Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 83 : Restu Paman


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Sinar mentari menembus celah gorden dua orang yang masih terlelap dan bergulung di dalam selimut, Rea mengerjapkan matanya pelan. Ia menatap wajah damai suaminya yang masih terlelap memeluknya dengan erat. Tangannya mengusap lembut wajah tampan suaminya.


"Sangat tampan." lirihnya.


Rea melonggarkan pelukan suaminya dan beranjak untuk turun dari tempat tidur dengan pelan agar tidak membangunkan suaminya yang masih terlelap.


"Aissshhhhh.... Kenapa sakit sekali." Ucapnya sambil meringis merasakaan sakit di sekujur tubuhnya. Terutama di bagian intinya. Wajahnya terlihat lelah dan juga pucat. Aldo benar-benar menggempurnya habis-habisan hingga tulang-tulangnya terasa remuk.


Aldo yang mendengar istrinya meringis kesakitan segera saja membuka matanya dan terbangun seketika.


"Kau sudah bangun sayang." Ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kau sudah membuatku kesakitan Al, kau harus bertanggung jawab." Ucapnya dengan wajah kesal menatap Aldo yang terlihat bersemangat dan tidak merasa lelah sama sekali.


"Tentu saja sayang."


Sreeettt..


Aldo segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kemar mandi.


"Turunkan Aku Al."


"Diamlah sayang, aku akan membatumu mandi hemmm."


Rea melingkarkan tangannya di leher Aldo.


"Maafkan aku sayang, semalam aku benar-benar bersemangat, kau begitu menggodaku jadi jangan salahkan aku kalau aku melakukannya heheh." Ucapnya dengan tersenyum begitu manis menampilkan deretan gigi putihnya.


Aldo mengisi air di bethup dengan air hangat. "Kau benar-benara menyebalkan Al."


"Tapi kau menyukainyakan sayang?" Bisiknya dengan pelan sambil mengedipkan matanya. Membuat Rea merinding. Jantungnya berdegub kencang sekali. Pipinya merah merona mendengar ucapan suami mesumnya.


"Apa kau mau mengulanginya lagi?" Tanyanya dengan tersenyum menggoda.


"Aissshhhh.... Dasar mesum... Aku sudah lelah Al dan biarkan aku mandi dan istirahat." Jawab Rea dengan wajah yang terlihat lelah.


"Baiklah sayang, kali ini aku akan membiarkanmu hemmm."


Aldo dan Rea memilih untuk mandi saja tanpa melakukan apapun. Aldo tidak ingin memaksa istrinya yang terlihat sangat kelelahan akibat ulahnya.


Setelah selesai mandi dan mereka susah terlihat rapi. Ado dan Rea menikmati sarapan mereka dengan tenang. Mereka memang sudah kelaparan sejak tadi karena pertempuran semalam yang begitu menguras energi.

__ADS_1


Menjelang sore hari, Rea dan Aldo memutuskan untuk berjalan-jalan menikamti keindahan kota Paris dan membeli beberapa oleh-oleh. Dua hari lagi mereka akan kembali ke London. Rea dan Aldo ingin menghadiri acara pernikahan Aldwin dan juga dokter Zena.


Selesai sarapan mereka segera bersiap untuk berjalan-jalan menikmati keindahan kota Paris. Berbelanja dan menikamati pemandangan kota.


Rea sudah membawa beberapa kantung belanjaan di tangannya. Mereka menikmati makan malam di salah satu Restoran ternama yang pemandangannya menghadap langsung dengan menara Eiffel. Pemandangan kota Paris begitu indah saat malam hari.


*****


Pagi hari di Negara London. Ana dan Nico baru saja bangun setelah semalam melakukan kegiatan panas. Nico bangun lebih dulu dan membiarkan istrinya tetap tidur.


Karena hari ini Akhir pekan, Ia hanya akan berada di mansion seharian dan menghabiskan waktu dengan istrinya.


Nico yang sudah rapi keluar dari kamar. Anak buah Nico menghampirinya.


"Tuan Reynad datang dan ingin bertemu dengan tuan." Ucap anak buah Nico.


"Apa paman datang bersama dengan seseorang?" Tanya Nico.


"Tuan Reynad datang sendiri tuan." Jawab Anak buah Nico


"Baiklah... Aku akan menemuinya." Jawab Nico.


"Paman!" Ucap Nico menghampiri pamannya dan memeluknya dengan erat. Reynad juga melakukan hal yang sama.


"Paman sangat merindukanmu Nak, maafkan kesalahan paman." Reynad meminta maaf dengan tulus dan menyesali perbuatannya selama ini yang ingin memisahkan keponakannya itu dengan istrinya. Ia menyadari bahwa semala ini Ia telah bersikap egois.


"Sudahlah paman! aku dan istriku sudah memaafkan paman, aku tahu paman hanya ingin melakukan yang terbaik untukku."


"Paman.... aku sungguh bahagia bersama dengan istriku, tolong restui kami." Nico berbicara lembut dengan Pamannya yang sudah Ia anggap seperti ayah kandungya sendiri.


"Paman merestui hubunganmu Nak, Maafkan paman yang sudah meyakitimu dan juga istrimu." Ucap Reynad sungguh tulus.


"Apa paman bisa bertemu dengan istrimu?" Tanya Reynad.


Selama ini Ia menyadari keinginannya untuk memisahkan Nico dan Ana telah membuat hubungannya dengan keponakannya itu semakin jauh.


Saat ini Clara sudah menyerah dan tidak akan lagi mengejar Nico. Ia tahu Nico adalah laki-laki yang akan mempertahankan apa pun yang Ia cintai disisinya dan tidak akan melepaskannya dengan mudah. Selama ini Clara telah berusaha untuk mendapatakn cinta Nico. Namun Ia sadar laki-laki itu tidak meliriknya sedikitpun.


"Aku akan memanggilnya paman." Nico segera ke kamarnya dan ingin membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Sayang... Bangunlah!" Nico menyentuh lembut pipi istrinya.

__ADS_1


Ana menggeliat dan membuka matanya dengan pelan.


"Aku masih mengantuk sayang... Biarkan aku tidur sebentar lagi yah!" Ana menarik selimut dan menutupi kepalanya.


Sejak hamil Ana mudah mengantuk dan kelelahan. Karena itu, Nico tidak akan menyuruh istrinya untuk melalukan pekerjaan apa pun yang akan membuatnya kelelahan.


"Kau mau bangun atau kita akan melakukannya lagi hemmmm." Bisik Nico pelan di telinga Ana membuat wanita itu membuka matanya seketika dan bangun dari tidurnya.


"Dasar mesum!" Ucapnya dengan kesal.


"Mandilah dan temui aku di ruang tamu hemmm... ada paman yang ingin bertemu denganmu." Ucap Nico membelai lembut pucuk kepala istrinya.


Degggg...... Degggg....


Mendengar nama paman Reynad membuat jantung Ana berdetak kencang. Ketakutan menjalar di hatinya. Wajahnya menjadi pucat dan Ia diam tak bergeming. Nico yang melihat ketakutan di wajah istrinya segera menenangkannya. Ia tahu hubungan Ana dan pamannya selama ini tidak baik.


"Jangan takut sayang, paman tidak akan melakukan apa pun, Dia sudah menerima dan merestui hubungan kita." Nico mengecup kening istrinya lembut dan keluar dari kamar menemui pamannya.


Baberapa menit kemudian, Ana sudah selesai mandi dan sudah terlihat rapi dan cantik. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu bertemu dengan paman Reynad.


Nico segera menghampiri istrinya. "Sayang.... paman sudah menunggumu." Nico menuntun istrinya berjalan menuju sofa di mana Reynad duduk menunggunya.


"Maafkan aku paman, membuat paman menunggu." Ana mulai kesulitan untuk duduk kerana kehamilannya memasuki usia 6 bulan. Ia duduk di depan paman Reynad dengan wajah cemas dan juga takut. Ia belum tahu maksud kedatangan Reynad menemuinya. Ia hanya berharap tidak akan terjadi hal buruk.


"Tidak apa Nak, jangan minta maaf dengan paman, seharusnya paman lah yang meminta maaf denganmu, maafkan paman." Ana bisa melihat ketulusan di mata paman Reynad.


"Aku sudah memafkan paman, aku mohon restui kami paman." Ana berjalan mendekat ke arah Paman Reynad. Ia mencium punggung tangan Paman Reynad seperti yang selalu Ia lakukan kepada ayahnya ketika masih hidup.


Reynad memeluk Ana dan menyesali perbuatannya yang sudah membenci wanita yang tidak bersalah itu. Wanita yang memliki hati yang begitu baik, lembut dan begitu pemaaf. Ia menyesal telah menyakitinya. Ana hanyalah korban dari dendam masa lalu. Reynad sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu dan Ia akan menerima Ana sebagai menantunya.


"Paman merestuimu Nak, Hiduplah dengan bahagia bersama dengan suami dan anak-anakmu." Reynad menepuk kepala Ana lembut.


Tesss.....


"Terima kasih paman." Ana tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis haru dan merasa bahagia. Akhirnya Paman Reynad sudah merestuinya. Nico memeluk istrinya dan mencium pucuk kepalanya.


"Terima kasih paman." Nico memeluk Reynad.


Kebahagian begitu Ana rasakan, Paman telah menerimanya menjadi bagain dari keluarga Alexander. Ia berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang.


Bersambunggg......

__ADS_1


__ADS_2