Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 91


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Sudah satu Minggu sejak Ana sadar dari koma.


Suasana di mansion keluarga Alexander sedang meriah, terlihat beberapa orang maid tengah lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Aldwin dan Dokter Zena mengawasi para Maid agar melakukan tugasnya dengan baik. Setalah satu Minggu Ana sadar dari komanya. Akhirnya Ia akan segera kembali ke mansion karena itu para keluarga sedang menyiapkan pesta kecil-kecil sebagai bentuk rasa syukur mereka karena Ana kembali sehat dan melalui masa kritisnya.


"Apa semua sudah selesai sayang?" Tanya Aldwin sedang memeluk dan melingkarkan tangan kokohnya di perut istrinya sesekali Ia mengusap lembut perut istrinya yang masih rata. Dokter Zena saat ini sedang mengandung tiga Minggu.


"Belum sayang, kita masih harus memesan beberapa sayur, daging dan berbagai makanan lainnya."


"Biar para pelayan yang mengurusnya, ibu hamil tidak boleh terlalu lelah, ayo kita ke kamar saja!" Ajak Aldwin lemah lembut sambil mencium curuk leher istrinya.


"Banyak pelayan yang melihat kita sayang..." Ucap Dokter Zena tersipu malu.


Mereka sedang berada di ruang tamu. Banyak para Maid yang sesekali melirik kemesraan pengantin baru itu membuat Dokter Zena sedikit malu dan salah tingkah. Aldwin selalu menunjukkan cintanya tidak peduli di depan banyak orang.


"Biarkan saja sayang.. Jangan pedulikan mereka, anggap saja mereka seperti tidak ada." Bisik Aldwin sambil terus mendaratkan bibirnya di curuk leher istrinya sesekali mengendus aroma wangi di tubuh istrinya.


"Apa kamu tidak mengidam?" Aldwin mngusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Apa kalau aku mengidam kamu akan menuruti keinginanku sayang?" Tanya Dokter Zena menatap suaminya penuh cinta.


"Apa sih yang tidak aku lakukan untuk istriku ini."


"Terima kasih sayang."


"Mulai sekarang aku akan memikirkan rencana mengidam ku." Batin Dokter Zena.


Dokter Zena memeluk tubuh kekar suaminya. Sejak hamil Ia begitu menyukai aroma tubuh suaminya.


Cuppp.....


Aldwin mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan istrinya.


"Hmmmm..." Aldo berdehem.


Rea dan Aldo baru saja tiba dan masuk ke dalam mansion Alexander dengan disambut pemandangan indah di pagi hari yaitu menyaksikan sepasang suami istri sedang bermesraan.


Aldwin dan Dokter Zena menghentikan aktivitas mereka dan tersenyum canggung ketika bertemu dengan Aldo dan Rea.


"Kak Rea sudah datang, ayo kita ke dapur! aku sudah lapar." Sejak tadi Dokter Zena memang sedang menunggu Rea karena mereka akan memasak sarapan bersama.


"Aku sudah beli beberapa sayur, daging dan buah-buahan, ayo kita buat sarapan, Kakak juga sudah lapar!"


Keduanya berlalu begitu saja menuju dapur meninggalkan para suami di ruang tamu. Aldwin dan Aldo sedang duduk santai di ruang tamu mengobrol masalah pekerjaan sembari menunggu sarapan yang disiapkan oleh para istri.


Beberapa menit kemudian, sarapan sudah tersaji di atas meja. Aldo, Aldwin, Rea dan dokter Zena menikmati sarapan bersama sesekali mengobrol. Ini adalah saat yang paling bahagia berkumpul bersama dengan seluruh keluarga. kebahagian akan semakin lengkap ketika Nico dan Ana bisa hadir berkumpul bersama mereka dan itu akan segera terwujud.


Persiapan pesta untuk menyambut kepulangan Ana dari rumah sakit sudah seratus persen siap. Malam akhirnya tiba, seluruh anggota keluarga berkumpul tanpa terkecuali menunggu kedatangan Nico dan Ana yang sedang dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


*****


Matahari akhirnya memutuskan untuk beristirahat saat Ia memberi jalan bagi bulan untuk mengambil tempatnya. Langit keunguan yang tersisa sama-samar akhirnya memudar menjadi bayang-bayang sebelum di kepung oleh bintang-bintang yang tampak indah menghiasi langit malam.


Seluruh keluarga tengah bersiap menyambut Ana dan baby Aidan. Selama Ana berada di rumah sakit baby Aidan tinggal di rumah Rea dan Aldo karena Nico lebih banyak menghabiskan waktunya menjaga Ana. Selain itu baby Aidan sangat dekat dengan Rea dan Aldo.


Seluruh keluarga tengah menunggu di ruang tamu. Mobil sedan berwarna hitam berhenti di halaman Mansion megah milik keluarga Alexander.


Nico turun dari mobil membuka pintu untuk Ana yang sedang menggendong baby Aidan.


Ana berhenti sejenak menatap bangunan megah di hadapannya itu. Rasanya Ia begitu merindukan tinggal di mansion tersebut.


"Ayo masuk sayang!" Ajak Nico sambil menggenggam tangan istrinya dan berjalan masuk menuju mansion. Ana menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki suaminya. Mereka berdua masuk ke dalam mansion.


"Selamat datang Tuan Alexander dan Nyonya Alexander." Ucap seluruh anggota keluarga yang memang sedang berkumpul menunggu keduanya tiba dengan senyum penuh kebahagiaan. Para maid juga berjejer menyambut kedatangan Tuan dan Nyonyanya.


"Terima kasih! kalian membuat pesta untukku." Kebahagiaan memancar di wajah Ana. Ia merasa sangat bahagia seluruh keluarga begitu menyayanginya. Ia juga sangat merindukan seluruh waktu berkumpul bersama dengan seluruh keluarga.


"Lihatlah sayang! semua orang begitu menunggumu untuk berkumpul bersama lagi." Bu Aluna memeluk Ana dan mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Akhirnya kakak ipar bisa berkumpul bersama kita lagi, aku senang sekali." Ucap Dokter Zena memeluk Ana begitu juga dengan Rea.


"Sebaiknya baby Aidan dibawah ke kamar, aku sudah menyiapkan kamar untuk bayi kita, Bi Nanik tolong bawa baby Aidan ke kamarnya." Perintah Nico ke pada baby sister yang akan mengurus baby Aidan.


Bayi mungil itu sudah terlelap sejak tadi. Ana menyerahkan baby Aidan kepada Bi Nanik yang memang ditugaskan Nico untuk menjaga baby Aidan karena Ana baru saja kembali dari rumah sakit dan kondisinya juga memang belum pulih.


Acara penyambutan kembalinya Ana ke Mansion masih berlanjut. Mereka berada di taman belakang mansion yang memang disiapkan untuk pesta malam ini.


"Terima kasih sudah menyiapkan ini semua." Ucap Ana kepada suaminya.


"Apa pun akan aku lakukan untukmu sayang."


Nico mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan istrinya.


Aroma daging panggang menyeruak memenuhi rongga hidung membuat Rea dan Dokter Zena menelan ludah. Perutnya terasa lapar membayangkan daging panggang lembut memasuki kerongkongannya.


Para suami sedang beralih profesi menjadi chef dadakan untuk para istri tercintanya.


Nico, Aldwin, dan Aldo melayani istrinya dengan baik bak ratu.


"Makan yang banyak yah sayang." Nico meletakkan daging panggang ke piring istrinya dan menyuapinya.


"Terima kasih suamiku." Ana makan dengan lahap daging panggang buatan Suaminya. Ini adalah saat-saat yang sangat dirindukannya. Perlakuan hangat dan perhatian Nico selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.


Ana makan dengan lahap daging panggang buatan Suaminya dengan tersenyum lembut.


Tak mau kalah Aldo dan Alwin juga melakukan hal yang sama kepada istrinya. Menyuapi istrinya sambil tersenyum melihat para istri makan dengan lahap.

__ADS_1


Paman Reynad, Bu Aluna, Bu Maharani dan para suami memilih duduk terpisah dari para anak mudah yang tengah dimabuk asmara itu. Tidak ingin menyaksikan kemesraan anak-anak mereka. Para orang tua beda generasi itu memilih membaha masalah pekerjaan.


Malam semakin larut membuat para orang tua memilih untuk kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam yang menyenangkan.


Rea dan Aldo memilih menginap di mansion keluarga Alexander begitu juga dengan Aldwin dan Dokter Zena.


"Sayang.. bangun! aku lapar." Rea menggoyangkan lengan suaminya yang terlelap di sampingnya.


Aldo terbangun mengucek matanya dan berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Ia melirik jam di atas nakas, waktu menunjukkan tengah malam.


"Sayang... ini sudah larut malam, besok saja yah kita cari makan."


Wajah Rea berubah sendu, matanya berkaca-kaca. Aldo yang melihat itu menjadi tidak tega. Sejak hamil Rea selalu lapar di tengah malam. Meskipun sudah makan malam tetap saja Ia merasa lapar.


"Lihat sayang... Ayahmu tidak peduli denganmu." Rea mengusap lembut perutnya yang membuncit.


Mendengar ucapan Rea, Aldo segera minta maaf. " Maafin aku yah, anak ayah mau makan apa?" Aldo mengusap perut istrinya dengan lembut. Ia juga mengusap pucuk kepala Rea dengan penuh sayang.


"Mau makan bebek panggang, sate kambing, sayur asem, jengkol balado." ucapnya sambil membayangkan makanan yang Ia sebut memenuhi perutnya yang lapar.


"Tunggu yah, aku akan cari restoran yang buka 24 jam."


Mengambil jaket dan kunci mobil, Aldo segera keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar tak sengaja Ia berpapasan dengan Aldwin yang akan menuruni tangga.


"Mau kemana Al?" Tanya Aldwin.


"Beli makan." Jawab Aldo singkat.


"Wah kebetulan sekali, aku juga mau beli makan untuk Istriku."


" Apa istrimu juga mengidam?" Aldo mengajukan pertanyaan untuk Aldwin yang terlihat tersenyum senang.


"Ayo kita berangkat bersama!" Aldwin segera mengajak Aldo mencari makanan untuk para istri.


Keduanya berangkat dengan menggunakan mobil Aldo berkeliling mencari restoran yang buka 24 jam.


"Istrimu ingin makan apa?"


"Sate ayam, telur balado, bakso dan eskrim."


"Mereka memiliki selera mengidam yang sama." Ucap Aldo tersenyum membayangkan permintaan istrinya yang hampir setiap malam selalu menginginkan berbagai makanan.


Setelah 15 menit berkeliling akhirnya mereka menemukan restoran yang buka 24 jam yang menyajikan beragam menu rumahan.


Aldo dan Aldwin membeli makanan yang di pesan para istri. Aldwin juga mampir di supermarket membeli eskrim dengan berbagai rasa untuk istrinya.


Rea dan Dokter Zena tengah duduk di dapur menunggu para suami membeli makanan yang dipesannya. Pemilik mansion sudah tertidur sejak tadi.

__ADS_1


Mobil Aldo tiba di mansion setelah berhasil menyelesaikan misi memenuhi ngidam istri. Rea dan Dokter Zena berbinar menatap makanan yang tersaji di meja makan. Aldo dan Aldwin memperhatikan istri masing-masing yang terlihat sangat menikmati makanan yang mereka bawah.


bersambunggg.....


__ADS_2