Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 63 : Tidak Ingin Disentuh


__ADS_3

Tangan Rea yang sudah siap membuka pintu ruangan 100 A itu terhenti saat ponselnya berdering dan Rea segera mengangkat panggilan masuk di ponselnya itu. Panggilan dari Ana yang ingin mengajaknya makan malam bersama. Ia mengangkat ponselnya sambil berjalan pelan menuju lift rumah sakit intuk turun ke lantai dasar dan bersiap untuk pulang ke apartemennya.


Rasa penasarannya dengan pasien yang ada di ruangan 100 A itu tiba-tiba saja menguap saat Ia menerima ajakan makan malam dari sahabat baiknya itu.


Setelah menerima telefon dari Ana. Rae segera menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit yang luas itu. Rea masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen miliknya.


Satu-satunya alasan Rea sengaja meninggalkan negara London dan meninggalkan pekerjaannya di sana hanya untuk menghindari perjodohan yang direncanakan oleh ayahnya. orang tua Rea ingin menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya.


Walau perjodohan pertama Rea gagal sepertinya orang tua Rae tidak menyerah dan kembali ingin menjodohkan putri semata wayangnya itu dengan anak rekan bisnisnya yang lain. Rea yang tak ingin lagi dijodohkan dengan siapa pun itu memutuskan untuk kabur dari rumah. Rea adalah tipe wanita yang sulit untuk dekat dengan pria karena sifatnya yang keras kepala, Cuek dan sedikit berani dengan orang yang mencari masalah dengannya.


Rea sampai di apartemen miliknya dan Ia segera bersiap-siap dengan memakai riasan tipis natural yang semakin menambah kecantikannya.


Rea sudah berada di mobilnya bersiap menuju ke mansion Nico dan Ana. Ana sudah mengirimkan alamat mansionya kepada Rea melalui pesan.


Beberapa menit Rea tiba di mansion Nico. Rea terlihat begitu takjub saat matanya melihat mansion mewah bak istana itu.


"Ana begitu beruntung." Gumam Rea.


Rea disambut oleh pengawal yang bertugas menjaga mansion Nico.


"Selamat datang Nona, mari ikut dengan saya." Sapa ramah pengawal itu.


"Baiklah." Ucap Rea.


Rea masuk ke dalam mansion di antar oleh pengawal. Melihat Rea sudah datang, Ana segera menyambut sahabatnya itu.


"Rea, kau sudah datang, ayo ikut aku!" Ana mengajak Rea duduk di sofa ruang tamu. Ke duanya mengobrol, Rea menanyakan tentang kondisi kehamilan Ana.


"Jangan khawatir semuanya baik-baik saja, aku selalu rutin minum vitamin penguat kandungan darimu, Terima kasih sudah menghawatirkanku." Ucap Ana.


"Tentu saja Ana, kau sahabat terbaikku, aku pasti akan selalu menghawatirkan kondisimu."


"Oh ya apa ada acara spesial sehingga mengajakku makam malam?" Tanya Rea yang sejak tadi penasaran kenapa tiba-tiba Ana mengajaknya makan malam.


"Kau akan tahu nanti." Jawab Ana.


"Ke mana suamimu?" Tanya Rea.


"Dia sedang di ruang kerjanya, sebentar lagi di selesai bekerja."


Beberapa menit kemudian. Mobil Aldo juga sudah tiba di mansion Nico. Aldo segera masuk dan saat berada di ruang tamu, Aldo menghentikan langkah kakinya. Ia terkejut saat matanya melihat sosok gadis aneh yang beberapa hari ini selalu membuatnya kesal.


"Selamat malam nona Ana dan nona Rea" Sapa Aldo.


"Selamat malam juga." Jawab Ana.


"Selamat malam." Jawab Rea dengan wajah datar dan perasaan kesal. Selalu saja Ia merasa kesal saat bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu. Akhir-akhir ini Rea selalu merasa kesal ketika melihat wajah Aldo.


Aldo menuju ruang kerja Nico setelah menyapa nona mudanya dan juga sahabat nonanya itu.


Kenapa laki-laki menyebalkan itu ada di sini juga? apa Ana juga mengundangnya untuk makan malam? ada apa ini? Batin Rea di penuhi pertanyaan.


"Makan malam sudah siap nyonya." Ucap bi Rum menghentikan obrolan ke dua sahabat itu.


"Apa suamiku sudah selesai bekerja?" Tanya Ana kepada bi Rum.


"Saya akan memanggil tuan untuk makan malam." Jawab bi Rum


"Baiklah bi." Jawab Ana.


Ana dan Rea menuju meja makan untuk makan malam bersama.


"Silahkan duduk Rea, Jangan merasa sungkan dan canggung, anggap saja ini rumahmu sediri." Ucap Ana mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk.


"Terima kasih." Ucap Rea dengan tersenyum.


Ini pertama kalinya Ia menemui Ana di mansionnya dan mengobrol banyak hal bersama setelah bertemu kembali.


Tak berapa lama, Nico dan Aldo sudah tiba di meja makan yang sudah ada Ana dan Rea di sana.


Aldo duduk berdampingan dengan Rea. Ana duduk di samping suaminya. Mereka duduk saling berhadap-hadapan.

__ADS_1


"Kalian makanlah dan nikmati makan malam ini, jangan merasa sungkan yah." Ucap Ana melihat dua orang di depannya secara bergantian.


"Terima kasih nona." Jawab Aldo.


Ana mengambil nasi dan lauk pauk untuk suaminya dan Ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Aldo yang ingin mengambil nasi dihentikan oleh Rea.


"Aku akan mengambilkannya untukmu." Rea sudah mengambil nasi dan lauk pauk yang ada di atas meja untuk Aldo.


"Terima kasih." Ucap Aldo.


Rea hanya tersenyum dan Ia mengambil juga untuknya dan mereka berempat menikmati makan malam dengan tenang.


"Dua hari lagi Perusuhaan di Jepang akan diresmikan, aku dan Ana akan ke Jepang dan kami berencana untuk mengajak kalian ikut kami ke sana." Ucap Nico memecah keheningan di meja makan itu.


"Tentu saja kami akan ikut dengan tuan ke Jepang." Jawab Aldo.


"Uhhukkkk... uhukkkkk...." Rea terbatuk-batuk mendengar ucapan Aldo yang seolah mengatakan bahwa mereka berdua setuju untuk pergi ke Jepang. Tenggorokannya terasa tercekat dan tidak mampu menelan makan yang baru saja masuk di mulutnya itu.


Aldo meyerahkan gelasnya yang berisi air putih dan menyodorkan air itu kepada Rea sambil berkata. "Ini minumlah, makanlah dengan pelan."


Rea mengambil gelas berisi air dari tangan Aldo dan meminumnya hingga tandas. Tenggorokannya terasa kering dan Ia butuh air untuk membasahi tenggorokannya itu.


Ana dan Nico saling menatap dan tersenyum melihat tingkah dua orang di depannya itu.


"Apa kau baik-baik saja Rea." Tanya Ana.


"Hemmmm iya." Jawab Rea pelan.


"Maaf kalau ini membuatmu kaget, kau tahu aku tidak bisa meninggalkan Ana sendiri di mansion ini, aku ingin mengajaknya ke Jepang, kau dan Aldo tidak keberatan jika kami mengajak kalian, Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istriku selama di Jepang karena itu sebagai dokter kandungan pribadi dan juga sahabat dari istriku, kau bisa menemaninya selama di sana, masalah pekerjaanmu di rumah sakit kau tenang saja Ana tidak akan memecatmu, kau sudah mendapat izin dari direktur rumah sakit tempatmu bekerja." Terang Nico.


Ana adalah Direktur rumah sakit tempatku bekerja, bagaimana aku bisa menolak permintaannya. Ah... apa yang harus aku lakukan. Batin Rea.


Di satu sisi Ia tidak ingin menolak permintaan sahabatnya itu, apa lagi sekarang Rea sudah tahu kalau ternyata Ana adalah direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Ia tidak mungkin menolak dengan perintah bosnya sekaligus sahabatnya itu. Namun, di sisi lain Ia juga tidak ingin ke Jepang apalagi Aldo juga akan ikut ke sana dan tentu saja mereka bisa bersama kapan saja dan menghabiskan waktu berdua. Setelah berpikir, Akhirnya Rea mengiyakan permintaan Ana dengan sedikit perasaan terpaksa.


Selesai makan malam Rea dan Ana mengobrol di ruang tamu. Sementara Nico dan asistennya kembali bekerja di ruang kerjanya.


Waktu semakin larut membuat mereka menghentikan obrolan di antara ke duanya. Ana belum siap menceritakan apa pun kepada Rea memilih untuk menyudahi obrolan di antara mereka.


"Ada apa dengan mobil ini? kenapa tiba-tiba tidak bisa hidup? benar-benar hari menyebalkan." Gerutu Rea sambil membuka bagasi depan mobilnya memeriksa mesin mobilnya yang tiba-tiba mogok itu.


Aldo yang juga sudah tiba di parkiran. Ia ingin masuk ke dalam mobilnya berhenti saat melihat Rea yang sedang kesulitan menghidupkan mobilnya.


"Apa yang terjadi dengan mobilmu?" Tanya Aldo.


"Entahlah, mobilku tiba-tiba saja mogok." Jawab Rea.


Aldo memeriksa mobil Rea dan ingin rasanya Ia tertawa menertawakan gadis aneh itu.


"Ada apa?" Tanya Rea yang melihat Aldo tersenyum.


"Mobilmu kehabisan bensin." Jawab Rea.


"Apa yang terjadi Rea?" Tanya Ana yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka. Nico merangkul pinggang Ana.


"Mobilku kehabisan bensin, aku akan memesan taksi saja." Jawab Rea.


"Aldo akan mengantarmu." Ucap Ana.


"Tapi Nona-." Aldo yang ingin berbicara terhenti saat Nico memotong ucapannya.


"Jangan membantah apa yang dikatakan oleh istriku, Kau antar Rea ke apartemennya." Perintah Nico.


"Tidak apa Ana dan Tuan Nico, aku akan memesan taksi saja, aku tidak ingin merepitkan siapa pun." Ucap Rea menolak pulang bersama Aldo.


"Ini sudah malam Rea, Aldo akan mengantarmu, jangan menolak, Kau pasti lelah dan ingin segera pulang, Terima kasih sudah memenuhi undangan makan malam dariku." Ucap Ana.


"Sama-sama Ana, Terima kasih juga sudah mengajakku makan malam."


Ana dan Rea saling berpelukan. Mau tidak mau Rea akhirnya menurut saja untuk pulang bersama Aldo. Rea masuk ke dalam mobil Aldo dan mobil mereka meninggalkan mansion Nico. Suasana menjadi hening. Rea hanya menatap ke luar jendela mobil. Sementara Aldo fokus menyetir dan memperhatikan jalanan.

__ADS_1


Dreeeetttt...... Dreeeetttt......


Ponsel Rea berdering. Ia memperhatikan panggilan di ponselnya dengan alis berkerut. Ia membiarkan ponselnya berdering dan terlihat malas untuk mengangkat panggilan itu.


"Kenapa tidak mengangkat panggilan di ponselmu?" Tanya Aldo.


"Ini bukan urusanmu." Jawab Rea ketus.


"Apa kau bisa bersikap lembut, kau ingin menjadi jomblo seumur hidupmu, tidak akan ada laki-laki yang tertarik dengan wanita ketus sepertimu, bersikap lembutlah sedikit nona." Ucap Aldo.


"Kau saja masih jomblo tuan, Jomblo kok teriak jomblo." Ucap Rea dengan wajah kesalnya.


Dreeeetttt.... Dreeeetttttt......


Ponsel Rea kembali berdering. Rea terlihat tidak ingin mengangkat panggilan bertubi-tubi dari ponselnya itu. Karena merasa kesal Rea akhirnya menonaktifkan ponselnya agar orang yang sejak tadi menelefonnya tidak bisa lagi mengganggunya.


"Apa itu panggilan dari kekasihmu?" Tanya Aldo.


"Apa kau sudah beralih pekerjaan dan menjadi wartawan sekarang, banyak sekali kau bertanya tuan." Ucap Rea dengan Jutek.


Mobil akhirnya tiba di apartemen Rea.


"Terima kasih sudah mengantarku." Ucap Rea melepas sealbeth yang melingkar di pinggangnya itu.


"Mana kunci mobilmu?" Tanya Aldo.


"Untuk apa."


"Aku akan mengurus mobilmu nona Rea."


Rea menyerahkan kunci mobilnya kepada Aldo dan Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam apartemennya.


Aldo menatap punggung Rea yang semakin menjauh. Ia terlihat tersenyum tipis dan melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Rea.


Sementara itu, Di mansion Nico, Ana sudah bersiap untuk tidur setelah merasa begitu keyang. Selama kehamilannya Ana menjadi lebih banyak makan membuatnya menjadi mudah mengantuk. Ana sudah berada di bawah selimut. Matanya yang begitu mengantuk membuatnya tidur dengan mudah.


Nico yang baru selesai bekerja dan menandatangani beberapa dokumen yang di bawah oleh Aldo tadi. Nico segera masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya yang sedang terlelap di bawah selimut membuatnya hanya bisa menghela nafas.


"Sayang kau sudah tidur yah?" Tanya Nico sambil menarik sedikit selimut yang menutupi wajah istrinya itu.


Ana menggeliat pelan, "Kau sudah selesai bekerja yah, Tidurlah sayang." Jawab Ana.


Ana kembali menarik selimut dan menutupi wajahnya.


"Sayang." Nico menarik selimut dan membuangnya sembarangan. Membuat selimut itu teronggok begitu saja di lantai kamar mereka.


Nico sudah bertumpuh dengan ke dua lututnya agar tidak menindih perut istrinya yang bisa membahayakan bagi janin yang ada di dalam kandungan istrinya itu. Nico sudah mengungkung tubuh mungil istrinya. Ana yang masing mengantuk mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali. Ke dua matanya berkedip-kedip pelan melihat suaminya sudah menatapnya dengan tatapan ingin menerkamnya.


"Kau mau apa sayang.. hmmmm emmmpp." Bibir Ana sudah dibungkam dengan bibir suaminya. Nico mencium bibir tipis istrinya dan sedikit me**matnya. Ciuman itu semakin menuntut dan turun ke leher jenjang milik istrinya.


"Sayang hentikan!" Ucap Ana menghentikan aksi suaminya.


Nico berbaring di samping Ana menatap wajah istrinya dan berkata. "Ada apa sayang?"


"Kau membuatku gerah sayang, Kau bisa mandi dan membersihkan dirimu dulu, aroma tubuhmu membuatku pusing." Ucap Ana dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba menjadi pusing itu.


"Kau bahkan tadi menggunakan selimut tebal dan menutup seluruh tubuhmu dan sekarang kau bilang aku membuat gerah, aku bahkan sudah mandi dan wangi seperti ini dan kau masih tidak menyukai aroma tubuhku." Ucap Nico merasa prustasi dengan tingkah istrinya itu.


"Ah sudahlah... aku akan tidur di kamar tamu saja, kau tidurlah di sini." Ana ingin beranjak dari tempat tidur tapi tangan Nico menghentikan Ana dengan memegang tangannya.


"Kau tidak boleh keluar dari kamar ini." Perintah Nico.


"Aku mau tidur sendiri, sepertinya akan menyenangkan tidur sendirian, Sayang malam ini kita tidur berdua saja yah.." Ucap Ana sambil mengelus perutnya yang masih rata itu. Seolah Ia sedang berbicara dengan anak yang ada di dalam kandungannya.


Akhirnya Ana tetap keluar dari kamarnya dan meninggalkan Nico sendiri.


"Sayanggg......" Lirih Nico yang sudah menyusul Ana ke kamar tamu yang ada di mansionnya itu.


Rencananya untuk mengabiskan malam penuh gairah dengan istrinya itu harus berakhir begitu saja karena Ana yang merasa gerah dan tidak ingin di sentuh oleh suaminya itu. Ana bahkan tidak menyukai aroma tubuh Nico yang menurutnya aneh dan membuat kepalanya tiba-tiba terasa pusing.


Bersambungggg....

__ADS_1


Like, Vote dan Komentar..


šŸ™šŸ™


__ADS_2