan maafmu, aku hanya ingin kau tahu aku selalu mencintaimu, aku hanya ingin selalu berada di sampingmu, menjagamu dan membuatmu bahagia.”
“Will you Marry Me.” Ucap Aldwin dan berlutut di depan Ariana. Ia membuka kotak cincin yang terlihat berkilau. Cincin berlian yang terlihat sangat cantik.
Ariana tidak menyangka Aldwin akan melamarnya secepat ini, ia bahkan belum siap untuk menikah karena ia sendiri masih trauma dengan pernikahan yang selalu gagal.
Ariana menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa menolak lamaran Aldwin karena tidak ingin mengecewakannya.
“Maafkan Aku Aldwin, ak-aku tidak bisa bersamamu, aku tidak pantas untukmu, aku benar-benar minta maaf Aldwin, aku sudah memaafkanmu tapi, aku tidak bisa hidup bersamamu, aku tidak pantas untukmu.” Tanpa terasa bulir bening lolos begitu saja di pelupuk mata Ariana.
“Stttttt....” Aldwin meletakkan jarinya di bibir Ariana membuatnya tidak bisa berbicara. Adwin tidak ingin mendengar Ana menolaknya. Hatinya pasti sangat hancur.
“Apa pun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu Ana, aku akan menerima kekuranganmu, karena tidak ada manusia yang sempurna, kita bisa hidup bersama dan saling mengisi kekurangan masing-masing, aku janji tidak akan lagi menyakitimu.” Aldwin memeluk Ariana dan mengusap punggungnya dengan lembut.
“Katakan! Apa yang sudah terjadi Ana.” Tanya Aldwin yang melihat Ana sudah lebih tenang.
“Aku tidak pantas untukmu Aldwin. Aku sudah kotor, aku sudah ternoda, kau tidak pantas bersamaku. Hikkksssss.” Tangis Ana pecah dan memeluk dada bidang Aldwin. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Aldwin mencari ketenangan.
“Apa Nico yang sudah memaksamu? Apa dia yang merebut kesucianmu?” Tanya Aldwin dengan mata tajam dan amarah yang terlihat jelas di wajahnya. Tangannya mengepal dan raut wajahnya terlihat sangat kesal.
Ariana mengangguk dan tidak berani menatap wajah Aldwin. Ia tahu pria itu pasti sangat kecewa, marah dan begitu kesal.
“Apa pun yang sudah terjadi kepadamu aku akan tetap mencintaimu Ana, aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kau sudah ternoda, aku mencintaimu dengan tulus, semua ini terjadi keren kesalahanku, andai dulu aku menikahimu dan tidak meninggalkanmu sendiri, aku terlalu bodoh meragukanmu dan mempercayai perkataan orang lain.” Terlihat penyesalan di wajah Aldwin.
“Aku akan memberimu waktu Ana, aku tahu ini berat bagimu, aku tidak akan memaksamu untuk menerima lamaranku, aku akan menunggumu sampai kau siap.” Ucap Aldwin lembut. Walau, perasaannya saat ini campur aduk. Marah, kesal, kecewa dan penyesalan itulah yang dirasakan oleh Aldwin.
“Maafkan Aku.” Lirih Ana.
“Aku akan mengantarmu pulang, kau sudah lelah dan butuh istirahat, aku mohon jangan menangis Ana, aku tidak ingin kau menangis dan mengingat peristiwa menyakitkan itu, kau harus melupakannya dan memulai kehidupan barumu, aku selalu bersamamu.” Aldwin mengusap air mata Ariana yang mengalir di pipi mulusnya.
Malam yang seharusnya menjadi malam yang begitu indah untuk Aldwin seketika berubah menjadi malam yang menyakitkan untuknya. Ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah dinodai oleh Nico musuh yang sangat dibencinya.
Marah, kesal dan kecewa sudah pasti ia rasakan. Namun, ia tetap mencoba tersenyum di depan Ariana. Ia tidak ingin membuat Ariana semakin sedih.
“Aku akan membunuhmu Nico, kau sudah membuat wanita yang aku cintai menderita, aku akan melenyapkanmu dengan tanganku sendiri.” Batin Aldwin.
Setelah lamaran yang sudah Aldwin siapkan gagal. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengantar Ariana ke apartemennya. Sepanjang perjalanan pulang Aldwin hanya menatap jalanan dan fokus mengemudi. Ia menatap tajam ke luar jalanan kota London. Ia terlihat diam saja sejak tadi. Ariana juga hanya duduk diam dan menatap keluar jendela mobil. Mereka berada dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang dipikirnya.
“Aku tahu Win, kau begitu kecewa denganku, maafkan aku, aku hanya ingin kau bahagia. Walau bukan denganku, aku juga mencintaimu Win.” Batin Ariana.
Tak terasa mobil Aldwin berhenti di apartemen milik Ariana. Aldwin keluar dan membuka pintu untuk Ariana.
“Masuklah! kau pasti sudah lelah, apa pun yang terjadi aku tetap mencintaimu Ana.” Ucap Aldwin memeluk Ariana dan mengusap lembut rambut Ana.
Ariana berjalan masuk ke dalam apartemennya. Aldwin menatap punggung Ariana yang semakin menjauh. Ada gurat kesedihan di wajah Aldwin menatap nanar wanita yang sangat dicintainya.
Saat ini ia begitu marah, Aldwin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia menggenggam kuat setir mobil dan bahkan memukul-mukul setir mobil dengan tangan mengepal melampiaskan ke kecewanya.
"Kenapa ini harus terjadi? aku akan melnyapkanmu Nico, dasar biadab kau akan mati ditanganku, aku akan membalas perbuatanmu yang sudah menyakiti wanita yang aku cintai, bersiaplah Nico." Gumam Aldwin dengan tangan mengepal.
Mobil Aldwin melaju menuju salah satu bar ternama di kota London. Malam ini ia ingin membuat pikirannya lebih tenang. Setelah sampai di bar tempat biasanya ia menghabiskan malam. Aldwin masuk dan mulai menghabiskan beberapa botol wine.
Aldwin bahkan terlihat begitu berantakan dan ia sudah mabuk berat. Seorang wanita berjalan menghampirinya dan ia memegang lengan Aldwin menuntunnya keluar dari bar dan masuk ke dalam mobil wanita itu.
“Apa yang sudah terjadi Aldwin?, kenapa kau bisa mabuk seperti ini.” Ucap Reana.
Ya wanita itu adalah Reana. Ia sengaja mengikuti Aldwin saat mobil Rea melihat mobil Aldwin melaju dengan kecepatan penuh. Ia takut terjadi hal buruk kepada Aldwin. Akhirnya ia mengikuti mobil Aldwin dan melihat mobil Aldwin berhenti di sebuah bar.
Reana membawa Adwin ke apartemennya. Beberapa menit kemudian Rea sampai dan membawa Aldwin masuk ke apartemennya.
“Uhhhhh, Tubuhnya berat sekali.”
__ADS_1
Reana membaringkan tubuh Aldwi di atas kasur miliknya. Ia membuka sepatu dan kemeja yang digunakan Aldwin.
Gleeeekkkk.
Susah payah Rea menelan salivanya. Saat ia menatap dada bidang Aldwin yang begitu membuatnya terpesona. Ia menatap wajah Aldwin yang sudah terlelap karena mabuk. Wajahnya terlihat sangat tampan dan damai.
“Aku begitu mencintaimu Aldwin, sejak dulu aku sudah menyukaimu, tapi kenapa kau tidak bisa mencintaiku?, kau hanya melihat satu wanita yaitu Ariana, kau tahu aku dan Ana adalah sahabat, aku tidak ingin menyakiti Ana dan membuatmu membenciku, sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu Aldwin.” Batin Reana. Ia mengusap lembut rambut Aldwin.
***
Sementara itu, di sebuah markas besar yang terletak di kota London. Seseorang baru saja tiba dengan menggunakan jet pribadi miliknya. Setelah 16 jam perjalanan yang ditempuh akhirnya Nico Alexander sampai di markasnya yang ada di kota London.
Nico, Aldo dan Reynad turun dari jet pribadi yang ia tumpangi. Jet pribadi yang digunakan adalah jet pribadi milik Nico. Ia berjalan masuk ke dalam markasnya. Beberapa anak buah menundukkan kepala memberi hormat kepada mereka.
Terlihat Diego menyambut kedatangan bos besarnya.
“Selamat datang kembali di markas ini Tuan.” Ucap Diego kepada Reynad yang merupakan bosnya.
Mereka berjalan masuk ke dalam markas untuk mengetahui persiapan yang dilakukan oleh anak buah mereka yang ada di London.
“Hmmmm, apa kau sudah menyiapkan semua yang aku minta?” Tanya Reynad kepada Asistennya.
“Sudah Tuan.” Jawab Diego.
“Bagaimana dengan gadis itu, apa kau sudah berhasil melacak keberadaannya?” Tanya Nico.
“Saya sudah berhasil menemukan keberadaan gadis itu, saat ini dia berada di London tuan, dia bersama dengan ketua mafia yardies Aldwin Zexander, sepertinya laki-laki itu yang membantu gadis itu tuan, saat ini gadis itu bekerja di salah satu rumah sakit terkenal di London. Ia mengganti identitasnya, namanya bukan lagi Ariana tapi Velin.” Ucap Diego panjang lebar menyampaikan hasil pengamatannya.
Beberapa hari yang lalu, Diego menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Ariana. Diego terkenal akan kemampuannya di bidang IT, ia adalah seorang heacker handal karena itu Reynad menjadikan Diego sebagai asisten kepercayaannya.
“Akhirnya aku menemukanmu Ana, heeeemmm Velin, nama yang bagus, aku akan bermain-main denganmu dokter Velin.” Gumam Nico menatap tajam foto Ariana dengan penampilan barunya. Ia tersenyum licik menatap foto tersebut.
“Bagaimana dengan persiapan penyerangan?” Tanya Nico lagi.
“Semua sudah siap tuan, senjata, dan anak buah untuk menyerang markas mafia Yardies sudah siap tuan, beberapa anak buah yang dikirim oleh mafia Yakuza sudah tiba tuan, hanya menunggu perintah dari tuan untuk menyerang markas mereka.” Ucap Diego memberi informasi mengenai persiapan yang sudah ia lakukan.
“Bagus, pastikan misi balas dendamku ini berhasil.”
“Kau dan Aldo akan memimpin anak buah kita dalam penyerangan kali ini, dan ingat jangan sampai kalian melakukan kesalahan yang bisa membuat misi kali ini gagal, kalian paham.” Perintah Nico.
“Iya Tuan.” Jawab Ado dan Diego serempak.
“Persiapkan diri kalian besok malam kita akan lakukan penyerangan kepada markas mereka.”
“Baik tuan.” Seluruh anak buah Nico menjawab serempak.
“Bersiaplah dokter Velin, besok aku akan menemuimu, aku akan memberimu kejutan, aku ingin lihat apa kau akan tersenyum atau menangis dengan kejutan yang aku berikan, aku benar-benar senang hari ini.” Batin Nico
Ia kembali menatap foto Ariana dengan senyum yang sulit diartikan. Entah apa yang akan Nico lakukan kepada gadis itu? Hanya ia sendiri yang tahu.
Bersambungg.....
Mohon dukungannya yah.
Like, Vote dan Komen
Terima Kasih untuk para Readers yang sudah hadir dan mendukung novelku sampai saat ini. Semoga kalian sehat selalu.
🙏🙏
__ADS_1