
Nico membawa tubuh Ariana yang sudah dingin dan pucat masuk ke dalam mobil miliknya. Baju kaos putih yang digunakan Nico sudah bercampur dengan noda darah. Pamannya mencoba menutup pergelangan tangan Ariana yang terus mengeluarkan darah dengan menggunakan kain. Nico menidurkan Ariana di pangkuannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Ariana yang sudah ditutupi dengan kain agar darah berhenti mengalir.
Wajah Nico terlihat begitu panik dan sedih. Ia merasa bersalah telah membuat wanita yang saat ini ada di pangkuannya mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
“Kau bisa bawa mobilnya lebih cepat Hah.” Bentak Nico kepada anak buahnya.
“Baik Tuan.” Anak buah Nico melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
Reynad melirik Nico dari kaca dasboard mobil. Ini pertama kalinya ia melihat keponakannya itu begitu sedih. Ia tidak pernah melihat raut wajah khawatir dari seorang Nico kepada seorang wanita.
“Apa yang kau lakukan Hah? Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, kau boleh mati hanya karena aku yang melenyapkanmu.” Batin Nico dan Ia menatap wajah pucat Ariana.
Tak berapa lama mobil Nico sampai di rumah sakit miliknya. Para suster segera membantu Nico dan meletakkan tubuh Ariana di atas bangkar. Ia membawa Ariana masuk ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk memberikan pertolongan.
Dokter Zera segera masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melakukan operasi. Sementara itu, Nico dan Reynad duduk di kursi tunggu di luar ruangan itu.
Tampak raut wajah bersalah dari Nico Alexander. Ia tidak menyangka wanita itu akan mencoba bunuh diri. Ia benar-benar tidak ingin Ariana mati sebelum ia puas menyiksanya. Ia mondar-mandir di luar ruangan itu.
“Berani sekali wanita itu mencoba melenyapkan dirinya, apa dia pikir dengan melakukan ini kita akan melepaskannya dan membiarkannya? Aku tidak akan memaafkan anak pembunuh itu yang sudah membunuh kakakku.” Ucap Reynad.
“Sudahlah paman ini bukan saatnya untuk menyalahkan wanita itu, dia harus selamat.”
Dokter dan para suster sedang berjuang menyelamatkan Ariana. Ia tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk kepada Ariana. Ia tidak ingin Nico mengamuk jika terjadi sesuatu kepada wanita itu.
Setelah hampir dua jam lamanya pintu ruang operasi terbuka dan dokter Zera keluar dari ruangan tersebut. Nico segera menghampiri dokter Zera.
“Bagaimana keadaannya dokter.” Tanya Nico.
“Sebaiknya kau ikut ke ruanganku, ada yang ingin aku katakan.” Ucap dokter Zera.
Nico mengikuti dokter Zera menuju ruangannya. Nico masuk ke dalam ruangan tersebut. Kemudian dokter Zera memberitahu mengenai kondisi Ariana.
“Apa lagi yang kau lakukan kepada wanita itu, dia sampai ingin melenyapkan dirinya sendiri, untung saja luka sayatan di pergelangan tangannya tidak terlalu dalam, dia hanya kekurangan darah dan butuh donor darah segera.” Ucap dokter Zera panjang lebar.
“Apa maksud dokter, aku tidak melakukan apa pun kepada wanita itu.” Elaknya.
“Lakukan yang terbaik untuk wanita itu, aku tidak ingin dia mati dengan mudah.” Perintah Nico kepada Dokter Zera.
“Dia harus segera mendapatkan donor darah golongan darah A- dan golongan darah itu tidak tersedia di rumah sakit ini, stoknya sudah habis.”
“Kau benar-benar tidak berguna dokter, aku tidak ingin tahu, kau harus segera mendapat donor darah untuk wanita itu.” Nico menatap tajam dokter Zera.
Baru kali ini dokter Zera terlihat takut menghadapi Nico. Ia tidak pernah melihat sahabatnya itu begitu terlihat khawatir terhadap seorang wanita.
“Kita bisa mendapatkan donor darah dari keluarga pasien, apa tidak ada keluarga dari wanita itu ibu atau ayah kandungnya?.” Ucap Dokter Zera lagi
__ADS_1
Nico terlihat berpikir sejenak dan ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia menghubungi Aldo asistennya. Aldo sudah berada lebih dahulu di rumah sakit milik Nico untuk memeriksa kondisi bu Ella ibu Ariana. Aldo masuk dan menemui bu Ella yang sudah membuka matanya. Bu Ella sudah sadar dan kondisinya sudah lebih baik. Dokter juga sudah membolehkannya untuk pulang hari ini. Bu Ella dirawat di rumah sakit milik Nico. Ia berada di lantai tiga rumah sakit tersebut.
“Apa kau sudah menemui wanita itu.?” Tanya Nico.
“Wanita itu sudah sadar tuan, kondisinya sudah pulih, apa saya bawah wanita ini ke mansion tuan.” Jawab Nico.
“Jangan bawah wanita itu ke mansion bawa dia ke ruangan dokter Zera.”
“Baik tuan.”
Nico menutup sambungan telefon tersebut. Aldo segera membawa bu Ella ke ruangan dokter Zera.
“Sebaiknya Anda ikut saya ke ruangan dokter sekarang, tuan Nico sudah menunggu Anda di sana.” Ucap Aldo dengan membawa kursi roda ia membantu bu Ella naik ke kursi roda tersebut.
“Tuan katakan di mana putriku?, apa yang tuan lakukan kepada putriku?” Tanya bu Ella.
Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi kepada putrinya.
“Anda akan segera bertemu dengan putri Anda.”
Aldo sudah sampai di ruangan dokter Zera dan mengetuk pintu ruangan itu. Ia kemudian masuk bersama bu Ella yang menggunakan kursi roda.
“Saya sudah membawa wanita ini tuan.” Ucap Aldo.
“Bagus, wanita ini adalah ibu kandung Ariana, dia akan mendonorkan darah untuk putrinya.” Ucap Nico kepada dokter Zera.
“Putri ibu saat ini sangat membutuhkan donor darah, ia mengalami kecelakaan dan kekurangan banyak darah, ibu adalah ibu kandungnya dan golongan darah ibu pasti cocok untuk pasien.” Ucap dokter Zera.
Dokter Zera, Nico, Aldo dan bu Ella menuju ruangan perawatan Ariana. Bu Ella masuk ditemani oleh dokter Zera. Sementara Nico, Reynad dan Aldo menunggu di luar ruangan Ariana.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi Tuan?” Tanya Aldo.
“Wanita itu mencoba melenyapkan dirinya.” Nico mengepalkan tangan menahan perasaan kesalnya atas perbuatan Ariana.
Bu Ella masuk ke dalam ruangan dan menatap wajah putrinya yang begitu dirindukannya. Wajah Ariana terlihat begitu pucat. Ia membelai lembut wajah putrinya sambil menangis memandang wajah putrinya yang masih memejamkan matanya.
“Maafkan ibu sayang, ibu merindukanmu Nak, apa yang terjadi kepadamu Nak?, ibu mohon bangunlah sayang, ibu ada di sini, ibu akan menjemputmu kita pulang ke kontrakan bersama, jangan tinggalkan ibu Nak hikksss... hikksss..” Air mata bu Ella tak berhenti mengalir dari pipinya. Ia menggenggam tangan putrinya dengan erat. Ia mengusap lembut kepala putrinya.
“Dokter apa yang terjadi kepada putriku.” Tanya bu Ella kepada dokter Zera.
“Putri ibu kekurangan darah dan dia membutuhkan banyak darah, stok darah di rumah sakit ini tidak ada yang sama dengan golongan darah pasien.”
“Saya ibu kandungnya dokter, saya akan mendonorkan darah untuk putriku dokter.”
“Baiklah, ibu sebaiknya ikut dengan suster untuk melakukan pemeriksaan kondisi ibu, apakah ibu bisa mendonorkan darah untuk pasien atau tidak?.”
Bu Ella mengikuti suster dan masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan memeriksa kondisi bu Ella.
__ADS_1
“Bagaimana suster apa saya bisa mendonorkan darah untuk anak saya.” Tanya bu Ella.
“Maaf bu kondisi ibu dalam keadaan sangat lemah, ibu juga baru pulih dari sakit dan ibu tidak bisa mendonorkan darah untuk putri ibu.” Jawab suster tersebut.
Wajah bu Ella terlihat begitu sedih.
“Suster tolong anak saya dokter, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk.”
Suster itu keluar dan menemui dokter Zera.
“Dok wanita itu tidak bisa menjadi pendonor darah karena kondisinya sangat lemah.” Ucap suster tersebut.
Dokter segera menemui Nico untuk memberi tahu tentang masalah yang terjadi.
“Wanita itu tidak bisa mendonorkan darahnya karena kondisinya sangat lemah, kami tidak ingin terjadi sesuatu kepada wanita itu, jika ia memaksa untuk tetap mendonorkan darahnya.” Ucap dokter Zera.
“Aku akan mendonorkan darahku untuk wanita itu, aku tidak bisa membiarkannya mati, golongan darahku sama dengan wanita itu.” Ucap Nico.
“Apa yang kau lakukan.” Reynad bertanya kepada Nico.
“Aku akan menolong wanita itu, aku tidak bisa membiarkannya mati.”
“Terima kasih tuan, saya akan melakukan apa pun asal tuan menolong putri saya, saya mohon tuan Hikss.” Ibu Ariana mengatupkan kedua tangannya dan memohon kepada Nico.
Nico dan dokter Zera masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Nico menjalani pemeriksaan untuk menjadi donor darah untuk Ariana. Suster mulai mengambil darah Nico sekitar dua kantong darah sudah terisi. Suster segera membawa kantong darah itu untuk diberikan kepada pasien.
Nico keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan sedikit pusing. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing dan memijit pelipisnya untuk menghilangkan rasa pusing.
Bersambunng...
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK YAH
BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT.
🙏🤭🙏😀
__ADS_1