
Dua hari berlalu kondisi Aldo masih belum sadarkan diri. Besok adalah hari di mana keduanya akan mengikat janji suci pernikahan. Tak pernah Rea bayangkan pernikahannya dengan Aldo tidak akan terlaksana karena Aldo yang mengalami kecalakaan. Setiap saat Rea selalu menemani Al berharap agar kekasihnya segera sadar.
Nico, Rolad dan Jonathan masih terus mencari pelaku yang sudah menabrak mobil Aldo. Ia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya. Namun, sampai saat ini mereka belum bisa menangkap orang yang mencelakakan Aldo.
"Aku yakin semua ini ada kaitannya dengan Aldwin." Ucap Nico yang mulai merasa dengan Aldwin.
"Apa maksudmu Sayang?" Tanya Ana.
"Aldwin sudah sadar dari koma beberapa hari yang lalu, selama ini tidak ada yang berani bermain-main denganku dan mencari masalah selain Aldwin, Dia pasti ingin balas dendam denganku dan mencelakai seluruh keluargaku." Jawab Nico.
Saat ini mereka berada di ruang tamu, berkumpul berasama untuk membahas masalah yang terjadi. Bu Aluna dan Maharani sedang berada di dapur untuk memasak makan malam dan juga menyiapkan makan malam untuk Rea yang sedang menjaga Aldo.
"Aldo adalah orang kepercayaaku dan Aldwin tidak akan membiarkan Aldo hidup dengan bahagia setelah berhasil membuatnya tertembak waktu itu, Aku benar-benar menyesal sudah menolongnya, seharusnya malam itu aku meninggalkannya saja." Nico semakin mengepalkan tangannya dengan raut wajah marah.
Kali ini Nico yakin bahwa orang yang ingin menghancurkannya adalah Aldwin.
"Apa kau yakin jika orang itu adalah Aldwin? Bagaimana jika bukan dia orangnya?" Tanya Ana.
"Istrimu benar Nak, Bagaimana jika bukan Aldwin tapi orang lain yang juga menaruh dendam dengan keluarga kita." Rolad ikut meninpali ucapan Ana.
"Aku tidak percaya jika Aldwin akan setega itu." Ucap Jonathan yang merasa menyesal pernah menjodohkan putrinya dengan Aldwin.
"Kali ini aku yakin jika Aldwin lah orang dibalik semua ini, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Sayang, kau istrirahatlah dan jangan terlalu banyak berpikir, masalah ini biar aku dan paman yang mengurusnya, secepatnya kita akan menangkap pelakunya." Nico mengusap pucuk kepala Ana dan menyuruhnya untuk istirahat di dalam kamar.
"Aku ingin kerumah sakit bersama ibu, kami ingin menjenguk Aldo dan membawa makan malam untuk Rea." Ucap Ana meminta Izin kepada suaminya.
Sejak Aldo berada di rumah sakit, Setiap hari Rea selalu menemani Aldo yang masih belum sadarkan diri.
"Baiklah, kalian berhatih-hatilah." Ucap Nico.
"Jika terjadi sesuatu cepat hubungi kami, aku akan menyusul nanti, supir akan mengantar kalian dan beberapa pengawal akan mengikuti kaian." Ucap Rolad.
"Baiklah, kami pergi dulu." Ucap Maharani.
Ana, Bu Aluna dan Maharani pun pergi menuju rumah sakit tempat Aldo dirawat.
"Apa yang akan kita lakukan untuk mengungkap dan menangkap pelaku yang sudah menabrak putraku?"
"Aku akan menyuruh anak buahku untuk membawa Aldwin dan menyuruhnya mengakui perbuatannya, Tidak akan aku biarkan dia hidup tenang setelah mencelakakan Aldo." Geram Nico.
"Paman setuju dengan apa yang kau katakan." Ucap Jonathan.
Demi mengungkap siapa sebenarnya musuh yang mereka hadapi maka tidak ada salahnya untuk membuktikan kecurigaan mereka. Jika bukan Aldwin pelakunya maka Ia tidak akan melakukan hal buruk dengannya. Namun, jika kecurigaan mereka terbukti maka tidak akan ada ampun bagi Aldwin.
"Kalian kembalilah ke Indonesia dan bawa Aldwin menemuiku dan juga bawalah dokter Zena, kalian paham." Perintah Nico kepada Anak buahnya.
"Baik tuan." Jawab anak buah Nico Serempak.
Sementara itu, Mobil yang mengantar Ana, Bu Aluna dan juga Maharani melaju dengan kecepatan sedang tiba-tiba saja mobil sedan berwarna merah mengikuti mereka dari arah belakang.
Anak buah yang bertugas menjaga mereka mengetahui jika mobil sedan merah sedang mengikutinya, mereka menambah laju kecepatan mobil agar lolos dari penjahat yang mengikutinya.
"Lebih cepat lagi, jangan biarkan mobil itu mengikuti kita." Ucap salah satu pengawal yang ditugaskan menjaga nyonya mereka.
"Baik."
Saat berada di jalanan yang sepi tiba-tiba saja mobil sedan merah menghadang mobil anak buah Nico dari arah depan.
Doooorrrr... Penjahat menembaki mobil Anak buah Nico.
Ciiiiittttttt.. Mobil berhenti mendadak karena l peluru mengenai ban mobil anak buah Nico. "Cepat berlindung." Anak buah Nico saling tembak menembak dengan beberapa mobil sedan merah yang tiba-tiba datang dengan beberapa orang yang berpakaian serba hitam juga memakai penutup wajah menembaki mereka.
Doooorrr....
Dooorrrr....
__ADS_1
Anak buah Nico berhasil dilumpuhkan oleh penjahat itu.
"Cepat kalian ikuti mobil mereka, aku akan mengurus orang-orang ini." Ucap salah satu penjahat itu.
"Baik."
Mobil sedan merah itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil yang membawa Ana, Maharani dan Bu Aluna.
"Cepatlah pak! mobil merah itu mengikuti kita." Perintah Ana.
Maharani dan Bu Aluna semakin panik saat mereka menoleh ke belakang dan melihat mobil sedan merah itu terlihat semakin menambah kecepatan mobilnya.
Ana mengambil ponselnya dan segera menghubungi suaminya.
"Apa kau sudah sampai sayang?" Tanya Nico saat sambungan telefon terhubung.
"Tolong kami sayang, seseorang mengikuti mobil kami dan mereka berhasil melumpuhkan mobil anak buah yang mengawasi kami." Ucap Ana dengan suara yang terdengar panik.
"Aku akan segera ke sana, kalian tetap tenang dan jangan biarkan orang-orang itu menangkap kalian." Ucap Nico berusaha menenangkan Ana.
Doooorrrrrr.......
Terdengar suara tembakan mengenai mobil Ana.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rolad saat melihat wajah Nico yang tiba-tiba begitu marah setelah menerima panggilan telefon dari istrinya.
"Beberapa penjahat mengikuti dan menembaki mobil yang membawa bibi dan istriku, aku harus segera kesana untuk menolong mereka." Jawabnya dengan suara terdengar sangat marah.
"Kami akan ikut membantumu." Ucap Jonathan dan Rolad bersamaan.
"Baiklah paman."
Saat mengetahui jika seseorang berusaha untuk mencelakai istrinya. Segera saja Nico dengan beberapa anak buahnya mengikuti mobil Ana. Untung saja Nico menaruh pelacak di ponsel Ana sehingga bisa menemukan lokasi keberadaan mobil istrinya.
"Tidak akan aku biarkan mereka lolos." Ucapnya dengan geram dan amarah memuncak. Tangannya terkepal kuat mencengkeram setir mobilnya.
Doooorrrrrrr.....
"Tenanglah bibi, kita akan baik-baik saja, Paman dan Nico akan menolong kita." Ucap Ana saling menggenggam tangan. Mereka hanya bisa pasrha jika para penjahat itu menangkap mereka.
Ketiganya hanya bisa memejamkan mata. Sungguh ini adalah peristiwa menegangkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka.
Tak berapa lama, mobil Nico dan beberapa anak buahnya berhasil menemukan mobil sedan yang mengikuti istrinya. Nico mengejar mobil itu dari arah belakang dan menembaki mobil sedan tersebut. Namun, tembakannya meleset.
Doooorrrr....
Jonathan dan Roald juga ikut menembaki mobil sedan yang mengikuti istirinya.
Suara senjata terdengar menggema di langit malam. Nico menambah laju kecepatan mobilnya dan...
Braaaakkkkkkk....
Nico berhasil menabrak mobil sedan merah itu dari arah belakang sehingga membuat mobil itu terpental ke sisi jalan. Nico menghentikan mobilnya..
Nico berlindung di sisi mobilnya begitu juga dengan Rolad dan Jonathan yang ikut berlindung di sisi mobil untuk melumpuhkan para penjahat yang berada di mobil sedan merah itu.
Doooorrrr... para penjahat menembaki Nico.
Doooorrrrrr... Nico berhasil melumpuhkan Penjahat itu dengan menembak bagian kaki kirinya.
"Biarkan salah satu diantara penjahat itu tetap hidup." Perintah Nico kepada anak buahnya yang baru saja tiba setelah berhasil melumpuhkan beberapa penjahat.
"Baik tuan."
Setelah beberapa menit, para penjahat berhasil dilumpuhkan oleh Nico dan Anak buahnya. Sekitar 5 orang akhirnya berhasil dilumpuhkan hanya tersisi satu orang yang masih hidup.
"Tenanglah bu! para penjahat itu tidak mengikuti kita lagi." Ucap Ana menoleh ke belakang mobil dan tidak menemukan mobil yang mengikutinya lagi.
Mereka bisa bernafas dengan lega karena penjahat itu tidak mengikuti mobil mereka lagi.
__ADS_1
Tingggg.... Ana menerima pesan dari suaminya
"Apa kau baik-baik saja sayang."
"Iya, aku dan bibi baik-baik saja, aku akan ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu dengan Rea dan Juga Aldo, Bagaimana denganmu sayang?"
"Semuanya baik-baik saja, penjahat itu sudah aku lenyapkan." Balasnya.
"Kita harus kerumah sakit secepatnya, aku takut terjadi sesuatu dengan Aldo dan Rea?" Ucap Ana.
"Ada apa nak?" Tanya Maharani yang melihat raut wajah Ana yang terlihat cemas.
"Kita harus segera ke rumah sakit bu, aku takut penjahat itu akan mencelakai Rea dan Aldo."
"Ibu akan menghubungi Rea." Bu Aluna segera mengambil ponsel dari tasnya dan menekan nomor putrinya.
Tuuuttt..... Tuuuutttt... Beberapa kali Bu Aluna mencoba menghubungi Rea Namun, tak ada jawaban dari putrinya semakin membuat bu Aluna panik.
"Angkat telefonnya nak." Gumam Bu Aluna.
"Dia tidak menjawab telefonku." Ucap bu Aluna semakin cemas. Ia kemudian menghubungi suaminya.
"Sayang cepatlah ke rumah sakit, Aku takut terjadi sesuatu dengan putriku dan juga Aldo." Ucap bu Aluna.
Maharani semakin panik saat Rea tidak mengangkat telefonnya. Aku akan menghubungi pihak rumah sakit. Namun, tetap saja pihak rumah sakit pun tidak mengangkat panggilan mereka.
Beberapa menit, mobil pun sampai. Dengan langkah cepat mereka memasuki rumah sakit dan saat mereka masuk..
Degggg....
Rumah sakit tempat Aldo di rawat terlihat hancur berantakan. Para suster sangat ketakutan dengan posisi terduduk di lantai.
"A-Apa yang terjadi suster?" Tanya Ana terbata-bata dengan wajah terlihat takut.
Para suster terlihat diam mematung dengan tatapan kosong dan tubuh gemetar.
Bu Aluna, Maharani dan Ana terlihat sangat ketakutan saat melihat kondisi rumah sakit tempat Aldo dirawat sudah sangat berantakan. Beberapa serpihan kaca berhamburan di lantai rumah sakit.
Tak berapa lama mobil Nico pun tiba. Nico, Rolad, dan Juga Jonathan turun dari mobil mereka dan langsung masuk ke rumah sakit.
Ana yang melihat suaminya datang segera saja berhambur ke pelukan suaminya. Takut itu lah yang dirasakan oleh Ana. Sungguh Ia tidak menduga akan terjadi hal mengerika seperti yang terjadi saat ini.
Rumah sakit tempat Aldo dirawat adalah rumah sakit milik keluarga Alexander.
"Katakan apa yang baru saja terjadi?" Tanya Nico membentak para suster.
"Pa-para pe-penjahat baru saja datang ke rumah sakit ini dan membawa----." Ucapan suster itu terhenti saat Nico segera berlari menuju Lift untuk naik ke lantai 10 ruangan Aldo.
Rolad dan Jonathan segera mengikuti Nico dan masuk ke dalam Lift. Sementara Ana, Bu Aluna dan Maharani masih berdiri mematung. Mereka terlihat sangat syok.
Bukkkkk....
Tiba-tiba saja Maharani terduduk di lantai. Seluruh tulangnya terasa lemas begitu juga dengan bu Aluna yang merasakan hal yang sama. Mereka tidak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu yang buruk dengan anak-anak mereka.
Dan benar saja, Nico yang baru saja tiba dirunagan Aldo mendapati Ruangan itu kosong dengan kondisi yang sangat berantakan. Kamera CCTV rumah sakit sudah dihancurkn oleh para penjahat. Beberapa anak buahnya terlihat tak bernyawa lagi.
"Kurang ajar, aku tidak akan membiarkan kalian lolos." Kemarahan Nico benar-benar sudah menembus ubun-ubunya. Luapan kemarahan itu bagai lava panas yang siap menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Rolad dan Jonathan.
"To-tolong A-aku." Suara lirih anak buah Nico yang terlihat meregang nyawa.
Nico menghampiri anak buahnya dan bertanya. "Siapa yang berani melakukan ini?"
Anak buahnya Nico hanya memberikan kalung dengan berbentuk bulat yang terdapat lambang Singa di tengah kalung itu.
Nico menerima kalung yang diberikan anak buahnya dan menatap kalung itu dengan penuh kemarahan.
Deeeeeggggg
"Kalung ini." Gumannya sambil mengepal kuat menggenggam kalung yang diberika oleh anak buahnya.
__ADS_1
Kalung itu adalah petunjuk satu-satunya untuk mencari pejahat yang sudah berani mencari masalah dengannya.
Bersambung....